Mozaik Peradaban Islam

Pakistan (2): Peradaban Mohenjo Daro

in Negara Islam

“Republik Islam Pakistan kaya dengan sejarah. Pasca mengalami Periode Mehrgarh, sejarah Pakistan beranjak ke era pembentukan Peradaban Lembah Sungai Indus yang melahirkan Peradaban Mohenjo Daro. Sebagai kota kuno, Mohenjo Daro diduga sebagai salah satu permukiman kota pertama di dunia, semasa dengan Peradaban Mesir Kuno, Peradaban Mesopotamia, dan Peradaban Yunani Kuno.”

                                                                                               —O—

 

Ribuan tahun sebelum berubah menjadi negara Republik Islam Pakistan, sesungguhnya di wilayah ini pernah terbentuk berbagai peradaban dari yang kuno hingga modern. Oleh karena itu, tidak aneh jika di kawasan ini banyak ditemukan situs bersejarah. Dari kebudayaan kuno ditemukan situs kebudayaan Neolitik, Mehrgarh, dan Peradaban Lembah Sungai Indus terutama situs Peradaban Mohenjo Daro dan situs Peradaban Harappa.

Kemudian, penduduk di wilayah ini mengalami sejarah Veda, sejarah Persia, sejarah Kekhalifahan Ummayah, sejarah Kekaisaran Maurya, sejarah Kekaisaran Mongol, sejarah Kesultanan Mughal, sejarah Kesultanan Sikh, sejarah imperialisme Inggris, dan sejarah Pakistan modern. Dengan kata lain, Republik Islam Pakistan memiliki sejarah yang kaya dan memanjang jauh ke belakang, setidak-tidaknya sampai tahun 3.500 SM.

Sebuah versi sejarah menerangkan, pemukiman pertama di Pakistan klasik berada di Balochistan. Dari daerah ini, mereka pindah ke arah timur, menyusuri Lembah Sungai Indus. Akhirnya, di lembah ini, mereka berinteraksi dengan bangsa Arya dari Persia. Selanjutnya dari perpaduan ini melahirkan Kerajaan Gandhara di Lembah Sungai Indus. Hal ini diketahui berdasarkan catatan yang dibuat orang Buddha pada abad ke-6 SM dan 5 SM.

Tahun 327 SM, Alexander Agung menghancurkan kerajaan tersebut. Lalu, Pakistan klasik ditaklukkan dan menjadi bagian India pada masa Kerajaan Muria abad ke-3 SM. Akhirnya, daerah Sungai Indus menerima pengaruh Hindu yang sangat kuat sekitar tahun 320-540 M. Namun, sekitar abad ke-8 M, daerah ini ditaklukkan oleh orang-orang Islam, sehingga pengaruh Hindu pun, melemah. Sekitar abad ke-13 M, umat Islam mulai mengonsolidasikan kekuasaannya di seluruh wilayah India yang sekarang menjadi Republik Islam Pakistan dan membentuk kesultanan di sekitar New Delhi, India.[1]

Sebelum menginjak sejarah agama yang berkitab suci, di wilayah Republik Islam Pakistan ini pernah terbentuk dua peradaban penting dan cukup maju, yaitu Peradaban Mohenjo Daro dan Peradaban Harappa. Dua peradaban klasik ini sama-sama bagian dari Peradaban Lembah Sungai Indus (Indus Valley Civilization) yang berlangsung sekitar tahun 2.800 SM – 1.800 SM. Peradaban ini hidup di sepanjang Sungai Indus yang kini menjadi bagian wilayah Republik Islam Pakistan dan India barat.

Peradaban tersebut terbentuk berkat anugerah Sungai Indus yang subur dan menyuburkan tanah-tanah di sekitarnya. Sungai Indus bukan hanya menyediakan air minum dan air mandi bagi penghuni Mohenjo Daro, tetapi juga menyuburkan tanah pertanian penduduk dan – akhirnya – memenuhi kebutuhan makanan penduduk di peradaban tersebut.

Dalam konteks ini, Mohenjo Daro merupakan pusat Peradaban Lembah Sungai Indus. Peradaban ini muncul pada Zaman Perunggu yang didahului Periode Mehrgarh dan dilanjutkan oleh Periode Veda. Periode Veda adalah zaman ketika penduduk di kawasan tersebut mulai mengenal aksara dan berada di bawah pengaruh Kitab Veda yang dihasilkan dari percampuran kebudayaan penduduk setempat dengan warga pendatang dari suku Arya, Persia.

Mohenjo Daro adalah salah satu situs dari sisa-sisa permukiman terbesar dalam Peradaban Lembah Sungai Indus di Provinsi Sindh, Republik Islam Pakistan. Dibangun sekitar tahun 2.600 SM akan tetapi dikosongkan sekitar tahun 1.500 SM, kota kuno ini diduga salah satu permukiman kota pertama di dunia, semasa dengan Peradaban Mesir Kuno, Peradaban Mesopotamia, dan Peradaban Yunani Kuno. Arti Mohenjo Daro sendiri adalah “Bukit Orang Mati”. Selain disebut Mohenjo Daro, kota kuno ini pun sering disebut “Metropolis Kuno di Lembah Indus”.[2]

Situs kota kuno Mohenjo Daro. Sumber gambar: tanogabo.com

Situs Mohenjo Daro terletak di tengah jurang di antara lembah Sungai Sindhu di sebelah barat dan Ghaggar-Hakra di sebelah timur. Sekarang, Sungai Sindhu masih mengalir ke arah timur situs itu, sedangkan dasar sungai Ghaggar-Hakra sudah kering. Di daerah itu diduga pernah berdiri bangunan yang mencapai 12 meter di atas permukaan dataran masa kini.

