Pemberontakan Zanj (8): Penaklukkan Basrah (2)

in Sejarah

Seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Zanj, semakin luas juga teror yang terjadi. Korban jiwa terus bertambah, dan krisis bahan pangan terjadi. Selain menaklukkan, para pemberontak Zanj juga membantai penduduk di wilayah taklukannya dengan keji, menjarah harta benda mereka, dan menebar terror ke seluruh negeri.”

—Ο—

 

 

Ilustrasi gamber berjudul: Naskah Persia dari anthrax Ben Shaddad yang berasal dari abad ke-6. Sumber gambar: wikipedia.org

Setelah berhasil menghimpun sejumlah faksi perbudakan, revolusi Zanj pun di mulai. Beberapa hari setelah idul fitri tahun 255 H/869 M, Ali bin Muhammad dan pengikutnya mulai bergriliya dari satu kampung ke kampung lain. Dengan perlengkapan tempur seadanya, mereka berhasil merebut beberapa desa dan mengalahkan sejumlah datasemen kecil pemerintah Abbasiyah. Kemenangan awal ini ternyata berhasil membangkitkan kepercayaan diri para budak dan pengikut Ali bin Muhammad. Membuat mereka kian optimis bahwa mimpi-mimpi yang dijanjikan oleh Ali bisa terwujud.

Akan tetapi, ada yang aneh dari revolusi yang gelar oleh kelompok Zanj. Sebagaimana dikisahkan oleh al-Tabari, revolusi ini seperti tidak memiliki orientasi yang jelas. Tidak ada ideologi, peta perjuangan, ataupun target pencapaian yang definitif. Semua berlangsung sporadis. Mereka menaklukkan sebuah kampung, menjarah harta benda di sana, lalu menyiksa dan membunuh penduduknya. Sehingga wajar saja bila kemudian sejarawan banyak juga menyebutnya sebagai pemberontakan. Atau bahkan lebih tepat disebuat sebagai pembalasan dendam.[1]

Bila menilai sejumlah aspek legitimasi yang digaungkannya, Ali bin Muhammad lebih menggunakan paradigma khawarij sebagai pembenaran atas apa yang dilakukannya, seperti jargon “tidak ada hukum selain hukum Allah” (La hukma illa lillah). Sedang untuk mengagitasi semangat juang pengikutnya, dia melontarkan jargon-jargon keadilan, pelawanan kelas, dan janji-janji yang bersifat material seperti harta benda dan jabatan. Adapun secara kultural, Ali mengaku kepada sejumlah pihak bahwa dia adalah keturunan Zaid yang nasabnya bersambung hingga ke Ali bin Abi Thalib.

Tapi menariknya, kombinasi aspek-aspek tersebut ternyata mampu menyedot partisipasi dari berbagai kalangan, yang dalam kondisi normal, semestinya paham mereka saling kontradiktif satu sama lain. Seperti kelompok Syiah dan Khawarij, atau para tuan tanah dan budak. Inilah nanti yang melahirkan kebingungan di antara para peneliti ketika mendefinisikan secara tepat revolusi yang dimaksud oleh Ali bin Muhammad.[2]

David Waines, penerjemah karya al-Tabari juga mengungkapkan hal yang sama dalam catatan kakinya, bahwa dalam perkembangannya, sebutan Zanj itu sendiri menjadi sangat bias. Karena ide gerakan itu sendiri tidak berasal dari orang-orang Zanj, dan para pemimpin gerakan itu juga tidak satupun dari orang-orang Zanj. Bahkan David Waines mengutip M. A. Shaban dalam Islamic History, bahwa gerakan tersebut lebih tepat dikatakan sebagai pemberontakan orang-orang Arab yang mengeksploitasi kekuatan orang-orang kulit hitam.[3]

Kembali pada pemberontakan Zanj yang sudah mulai berkembang cepat di sekitar Irak selatan pada akhir tahun 869 M. Guna meredam meluasnya gerakan tersebut, otoritas lokal Dinasti Abbasiyah langsung mengambil tindakan. Sebanyak empat ribu personil pasukan dikerahkan untuk menghadapi pasukan yang dipimpin oleh Ali bin Muhammad. Tapi upaya itu kandas. Sebagian besar pasukan Abbasiyah melarikan diri, sedang sisanya yang tertangkap, tak satupun diampuni. Ali memerintahkan mereka semua dipenggal tanpa sisa.

