Negus (10): Raja yang Melindungi Kaum Muslimin

in Tokoh

Ummu Salamah berkata, “Demi Allah, kami tetap berada dalam keadaan yang aman hingga muncul seorang dari Habasyah yang berusaha menjatuhkan Negus dari kursi kerajaan. Demi Allah, kami belum pernah melihat diri kami sedih seperti kesedihan saat itu. Kami khawatir orang tersebut bisa menjatuhkan Negus, akibatnya tampillah orang yang tidak mengetahui hak kami, sebagaimana Negus mengetahui hak kami.”

Gambar ilustrasi. Sumber: krisandr.livejournal.com

Demikianlah, perlindungan yang diberikan oleh Negus kepada kaum Muhajirin Makkah dirasakan sebagai sebuah oase yang melegakan hati kaum Muslimin. Bahkan pada tahap tertentu, ketulusan dan kedermawanan Nagus telah melahirkan rasa cinta di hati kaum Muslimin kepada raja yang adil tersebut.

Ketika terjadi rongrongan terhadap kekuasaan Negus di Habasyah, kaum Muslimin ikut mendoakan keselamatan dan sejahteraan bagi Negus dan negaranya. Hal ini dikisahkan oleh Ummu Salamah sebagai berikut: [1]

Ummu Salamah berkata, “Demi Allah, kami tetap berada dalam keadaan yang aman hingga muncul seorang dari Habasyah yang berusaha menjatuhkan Negus dari kursi kerajaan. Demi Allah, kami belum pernah melihat diri kami sedih seperti kesedihan saat itu. Kami khawatir orang tersebut bisa menjatuhkan Negus, akibatnya tampillah orang yang tidak mengetahui hak kami, sebagaimana Negus mengetahui hak kami.”

Ummu Salamah menambahkan, “Negus berangkat menemui lawannya dan tidak ada yang memisahkan kedua belah pihak melainkan luasnya Sungai Nil. Sahabat-sahabat Rasulullah Saw berkata, Siapa yang berani keluar untuk melihat jalannya peperangan kaum tersebut, kemudian dia datang kepada kita dengan membawa berita yang baik?'”

Ummu Salamah berkata, “Az-Zubair bin Al-Awwam berkata, ‘Saya siap!’ Mereka berkata, ‘Engkau?’ Az-Zubair adalah orang yang paling muda di antara kami. Sahabat-sahabat Rasulullah Saw mengisi tempat air untuk Az-Zubair bin Al-Awwam dan menggantungkannya di dadanya. Kemudian Az-Zubair berangkat dalam keadaan seperti itu menuju tepi Sungai Nil, tempat kedua belah pasukan bertemu, dan tiba di tempat mereka.

Kami semua berdoa kepada Allah agar memenangkan Negus atas musuhnya, dan memberikan stabilitas di negaranya. Demi Allah, kami berharap seperti itu, tiba-tiba Az-Zubair sambil memberi isyarat dengan baju-nya, dia berkata, ‘Ketahuilah dan bergembiralah, karena Negus menang, Allah membinasakan musuhnya, dan memberikan stabilitas di negaranya.’ Demi Allah, kami belum pernah melihat diri kami sebahagia hari itu.

Setelah itu, Negus pulang. Allah membinasakan musuhnya, dan memberikan stabilitas di negaranya. Habasyah pun semakin solid dalam kepemimpinan Negus. Kami tinggal di dalamnya dengan aman hingga pulang ke Makkah bertemu dengan Rasulullah Saw lagi.”  

Terkait lamanya waktu kaum Muhajirin menetap di Habasyah cukup beragam. Ada yang hanya beberapa tahun, seperti Utsman bin Affan, yang kembali ke Makkah dan ikut serta bersama kaum muhajirin lainnya hijrah ke Madinah. Tapi juga ada yang menetap selama belasan tahun. Salah satunya adalah pimpinan rombongan kaum Muslimin di Habasyah, Jakfar bin Abu Thalib yang baru kembali pada sekitar tahun 7 Hijriah.

Jakfar bin Abu Thalib

Jakfar bin Abu Thalib kembali menghadap Rasulullah Saw tepatnya pada saat kaum Muslimin baru mendapat kemenangan dalam perang Khaibar. Ketika Rasul bertemu Jakfar, beliau Saw langsung mencium bagian di antara kedua mata Jakfar sambil bersabda: “Aku tidak tahu, mana yang lebih menggembirakan hatiku, kemenangan atas Khaibar atau bertemu dengan mu.”[2]

Momen ketika Rasulullah Saw mencium di antara kedua kening Jakfar, dan ekspresi kebahagiaan Rasulullah ketika itu, cukup populer dicatat oleh para sejarawan. Hal ini jelas menunjukkan salah satu keutamaan Jakfar di mata Rasulullah Saw, meskipun dia tidak ikut secara langsung mendampingi Rasulullah Saw selama masa awal perjuangan membangun masyarakat Islam di Madinah.

Terkait Jakfar bin Abu Thalib, tidak banyak catatan spesifik mengenai kisah hidupnya. Sebelum datangnya wahyu pertama, Jakfar dikenal sebagai pecinta kaum miskin. Itu mungkin sebabnya Nabi menamainya Abu Al-Masakin (ayah kaum miskin). Ketika wahyu pertama datang, Jakfar masuk dalam golongan pertama yang masuk Islam. Dia memeluk Islam tatkala pemeluknya belum berjumlah 30 orang dan sebelum Rasul berdakwah di rumah Arqam.[3]

Menurut O. Hashem, kecintaan Rasulullah Saw pada Jakfar bin Abu Thalib sebenarnya bisa dimaklumi.

Selain karena akhlaqnya yang mulia, Jakfar juga merupakan sosok yang paling mirip dengan Nabi. Dia juga adalah salah satu keluarga dekat Nabi Saw yang sejak awal menyertai perjuangan beliau. Memang ada sejumlah kerabat Nabi lainnya yang mendukung perjuangan beliau. Namun satu persatu mereka mendapatkan syahid dalam perjuangan mereka. Setelah Ubaidah bin Harist terbunuh dalam perang Badr dan paman Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib syahid dalam perang Uhud, praktis keluarga dekat beliau yang menemani hanya sepupunya, Ali bin Abi Thalib. Oleh sebab itu, cukup wajar bisa Rasulullah Saw begitu bahagia ketika bertemu kembali dengan Jakfar bin Abu Thalib setelah perang Khaibar.[4] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 258

[2] Lihat, Ibn Katsir, Al-Sira Al-Nabawiyya; The Life of The Prophet Muhammad, Vol. III, Translated by Professor Trevor Le Gassick, The Center for Muslim Contribution to Civilization, hal. 245

[3] Lihat, O. Hashem, Muhammad Sang Nabi; Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, (Jakarta: Ufuk Press, 2007), hal 231-232

[4] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*