Mozaik Peradaban Islam

Perjalanan Rosie Gabrielle Memeluk Islam (9): Oman (6): Topeng Wanita Oman (2)

in Mualaf

Last updated on July 10th, 2020 02:59 pm

Topeng battulah kini di kota-kota besar tidak lagi digunakan dalam keseharian, ia hanya dipakai dalam acara tertentu, bentuknya pun sudah menjadi bermacam-macam. Bahkan, terkadang ia dipakai untuk menambah daya pikat seorang wanita.

Battulah yang telah dimodifikasi. Foto: Desert Winds Photography/Flickr

Para wanita Badui Oman bebas untuk merancang topeng mereka sendiri, sesuai dengan adat istiadat suku mereka. Mereka dapat memilih untuk menutupi seluruh wajah dengan pengecualian mata, misalnya. Topeng kemudian diukir sedemikian rupa sehingga persis mengikuti bentuk mata.

Sementara itu gadis-gadis lain suka memberikan garis penegasan untuk tulang rahang atau tulang pipi mereka. Topeng mereka terdiri dari sayatan besar yang membingkai garis wajah mereka. Oleh karena itu topeng mereka, atau dalam nama lokal disebut battulah, kadang-kadang juga digunakan untuk menambah daya pikat seorang wanita.

Gaya dan warna battulah tergantung pada wilayah masing-masing. Di wilayah utara Oman, seperti al-Buraymi dan Musandam, perempuan Badui mengenakan topeng wajah tipis berwarna emas. Warna yang sama dapat ditemukan di wilayah ash-Sharqiya dan gurun Wahiba Sands, tetapi di sana topengnya terbuat dari bahan yang lebih tebal. Juga, bentuknya tidak rata seperti gaya utara, tetapi membentuk semacam paruh di bagian tengahnya.

Di wilayah selatan al-Wusta, terkadang ditemukan topeng hitam yang terbuat dari kain tebal. Di daerah-daerah ini, seorang gadis kebanyakan menerima topengnya hanya setelah dia menikah. Dalam hal ini, mengenakan battulah berarti menunjukkan status wanita yang sudah menikah. Topeng ini menutupi wajah hampir sepenuhnya.

Pada masa kini, battulah tidak hanya diperuntukkan bagi gadis Badui tetapi juga dipakai di kota-kota dalam kesempatan pertunangan atau pernikahan. Ia juga telah berkembang menjadi tren fesyen bagi kalangan masyarakat modern yang tinggal di daerah perkotaan.[1]

Faten, seorang gadis Oman mengatakan, “Ini adalah tradisi yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.” Dia juga mengatakan bahwa neneknya telah memakai battulah dari sejak dia berusia 13 tahun. “Generasi yang lebih lama adalah satu-satunya yang masih memakainya setiap hari.”

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa, “Hari ini, sebagian besar gadis muda menggunakan topeng wajah hanya untuk acara-acara khusus,” dia menceritakan tentang sepupunya yang memilih battulah dengan desain kristal yang mengkilau – yang mana dapat dibeli di toko perhiasan di mal – untuk upacara pernikahannya.[2]

Tidak hanya sampai di sana, para desainer Barat pun kerap kali memanfaatkan battulah dalam desain mereka dan secara teratur ia juga muncul dalam acara peragaan busana. Meski demikian, warna dan bentuknya mungkin berbeda dari desain tradisional, dan seringkali dihiasi dengan kristal atau berlian yang berkilauan.[3]

Battulah dalam acara peragaan busana. Foto: Patrizio Lubrani
Model battulah lainnya dalam acara peragaan busana. Foto: Patrizio Lubrani

Kembali ke kisah Rossie, adapun battulah yang dikenakannya tampaknya masih merupakan desain tradisional, sebab waktu itu dia sedang berada di daerah pedesaan Oman di Pulau Masirah. Rosie tidak mengenakan seterusnya di sana, dia hanya mencobanya saja. Seperti yang pernah disampaikan sebelumnya, masyarakat Oman cukup terbuka dan tidak menuntut apapun, bahkan terhadap wanita Barat seperti Rosie yang kebudayaannya jauh berbeda.

Setelah makanan siap, Rosie disajikan berbagai jenis makanan, mulai dari kopi, kurma, haris (makanan tradisional Oman, yang diolah dari gandum, susu, daging ayam, mentega, dan rempah-rempah), halwa (semacam selai), bihun, nasi briyani, dan daging unta. Sayangnya keluarga ini tidak tahu bahwa jika tidak sedang bepergian, Rosie adalah seorang vegetarian.

“Sayangnya saya memiliki perut yang sangat sensitif, dan saya alergi gluten/susu dan belakangan ini baru mulai makan sedikit daging putih – walaupun saya masih tidak menikmati rasanya. Saya tidak bisa menolak tawaran baik hati mereka, dan makan,” kata Rosie.

Meski tidak menikmatinya, dia terus makan dan mengatakan kepada mereka bahwa rasanya enak, demi menghormati kebaikan mereka.

“Mereka sangat senang melihat saya menikmati makanan dan terus meminta saya untuk makan lebih banyak. Keluarga ini bersikeras agar saya menginap di rumah mereka sehingga saya bisa memiliki tempat tidur yang hangat dan mandi air panas untuk malam itu.

“Saya terlalu bersemangat untuk pergi melihat penyu jadi saya harus menolak, dan saya tahu perut saya akan berbelok ke selatan dengan sangat cepat (maksudnya adalah bahwa perut Rosie akan sangat kesakitan jika terlalu banyak makan daging-red),” pungkas Rosie.[4]

Video Rosie sedang makan dengan keluarga Oman, dengan hidangan yang begitu banyak dapat dilihat pada tautan ini.

Thumbnail video Rosie. Foto: Rosie Gabrielle/YouTube

Demikianlah, kita akan akhiri seri perjalanan Rosie di Oman. Namun menarik untuk dicermati, dalam unggahan video Rosie ketika mengenakan battulah, dia menulis dalam thumbnail videonya, “I converted,” yang mana artinya adalah, “Saya masuk (Islam),” yang mana langsung dia klarifikasi bahwa dia hanya bercanda. Saat itu dia belum mengetahui, bahwa candaannya itu akan berujung menjadi kenyataan.

Seri artikel tentang Rosie Gabrielle masih akan terus berlanjut, selanjutnya kita akan membahas perjalanan bermotor Rosie di Pakistan. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Charlotte Coene, “The Omani Burqa: Behind a Mask of Beauty”, dari laman https://www.alartemag.be/en/en-culture/the-omani-burqa-behind-a-mask-of-beauty/, diakses 6 Juli 2020.

[2] Khaoula Ghanem, “Beauty Across the Middle East: Oman”, dari laman https://en.vogue.me/beauty/oman-batoola-face-covering/, diakses 6 Juli 2020.

[3] Charlotte Coene, Loc.Cit.

[4] YouTube Rosie Gabrielle, “What happened during my visit at the Local Omani’s home. ADV riding Oman Episode 16”, dari laman https://www.youtube.com/watch?v=k37mVfJR5VU&list=PL6VFP0wCrRJuBVuj3KBKw-hEpXp4Rw3MB&index=17, diakses 6 Juli 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*