Mengenal Abdul Karim Oey (4): Pengkhianatan Masyumi Bengkulu

in Mualaf

Pembentukan Negara Federal Bengkulu tanpa memberi tahu pemerintah, maka itu berarti mancung pipi daripada hidung, dan sikap saudara-saudara ini termasuk pengkhianat bangsa.

­–O–

Tentara Belanda terus mendesak. Desa Tabarenah tak dapat dipertahankan sehingga mereka leluasa memasuki daerah Muara Aman. Sebentar-sebentar mereka muncul di sekitar kota kecil itu. Akhirnya Karim Oey dan kawan-kawan terpaksa mencari tempat yang lebih aman, lebih jauh ke pedalaman. Patroli Belanda semakin ketat.  Rombongan semakin berpencar mencari selamat. Dia dan kawannya, Amri menghindar ke persawahan, tepatnya di kaki gunung. Di sana ada danau petani, di dekatnya mengalir sungai kecil. Tak ada orang lain di hulu sungai itu. Dia tinggal di sebuah pondok yang dibangun penduduk setempat. Tiga orang pengurus Aisyiyah bergabung bersama mereka.

Patroli Belanda tambah gencar. Mereka mencari dan mengejar pejabat-pejabat republik termasuk Karim Oey yang saat itu menjabat sebagai Konsul Muhammadiyah, anggota DPD, dan kawan akrab Bung Karno.  Afifah dan kawan-kawan terpaksa bergabung dengannya karena tak dapat pulang ke Embong. Pengurus Muhammadiyah setempat memang sengaja mengutus mereka kepada Konsul Muhammadiyah Bengkulu yang tak lain Karim Oey sendiri. Malamnya, atas kabar seorang anggota Muhammadiyah, diinformasikan bahwa persembunyian mereka telah diketahui oleh mata-mata, mereka harus kembali melarikan diri. Kesokan harinya,  kira-kira jam 9 pagi muncul pesawat Belanda, pondok yang mereka sempat singgahi ditembak sampai hancur.

Perjalanan terus mereka lakukan demi menghindari serangan demi serangan. Oey dan Amri kemudian menemukan sebuah pondok dan sepasang petani di dalamnya. Ternyata petani itu anggota Muhammadiyah. Belum sempat dia dan Amri berbicara panjang, tiba-tiba muncul pesawat Belanda. Petani tadi lalu mengajak mereka menyelamatkan diri ke “lubang kerbau”, sebuah tempat sempit di celah bukit. Lubang kerbau itu berupa genangan air yang dalamnya setinggi dada. “Di sini cukup aman,” kata petani.

Pada saat mereka lari ke sana, Amri agak tertinggal di belakang dan berteriak, aku kena tembakan!” Saat itu pesawat terus menerus menembak daerah di sekitar mereka. Beruntung, Amri masih bisa meloloskan diri dan bergabung. Karena tempat persembunyian itu cukup tersembunyi, maka tidak ada peluru yang mengenai tubuh mereka. Peluru hanya berdesing-desing di atas kepala.

Ketika mereka berada di dalam air, tampak benda kekuning-kuningan mengambang di air. Oey bertanya, “apa ini?” Istri petani tadi menyahut, “(maaf) tai aku.” Pecahlah tawa mereka berempat. Rupanya istri petani tadi karena terlalu takut, dia tidak bisa menahan buang air besarnya di dalam rendaman air itu.

Perjalanan Abdul Karim Oey dan rombongan terus dilanjutkan, mereka berpindah-pindah mencari tempat yang aman. Ketika Oey bersembunyi di sebuah gardu penyebrangan, patroli Belanda datang. Dia tenang saja di dalam. Sambil melewati gardu, tentara Belanda bertanya, “Siapa di dalam? Tukang rakit?” Oey menjawab, “Ya.”“Siapa?” tanyanya lagi. “Saya,” jawab Oey agak keras. Mereka akhirnya jalan terus tanpa melihat ke dalam gardu. Mereka mengira Oey benar-benar penjaga rakit. Pulang patroli,  tentara Belanda melewati dekat gardu, mereka tidak bertanya lagi dan hanya lewat begitu saja. Berhari-hari Karim Oey menjadi “tukang rakit” sampai akhirnya patroli Belanda tidak pernah muncul lagi. Ternyata terdengar kabar berita sudah terjadi gencatan senjata antara pemerintah Indonesia dengan Belanda. Oey keluar dari tempat persembunyiannya di Desa Petangur.

