Profil Emas KH. Wahid Hasyim (5): Cinta dan Perjuangan

in Tokoh

Last updated on March 6th, 2018 07:38 am

Mula-mula saya insaf bahwa tidak ada satupun perhimpunan yang seratus persen memuaskan. Ibaratnya seperti jodoh yang memuaskan sungguh-sungguh kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudara-saudaranya, kemenakannya dan lain-lain lagi, pasti tidak terdapat di dunia ini. Oleh karena perhimpunan atau partai yang memuaskan seratus persen itu tidak pernah ada, maka harus dipilih yang paling ringan kekurangan-kekurangannya.

—Ο—

 

Tampan dan cerdas – dua kombinasi paling mempesona dari laki-laki – keduanya di miliki oleh KH. Wahid Hasyim. Tidak hanya itu, beliau juga terkenal sholeh, berilmu tinggi, dan berasal dari keluarga terpandang di negeri ini. Sangat wajar bila proposal lamaran pun berdatangan. Ketika itu usia beliau baru akan menginjak 25 tahun, tapi tampaknya belum ada tanda-tanda beliau ingin mengakhiri masa lajangnya. Hingga satu hari di tahun 1938, dalam sebuah acara pernikahan, beliau melihat seorang dara yang seketika memikat hatinya. Gadis itu sedang membekap tempayan berisi air di pinggangnya, dan sedang membantu para perempuan dewasa mencuci piring di dapur. [1]

Abdurahman Wahid (Gus Dur), putra tertua Kiai Wahid, menceritakan kisah pertemuan ini yang ia dengar dari ibunya. Dalam buku “Abdurrahman Wahid, Muslim Democrat, Indonesian President; A View From The Inside,” yang ditulis oleh Greg Barton, Gus Dur menuturkan bahwa perempuan yang dilirik oleh Kiai Wahid itu bukanlah wanita paling cantik pada masanya. Tapi ia sosoknya memancarkan pesona yang luar biasa, hingga bisa memikat hati Kiai Wahid. Gadis sederhana tersebut bernama Solehah. Ia adalah putri KH. Bisri Syansuri, salah satu sahabat yang juga bekas murid Kiai Hasyim Asy’ari. [2] Setelah cukup matang berguru pada Kiai Hasyim, pada 1917, Kiai Bistri mendirikan Pondok Pesantren di Denanyar, tak jauh dari Tambakberas.

Setelah pertemuan pertama itu, hati pemuda yang merupakan mahkota pesantren Tebuireng ini berguncang hebat. Tanpa menunda lagi, beliau langsung menemui ayah sang gadis untuk meminang Solehah. Ketika itu Solehah masih berusia 16 tahun. Ini usia yang masih sangat belia untuk saat ini. Tapi pada masa itu, ini adalah usia yang cukup matang bagi seorang gadis untuk mengakhiri masa lajangnya. Bagi keluarga Kiai Bisri, proposal yang dibawa oleh Kiai Wahid adalah kehormatan yang tak mungkin diabaikan. Beliau mengenal keutamaan pemuda di hadapannya bukan dari kabar burung, tapi beliau mengenal Kiai Wahid dengan hatinya. Sebagai anak dari gurunya, Kiai Bisri mengenal Kiai Wahid sudah seperti anaknya sendiri. Maka dengan penuh rasa syukur, lamaran itu beliau terima.[3]

Namun demikian, bila ditelusuri, jejak nasab Solehah juga bukan sembarang. Beliau berasal dari keturunan yang tak kalah mulia dengan Kiai Wahid. Bahkan pada titik tertentu, Kiai Wahid dengan Solehah sebenarnya masih ada pertalian keluarga. Ayah Solehah adalah  Kiai Haji Bisri Syansuri. Beliau lahir pada 18 September 1886 di Tayu, Pati. Sedang Ibundanya bernama Chadidjah, putri Kiai Hasbullah, pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang. Chadidjah adalah adik kandung Kiai Haji Abdul Wahab, seorang tokoh Nahdlatul Ulama dan juga tokoh nasional yang ucapannya terkenal dengan slogan “hubbul wathan minal iman” (mencintai tanah air adalah sebagian dari iman). Kelak ucapannya ini demikian menginspirasi terjadinya sintesa antara nilai-nilai keislaman dengan keindonesiaan. Secara nasab, Chadidjah masih sepupu Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dari pernikahan Kiai Bisri dengan Chadidjah, lahirlah 10 anak, dan anak kelima mereka namakan Munawaroh, atau yang kemudian lebih luas dikenal dengan nama Solehah.

Sebagai putri dari Kiai, Munawarah atau Solehah dididik dalam tradisi pesantren yang ketat. Tapi dari beberapa catatan, beliau bukanlah sosok yang kuper apalagi tertutup. Beliau bergaul seperti biasa dengan teman wanita sebayanya. Rajin mengikuti pengajian di luar pesantren ayahnya, juga sering pergi ke pasar. Beliau bisa dikatakan sebagai perempuan yang berpikiran maju dan terbuka. Meski pada mulanya beliau hanya mengetahui tulisan arab, tapi kelak ketika menikah dengan Kiai Wahid, beliau juga langsung mau belajar huruf latin.

