Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (4)

in Sejarah

Pada paruh kedua abad ke-15, kekuatan-kekuatan Kristen bersatu di bawah ideologi Reconquista. Sedang di sisi lain, Kesultanan Granada justru mengalami perpecahan yang parah. Pada tahun 1481, Sultan Ali Abu Hasan menyerang wilayah Kristen di Zahara. Ini memberi alasan yang cukup bagi Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk melancarkan serangan umum ke Granada.

 —Ο—

 

Sebagaimana sudah dikisahkan pada edisi sebelumnya, bahwa secara geo-politik, Kesultanan Granada berada di antara dua kekuatan raksasa masa itu. Peliknya lagi, keduanya sama-sama mengusung agama sebagai ideologi kekuasaannya. Di Utara, ide-ide Reconquista terus digaungkan sebagai alat pemersatu kekuatan-kekuatan Kristen, sedang di selatan, Dinasti Marinid terus berupaya keras mempertahankan supremasi Islam di Andalusia.

Sejak pertama berdiri, kesultanan Granada hanya mengenyam stabilitas – termasuk masa kejayaan – selama 100 tahun pertama, atau terhitung sejak masa pemerintahan Muhammad I Al-Ghalib (Ibnu Al-Ahmar) (1232-1273 M) hingga Sultan kedelapan, yaitu Muhammad V Al-Ghani (1354-1359 M). Selebihnya, kesultanan Granada dipenuhi oleh kisah perebutan tahta antar saudara, dan tarik menarik kepentingan politik antara kerajaan Kristen di Utara dengan kekhalifahan Islam di Selatan (Afrika Utara).

Pada awalnya, kesultanan Granada secara tegas memihak dan menyatakan dirinya sebagai sekutu Dinasti Marinid di Afrika Utara. Tapi pada tahun 1340 M, perubahan besar terjadi, ketika aliansi Granada-Marinid yang dipimpin oleh Sultan Granada Yūsuf I (1333–54) berhasil dikalahkan oleh Raja Alfonso XI dalam pertempuran di Rio Salado. Kekalahan ini menyebabkan pengaruh kekuasaan Marinid di Andalusia banyak tergerus hingga tinggal menyisakan Afrika Utara saja.[1]

Alhasil, setelah kekalahan tersebut, terjadi perubahan skema kekuatan yang sangat mencolok di semenanjung Iberia. Situasi ini membuat para sultan Granada yang memerintah setelahnya terbiasa mencari titik keseimbangan di antara pengaruh dua kekuatan raksasa tersebut. Meski beridentitas sebagai kesultanan Islam, tapi bagaimanapun Granada adalah satu-satunya kesultanan Islam yang terletak di wilayah Andalusia. Beberapa dekade sebelum kejatuhannya, sultan-sultan Granada bahkan harus bersedia membayar upeti pada raja-raja Kristen yang berkuasa demi keamanan dirinya. Di tengah situasi politik luar negeri yang demikian dinamis, drama perebutan kekausaan antar saudara pun berlangsung tanpa jedah di dalam Istana.

Kisah kejatuhan Granada dimulai setelah wafatnya sultan ke-23 Sa’d Al-Musta’in pada tahuin 1461 M.[2] Setelah kematiannya, dua orang putranya bernama Ali Abu Hasan dan Muhammad Al-Zaghal saling berebut tahta. Pada awalnya, Ali Abu Hasan yang berhasil menaiki singgasana. Tidak terima dengan kenyataan ini, Al-Zaghal kemudian mendatangi Kerajaan Kastilia yang ketika itu baru saja menyelenggarakan pernikahan bersejarah antara Ratu Isabela dan Raja Ferdinand dari Aragon. Al-Zaghal memohon bantuan armada untuk menurunkan saudaranya dari kursi pemerintahan. Dan permohonan ini ternyata dikabulkan. Maka terjadilah perang saudara di Granada yang menguras banyak tenaga.[3]

Tak lama setelah itu, kedua saudara inipun akhirnya bersepakat berunding untuk mencapai perdamaian. Setelah cukup lama bernegosiasi, akhirnya disepakatilah wilayah Granada di pecah menjadi dua bagian. Kawasan utara termasuk Istana Alhambra di duduki oleh Ali Abu Hasan, dan wilayah selatan yang meliputi Malaga dan beberapa wilayah lain untuk Al-Zaghal.

 

Peta wilayah kekausaan Dinasti Ahmar di Granada sampai tahun 1462, atau setelah dibagi oleh perjanjian damai antara Ali Abu Hasan dengan Al-Azaghal. Wilayah yang berwarna hijau muda adalah areal kekuasaan Granada yang menjadi milik Kerajaan Kastilia pasca perjanjian tersebut. Sumber gambar: wikipedia.org

 

Pada tahun 1481 M, Ali Abu Hasan melakukan tindakan ceroboh dengan menyatakan berhenti membayar upeti kepada Kerajaan Kristen bersatu (Kastilia-Aragon). Di samping itu, dia juga melancarkan serangan ke wilayah Zahara yang terletak di wilayah selatan Granada. Dimana wilayah ini, sebagaimana perjanjian damai sebelumnya, merupakan wilayah kekuasaan Al-Zanghal dan Kristen.

