Mozaik Peradaban Islam

Pemberontakan Zanj (13): Jatuhnya Kota Basrah (1)

in Sejarah

Sebelum menaklukkan Basrah, pemimpin tertinggi Zanj, Ali bin Muhammad, memahami ketakutan yang dialami masyarakat Basrah. Bukannya langsung melakukan serangan umum, Ali justru menambahkan dosis teror di kota Basrah. Melalui ekspedisi kecil pasukannya, mereka blokade pasukan logistik ke Basrah, dan menyerang wilayah-wilayah penyangga di sekitar kota Basrah. Seperti biasa, mereka menyiksa dan membunuh penduduknya dengan kejam, lalu menguras harta benda yang ada di wilayah tersebut.”

—Ο—

 

Majulah kalian wahai para bangsawan, baik dalam keadaan ringan ataupun berat, menghadapi budak-budak keji (Zanj); ketika mereka sedang berusaha keras (menghancurkan Basrah); kalian justru sedang tertidur – malu, malu dengan tidur nyenyak mu.

 Wujudkan kepercayaan saudara-saudara mu (orang-orang Basrah) yang sudah menaruh akspektasi tinggi pada mu dan telah meletakkan harapan pada mu (bahwa kalian akan membantu mereka) dalam setiap keadaan yang mereka hadapi.

Pembalasan yang setimpal pada mereka (Zanj), akan membuat tentram jiwa masyarakat.” (ibn al-Rumi)

Demikianlah kutipan dari elegi kontemporer Ibn al-Rumi,[1] yang meratapi kehancuran Basrah dan mendesak komunitas Muslim untuk membalas dendam pada Zanj.[2] Ibn al-Rumi adalah seorang penyair terkenal yang hidup di masa itu dan menyaksikan sendiri bagaimana kekejian berlangsung demikian massif dilakukan pemberontak Zanj. Dari syair tersebut setidaknya kita bisa meraba bagaimana emosi zaman ketika menyaksikan huru hara yang disebabkan oleh pemberontakan Zanj.

Sebagaimana sudah kita ulas dalam beberapa edisi sebelumnya. Bahwa Kota Basrah, adalah target utama pemberontakan Zanj yang dimulai sejak September 869 M. Sebab kota ini disamping kaya, juga memiliki posisi yang sangat strategis, baik bagi Zanj, maupun bagi Dinasti Abbasiyah yang ketika itu beribu kota di Samarra.

Di awal pecahnya pemberontakan, sebenarnya kelompok Zanj sempat membidik kota ini dan berhasil melumpuhkan perlawanan dari pasukan Abbasiyah di kota ini. Tapi karena pertimbangan strategis, Ali bin Muhammad, pemimpinan tertinggi pemberontakan Zanj menarik pasukannya dan memilih mengambil jalan memutar ke al-Ubullah, lalu ke Jubba, dan kemudian ke Al Ahwaz.

Gambar Ilustrasi. Sumber: ohafrika.com

Ternyata keputusan Ali bin Muhammad sangat jitu. Ekspedisi militer kelompok Zanj ke wilayah timur tersebut menghasilkan banyak keuntungan tak terduga. Selain keuntungan material – seperti harta benda, persenjataan dan tambahan personil – kekejaman yang mereka lakukan pada wilayah-wilayah taklukannya telah berhasil menebar terror ke seantero negeri.

Sejak tersiarnya kemenangan kelompokj Zanj di wilayah al-Ubullah, Jubba, dan Al Ahwaz yang diikuti kisah tentang aksi penyiksaan penduduk, penjarahan harta benda, dan perusakan bangunan di wilayah taklukannya, semua wilayah lain dilanda kecemasan yang mendalam. Dan salah satu yang paling merasakan kecemasan tersebut adalah penduduk Basrah, yang memang sejak awal menjadi target utama dari pemberontakan tersebut. Mereka banyak yang memilih melarikan diri dari Basrah dan mencari tempat yang lebih aman. [3] Fenomena tersebut secara otomatis melemahkan ketahanan sosial masyarakatnya, dan membuat peluang kelompok Zanj untuk menaklukkan Basrah semakin terbuka.

