Mengenal Abdul Karim Oey (3): Perjuangan Kemerdekaan

in Mualaf

“Pasca agresi militer Belanda ke-2,  Oey menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, dia melarikan diri ke pedalaman Bengkulu.

–O–

Tiga bulan setelah proklamasi, tepatnya pada tanggal 7 November 1945 berdiri sebuah Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta. Pada tahun 1946, Masyumi didirikan juga di Bengkulu, di sana Abdul Karim Oey Tjeng Hien diangkat menjadi Ketua Umumnya. Dia dibantu M.Yusuf, Wakil Ketua, dan Saleh Nasution, Sekretaris. Oey menjabat sebagai Ketua Umum Masyumi Bengkulu sampai dengan tahun 1960.[1]

Pasca agresi militer Belanda ke-2,  Oey menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, dia bersama Residen Mr. Hazairin, Letkol Barlian, Affan, dan kawan-kawannya melarikan diri ke pedalaman Bengkulu dengan mobil. Hal tersebut dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa pada saat itu Belanda belum memasuki daerah Bengkulu.

Di Taba Penanjung, 37 km dari Bengkulu, mereka berjumpa dengan sekelompok orang Tionghoa yang lebih dahulu meninggalkan kota Bengkulu dengan berjalan kaki. Pedagang besar Sin Tjie Hoo muncul dari kelompok tersebut dan menggamit Karim Oey yang masih berada di mobil. Kemudian Oey turun dari mobil. Rupanya sekelompok orang Tionghoa ini meminta perlindungan kepada pemerintah dan tentara. “Tidak usah takut. Tidak apa-apa. Saya akan bantu,”  kata Karim Oey menenangkan. Banyak diantara kelompok ini yang menangis meminta perlindungan.

Perjalanan Oey dan kawan-kawan penuh dengan bahaya. Di daerah Curup, Bengkulu, saat sudah masuk waktu shalat Jumat, di Masjid Muhammadiyah, tiba-tiba terdengar suara pesawat terbang Belanda. Pesawat tersebut kemudian melakukan tembakan membabi buta. Bangunan milik tentara, polisi, dan kantor pemerintah,  dan mobil-mobil menjadi sasarannya hingga ada yang terbakar.  Jamaah Jumat pun sempat panik padahal khutbah belum dimulai. Namun keadaan ditenangkan oleh Siradj, kawan Oey selama di Bintuhan. Kemudian pesawat Belanda pergi, keadaan tenang kembali, dan Shalat Jumat kembali dilanjutan.

Perjalanan dilanjutkan ke Muara Aman, di sana tak selamanya aman, beberapa tembakan sempat dilesatkan oleh pesawat Belanda.  Memasuki desa Taberenah, pesawat Belanda muncul kembali, jembatan, rumah-rumah penduduk, dan mobil menjadi sasaran tembak. Beruntungnya tak ada satu peluru pun mengenai mobil yang dinaiki Oey bersama kawan-kawan.

Beberapa minggu kemudian, mereka mendengar berita tentara Belanda sudah masuk Curup. Kemudian sempat terjadi kontak senjata antara tentara Belanda dan Indonesia di Tabaraneh. Akhirnya Belanda sampai di Muara Aman, namun Oey dan kawan-kawan sudah lebih dulu bersembunyi ke tempat yang aman. Tentara-tentara dari daerah lain juga sudah berkumpul di Muara Aman.

Namun ujian kembali menghadang, penduduk di Muara Aman melakukan aksi boikot makanan. Mereka tak mau jual makanan karena satu dan lain hal. Tokoh-tokoh pemerintahan seperti AK Gani, Dr. Isa, Hazairin, serta pemimpin militer Simbolon dan Barlian panik. Bermusyawarahlah mereka, termasuk Oey, demi mencari cara untuk menghadapi sikap penduduk yang melakukan aksi boikot tersebut.

Dalam musyawarah itu, Barlian dan Dr. Isa mengemukakan pendapatnya bahwa daerah ini adalah daerah Muhammadiyah. Di sekitar Raja Lebong, orang yang disegani penduduk adalah Oey Tjeng Hien, karena Oey sendiri memang orang Muhammadiyah. Akhirnya semua pejabat menyetujui penyerahan tugas untuk menghadapi penduduk diserahkan kepada Oey.

Usai musyawarah, Oey sebagai Konsul Muhammadiyah Daerah Bengkulu lalu memanggil pemimpin-pemimpin Muhammadiyah di sekitar Muara Aman. Setelah semuanya hadir, Oey berpidato:

“Kita dalam perjuangan melawan tentara Belanda. Ini bukan urusan mudah dan soal kecil. Kita akan melalui bermacam cobaan dan kesulitan untuk mempertahankan kemerdekaan. Mencapai  kemerdekaan bukan mudah. Berbagai cobaan dan  rintangan akan kita tempuh. Seperti kata Rasulullah, ‘untuk mencapai kemenangan harus menderita. Sesungguhnya sesudah kesusahan akan muncul kesenangan.’ Itu berarti untuk mencapai kesenangan atau kemenangan harus lebih dahulu menderita.

