Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (4)  

in Tasawuf

 

Oleh : Musa Kazhim

Kisah pelancongan Ibn Arabi menggapai Tuhan dan melenyapkan ego terlihat mudah. Tapi berdasarkan pengakuannya sendiri,  Ibn Arabi pernah mengalami masa “jâhiliyyah”, dimana perhatiannya terbelah antara hasrat duniawi dan cinta Ilahi.” 

—Ο—

 

Masa Remaja

Ibn Arabi menyimak kisah-kisah di atas sebelum beranjak dewasa. Di masa itu, Ibn Arabi masih dalam periode yang dia gambarkan sendiri sebagai jâhiliyyah (masa kebodohan). Kegairahan ibadah belum merasuki jiwanya. Perubahan besar baru terjadi setelah tarikan Ilahi (jadhbah Ilâhiyyah) merenggut kesadarannya.

Di masa jâhiliyyah, perhatian Ibn Arabi terbelah antara hasrat duniawi dan cinta Ilahi. Inilah masa manakala dia menangkap sekelumit pemahaman ihwal al-Haqq (Sang Mutlak), tapi tidak benar-benar mengetahui-Nya. Meski jelas bukan ahli maksiat, tapi dia juga belum menceburkan diri sepenuhnya dalam disiplin ruhani kala itu.

Menurut pengakuan Ibn Arabi sendiri, suatu malam dia pernah bercanda gurau dengan teman-temannya sampai larut. “Kita tidur menjelang azan Subuh. Saat azan berkumandang, kita mengambil wudu amat singkat—sedikit lebih singkat lagi wudhu sudah bisa dibilang batal—dan buru-buru pergi ke masjid. Di saat-saat seperti itu biasanya kita menunaikan shalat di rumah dengan membaca al-Fatihah dan surah al-Kawtsar (surah paling pendek dalam al-Qur’an). Ketika aku merasa lebih ingin dari yang lain, terkadang aku memaksa mengambil wudhu dan pergi ke masjid. Sekiranya sesampai di masjid ternyata jamaah sudah bubar, aku tidak merasa sedih. Malah sebaliknya, aku merasa lega. Sekiranya sesampai di masjid imam baru mulai shalat, dua keadaan berikut ini terjadi. Pikiranku tenggelam dalam malam indah yang baru saja kulewatkan dengan mendengarkan irama musik yang merdu. Aku menghabiskan seluruh shalat dengan mengenang ingatan-ingatan indah yang baru berlalu sampai aku tak tahu lagi apa yang dibaca, melainkan hanya bergerak-gerak mengikuti gerakan orang-orang lain. Atau kantuk menyerangku, dan bila sudah begitu aku mengawasi kapan imam mengakhiri shalatnya. Bacaan imam yang panjang menjadi tak tertahankan dan mulailah aku memakinya. Tidak bisakah dia membaca surah-surah pendek? Bukankah Nabi sendiri menganjurkan bacaan yang singkat-singkat (untuk shalat berjamaah)?”.[1]

Pengakuan ini mengingatkan kita betapa manusiawinya pelancongan Ibn Arabi. Berbeda dengan Nabi atau Rasul, dia tak sepenuhnya terjaga dari kelalaian dan dosa. Beragam pikiran dan hasrat terus berkecamuk dalam diri Ibn Arabi muda—seperti pemuda-pemuda lain seusianya. Dia kagum pada sufi yang mendadak di suatu pagi meninggalkan dunia dan mencurahkan jiwa dan raganya untuk Allah. Dia juga menggebu ingin seperti pamannya yang bisa dengan tekun dan sabar meniti setapak demi setapak jalan penghambaan Allah.

Ibn Arabi sering bermimpi menjadi pesuluk seperti Abu Abdullah Al-Khayyath—gurunya dalam pelajaran al-Qur’an. Dia begitu mengagumi kemampuan al-Khayyath mengurai kepelikan dan misteri al-Qur’an. “Saat masih kanak-kanak, aku belajar al-Qur’an dengannya dan begitu menggemarinya. Semasa itu dia masih menjadi tetanggaku … Di antara sekian pelancong ruhani yang pernah kutemui, dia dan saudaranya adalah yang paling ingin kutiru.”

