Negus (9): Raja yang Melindungi Kaum Muslimin

in Tokoh

Saat mendengar penjelasan Jakfar bin Abu Thalib tentang kedudukan Nabi Isa bin Maryam dalam agama Islam, Raja Negus kemudian mengambil tongkatnya dan berkata, “Sungguh, perbedaan pemahaman orang Muslim dan keyakinanku tentang Yesus tidak lebih besar dari tongkat yang aku bawa ini.”

Gambar ilustrasi. Sumber: islami.co

Apa yang dikatakan oleh Ummu Salamah bahwa kedua utusan orang Quraisy ini berpendirian kuat, memang bukan isapan jempol. Meksi sudah ditolak permohonannya, dan sudah diusir oleh Negus, keduanya masih tekun memutar otak untuk meloloskan misi mereka membawa kembali kaum Muslimin yang kini berada di bawah perlindungan Negus.

Konspirasi Amr bin Al-Ash

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah mengisahkan riwayat dari Ummu Salamah sebagai berikut:[1]

“Ketika kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Negus, Amr bin Al-Ash berkata, ‘Demi Allah, besok pagi aku menghadap Negus dan memojokkan mereka.’ Abdullah bin Abu Rabiah – orang yang paling kuat di antara orang-orang Quraisy – berkata, ‘Jangan kerjakan itu, karena mereka mempunyai kerabat kendati mereka berseberangan dengan kita.’ Amr bin Al-Ash berkata, ‘Demi Allah, aku akan jelaskan kepada Negus, bahwa sahabat-sahabat Muhammad meyakini Isa bin Maryam adalah hamba biasa’.”

Ummu Salamah berkata, “Keesokan harinya, Amr bin Al-Ash menghadap Negus untuk kedua kalinya dan berkata kepadanya, ‘Wahai paduka raja, mereka mengatakan sesuatu yang aneh tentang Isa bin Maryam. Oleh karena itu, kirim orang untuk menghadirkan mereka ke sini agar engkau bisa bertanya tentang tanggapan mereka terhadap Isa bin Maryam!’ Negus mengirim seseorang untuk menanyakan tanggapan kaum Muslimin terhadap Nabi Isa bin Maryam.”

Ketegaran Sikap Kaum Muslimin

Ummu Salamah berkata, “Kami belum pernah menghadapi persoalan seperti ini sebelumnya. Di sisi lain, kaum Muslimin mengadakan pertemuan. Sebagian di antara mereka bertanya kepada sebagian yang lain, ‘Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam jika Negus bertanya kepada kalian?’ Sebagian lain menjawab, ‘Demi Allah, kita katakan seperti difirman-kan Allah, dan dibawa Nabi kita. Itulah yang akan kita katakan’.”

Ummu Salamah berkata, “Ketika kaum Muslimin masuk ke tempat Negus, Negus bertanya kepada mereka, ‘Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?’ Jakfar menjawab, ‘Menurut kami, Isa bin Maryam ialah seperti dikatakan Nabi kami bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam yang perawan.’[2]

Saat mendengar itu, Raja Negus kemudian mengambil tongkatnya dan berkata, “Sungguh, perbedaan pemahaman orang Muslim dan keyakinanku tentang Yesus tidak lebih besar dari tongkat yang aku bawa ini.”[3]

Ummu Salamah berkata, “Para Batrix yang ada di sekitar Negus pun mendengus (untuk menunjukkan ekspresi ketidaksetujuannya) ketika mendengar apa yang dikatakan Negus.

Negus berkata, ‘Kendati kalian (para Batrix) mendengus!’

Kepada kaum Muslimin, Negus berkata, ‘Pergilah, kalian aman di negeriku. Barangsiapa menghina kalian, dia merugi. Barangsiapa menghina kalian, dia merugi. Barangsiapa menghina kalian, dia merugi. Aku tidak suka memiliki gunung dari emas.’

Konon Negus juga berkata, ‘Kalian aman, dan aku dulu pernah menyakiti salah seorang dari kalian. Kembalikan hadiah-hadiah ini kepada dua orang utusan Quraisy, karena aku tidak membutuhkannya. Demi Allah, Allah tidak mengambil suap dariku ketika Dia mengembalikan kekuasaan kepadaku kemudian aku mengambil suap di dalamnya. Manusia juga tidak patuh kepadaku hingga kemudian aku harus taat di dalamnya.’[4]

Kemudian kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Negus dalam keadaan terpukul hatinya dan hadiah-hadiah yang dibawanya ditolak Negus. Sedang kami tetap tinggal di negeri Negus dengan nyaman dan tetangga yang baik.” (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:  


[1] Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 256-257

[2] Apa yang dijelaskan Jakfar adalah sama dengan yang dijelaskan Allah SWT dalam Alquran Surat Maryam:16–24.

[3] Dalam a History of Christian-Muslim Relation, Hugh Goddard menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi semacam cermin atau referensi bagi Rasulullah SAW saat  menyambut kedatangan utusan dari Byzantium untuk melakukan perjanjian damai secara politik dengan Rasulullah SAW, tepatnya sekitar tahun ke-7 Hijriyah. Sebagaimana disebut oleh Ibn Ishaqsaat itu terjadi dialog antara tiga utusan Byzantium yang datang dengan Rasul, yang akhirnya mereka diminta oleh Rasulullah SAW untuk masuk Islam. Setelah dipertimbangkan, mereka lebih memilih untuk kembali ke rumah mereka. Rasulullah SAW pun mengizinkan mereka pulang dan meneruskan ajaran Kristen yang mereka anut dengan damai tanpa adanya intimidasi. Lihat, https://islami.co/dialog-jafar-bin-abu-thalib-dengan-raja-negus-yang-kristiani/, diakses 9 Februari 2020

[4] Kelanjutan dari riwayat ini adalah penjelasan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar tentang asal usul Negus sampai dia naik ke tampuk kekuasaan, yang sudah dijelaskan pada edisi (6) serial ini. Untuk membacanya, bisa mengakses link berikit: https://ganaislamika.com/negus-6-raja-yang-melindungi-kaum-muslimin/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*