Serangan tersebut terbilang berhasil. Ali Abu Hasan kemudian berhasil merebut wilayah tersebut dan menawan penduduknya yang umumnya adalah pemeluk agama Kristen. Perbuatan ini, menuai pro-kontra dari penduduk dan elit istana sendiri. Namun yang pasti, hal ini memberi alasan bagi Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk memulai perang.

Di dalam Istana Granada, kisah lain berlangsung. Ali Abu Hasan jatuh cinta pada salah seorang tawanan yang juga budaknya bernama Soraya. Dia lalu memperistri wanita tersebut. Perbuatan ini, ternyata dikecam oleh istrinya yang bernama Aisyah binti Muhammad ibn al-Ahmar atau sejarawan barat menyebutnya Aixa al-Hurra. 

Aixa adalah seorang ningrat tulen Bani Ahmar. Ayahnya adalah Mohammed IX, dan kakeknya adalah Yusuf IV penguasa ke 11 Granada. Pada awalnya, Aixa diperistri oleh sepupunya bernama Muhammad XI, yang menjabat Sultan Granada ke-19 tetapi dibunuh pada tahun 1454. Setelah wafatnya Muhammad XI, Sa’d Al-Musta’in naik tahta. Dan untuk mendamaikan ketegangan antar faksi-faksi yang bertikai di dalam istana, Sa’d kemudian menikahkan Aixa dengan putranya bernama Ali Abu Hasan. Dari pernikahan ini, lahirlah Muhammad XII, yang digadang-gadang sebagai putra mahkota, sekaligus simbol pemersatu semua faksi elit di Granada. Tapi keputusan Ali Abu Hasan menikahi seorang budak dari Kristen, membuat buyar semua mimpi tersebut. Karena protes yang diajukan Aixa, Ali Abu Hasan mencabut gelar Muhammad XII sebagai putra mahkota Granada.[4]

Tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Ali Abu Hasan, Aixa melakukan perlawanan. Tak kurang seperti kaum adam, Aixa memiliki insting politik yang luar biasa. Dia mengenal dinamika perebutan kekuasaan sejak dalam buaian, dan dia mengetahui sifat tiap faksi hingga ke rinciannya. Dalam waktu singkat Aixa berhasil mengobarkan perang sipil di Granada. Tuntutannya hanya satu, yaitu mengembalikan hak putra mahkota pada putranya, atau dia akan merebutnya dengan paksa.[5]

 

Lukisan karya Manuel Gómez-Moreno González berjudul “Salida de la familia de Boabdil de la Alhambra” (1880). Lukisan ini mengisahkan saat-saat terakhir keluarga Boabdil beranjak meninggalkan Istana Alhambra setelah berhasil ditaklukan oleh serangan umum pasukan Kristen selama 8 bulan. Tampak Aixa (berjubah putih) dengan tegar memimpin keluarganya keluar dari Istana Alhambra yang sudah mereka dihuni selama 250 tahun. Sumber gambar: wikipedia.org

 

Dan sejarah membuktikan upaya Aixa berhasil. Pada tahun 1482, Ali Abu Hasan harus terdepak dari singgasannya, dan digantikan oleh putranya Muhammad XII yang menjabat sebagai Sultan ke-25 Bani Ahmar. Dia dikenal juga dengan panggilan Abu Abdullah, atau dengan pelafazan barat disebut “Boabdil.” (AL)

 

Bersambung…

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (5)

Sebelumnya:

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (3)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Nasrid Dinasty, https://www.britannica.com/topic/Nasrid-dynasty#ref207456, diakses 15 November 2018

[2] Sa’d Al-Musta’in adalah salah satu Sultan Granda yang memerintah sebanyak dua kali. Periode pertama dia memerintah selama 1 tahun (1445–1446 M), yang kemudian digantikan oleh saudaranya beranama Muhammad X, yang memerintah untuk kali kedua (1446–1453 M). Setelah Muhammad X wafat, Sa’d kembali naik tahta sampai tahun 1461 M.

[3] Dadang Suhendra, Perkembangan Peradaban Islam Masa Dinasti Ahmar di Spanyol Tahun 1232-1492 M, TAMADDUN Vol. 4 Edisi 1 Januari – Juni 2016, hal. 82-83

[4] Lihat, https://mvslim.com/meet-aixa-al-hurra-unconquerable-sultana-granada/, diakses 20 November 2018

[5] Ibid