Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (5)  

in Tasawuf

 

Oleh : Musa Kazhim

Sobat, pengalaman ruhani memang tak bisa sepenuhnya berlangsung dalam ruang dan waktu yang kita kenal. Ia berlangsung di ‘ruang dan waktu’ yang subjektif—ruang yang tak mengenal disini-disana dan waktu yang tak mengenal kategori tadi-sekarang-nanti. Kekuatan subjektif seorang pesuluk sering menabrak batasan-batasan objektif semisal ini, sehingga ruang, waktu dan gravitasi seolah leleh dan mengalir tak beraturan sesuai kehendak sang pelancong.”

—Ο—

 

Tarikan Ilahi

Mungkin sekarang kita ingin bertanya, kapan persisnya Ibn Arabi mengubah arah hidupnya? Kapan dia memutus tali-tali ilusi yang membelit jiwanya? Di tempat seperti apakah kejadian itu berlangsung? Apakah semuanya berlangsung mendadak atau bertahap?

Claude Addas, pengarang Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn Arabi, adalah penulis sejarah yang dingin, tajam dan ketat. Banyak penelaah yang setuju bahwa Addas berhasil menyusun biografi Ibn Arabi yang lengkap dan menyeluruh. Tapi toh Addas pun tak sanggup menemukan kapan dan di mana persisnya sebuah perubahan besar terjadi dalam hidup Ibn Arabi.[1] Mungkin Addas sadar bahwa Ibn Arabi bukan orang yang terlalu suka dengan rincian. Dia lebih suka dipahami sebagai hamba yang menolak untuk dipenjara dalam dimensi sempit ruang dan waktu. Ada begitu banyak lapisan realitas yang tiba-tiba saja terkuak di hadapannya, sehingga sangat sulit baginya menentukan di lintasan mana sebenarnya dia sedang berada. Dia tak terikat gravitasi atau kesadaran duniawi yang rendahan.

Boleh jadi itulah sebabnya orang yang ingin mengenal Ibn Arabi tak perlu terlalu pusing dengan rincian tanggal dan tempat kejadian. Orang hanya perlu ingat bahwa gerakan pelancong ruhani itu sepenuhnya di genggaman Allah yang Maha Kuasa. Dia bisa menuntunnya menyibak ragam realitas yang begitu kaya dan membiarkannya kebingungan di tengah samudera sana.

Tentu saja, kawan, kebingungan ini berbeda dengan kebingungan yang menimpa orang biasa, yakni kebingungan orang yang tak tahu harus kemana. Kebingungan ini seperti kebingungan orang yang mengenali begitu banyak jalan atau menerima begitu banyak sinar dan warna. Dia bingung melihat Allah yang Tunggal menjelma dalam banyak ciptaan dan melihat seluruh ciptaan tak lebih dari bayang-bayang yang Tunggal. Jadi ini bukan kebingungan orang buta, tapi kebingungan orang yang silau oleh bias cahaya yang tak lagi membedakan Sumber cahaya dengan tarian pantulannya yang tak terbatas.

Toshihiko Isutzu adalah salah satu peneliti Ibn Arabi paling mumpuni. Mungkin dialah sedikit di antara peneliti yang antusias berbicara tentang sisi-sisi kejiwaan Ibn Arabi. Dalam bukunya yang berjudul Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi (Mizan, 2015), Isutzu menyebut kebingungan itu sebagai coincidentia oppositorum. Yakni kebingungan orang yang melihat Banyak sebagai Tunggal sekaligus melihat Tunggal sebagai Banyak. Inilah kebingungan yang membuat orang tak bisa lagi memisahkan secara tegas apakah sesuatu yang dilihatnya dengan mata kepala atau mata batin dan apakah sesuatu itu Tunggal atau Banyak. [2]

 

Sifat Pengalaman Ruhani

Sobat, pengalaman ruhani memang tak bisa sepenuhnya berlangsung dalam ruang dan waktu yang kita kenal. Ia berlangsung di ‘ruang dan waktu’ yang subjektif—ruang yang tak mengenal disini-disana dan waktu yang tak mengenal kategori tadi-sekarang-nanti. Kekuatan subjektif seorang pesuluk sering menabrak batasan-batasan objektif semisal ini, sehingga ruang, waktu dan gravitasi seolah leleh dan mengalir tak beraturan sesuai kehendak sang pelancong.

