Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (8)

in Sejarah

“Terdapat setidaknya dua peristiwa bersejarah pasca runtuhnya Kesultanan Granada, yaitu; kedatangan Christopher Columbus dengan membawa proposal penjelajahan ke hadapan Ferdinand; dan munculnya kebijakan inkuisisi atau yang dikenal juga dengan ‘Dekrit Alhambra’.”

—Ο—

 

Berbeda dengan umat Islam, yang menyesali runtuhnya Kesultanan Granada. Bagi umat Katholik, kepergian Boabdil merupakan momen puncak dari proses Reconquista yang berlangsung selama lebih dari 700 tahun. Tidak mengherankan bila setelah itu Ferdinand dan Isabella kebanjiran ucapan selamat dari seluruh wilayah Kristen di dunia. Dan salah satu ucapan selamat yang sangat terkenal adalah yang diberikan oleh Christopher Columbus. Sosok yang sejak tujuh tahun terakhir mencoba tanpa hasil untuk mencari dana demi mewujudkan mimpi penjelajahannya.[1]

Ketika mendengar kisah kesuksesan Ferdinand. Pada bulan Januari 1492, Columbus mencoba peruntungan dengan mengirim ucapan selamat sebagai berikut, “Setelah yang mulia menuntaskan perang dengan bangsa Moor yang berkuasa di Eropa, dan mengakhiri pertempuran di Kota Granada, yang hal tersebut terjadi pada 2 Januari 1492, saya melihat (dengan gembira) panji-panji kekuasaan baginda berkibar dengan perkasa di menara Alhambra.”[2]

Selanjutnya dia mengemukakan proposal penjelajahan yang sebenarnya cukup logis pada masanya. Legenda mengatakan, bahwa Colombus diterima oleh Raja Ferdinand di Istana Alhambra, tepatnya di Menara Comares, ruang utama tempat singgasana Sang Raja berada.[3] Ide yang ditawarkan Colombus tidak umum. Dia berencana membuka jalur baru penjelajahan ke arah barat, atau Samudera Atlantik. Menurutnya, jalur pelayaran konvensional ke timur melalui Afrika ataupun Mediterania terlalu beresiko. Karena di sepanjang jalur tersebut, kekuatan kaum Muslimin masih sangat kuat dan berkuasa. Kesultanan Ottoman menguasai wilayah Mediterania Timur dan jalur sutra di darat. Sedang di Afrika, masih ada Kesultanan Mamluk yang cukup merepotkan bila memaksakan melalui wilayah teritorialnya.[4]

 

Ilustrasi gambar ketika Colombus melakukan presentasi di hadapan para petinggi Kastilia di Istana Alhambra. Sumber gambar: Pinterest

 

Dengan jalur baru yang direncanakannya, Colombus yakin akan mencapai Jepang, China dan India dengan cara lebih aman. Dia memperkirakan, jarak yang dibutuhkan untuk mencapai Jepang setidaknya 2.500 mil. Dalam imajinasinya, tidak terlintas adanya segumpal daratan raksasa yang demikian kaya, yang kini kita kenal dengan Amerika. Sebagaimana sejarah kemudian mencatat, perkiraan Colombus ternyata meleset sejauh 5000 Mil. Karena jarak sesungguhnya dari Spanyol ke Jepang adalah 7500 Mil.[5]

Proposal Colombus pada awalnya ditolak oleh para ahli dan penasehat Ferdinand. Tapi ketika itu Ferdinand sedang mengalami krisis ekonomi yang berat akibat dari perang bertahun-tahun yang dijalaninya. Dia membutuhkan suntikan dana. Semua peluang keuntungan akan dicobanya, demi menyelamatkan marwah kekuasaanya. Untuk alasan inilah sebenarnya Ferdinand berkenan untuk mensponsori penjelajahan Colombus. Konon, Ratu Isabellah bahkan berkenan menggadaikan kalungnya demi menyokong rencana penjelajahan Colombus.[6]

Sekilas, perhitungan Colombus yang sangat ceroboh. Tapi peruntungannya ternyata luar biasa. Sebagaimana sejarah akhirnya mencatat, dengan ditemani oleh dua orang petunjuk arah dari Afrika Utara, dia berhasil mencapai Amerika dan mengklaim bahwa benua raksasa itu adalah sebuah penemuan yang dipersembahkannya pada Raja Ferdinand.[7] Sejak itu, sejarah bangsa Eropa berubah selamanya.

 

Gambar ilustrasi ketika Colombus kembali ke Spanyol, dan membawa hasil dari penjelajahannya. Sumber gambar:  fineartamerica.com

 

Tapi yang tak kalah penting dari itu, adalah perubahan fundamental yang terjadi di Semenanjung Iberia sendiri. Betapapun tragisnya akhir pemerintahan Islam di Andalusia, masyarakat Eropa sempat mengenyam nuasa toleransi yang sangat tinggi selama ratusan tahun. Dimana semua bangsa dan agama dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai satu sama lain. Tapi ketika pengaruh Islam memudar di Andalusia, perubahan besar terjadi. Reconquista ternyata menyimpan semangat intoleransi yang sangat mencoreng kedigjayaan peradaban Eropa di kemudian hari.