Oleh sebab itu, pernikahan Kiai Wahid dengan Solehah bisa dikatakan sebagai pernikahan dua insan utama dari dua keluarga mulia. Pernikahan Kiai Wahid dan Solehah diselenggarakan di Denanyar, Jombang, pada Jumat, 10 Syawal 1356 Hijriah atau 1938 Masehi. Setelah menikah, pasangan ini hanya tinggal sepuluh hari di Denanyar. Mereka kemudian pindah ke Tebuireng, dan menetap di sana hingga 1942. Kelak dari pasangan ini lahir 6 orang putra dan putri.

Di tahun yang sama ini, Kiai Wahid untuk pertama kalinya juga memutuskan masuk dalam organisasi. Keputusan ini juga bukan satu hal yang main-main. Beliau memiliki pertimbangan yang sangat matang ketika itu. Begitu pulang dari tanah suci, sebagaimana kehidupan pribadinya, tidak sedikit organisasi dan partai yang melamarnya untuk menjadi anggota perkumpulan. Tapi semua itu diterima baik oleh beliau sambil meminta waktu untuk memutuskan. Dan setelah empat tahun berpikir, akhirnya organisasi yang beliau pilih adalah organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Terkait alasan-alasan beliau memilih NU, dituangkan secara jelas dan objektif dalam artikelnya yang berjudul “Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama“.[4] Selain sebagai jawaban pada semua organisasi yang meminangnya untuk menjadi anggota, artikel ini juga menjadi acuan bagi siapa saja dalam menilai watak suatu organisasi. Meskipun beliau adalah putra dari seorang pendiri NU. Namun dari catatan beliau dalam artikel tersebut, bisa dikatakan bahwa alasan beliau akhirnya berlabuh di NU, lahir dari satu prinsip yang objektif. Bukan berasal dari tuntutan primordial apalagi emosiaonal.

Berikut ini adalah paragraph pertama beliau dalam artikel tersebut:

Pada bulan April 1934, ketika saya baru datang dari luar negri, datanglah permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan dari beberapa perhimpunan dan partai Islam agar saya menggabungkan diri pada mereka. Antaranya dari Nahdlatul Ulama (NU). Dan saya tidak segera memenuhi permintaan dan ajakan-ajakan itu hampir empat tahun saya menimbang, baru menentukan sikap memasuki salah satu dari perhimpunan-perhimpunan atau partai-partai tadi. Kemungkinan saya dua, masuk pada perhimpunan-perhimpunan atau partai partai yang telah ada, atau mendirikan perhimpunan atau partai sendiri yang baru. Terus terang saya uraikan disini, bahwa perhimpuan-perhimpunan atau partai-partai diwaktu itu saya pandang tidak memuaskan. Perhimpunan A kurang radikal, Partai B kurang Pengaruh, partai C kurang banyak kaum terpelajarnya, partai D kurang jujur pimpinanya. 1001 macam kekurangan kekurangan di pandangan saya.[5]

Kemudian beliau menyampaikan lebih lanjut, “Mula-mula saya insaf bahwa tidak ada satupun perhimpunan yang seratus persen memuaskan. Ibaratnya seperti jodoh yang memuaskan sungguh-sungguh kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudara-saudaranya, kemenakannya dan lain-lain lagi, pasti tidak terdapat di dunia ini. Oleh karena perhimpunan atau partai yang memuaskan seratus persen itu tidak pernah ada, maka harus dipilih yang paling ringan kekurangan-kekurangannya.[6] (AL)

Besambung…

Profil Emas KH. Wahid Hasyim (6): Mementaskan Lakon Agung di Panggung Sejarah (1)

Sebelumnya:

Profil Emas KH. Wahid Hasyim (4): Mereformasi Pesantren

Catatan kaki:

[1] Lihat, Greg Barton, Abdurrahman Wahid, Muslim Democrat, Indonesian President; A View From The Inside, Australia, UNSWPress, 2002, hal. 43

[2] Ibid, hal. 44

[3] Menurut Lily Wahid, anak kelima Wahid Hasyim-Solehah, ketika menikah, status Solehah janda. Pada usia 15 tahun, Solehah dijodohkan ayahandanya dengan seorang pemuda bernama Abdurrohim, anak Kiai Cholil dari Pondok Bungkung, Singosari, Malang. Abdurrohim penghafal Al-Quran. Muhammad Dahlan, penulis bab “Sholihah A. Wahid Hasyim: Teladan Kaum Perempuan Nahdliyin” dalam buku Ulama Perempuan Indonesia, 2002, menyatakan perjodohan itu atas kemauan Kiai Haji Hasyim Asy’ari, ayah Wahid. Suami-istri Kiai Bisri sebenarnya tak setuju tapi mereka tak sanggup menolak keinginan guru mereka. Setelah pernikahan, Abdurrohim tidak tinggal bersama Solehah, tapi nyantri ke Solo, dan wafat di sana tiga bulan kemudian. “Jadi ibu saya tak pernah berkumpul dengan suami pertamanya,” kata Lily. Lihat, Lihat, https://serbasejarah.files.wordpress.com/2012/05/wahid-hasim-file-tempo.pdf, diakses 12 Februari 2018

[4] Lihat, https://dokumen.tips/documents/mengapa-saya-memilih-nahdlatul-ulama.html, diakses 3 Maret 2018

[5] Ibid

[6] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*