Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (6)

in Sejarah

Ferdinand adalah model ideal dari sosok pangeran yang ajarkan Machiavelli. Dia mampu mengemas kekejaman dan kelicikannya dengan kesamaran yang sempurna sehingga semua langkah politiknya tampak natural. Dan ini terlihat sangat nyata ketika dia menjadikan Boabdil sebagai alat untuk melaksanakan misinya.

—Ο—

 

Muhammad XII atau Boabdil, dibebaskan dari penjara oleh raja Ferdinand pada tahun 1485. Tapi pembebasan tersebut bukan tanpa syarat. Boabdil harus kembali ke Granada untuk merebut tahta. Dia akan didukung oleh perlengkapan militer dan logistik oleh Ferdinand. Apabila misinya berhasil dan Boabdil naik tahta, maka dia harus bersedia tunduk kepada Kastilia (kerajaan Kristen bersatu), dan membayar upeti layaknya negara bawahan. Maka demikianlah, Boabdil berjuang keras menaklukkan Sultan Granada yang tidak lain adalah pamannya sendiri, Muhammad Al Zhagal.

Pada tahun 1487, Boabdil berhasil mengusir Al Zhagal dari Granada, dan naik tahta untuk kedua kalinya. Sebagaimana perjanjiannya dengan Ferdinand, dia menyatakan setia pada kekuasaan Kristen bersatu, dan bersedia menbayar upeti secara berkala. Sedang Al Zhagal, kembali ke wilayah kekuasaan di bagian selatan Granada, yang beribu kota di Malaga.

Sebagimana sudah dikisahkan sebelumnya – berdasarkan perjanjian tahun 1462 antara Al Zhagal dengan kakaknya Ali Abu Hasan yang juga ayahnya Boabdil – Kesultanan Granada di bagi menjadi dua, yaitu wilayah utara yang berpusat di Granada untuk Ali Abu Hasan, dan wilayah selatan yang berpusat di Malaga yang dikuasai oleh Al Zhagal. Ketika Ali Abu Hasan wafat tahun 1485, tahta Granada diberikan kepada Al Zhagal. [1] Dengan demikian, sebenarnya ketika itu wilayah muslim sudah kembali bersatu di Kesultanan Granada. Hal ini tentunya akan menyulitkan bagi Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk menaklukan imperium Islam terakhir di Semenanjung Iberia tersebut.

Hanya saja, Ferdinand menemukan celah untuk memecah belah kaum Muslimin ketika dia melihat ambisi kekuasaan yang berkobar di dalam diri Boabdil. Ini sebabnya dia bersedia memberikan kebebasan bersyarat kepada Boabdil.

Alhasil, setelah Boabdil berhasil menguasai tahta Granda, Ferdinand dengan leluasa menggempur wilayah kekuasaan Al Zhagal di selatan. Ironisnya, selama proses penaklukkan tersebut, Boabdil hanya diam. Layaknya negara bawahan, Boabdil hanya tunduk patuh pada Ferdinand. Di internal kesultanan Granada, para elit Muslim dan masyarakat sebenarnya menuntut Boabdil untuk mengambil tindakan atas progresifitas gerakan Reconquista. Tapi Boabdil tidak berdaya, dan sudah terikat pada janjinya. Seakan tidak memahami potret besar dari proses politik dan pertempuran yang terjadi, Boabdil justru menahan tekanan internal dengan meminta bantuan dari Ferdinand. Hal ini mengakibatkan penduduk Granada kehilangan kesetiaannya pada Negara.[2]

Boabdil bahkan tidak melakukan apapun, ketika pasukan Kristen menyerang Malaga pada 1487. Alih-alih, dia justru memberi bantuan kepada pasukan Kristen untuk menaklukkan kota tersebut. Padahal, bila ditinjau secara strategis, Malaga adalah kota pelabuhan terpenting di Andalusia. Pelabuhan ini, sedianya menjadi pintu masuk yang menghubungkan komunikasi imperium Islam di Afrika Utara dengan Granada. Dengan jatuhnya Malaga, praktis kesultanan Granada terkunci dari segala penjuru. Ini sebabnya, para sejarawan menilai, momentum kejatuhan Malaga sebagai penanda awal kemenangan pasukan Ferdinand atas Granada.

Menyusul jatuhnya Málaga pada 1487, pada tahun yang sama pasukan Kristen juga mulai menginvasi kota Baza yang terlatak di wilayah timur Granada. Pada tahun berikutnya, Almuñécar, Salobreña, dan Almería berhasil direbut oleh pasukan Kristen. Dan pada tahun 1489, Baza dan Guandix pun berhasil di rebut (lihat peta).

