Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (7)

in Sejarah

Last updated on December 6th, 2018 07:33 am

Setelah pengepungan selama 8 bulan, akhirnya Boabdil mengaku kalah dan bersedia menandatangi perjanjian damai dengan Ferdinand. Bagi kaum Muslimin, momen ini adalah titik balik yang cukup memilukan. Karena momen tersebut menandai berakhirnya pengaruh kaum Muslimin setelah hampir 800 tahun berkuasa di sana. Sejak kepergian Boabdil hingga saat ini, kaum Muslimin tidak bisa lagi mengulang kisah sukses penaklukkan atas Semanajung Iberia.”

—Ο—

 

Pada bulan April tahun 1491, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mulai memerintahkan untuk melancarkan serangan umum ke jantung kekuasaan Kesultanan Granada di Istana Alhambra. Istana ini terletak di titik paling strategis kota Granada. Berada pada ketinggian kurang lebih 150 meter, dari tempat ini bisa terlihat pemandangan seluruh kota hingga sejauh mata memandang. Luas komplek Istana Alhambra sekitar 14 hektar, dikelilingi oleh Benteng Alcazaba yang memiliki pola tidak beraturan.[1]

Beberapa laporan sejarah menyebutkan, bahwa sebelum melakukan penyerangan, Ferdinand dan Isabella sebenarnya sudah memerintahkan Boabdil untuk menyerahkan Granada tanpa syarat. Tapi hal ini ditolak oleh Boabdil. Dia lebih memilih untuk mempertahankan Granada dan mengerahkan pasukan yang tersisa untuk melawan pasukan Kristen bersatu.[2]

Sebagaimana sudah dijelaskan pada edisi sebelumnya. Kesetiaan elit dan masyarakat Granada terhadap Boabdil sudah menurun drastis ketika dia kembali ke Granada dengan membonceng pasukan Kristen di belakangnya. Dia tidak mendengar aspirasi masyarakat untuk mengangkat senjata ketika kekuatan Kristen berupaya melucuti kekuatan Islam di Granada. Alih-alih, dia menggunakan pasukan Kristen untuk meredam gejolak protes di dalam kota Granada. Dan kini, ketika kedudukannya sebagai Sultan Granada sudah dianggap tidak memiliki arti bagi Ferdinand, Boabdil meminta masyarakat untuk angkat senjata mendukungnya melakukan perlawanan. Tentu ini satu upaya yang terlambat dilakukan dan terlihat sia-sia.

Ferdinand memiliki pasukan raksasa dengan perlengkapan tempur lengkap. Ditambah lagi moral pasukannya sedang tinggi, menyusul kemenangan demi kemenangan yang diaraihnya. Dengan sabar, dia mengepung Granada dan memblokade jalur sirkulasi keluar masuk kota Granada. Sehingga masyarakat mengalami krisis ekonomi yang parah. Ditambah lagi, satu persatu para elit Granada mulai menyatakan menyerah, bahkan ada juga yang membelot dari Boabdil dengan memberikan informasi-informasi yang diperlukan oleh Ferdinand.

Sedangkan Boabdil. Dia hanya berharap pada benteng Alcazaba yang terkenal kokoh, dan berada di wilayah paling strategis di Kota Granada. Benteng ini memang dirancang apik untuk menghadapi serangan paling brutal sekalipun. Dinding-dindingnya yang tinggi dan tebal, membuat mereka bisa menahan laju pasukan yang datang bergelombang silih berganti. Belum lagi, benteng ini dilengkapi dengan menara-menara pengawas yang mampu memantau pergerakan musuh hingga sejauh mata memandang. Kalaupun ada keuntungan kuantitatif dari pasukan Ferdinand, itu adalah sistem persenjataan yang menurut laporan sejarawan adalah yang terbaik di zamannya. Namun demikian, hingga akhir pengepungan, semua itu tidak bisa menembus sistem pertahanan benteng Alcazaba.[3]

 

Maket dan Klasifikasi situs Alhambra. Sumber gambar: granadadigital.es

 

Meski berada di balik perlindungan benteng yang sangat kokoh. Tapi Boabdil juga menyadari, bahwa nyaris tidak mungkin baginya untuk menggapai kemenangan. Di tengah keputusasaannya, dia sempat mengirimkan beberapa surat ke berbagai wilayah kaum Muslimin – mulai dari Mirinid di Afrika Utara, hingga Mamluk di Mesir. Tapi bantuan yang diharapkan tak jua muncul. Kalaupun ada bala bantuan yang datang, agak sulit bagi mereka untuk memasuki kawasan Semenanjung Iberia. Karena sebagaimana sudah dikisahkan sebelumnya, hampir seluruh pelabuhan di Iberia sudah di kuasai oleh Ferdinand, khususnya pelabuhan Malaga yang jatuh pada tahun 1487.[4]

