Peci: Sintesis Keislaman dan Keindonesian (3)

in Lifestyle

Kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia”. (Gus Mus)

—Ο—

 

Cukup banyak asumsi dan spekulasi tentang masuknya peci ke Nusantara. Tentang waktu masuknya, salah satu informasi yang paling tua mengatakan bahwa saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.[1] Meskipun tidak dijelaskan bagaimana persisnya model peci yang dimaksud, dan kapan tepatnya peci masuk ke pulau Jawa, dari informasi tersebut bisa dikatakan bahwa peci sudah ada di Indonesia setidaknya sejak abad ke-15 masehi.

Adapun dari proses perkembangannya – dari beberapa asumsi yang dikemukakan tentang bagaimana awal mula peci menjadi tradisi busana di Nusantara – informasi yang menyatakan peci berasal dari Turki tampaknya paling mungkin mendekati kebenaran. Alasannya pertama; bentuknya yang memang sangat mirip dengan penutup kepala khas Turki yang bernama ‘fezzi’ atau ‘phecy’; kedua, karena terdapat kemiripan istilah antara peci dengan ‘fezzi’ atau ‘phecy’; dan ketiga, karena cukup banyak alasan historis yang mendukung pendapat ini.

Sejak abad ke-16 M, sudah terjadi hubungan yang erat antara kerajaan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh. Jalinan kerjasama ini dimulai ketika bala tentara Portugis berhasil mengalahkan pasukan Aceh di Malaka. Belajar dari kekalahan ini, maka Sultan Aceh bernama Alauddin Tiayat Syah (1537-1568) menyusun kembali bala tentaranya. Ia menggabungkan koalisi dan kerjasama empat kekuatan dunia Islam, Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan Islam di India, negeri-negeri Arab, dan beberapa kerajaan di Jawa.[2] Sebuah Surat kabar Turki yang terbit pada saat pecah perang antara Aceh dan Belanda (1875) menceritakan bahwa pada 1516 Sultan Aceh Firman Syah telah menghubungi Siman Pasya, Wazir dari Sultan Salim I untuk mengikat tali persahabatan. Semenjak masa itulah hubungan antara Aceh dan Turki Utsmani terjalin dengan baik.[3]

Sebagai buntut dari kerjasama yang baik ini, Sultan Turki kemudian menghadiahkan ‘fezzi’ atau ‘phecy’ yang merupakan penutup kepala khas Turki kepada Sultan Aceh. Menurut salah satu ulasan dokumentasi di Geolive.id, peci pertama ini kemudian diproduksi lebih banyak dan berkembang pesat di Aceh, serta mulai dikenakan secara luas oleh masyarakat Aceh dan Melayu.[4] Hal ini diperkuat oleh pendapat para ilmuwan yang mengatakan, bahwa peci/songkok sudah menjadi pemandangan yang umum di masyarakat Melayu sejak abad ke-16 M.[5]

Lambat laun, seiring berjalannya waktu, peci sudah menjadi semacam simbol kekhasan budaya nusantara. Tidak hanya di Melayu, peci bisa ditemukan dimana saja dari Aceh hingga Papua. Sedemikian meleburnya peci dengan kebudayaan masyarakat nusantara, sehingga pelacakan historisnya sudah tidak menjadi masalah lagi. Peci merupakan salah satu hasil inovasi dari kejeniusan nusantara yang termasyur itu. Meski peci mulanya berasal dari negara-negara Muslim, tapi ketika sudah tersentuh oleh kejeniusan nusantara, identitas keagamaan dari peci menghilang, dan bertranformasi menjadi simbol kebudayaan bersama, dan pada akhirnya menjadi identitas kebangsaan. Sehingga kita saksikan sendiri di banyak file sejarah, pengguna peci bukan hanya kaum Muslim, tapi semua pejuang kemerdekaan dari suku dan agama apapun.

Sebagaimana sudah kita urai pada seri sebelumnya. Peci, khususnya yang berwarna hitam dan terbuat dari bahan bluduru, menjadi simbol kebangsaan kita sejak Sukarno pertama kali mempromosikannya pada pertemuan Jong Java di Bandung tahun 1921. Alasan Bung Karno kala itu, bukan karena peci adalah ciri khas masyarakat Muslim, tapi karena peci merupakan identitas kerakyatan secara umum.[6] Sejak itu, peci jenis ini menjadi pemandangan umum yang tak pernah hilang hingga hari ini, baik sebagai busana kenegaraan ataupun kegiatan-kegiatan keseharian masyarakat Indonesia.

KH Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jawa Tengah, adalah salah satu tokoh yang identik dengan peci hitam.  Dalam salah satu wawancaranya dengan sebuah media, beliau mengatakan “Islam Indonesia pada zaman Soekarno sangat dihargai di mata dunia karena dengan bangganya Soekarno menyuarakan tentang Islam di Indonesia hingga pada sidang PBB pun beliau menggunakan dalil untuk meyakinkan bahwa Islam di Indonesia besar, sehingga saya sangat bangga memakai peci Soekarno ini,” ungkap beliau sambil menunjuk peci hitam yang dikenakannya.[7] Bila ditafsirkan lebih jauh maksud beliau, mungkin bisa dikatakan, bahwa peci hitam ini adalah sintesa antara keIslaman dengan keIndonesiaan yang tidak mungkin lagi bisa dipisahkan satu sama lain.

Dalam berbagai kesempatan, sosok kharismatik yang akrab dipanggil Gus Mus ini juga sering mengatakan, “Kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia”. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Peci: Hasil Sintesa Ke-Islaman dan Ke-Indonesian (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://jabar.tribunnews.com/2015/12/14/karena-soekarno-kita-bangga-pakai-peci-ini-asal-usul-peci-hitam-yang-jadi-ikon-nasional, diakses 15 Februari 2018

[2] Lihat, A. Hasjmy (ed.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Cetakan III, Al Maarif, 1993, hlm. 234-235

[3] Lihat, http://www.suaradarussalam.com/2016/04/hubungan-aceh-dan-turki-usmani.html, diakses 15 Februari 2018

[4] Lihat, https://www.youtube.com/watch?v=fXdW0B3K218, diakses 15 Februari 2018

[5] Lihat, Rozan Yunos, “The Origin of the Brunei’s Kopiah”, http://bruneiresources.blogspot.co.id/2008/02/origin-of-bruneis-kopiah.html, diakses 15 Februari 2018

[6] Lihat, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Halaman 28

[7] Lihat, https://arrahmahnews.com/2015/11/09/gus-mus-dan-peci-bung-karno-identitas-islam-nusantara-yang-nyata/, diakses 15 Februari 2018