Pasca gencatan senjata, seorang utusan Partai Masyumi Bengkulu bernama Teuku Akbar mencarinya di Muara Aman. “Apa maksud saudara kemari?” Tanya Oey. Teuku menjawab, “Saya disuruh oleh Masyumi Bengkulu menjemput Pak Konsul Rupanya mereka mengharapkan kehadirannya untuk memberikan pandangan dalam rapat di Bengkulu.

Rapat itu akan memutuskan pembentukan Negara Federal Bengkulu.  Dalam rapat itu Belanda dan Partai Masyumi Bengkulu sudah bulat mau bekerjasama membentuk Negara Partai Masyumi Bengkulu. Namun saat palu akan diketok, Saleh, Anggota Partai Masyumi Bengkulu meminta agar Ketua Masyumi Bengkulu memberikan pandangannya.[1]

Setelah tiba di Bengkulu dan memasuki ruang rapat di kantor Residen, dia  berkata di hadapan hadirin, “saya tidak bisa memberi pandangan, karena saudara-saudara sudah sebulat sekata mau bekerjasama dengan Belanda mau membentuk negara Federal. Jadi, percuma saja kami kalah suara. Hanya saya mau bertanya pada saudara-saudara, apakah Pemerintah Negara Republik Indonesia masih ada? Masih berdiri?” Mendengar itu, hadirin menjawab, “Pemerintah kita masih berdiri.”

“Kalau pemerintah kita masih berdiri,” lanjut Oey,  “pembentukan Negara Federal Bengkulu tanpa memberi tahu pemerintah, maka itu berarti mancung pipi daripada hidung, dan sikap saudara-saudara ini termasuk pengkhianat bangsa.” Mendengar itu, hadirin serentak menyatakan tidak mau menjadi pengkhianat dan akhirnya rencana untuk mendirikan Negara Federal Bengkulu batal.

Masyarakat Bengkulu pada 11 Desember 1949, yaitu ketika Bengkulu dikembalikan dari Territorial Bestuurs Adviseur Bengkulu (TBA) Belanda ke Pemerintah Indonesia. Photo:
History of Culture

Pejabat militer Belanda yang sedari tadi mengikuti sidang , marah. Ketika hadirin hendak pulang, seorang petugas membagi-bagikan amplop bertuliskan nama-nama peserta sidang. Setiap peserta yang menerima amplop menuliskan paraf. Sampai pada giliran Oey, ia bertanya, “Apa ini?” Petugas itu menjawab sambil menunjuk dengan tangan, “ini uang sidang, 25 Gulden.”[2] Lalu ia menolak, “Sama saya tak usah!” Di dalam hatinya, Oey berpendapat haram makan uang tersebut. Komandan Militer Belanda akhirnya menjebloskannya ke penjara. (PH)

Bersambung ke:

Mengenal Abdul Karim Oey (5): Indonesia Telah Merdeka, Perjuangan Selanjutnya adalah Dakwah

Sebelumnya:

Mengenal Abdul Karim Oey (3): Perjuangan Kemerdekaan

Catatan:

Artikel ini diceritakan ulang dari: Andi Ryanshah, “Abdul Karim Oey Tjeng Hien: Kisah Tionghoa Pembela Agama dan Negara”, dari laman http://jejakislam.net/abdul-karim-oey-tjeng-hien-kisah-tionghoa-pembela-agama-dan-negara/, diakses 6 Desember 2017. Adapun data lain yang bukan berasal dari artikel tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Republik Indonesia Serikat, (bahasa Belanda:Verenigde Staten van Indonesië bahasa Inggris: Republic of the United States of Indonesia) disingkat RIS, adalah suatu negara federasi yang berdiri pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Lihat “Republik Indonesia Serikat”, dari laman https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Indonesia_Serikat, diakses 6 Desember 2017.

[2] Gulden (bahasa Belanda: gulden, bahasa Inggris: guilder) adalah mata uang Belanda selama beberapa abad, sebelum digantikan oleh euro pada 1 Januari 2002. Kata gulden berasal dari bahasa Belanda Kuno yang berarti ’emas’. Nama ini mulanya digunakan untuk menyebut uang yang berbentuk kepingan emas, namun kemudian menjadi nama umum untuk kepingan perak atau logam dasar lainnya. Nama lain untuk gulden adalah florin. Satu setengah gulden juga disebut daalder (lihat thaler); sedangkan dua setengah gulden disebut rijksdaalder. Kata daalder atau thaler ini adalah asal mula dari kata dollar. Lihat “Gulden”, dari laman https://id.wikipedia.org/wiki/Gulden, diakses 6 Desember 2017.