Puasa Kaum Sufi (3): Berlapar-lapar Puasa Bersama Al-Ghazali

in Ramadania

Last updated on May 12th, 2019 05:50 am

Puasa sejatinya perisai dari perbuatan tercela dan dosa. Suatu kenikmatan terbesar bagi hamba tatkala dikaruniai kemampuan untuk berpuasa. Puasa dari menahan lapar, dahaga, kemaluannya, serta anggota tubuh dari nafsu rendah. Namun, untuk menggoyang Arsy Tuhan, maka puasa hati lebih menjanjikan. Pun dengan puasa dari menyaksikan selain Dia.

Oleh:

Khairul Imam

(Staf Pengajar Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta)

Gambar Ilustrasi. Sumber: sonsuzark.com

Kehadiran bulan Ramadan seakan mengirimkan sinyal kepada kita bahwa karunia dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya tak pernah berakhir. Perwujudan kasih sayang itu dengan menjadikannya bulan Alquran. Karena pada bulan itu, Alquran diturunkan, perintah puasa ditahbiskan, ibadah sosial digegapgempitakan, dan ibadah individual digelorakan. Puncaknya, dikembalikannya manusia dalam kondisi suci seperti saat-saat dia dilahirkan.

Begitu mulianya Alquran, bahkan ketika turunnya pun disambut dengan berbagai rangkaian ibadah, baik komunal maupun individual. Energi spiritualitas manusia disatukan untuk menopang seremoninya. Dibutuhkan sosok yang tangguh, Muhammad Saw., untuk menyangga kemuliaannya. Suatu wadag, tubuh manusia yang tak biasa. Manusia luar biasa yang berpuasa lahir dan batin. Lahirnya menahan lapar, haus, dan hal-hal yang merusaknya; batinnya hanya diliputi Allah selaku pencipta dan kekasihnya.

Jika kita cermati, puasa Ramadan memberikan peluang besar kepada seluruh hamba Allah untuk menyingkap pintu-pintu penyaksian-Nya. Mereka diberi kesempatan untuk mengenal-Nya melalui penyaksian batinnya. Mengeja laparnya hingga mampu berdialog dengan dirinya yang terpendam terdalam. Lapar mengajarkan manusia untuk menyibak cakrawala ruhaninya, membuka katub-katub hatinya, dan merasakan dengan penuh kesadaran bahwa dirinya tak berarti apa-apa tanpa pertolongan Yang Mahakuasa.

Bertolak dari pemaknaan batiniah puasa ala Al-Qusyairi yang berangkat dari penafsirannya, sebenarnya Al-Ghazali tak jauh berbeda dalam menjelaskan makna puasa ini. Puasa, dalam pandanganya ada tiga tingkatan: umum (awam), khusus (spesial), dan khususil khusus (istimewa). Pertama, puasa umum atau awam menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat, sebagaimana telah dibabar sebelumnya. Kedua, puasa khusus (spesial) menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela dan dosa. Ketiga, puasa khususil khusus (istimewa) puasanya hati dari kehancuran agama dan pemikiran duniawi, serta menahan dari selain Allah SWT. secara terperinci. Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini akan rusak dengan bersitan fikiran tentang sesuatu selain Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi. Kecuali ketika hal-hal duniawi itu diperuntukkan bagi kemaslahatan aspek-aspek agama (ukhrawi).[1]

Dari sini kita dapat memahami bagaimana konstruksi tiga tingkatan puasa dalam perspektif al-Ghazali. Ia seakan mengandaikan idealitas puasa agar benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Tuhan. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, bukan yang lainnya, seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi, “Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”

Hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekati Yang Mahasuci seseorang harus menyucikan dirinya. Puasa harus benar-benar menjaga kualitas lahir maupun batin agar benar-benar dapat bersanding dengan al-Haqq. Seperti nasihat seorang ulama yang dikutip al-Ghazali, “Selama hamba masih terkotori oleh selain Allah, ia tak pantas mendekat dan bersanding dengan-Nya sebelum menyucikan hati dari selain Dia.”[2]

Oleh karena itu, Allah tidak akan menganggap bau mulut orang berpuasa, bahkan akan menggantikannya dengan aroma misik. Namun bagi Allah, yang terpenting adalah kualitas kebersihan laku dan jiwa seseorang tatkala menjalankan puasa. Kotornya tubuh dapat dibersihkan dan disucikan dengan air, tetapi kekotoran hati karena dominasi perbuatan tercela harus disucikan dengan air qurbah (kedekatan) dan inabah (pertobatan).

Selain itu, untuk menjangkau kedekatan dengan Allah tidak serta merta hanya menahan lapar dan dahaga. Al-Ghazali menegaskan untuk memastikan kehalalan makanan yang kita konsumsi. Seperti disinggungnya ketika membincangkan makna kata ath-Thayyibat (QS Al-Baqarah [2]: 172) yang berarti halal dan baik.[3] Artinya, makanan yang baik menjadi fondasi utama bagi perjalanan suatu golongan. Jika pun ada seorang hamba mendirikan shalat laksana shalatnya budak, dalam arti begitu khusyuk dan masyuk, hal itu tak akan berguna selama dia tidak mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya.

Dia juga menyatakan bahwa manusia yang paling cepat menyeberangi titian akhirat adalah yang paling wirai terhadap urusan duniawi. Dan wirai dengan menahan lapar bisa menjadi kunci perjumpaan dengan Allah SWT. sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi, “Hai hamba-Ku, laparkanlah dirimu niscaya kau melihat-Ku, bersikap wara-lah pasti kau mengenal-Ku, dan telanjanglah (dari dunia) niscaya kau akan sampai kepada-Ku.”[4]

Maka dari itu, Al-Ghazali juga menyarankan dalam kitab Minhaj al-‘Arifin untuk menekan hawa nafsu, termasuk nafsu untuk memperoleh imbalan, sebagaimana wejangannya,

“Jika engkau berpuasa, berniatlah untuk mengekang nafsu dari berbagai keinginan. Karena puasa berarti musnahnya kehendak nafsu. Ia mengandung kejernihan hati, menguruskan badan, dan mengingatkan kita untuk berbuat baik kepada kaum fakir. Itu semua tak lain agar kita kembali kepada Allah SWT. Bersyukur atas berbagai nikmat yang Dia anugerahkan, dan meringankan hisab. Maka, anugerah Allah berupa taufik yang menjadikanmu mampu berpuasa itu lebih besar dibanding mensyukuri nikmat dan puasamu yang menuntut balasan dari-Nya.”[5]

Akhir kalimat di atas menarik untuk kita cermati, bahwa kemampuan kita berpuasa itu penting untuk kita syukuri. Bersyukur atas nikmat Allah, sekaligus mensyukuri karena kita telah dimampukan untuk melaksanakan puasa dengan sepenuh hati. Bahkan yang lebih penting lagi bahwa mensyukuri puasa tanpa pretensi imbalan itu lebih besar dari segala nikmat yang lainnya. Karena puasa yang diterima oleh Allah menjadi persembahan terbaik dari hamba kepada Tuhannya.

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, juz. 1 (Kairo: Dar asy-Sya’b, tt) hlm. 235

[2] Imam al-Ghazali, “RaudhatutThalibinwa ‘UmadatusSalikin” dalam Majmu’ Rasail al-Imam al-Ghazali, (Kairo: al-Maktabah at-Taufiqiyyah, tt.), hlm. 103

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Imam al-Ghazali, “Minhaj al-‘Arifin” dalamMajmu’ Rasail al-Imam al-Ghazali, (Kairo: al-Maktabah at-Taufiqiyyah, tt.), hlm.236

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*