Pemimpin tertinggi Zanj, Ali bin Muhammad, sosok yang sudah matang dalam masalah militer, memahami psikologi masyarakat Basrah. Bukannya langsung memerintahkan untuk melakukan serangan umum ke Basrah, dia justru dengan cerdik menambahkan dosis ketakutan di kota Basrah. Melalui sejumlah ekspedisi kecil, pasukannya, menyerang kampung-kampung dan wilayah penyangga di sekitar kota Basrah. Seperti biasa, mereka menyiksa dan membunuh penduduknya dengan kejam, lalu menguras harta benda yang ada di wilayah tersebut.

Pada tahap selanjutnya, Ali bin Muhammad memerintakan untuk memlokade suplai logistik yang ke kota Basrah. Mereka merampok kafilah yang menuju maupun yang pergi dari Basrah, sehingga kota tersebut dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. Sebagaimana di kisahkan oleh Tabari, kelaparan dan wabah penyakit meluas di Basrah. Dan yang lebih memilukan, faksi-faksi yang ada di Basrah justru panik, saling menyalahkan satu sama lain, dan terpecah belah.[4]

Di sisi yang lain, Mansur ibn Ja’far al-Khayyat, gubernur Basrah yang dipercaya oleh pemerintah pusat Abbasiyah di Samarra sebenarnya adalah sosok yang kuat. Dia sempat berusahan memadamkan pemberontakan kelompok Zanj dengan menarik pasukannya keluar dari Basrah dan meladeni tantangan kelompok Zanj di berbagai front. Tapi disebabkan taktik grilya yang dilancarkan Ali bin Muhammad melalui dua jenderal utamanya yaitu ‘Ali ibn Aban al-Muhallabi dan Yahya ibn Muhammad al-Bahrani, Mansur ibn Ja’far menjadi kuwalahan. Lambat laun, jumlah pasukannya mengecil, sementara agregat kekuatan kelompok Zanj terus meningkat. Akhirnya Mansur ibn Ja’far memutuskan untuk bertahan di Basrah, direpotkan oleh masalah sosial, ekonomi dan politik internal yang makin runyam. (AL)

 

Bersambung…

Pemberontakan Zanj (14): Jatuhnya Kota Basrah (2)

Sebelumnya:

Pemberontakan Zanj (12): Anarki di Samara Berlanjut

Catatan kaki:

[1] Nama lengkapknya adalah Abu al-Hasan Ali ibn Abbas ibn Jurayj atau lebih dikenal sebagai Ibn al-Rumi, lahir di Baghdad pada 836 dna wafat pada 896 M. Dia adalah seorang penyair terkenal di masa Dinasti Abbasiyah. Pada usia 20 tahun, dia sudah bisa menghidupi dirinya melalui syair-syair yang dibuatnya, yang kelak terkumpul menjadi Diwan Ibn al-Rumi. Selain itu, dia juga dikenal dekat dengan sejumlah politisi dan para petinggi Abbasiyah. Lihat, Ibn al-Rumi, http://www.wikiwand.com/en/Ibn_al-Rumi, diakses 2 Oktober 2018

[2]Go forth, you nobles, light and heavy, against the vile slaves (Zanj); They managed well their enterprise (the destruction of Basra) whilst you were sleeping – shame, shame upon the sleep of the sleepers!

Make true the belief of (your) brothers (the people of Basra) who had (high) expectations of you, and put their hopes in you (to help them) in all vicissitudes.

Exact vengeance for them, for that will be (grateful) to them as the restoring of their spirits to their bodies.” (Ibn al-Rumi). Lihat, ibid

[3] The History of al-Tabari Volume XXXVI, The Revolt of the Zanj, Translated by David Waines, State University of New York Press, 1992, hal. 112

[4] Ibid, hal. 122