Mungkin ada baiknya kita menggambarkannya dengan keadaan orang yang berkepala tanpa batok, atau orang yang seluruh kepalanya adalah wajah, atau wajah yang tak bertengkuk (wajhun bila qafâ), sehingga arah tak lagi jadi masalah baginya. Dalam riwayat disebutkan bahwa Baginda Nabi bisa melihat ke semua sisi sekaligus. Sekujur tubuh Ibn Arabi pernah juga jadi mata total yang mampu melihat ke semua arah.

Dalam Futûhât, Ibn Arabi menulis: “Ketahuilah bahwa Nabi itu semuanya wajah dan beliau tak memiliki tengkuk atau leher. Karena itu beliau menyatakan ‘Aku melihat kalian di belakangku.’…Manakala mewarisi maqam ini dari beliau, aku sedang memimpin shalat di masjid Al-Azhar di Fez. Di mihrab sekujur diriku menjadi satu mata utuh; aku bisa melihat segala arah seperti aku melihat kiblat. Tak ada yang luput dari pandanganku. Semua orang yang masuk, orang yang keluar dan yang melaksanakan shalat di belakangku tertangkap oleh mataku.”

Di tempat lain dia menuturkan bahwa dia tak lagi punya bagian belakang, tengkuk leher. “Dan ketika keadaan itu berlangsung,” ungkap Ibn Arabi, “aku tak lagi bisa membeda-bedakan berbagai sisi diriku. Aku menjadi seperti bola; aku tak lagi menyadari diriku memiliki “sisi” kecuali saat berpikir—bukan sebagai kenyataan kualami…”

 

Perjumpaan dengan Ibn Rusyd

Ibn Arabi pernah mengisahkan pertemuannya dengan Ibn Rusyd. Di dunia Barat, Ibn Rusyd lebih dikenal dengan nama Averroes. Kala itu, Ibn Rusyd sudah terkenal sebagai dokter, filosof, qadi dan penasihat Sultan Abu Ya’qub Yusuf di Kordoba.[3] Dalam kisah ini, Ibn Arabi menunjukkan bahwa dia sudah melakukan perjalanan ruhani sejak usia belia.

Dia menuturkan: “Suatu hari aku pergi ke Kordoba untuk mengunjungi Qadi Abul Walid Ibn Rusyd. Dia ingin bertemu denganku, lantaran dia mendengar peristiwa pencerahan (fath) yang Allah berikan padaku sewaktu aku berkhalwat (menyendiri). Dia mengungkapkan ketakjubannya setelah mendengar peristiwa yang kualami. Ayah adalah salah seorang temannya. Dia menyuruhku bertemu Ibn Rusyd dengan alasan kerjaan. Tapi tujuan Ayah yang sebenarnya agar dia bisa berbicara denganku. Waktu itu aku masih sangat muda; tanpa guratan wajah dan bulu kumis.”

Ibn Arabi melanjutkan, “Saat aku masuk ruangannya, sang filosof berdiri dan mendatangiku. Dia menampakkan persahabatan dan perhatian sambil memelukku. Lalu dia bertanya, ‘Iya.’ Aku jawab: ‘Iya.’ Dia makin girang lantaran aku memahami maksudnya. Tapi kemudian, saat aku sadar apa yang membuatnya girang, aku menimpali, ‘Tidak.’ Ibn Rusyd mendadak tegang, rautnya berubah dan terlihat meragukan pikirannya sendiri. Dia mengajukan pertanyaan ini padaku, ‘Solusi apa yang kau temukan melalui iluminasi dan ilham? Apakah ia sama saja dengan yang kita terima lewat penalaran?’ Aku jawab, ‘Iya dan tidak. Di antara iya dan tidak itu ruhku melambung dari jasad dan leherku berpisah dari tubuh.’ Ibn Rusyd langsung pucat dan aku melihatnya gemetar. Dia menggumamkan bacaan lâ haula walâ quwwata illâ billâh karena dia mengerti kilatanku.”

Dari sini kita menduga bahwa Ibn Arabi sudah mengalami fath (iluminasi);[4] penyingkapan batin yang menandai naiknya tingkat (maqâm) ruhani setelah melewati disiplin yang panjang (riyâdhah)[5]. Tapi Ibn Arabi pernah mengingatkan para pemula untuk mewaspadai iluminasi yang prematur. Dia bilang: “Sebelum berkhalwat, kau harus mendisiplinkan diri; kau harus membersihkan batin, konsentrasi penuh dan tabah menghadapi segala derita. Orang yang mengalami iluminasi sebelum melewati disiplin—kecuali dalam kasus-kasus khusus—tak bakal memperoleh keperkasaan spiritual.”