Pada zamannya, Mohenjo Daro adalah salah satu pusat administratif Peradaban Lembah Sungai Indus kuno.[3] Pada puncak kejayaannya, Mohenjo Daro adalah kota yang paling maju di kawasan Asia Selatan, bahkan – mungkin juga – di dunia. Perencanaan dan teknik bangunannya menunjukkan tingkat kepentingan kota ini bagi penduduk di Lembah Sungai Indus. Pemukiman Peradaban Lembah Sungai Indus tersebar sejauh pantai Laut Arab di Gujarat di bagian selatan dan perbatasan Iran di barat dengan kota perbatasan di Bactria.

Beberapa peradaban yang pernah tumbuh di sekitar Lembah Sungai Indus. Sumber gambar: slideplayer.com

 

Menurut sejumlah arkeolog, dalam masa puncak kejayaannya, penduduk Peradaban Lembah Sungai Indus mencapai 5 juta. Hingga sekarang, di daerah itu telah ditemukan lebih dari seribu kota dan permukiman, terutama di Lembah Sungai Sindhu di Republik Islam Pakistan dan di India barat laut. Bangunan di Mohenjo Daro tampak luar biasa, karena strukturnya terdiri atas batu-bata dari lumpur dan kayu bakar terjemur matahari yang ukurannya merata. Selain itu, tata letak bangunannya pun terencana dan berbasis grid jalanan yang tersusun menurut pola yang sempurna.

 

Ilustrasi tata kota Mohenjo Daro. SUmber gambar: idsejarah.net

 

Bangunan-bangunan publik di kota ini adalah lambang penduduk yang sangat terencana. Bangunan yang bergelar Lumbung Besar tampak berdiri. Versi yang lain menyebut Lumbung Besar ini sebagai “Balai Besar”. Di dekat lumbung, terdapat bangunan publik yang pernah berfungsi sebagai pemandian umum besar, dengan tangga yang turun ke arah kolam berlapis bata di dalam lapangan berderetan tiang. Tempat pemandian berhias ini dibangun dengan baik. Lapisan tar alami tampak menghambat kebocoran di samping tengah kolam berukuran 12 meter x 7 meter dengan kedalaman 2,4 meter. Kolam ini bisa jadi digunakan sebagai tempat upacara keagamaan atau kerohanian.

Di dalam kota, air dari sumur disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Beberapa rumah ini dilengkapi kamar mandi. Air buangan disalurkan ke dalam selokan tertutup yang memanjang searah jalan-jalan utama. Kemudian pintu masuk rumah hanya menghadap lapangan dalam dan lorong-lorong kecil. Selain itu terdapat berbagai bangunan yang hanya setinggi satu atau dua tingkat.

Sebagai kota pertanian, Mohenjo Daro bercirikan sumur besar dan pasar pusat. Kota ini pun memiliki bangunan yang memiliki hypocaust, yang kemungkinan besar digunakan untuk pemanasan air mandi. Dari segi keamanan, Mohenjo Daro terbilang kota yang cukup terlindungi. Meski tiada tembok, tetapi terdapat menara di sebelah barat pemukiman utama dan benteng pertahanan di sebelah selatan. Kota ini dibagi dua: benteng kota dan kota hilir.

 

Situs Kota Mohenjo Daro tampak dari atas. Sumber gambar: steemit.com

 

Di benteng kota bukan hanya terdapat pemandian umum dan struktur perumahan besar yang dirancang untuk menempatkan 5.000 warga serta dua buah dewan perhimpunan besar, sedangkan di kota hilir, sebagian besar wilayahnya belum ditemukan.

Setidaknya, Mohenjo Daro telah dimusnahkan dan dibangun kembali sebanyak tujuh kali. Setiap kali, kota baru dibangun terus di atas kota lama. Diduga, banjir dari Sungai Indus  menjadi penyebab utama terjadinya kerusakan bahkan kemusnahan kota tersebut. [MDK]

Bersambung ke:

Pakistan (3): Peradaban Harappa

Sebelumnya:     

Pakistan (1): Era Kontemporer

 

Catatan Kaki:

[1]     Lihat B. Setiawan  dkk. 1990. Ensikloedi Nasional Indonesia Jilid XII. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. Hlm 40.

[2]     Lihat “Mohenjo-daro An Ancient Indus Valley Metropolis” dalam https://www.harappa.com/mohenjo-daro/mohenjodaroessay.html. Diakses di Cianjur, 1 November 2018.

[3]     Roger B. Beck. 1999. World History: Patterns Of Interaction. Evanston, IL: McDougal Littell.