 

Proses Reconqueista dari waktu ke waktu hingga penaklukan Granada. Sumber gambar: http://entendernuestrahistoria.blogspot.com

 

Tentang sosok Ferdinand, Gerard DeGroot, seorang komentator buku “The Moor’s Last Stand: How Seven Centuries of Muslim Rule in Spain Came to an End” karya Elizabeth Drayson, mengatakan bahwa Ferdinand adalah model ideal dari sosok pangeran yang ajarkan Machiavelli. Dia mampu mengemas kekejaman dan kelicikannya dengan kesamaran yang sempurna sehingga semua langkah politiknya tampak natural.[3] Dan ini terlihat sangat nyata ketika dia memberikan Boabdil pembebasan bersyarat. Meskipun, dia sebenarnya mampu menaklukkan Granada dengan bala tentara yang dimikinya. Ferdinand lebih memilih untuk menggunakan Boabdil sebagai alat untuk memecah belah inti kekuatan Granada.

Hal yang sama juga terjadi ketika pasukan Ferdinand menaklukkan kota-kota yang berada di dalam kekuasaan Kesultanan Granada. Ferdinand tidak langsung memerintahkan untuk membumihanguskan kota tersebut. Tapi dia dengan sabar dan metodologis menaklukkan mangsanya. Dia akan terlebih dahulu mengepung dan memblokade target. Kemudian dia memutus terlebih dahulu jalur sirkulasi logistik dan bantuan ke wilayah tersebut. Sehingga penduduknya akan terserang kelaparan dan ketakutan yang luar biasa, sebelum akhirnya diluluhklantakan oleh sebuah serangan umum. Setelah berhasil ditaklukkan, penduduknya akan diperbudak atau dibunuh dengna cara yang kejam. Dengan demikian, kisah penaklukkan di wilayah tersebut akan menjadi terror tersendiri bagi kota-kota selanjutnya.[4]

 

Ilustrasi gambar ketika para elit Muslim menyerah pada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sumber gambar: historynet.com

 

Setelah berhasil menaklukan Malaga, ekspedisi militer Ferdinand terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Satu-persatu wilayah kesultanan Granada, baik yang dimiliki oleh Al Zhagal maupun Baobdil, hilang tak bersisa. Hingga memasuki tahun 1491, Ferdinand sudah berhasil menaklukkan seluruh wilayah di Semenanjung Iberia, kecuali satu, yaitu pusat kekuasaan Kesultanan Granada yang dikenal dengan istana Alhambra. Di Istana inilah Boabdil memerintah sebagai raja bawahan Ferdinand.[5]

Pada awal tahun 1491, misi perjuangan Reconquista sudah hampir mencapai puncaknya. Semenanjung Iberia, yang selama 800 tahun sebelumnya hilang dari pengaruh Kristen, kini berpeluang kembali sepenuhnya masuk ke pangkuan mereka. Dan di tengah euphoria kemenangan yang diraihnya, Ferdinand menilai keberadaan Boabdil di Semenanjung Iberia sebagai nokhta kecil yang menyebalkan. Nyaris tidak ada lagi hal penting yang bisa diambilnya dari raja yang terkucil ini.

Di sisi lain, Boabdil merasa Ferdinand sudah mengingkari janjinya. Wilayah-wilayah kekuasaan Granada yang berhasil di rebut dari Al Zhagal ternyata tidak dikembalikan ke dalam kekuasaan Boabdil. Untuk inilah dia mengajukan protes dan mulai bermaksud melakukan perlawanan terhadap Kastilia.[6] Hal ini memberi alasan bagi Ferdinand untuk kembali menghukum Boabdil. Maka dengan pertimbangan yang sangat rasional, pada bulan April 1491 Ferdinand memutuskan untuk menginvasi kota Granada dan menyingkirkan Boabdil dari tahta.[7] (AL)

 

Bersambung…

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (7)

Sebelumnya:

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (5)

Catatan kaki:

[1] Dadang Suhendra, Perkembangan Peradaban Islam Masa Dinasti Ahmar di Spanyol Tahun 1232-1492 M, TAMADDUN Vol. 4 Edisi 1 Januari – Juni 2016, hal. 82-83

[2] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 188

[3] Gerard DeGroot, The Moor’s Last Stand: How Seven Centuries of Muslim Rule in Spain Came to an End by Elizabeth Drayson”, https://www.mml.cam.ac.uk/sites/www.mml.cam.ac.uk/files/thetimesreviewapril2017.pdf, diakses 28 November 2018

[4] Ibid

[5] Lihat, https://www.spanishwars.net/15th-century-conquest-of-granada.html, diakses 28 November 2018

[6] Ibid

[7] Lihat, http://www.historynet.com/reconquista.htm, diakses 28 November 2018