Masa kecil sampai remaja Ibn Arabi seakan berlangsung singkat. Periode jâhiliyyah yang dilaluinya lebih merupakan momen sesaat, bukan periode yang panjang. Itulah masa ghaflah (kelalaian); masa meriapnya ilusi dalam pikiran. Tapi, gairah Ibn Arabi pada Allah, alam gaib, kehidupan setelah mati dan alam akhirat sudah mengalir deras dalam darahnya. Memang sulit membayangkan Ibn Arabi tanpa melihat faktor-faktor pendidikan dan lingkungan yang membentuk keseluruhan pribadinya sejak kecil. Meski tak rinci, beberapa kisah di atas rasanya cukup untuk menggambarkan sekilas lingkungan Ibn Arabi.

Di masa remaja yang dia sebut sebagai masa jâhiliyyah itu, semangat pencarian dan pengembaraan Ibn Arabi tak pernah surut. Ada sumber tegangan besar yang terus menyulutnya bertindak dan mencari. Ada arus yang mendorongnya untuk menyingkap misteri gaib dan membenamkannya di sana.

Kisah pelancongan Ibn Arabi menggapai Tuhan dan melenyapkan ego terlihat mudah. Mungkin dia tipikal pesuluk yang optimis dan flamboyan. Mungkin juga karena dia tak ingin menakut-nakuti. Tapi satu hal yang pasti, Ibn Arabi punya segudang tekad sebelum menjejakkan kaki di jalan itu. Dia termasuk dari sedikit orang yang mendadak tersedot oleh cinta Ilahi, lalu mendadak sontak terpelanting ke puncak-puncak ruhani.

Tapi dasar Ibn Arabi, tarikan Ilahi itu tak lantas membuatnya puas. Dia ingin merasai tiap-tiap tahap, mencicipi beragam suasana ruhani dan menghayati perjalanan seperti umumnya pesuluk lain—setahap demi setahap dan semaqam demi semaqam. Singkatnya, Ibn Arabi ingin mengalami langsung peran ganda Nabi Idris dan Nabi Ilyas. Baginya, Ilyas (Elias) dan Idris (Enoch) adalah dua nama untuk satu nabi yang sama dalam dua keadaan berbeda. Idris adalah nabi sebelum Nuh. Allah meletakkannya di tempat yang teramat tinggi dan menamainya Idris di ketinggian itu. Lantas sosok yang sama ini diturunkan kembali untuk membimbing penduduk Baalbek, Lebanon. Dan di sana dia diberi nama Ilyas.[2]

Bersambung ke:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (5)  

Sebelumnya:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (3)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Claude Addas, “Quest for The Red Sulphur; The Life og Ibn ‘Arabi”, Cambridge, The Islamic Text Society Golden Palm Series, 1993, Hal. 31-32

[2] Ilyas yang diutus dengan cara ini ke bumi dari sfera langit yang tinggi tidak tanggung-tanggung, tapi berlaku ‘membumi’ secara total. Dia menyorong ‘wujud elemental’ bumi ke titik paling ekstremnya. Ini menyimbolkan manusia yang alih-alih mengerahkan nalarnya setangah hati sebagaimana yang diperbuat oleh mayoritas orang, membiarkan dirinya secara penuh dan utuh dalam kehidupan elemental alam sampai pada tingkat menjadi di bawah manusia. Dalam keadaan itu…. lalu dia menjadi intelek murni, tanpa syahwat. Kini dia telah terbebas total dari segala yang berhubungan dengan diri jasmaninya. Hanya dalam keadaan inilah Ilyas dapat melihat Realitas sebagaimana adanya. Namun demikian, menurut Ibn Arabi, ‘makrifat Allah’ semulia yang telah digapai oleh Ilyas ini pun tidaklah sempurna. ‘Karena dalam makrifat ini, Realitas dalam transendensi/kesucian murni (munazzah). Dan itu barulah separuh dari makrifat Allah (yang sempurna).’ Jelasnya, intelek murni yang telah membebaskan dirinya secara total dari segala yang jasmani dan material dengan sendirinya tidak bisa melihat Tuhan kecuali dalam transendensi-Nya (tanzîh). Padahal, transendensi hanyalah salah satu aspek dasar dari Sang Mutlak. Aspek lain-Nya adalah imanensi/keserupaan (tasybîh). Semua makrifat Allah yang tidak menyatukan transendensi dan imanensi pastilah bersifat satu sisi, karena Allah adalah transenden dan imanen sekaligus. Lalu, siapakah yang sebenarnya mampu menyatukan kedua aspek makrifat Allah ini? dialah Nabi Muhammad. Tidak seorang pun selain beliau yang mampu menyatukan kedua aspek tersebut, sekalipun dia adalah Ilyas. Lihat, Toshihiko Isutzu, “Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi”, Bandung, Mizan, 2015, Hal. 15-16

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*