Secara umum, waktu pengepungan Granada berlangsung selama 8 bulan. Selama proses tersebut berbagai proses politik, intrik, hingga kontak fisik terjadi. Akhirnya setelah berusaha mencoba segala cara, pada 25 November 1491, Boabdil menyatakan menyerah dan mengajukan perjanjian damai kepada Ferdinand dan Isabella. Permohonan inipun disetujui oleh pemimpin tertinggi politik umat Katholik tersebut. Perjanjian tersebut dibuat di dalam Istana Alhambra. Dalam isi perjanjian tersebut dinyatakan bahwa Boabdil dan kaum Muslimin di Granada diwajibkan untuk meninggalkan Granada selambat-lambatnya dua bulan setelah perjanjian tersebut.[5]

 

Lukisan karya F. Pradilla berjudul The Capitulation of Granada. Mengisahkan tentang suasana ketika Muhammad XII (Boabdil) menyerah kepada Ferdinand dan Isabella. Sumber gambar: wikipedia.org

 

Dan demikianlah. Setelah dua bulan berlalu, atau tepatnya 2 Januari 1492, Boabdil melangkah keluar dari Istana Alhambra bersama seluruh keluarganya. Di menyerahkan kunci gerbang istana yang sudah dihuni oleh nenek moyangnya sejak 250 tahun yang lalu. Sejarah mencatat ucapan Boabdil ketika menyerahkan kunci tersebut kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, “Ini adalah kunci menuju surga”, demikian katanya.[6] Setelah itu dia pergi ke pengasingan di Maroko selama 40 tahun, dan wafat di sana.

 

Lukisan karya Alfred Dehodenco, berjudul “The Farewell Of King Boabdil At Granada”.  Sumber gambar: Pinterest.com

 

Dari seluruh Sultan yang pernah memerintah Granada, Boabdil, mungkin adalah yang paling banyak disebut dan dikisahkan oleh para sejarawan. Sosoknya menjadi simbol tragedi, kemalangan dan ironis seorang panguasa. Oleh musuh-musuhnya dari Kastilia, dia disebut el rey chico yang artinya “raja kecil”, dan oleh rakyatnya sendiri dia disebut “al-zogoybi” (yang malang).[7]

Meski begitu, masyarakat dan sejarawan tidak pernah jemu membicarakan kisah takluknya Kesultanan Granada, dimana Boabdil menjadi tokoh utamanya. Saat-saat kepergian Boabdil dari Istana Alhambra menjadi salah satu momen yang banyak dikisahkan oleh para sejarawan, pelukis, dan penyair. Di kisahkan pula, ketika berada di batas kota Granada, Boabdil sempat menengok ke Istana Alhambra untuk terakhir kalinya, dan menangis. Ketika menyaksikan tangis putranya, Ratu Aixa mengucapkan satu kalimat yang sangat terkenal, “Bagus nak, kau menangis seperti wanita untuk sesuatu yang tidak bisa kau pertahankan layaknya laki-laki.”[8]

 

Lukisan legendaris berjudul “The Moor’s Last Sigh” karya Francisco Pradilla y Ortiz (1848-1921). Lukisan ini mengisahkan rombongan Sultan Muhammad XII yang memandang Granada untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya pergi ke pengasingan. Dalam momen inilah muncul ucapan terkenal dari Ibunda Boabdil, Ratu Aixa “You do well, my son, to cry like a woman for what you couldn’t defend like a man.” Sumber gambar: http://painting-history.blogspot.com

 

Bagi kaum Muslimin, kepergian Boabdil dari Semenanjung Iberia, adalah titik balik yang cukup memilukan. Karena momen tersebut menandai berakhirnya pengaruh kaum Muslimin setelah hampir 800 tahun berkuasa di sana. Sejak kepergian Boabdil hingga saat ini, kaum Muslimin tidak bisa lagi mengulang kisah sukses penaklukkan atas Semanajung Iberia. Alih-alih, arus balik justru terjadi. Hanya beberapa dekade setelah itu, para penjelajah Eropa sudah mulai melempar sauh di berbagai pelabuhan besar dunia. Dan beberapa abad setelah itu, penetrasi kebangkitan Eropa berhasil membajiri hampir seluruh dunia, termasuk wilayah-wilayah Muslim hingga titik terjauh seperti Nusantara. (AL)

 

Bersambung…

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (8)

Sebelumnya:

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (6)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Alhambra, Granada, Spain, http://www.airpano.com/360photo/Alhambra-Granada-Spain/, diakses 25 Oktober 2018

[2] Lihat, http://www.historynet.com/reconquista.htm, diakses 28 November 2018

[3] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, hal. 186

[4] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 188

[5] Ibd, hal. 189

[6] Lihat, The Last Muslim King In Spain, https://www.cam.ac.uk/research/news/the-last-muslim-king-in-spain, diakses 28 Oktober 2018

[7] Lihat, Muhammad XII, https://www.britannica.com/biography/Muhammad-XII, diakses 28 Oktober 2018

[8] “You do well, my son, to cry like a woman for what you couldn’t defend like a man.” Lihat, The last Muslim King in Spain, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*