Sekarang kita sudah menempuh dan merasakan kesulitan itu. Saudara-saudara adalah tulang punggung tentara dan pejuang kita yang menolong serta menyokong segala apa pun untuk mencapai kemenangan dan kemerdekaan. Tahu-tahu laksana petir di siang bolong, saudara-saudara seolah-olah sudah menjadi alat dan kaki tangan NICA.[2] Saudara sendiri melarikan bahan makanan yang sangat diperlukan oleh pejuang, tentara, dan pejabat-pejabat pemerintahan kita. Kita hampir kelaparan akibat perbuatan khianat saudara-saudara itu.

Sekalian godaan dan kejadian mengecilkan hati kita. Jadi saudara ini seolah-olah seperti NICA. Dan menjadi alat NICA. Kata-kata saudara memang benar. Tetapi saudara harus tahu. Tentara kita itu belum terdidik dan memang tidak sempat didik dan dilatih. Akhlak mereka juga belum sempat kita didik agar berbudi dan melindungi rakyat. Karena mereka harus bertempur melawan Belanda. Oleh sebab itu, saya harap saudara-saudara memaafkan kesalahan mereka. Karena memang kita belum sempat membangun akhlak mereka. Mereka datang dari berbagai aliran dan corak, dari segala pelosok daerah. Dari semua penjuru, mereka kita terima, tanpa tahu empat asalnya. Penduduk desa itu banyak Muhammadiyah, demikian pula tentara yang menunggu kedatangan kami. Beberapa di antaranya anak Muhammadiyah dan anggota Pemuda Muhammadiyah.”

Oey lalu berjanji pada mereka untuk memperbaiki dan tidak mengulangi semua kejadian  yang tidak mereka senangi.[3]

 “Ini bapak kita, Konsul Muhammadiyah Pak Oey Tjeng Hien. Pak Konsul, Kami telah mengerti dan insaf. Dan kami nyatakan sikap kami itu adalah keliru, seolah menjadi kaki tangan NICA yang kami tidak sadari. Kami mengakui kekeliruan sikap kami itu. Barang-barang yang kami sembunyikan akan kami bawa kembali di desa,” tanggapan mereka.

Demikianlah kisah kepiawaian dan keberanian Oey Tjeng Hien dalam bernegosiasi dan berkomunikasi di tengah situasi yang terdesak dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. (PH)

Bersambung ke:

Mengenal Abdul Karim Oey (4): Pengkhianatan Masyumi Bengkulu

Sebelumnya:

Mengenal Abdul Karim Oey (2): Masuk Islam

Catatan:

Artikel ini diceritakan ulang dari: Andi Ryanshah, “Abdul Karim Oey Tjeng Hien: Kisah Tionghoa Pembela Agama dan Negara”, dari laman http://jejakislam.net/abdul-karim-oey-tjeng-hien-kisah-tionghoa-pembela-agama-dan-negara/, diakses 24 November 2017. Adapun data lain yang bukan berasal dari artikel tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Elvan Dany Sutrisno, “Jejak Tokoh Islam Oei Tjeng Hien di Rumah Pengasingan Soekarno”, dari laman https://news.detik.com/berita/3155599/jejak-tokoh-islam-oei-tjeng-hien-di-rumah-pengasingan-soekarno, diakses 27 November 2017.

[2] NICA adalah singkatan dari Nederlands Indie Civil Administration, sebuah pemerintah sipil Hindia Belanda sementara yang dibentuk di Australia. Dalam pembacaan sejarah orang-orang Indonesia, NICA bisa berarti juga sebagai Tentara Belanda. Segala hal berbau Belanda di mata orang-orang Indonesia tahun 1945-1949 layak disebut NICA. Dan, semua pendukung NICA oleh rakyat Indonesia yang pro-kemerdekaan disebut “Andjing NICA”, dalam Petrik Matanasi, “Sejarah Batalyon Andjing NICA”, dari laman https://tirto.id/sejarah-batalyon-andjing-nica-ck6Y, diakses 27 November 2017.

[3] Dalam artikel asli, tidak dijelaskan lebih lanjut apa saja kejadian yang membuat masyarakat setempat tidak senang. Namun apabila melihat isi pidato Oey, besar kemungkinan karena tentara berasal dari berbagai macam daerah dan dengan perilaku yang beraneka ragam, masyarakat dengan adat dan kebiasaan setempat tidak bisa menerimanya.