Setelah menaklukkan perlawanan dari otoritas lokal di sekitar Basrah, Ali bin Muhammad dan pasukannya pergi ke beberapa desa di wilayah tersebut. Mereka menyerang penduduknya dan menjarah harta benda mereka. Para penduduk banyak yang berlarian menyelamatkan diri. Sedang sebagian yang lain tertangkap dan dipaksa untuk tunduk. Mereka yang melarikan diri, sempat juga membangun perlawanan terhadap kelompok Ali, tapi perlawanan tersebut selalu menemui kekalahan. Bahkan mereka sempat juga mengajukan sejumlah tawaran negosiasi. Namun itupun ditolak oleh Ali bin Muhammad. Hingga akhirnya, pertempuran dalam skala kecil maupun besar terus berlanjut di sejumlah wilayah.[4]

Dalam beberapa minggu berikutnya, kekuatan para pemberontak terus bertambah kuat. Sejumlah upaya yang dilakukan oleh penguasa Basrah dan para elit lokal lainnya terbukti tidak efektif. Berkali-kali mereka mengirimkan pasukan tambahan, tapi berkali-kali pula pasukan itu mengelami kekalahan serius. Seiring dengan itu, wilayah kekuasaan Zanj juga kian meluas dari hari ke hari. Dan yang paling mengerikan, korban jiwa terus bertambah, penganiayaan terus terjadi, dan krisis bahan pangan terjadi. Selain menaklukkan, para pasukan Ali bin Muhammad juga membantai penduduk di wilayah taklukannya dengan keji, menjarah harta benda mereka, dan menebar terror ke seluruh negeri.[5]

Setelah beberapa minggu berhasil menaklukkan beberapa desa di wilayah Irak Selatan, serta mengalahkan sejumlah unit pasukan tentara Abbasiyah, akhirnya kelompok Zanj mulai merancang rencana untuk mengincar Basrah, salah satu kota pelabuhan paling besar di dunia kala itu.[6] Kota ini adalah etalase kemasyhuran Dinasti Abbasiyah di samping Kota Bundar Bahgdad (Madinat al-Salam). Di sinilah para pelancong, ilmuwan, pedagang, hingga utusan diplomatik dari seluruh dunia melempar sauh sebelum akhirnya masuk ke kota Bahgdad. Menaklukkan kota ini, sama halnya dengan memutus urat nadi Dinasti Abbasiyah. (AL)

Peta wilayah Basrah. Areal yang berwarna merah merupakan daerah awal yang terkena dampak pemberontakan Zanj. Sumber gambar: wikiwand.com

 

Bersambung…

Pemberontakan Zanj (9): Penaklukkan Basrah (3)

Sebelumnya:

Pemberontakan Zanj (7): Penaklukan Basrah (1)

Catatan kaki:

[1] David Brown, Zanj: Revolt, Conflict and Change, https://www.academia.edu/6401109/Zanj_Revolt_Conflict_and_Change, diakses 19 September 2018

[2] Ibid

[3] Lihat, David Waines, catatan kaki dalam The History of al-Tabari Volume XXXVI, The Revolt of the Zanj, Translated by David Waines, State University of New York Press, 1992, hal. 38

[4] The History of al-Tabari Volume XXXVI, The Revolt of the Zanj, Translated by David Waines, State University of New York Press, 1992, hal. 39-43

[5] Ibid

[6] Nicholas C. McLeod  dalam tesisnya menyebutkan bahwa pada akhir tahun 869 M, diperkirakan jumlah pengikut Ali bin Muhammad dari kelas budak sekitar 15 .000 personil. Jumlah ini secara konstan bertambah seiring dengan kemenangan demi kemenangan yang diarah para pemberontak. Hal yang sama juga terjadi pada kapasitas dan kapabilitasp pasukan. Bila sebelumnya mereka melakukan pemberontakan dengan menggunakan alat seadanya, setelah berhasil melewati jumlah kemenangan, peralatan yang mereka memilikipun kian canggih. Lihat, Nicholas C. McLeod, “Race, rebellion, and Arab Muslim slavery : the Zanj Rebellion in Iraq, 869 – 883 C.E,” Electronic Theses and Dissertations. Paper 2381. https://ir.library.louisville.edu/etd/2381/