Bersambung ke:

Perjumpaan Dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (6)

Sebelumnya:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (4)  

Catatan kaki:

[1] Terkait hal ini, dalam bukunya Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn Arabi, Claude Addas menyatakan : “When? How? Why? These are the questions the ‘ordinary’ man asks himself every time he is confronted with the case of an individual who. All of a sudden, chooses god…., Sometimes he has a detailed autobiographical account, such as Saint Augustine’s Confessions, to help him find the answers. But even in the most favourable circumstance, even in the case of a completely ‘naked’ account which has managed to stay free from the pious conventions to which this literary genre so often falls a victim, is that enough for us to fathom the inmost depths of a soul and understand this strange, disconcerting course of event? Most of the time, as if to force us to follow him down the same part he has already trodden, the saint keeps silent and history remains dumb. This, in effect, is what has happened in the case of Ibn ‘Arabi: his writings offer nothing in the way of a systematic account, including dates, of the stages of his conversion. However, among the thousands of pages that make up his work, he often happens to corroborate a point of view he has just been elaborating on by citing his own spiritual experience. On those occasions he allows extremely valuable autobiographical detail to slip out in a few brief word or phrases. By gathering these scattered pieces of information and supplementing them with the reports of his disciples and his biographers, an attempt can be made to provide the answers to the questions posed above.” Lihat, Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn Arabi, Cambridge, The Islamic Text Society Golden Palm Series, 1993, Hal. 33

[2] Untuk mendukung pandangannya, Ibn ‘Arabi menyitir ujaran terkenal dari Abu Sa’id Al-Kharraz, mistikus besar abad ke-9 yang berbunyi, “Al-Kharraz, yang dia sendiri merupakan salah satu dari banyak wajah dan lidah Sang Mutlak, menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa diketahui kecuali dengan menyematkan hal-hal yang bertentangan kepada-Nya secara serentak. Maka itu, Sang Mutlak itu adalah Awal dan Akhir, Tampak (Zhahir) dan Batin. Dia tiada lain dari apa yang tampak secara lahiriah (saat menyembunyikan diri-Nya secara batin), sementara pada saat bersamaan tampak secara lahiriah Dia itulah yang tersembunyi secara batin…”. Lihat,  Toshihiko Isutzu, “Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi”, Bandung, Mizan, 2015, Hal. 77-101

[3] Terkait biografi Ibn Rusyd, Lihat, Ibnu Rusyd; Cendikiawan Islam Dari Benua Biru, http://ganaislamika.com/ibnu-rusyd-cendikiawan-islam-dari-benua-biru/, diakses 30 September 201

[4] Secara teknis, iluminasi (Isyraqiyyah) atau iluminasionisme berbeda dengan pemikiran yang bersifat dialektis (seperti dalam teologi) atau demostratif (seperti dalam filsafat) – adalah metode berpikir yang bersandar pada pencerahan intelektual/spiritual, biasanya dijabarkan sebagai lintasan pemahaman atau pengertian yang datang tiba-tiba, secara sintetik, bukan analitik seperti dalam pemikiran logis. Para filosof Isyraqiyyah berbicara tentang suatu kilatan-mendadak pemahaman atau ilham dalam pikiran. Gagasan tentang aliran ini dipercaya dimulai oleh Plato. Dalam sejarah filsafat Islam, perkembangan ini mencapai puncaknya dan bentuk khasnya dalam Isyraqiyyah Suhrawardi. Lihat, Haidar Bagir, Epistemologi Tasawuf; Sebuah Pengantar, Bandung, Mizan, 2017, Hal. 17

[5] Riyadhah atau olah ruhani merupakan tahap selanjutnya yang akan ditempuh oleh pelancong ruhani, setelah sebelumnya mampu membangkitkan iradah-nya. Menurut Abd Al Razzaq Kasyani, “Iradah ialah gejolak api cinta yang jatuh ke dalam hati yang menyebabkannya bangkit untuk menjawab suara-suara Ilahi”. Adapun riyadhah ditujukan untuk mencapai tiga sasaran; pertama, membersihkan jalan dari segala sesuatu selain Allah; kedua, menundukkan nafs ammarah (jiwa yang memerintahkan kejahatan) kepada nafs muthma’innah (jiwa yang menentramkan); dan ketiga, melembutkan relung terdalam hati (sirr) untuk kesadaran penuh. Lihat, Murtadha Muthahhari, Mengenal ‘Irfan; Meniti Maqam-Maqam Kearifan, Jakarta, Penerbit Iman, 2002, Hal. 77-82