Menurut catatan Eammon Gaeron, sebelum Perang Granada pecah, diperkirakan masih terdapat setengah juta populasi kaum Muslimin di dalam Kastilia. Menjelang akhir perang, ketika semangat intoleransi baru muncul, sekitar 100.000 orang tewas atau diperbudak, 200.000 telah melarikan diri, dan sekitar 200.000 orang masih hidup.[8]

Pada tanggal 31 Maret 1492, atau kurang dari tiga bulan setelah Ferdinand berhasil menaklukkan Kesultanan Granada, dia mengeluarkan kebijakan inkuisisi bagi pemeluk agama Yahudi. Kebijakan yang dikenal dengan “Dekrit Alhambra” ini berisi ultimatum bagi semua penganut agama Yahudi untuk pindah agama menjadi Kristen atau mereka akan diusir dari semua wilayah kekuasaan Kastilia dan Aragon. Kepada mereka yang lebih memilih pergi, mereka dilarang membawa harta benda mereka, termasuk emas, perang, permata ataupun barang-barang berharga lainnya. Dan jika sampai bulan Juli 1492 masih ada orang-orang Yahudi yang belum pindah agama atau pergi dari wilayah Kastilia dan Aragon, mereka akan dihukum mati tanpa pengadilan.[9]

 

Salinan Dekrit Alhambra tahun 1492, yang berisi perintah pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Spanyol. Sumber gambar: wikipedia.org

 

Dalam waktu cepat populasi orang Yahudi menyusut drastic di Semenanjung Iberia. Untuk mempertahankan hidup, orang-orang Yahudi tersebut lebih memilih untuk mencari perlindungan ke negeri-negeri Muslim, seperti Afrika Utara atau di bawah perlindungan kesultanan Ottoman. Apa yang ditetapkan Ferdinand pada tahun 1492 tersebut, ternyata tetap berlaku hingga tahun 1968, atau ketika Gereja Roma melalui Konsili Vatikan II mencabut Dekrit Alhambra.[10]

 

Proses pengusiran orang-orang Yahudi di Eropa dari tahun 1100 hingga 1600. Yang berwarna merah adalah pemukiman baru mereka pasca dikeluarkan Dekrit Alhambra tahun 1942. Sumber gambar: wikipedia.org

 

Pada tahun 1501, kebijakan yang sama juga diberlakukan kepada umat Islam di seluruh wilayah kekuasaan Kastilia dan Aragon. Khusus kepada orang-orang Islam berdarah Spanyol mereka berlakukan hukum perbudakan yang tidak begitu disambut baik. Dan hanya berjarak seperempat abad kemudian, pada tahun 1526, semua dekrit diberlakukan yang memaksa umat Islam untuk pindah agama atau pergi dari tanah Spanyol. Bila tidak, mereka harus rela diperbudak dimanapun mereka ditemukan di seluruh wilayah kekuasaan Kastilia dan Aragon.[11]

Di antara orang-orang Islam tersebut ternyata banyak – yang demi mempertahankan kehormatannya – memilih untuk berpura-pura pindah agama. Orang-orang Muslim inilah yang kemudian dikenal dengan nama Moriscos atau disebut juga orang Moor. Mereka umumnya berasal dari Maroko, Aljazair, dan Tunisia, Semenanjung Iberia, dan bagian lain dari Eropa Mediterania, seperti Sisilia dan Malta.[12]

Sedang di sisi lain, masuknya mereka ke dalam agama Kristen ternyata tidak membantu terjadinya integrasi sosial. Alih-alih, terbentuk semacam stigma warga Negara kelas dua bagi mereka yang berbondong-bondong masuk Kristen setelah munculnya dekrit tersebut. Pertanyaan yang wajar muncul di tengah umat Kristen kala itu adalah, bagaimana mungkin mereka akan menjadi seorang Kristen yang taat, sedang mereka masuk Kristen dalam keadaan terpaksa?[13]

Pertanyaan kritis ini menciptakan kecurigaan di benak masyarakat, bahwa orang-orang Islam yang masuk Kristen ini hanya berpura-pura demi mempertahankan diri dan kehormatannya saja. Akhirnya muncul banyak kekerasan dan penganiayaan terhadap mereka di seluruh wilayah Spanyol. Tak ayal, aksi kekerasan ini dibalas dengan kekerasan lagi oleh orang-orang Moor. Dengan demikian, integrasi sosial yang diharapkan memang tidak pernah terjadi.[14]

Pada tahun 1968, Dekrit Alhambra yang diberlakukan pada orang-orang Yahudi sudah di cabut. Tapi hal yang sama tidak berlaku bagi umat Islam. Dan pada tahun 2014 lalu, Parlemen Spanyol sudah menyepakati Undang-undang yang memungkinkan bagi orang-orang Yahudi yang pernah diusir oleh Dekrit Alhambra untuk kembali menjadi warga Negara Spanyol. Tapi orang-orang masih terus bertanya, kapan kiranya hal yang sama berlaku bagi kaum Muslimin?[15] (AL)

 

Selesai

Sebelumnya:

Runtuhnya Kesultanan Granada: Sebuah Titik Balik Sejarah Islam (7)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 191

[2] “After your Highnesses ended the war of the Moors who reigned in Europe, and finished the war of the great city of Granada, where this present year 1492 on the 2nd January I saw the royal banners of Your Highnesses planted by force of arms on the towers of the Alhambra.” Lihat, Ibid

[3] Lihat, Alhambra, Granada, Spain, http://www.airpano.com/360photo/Alhambra-Granada-Spain/, diakses 25 Oktober 2018

[4] Lhat, Eammon Gaeron, Op Cit

[5] Ibid

[6] Lihat, https://www.alhambradegranada.org/en/info/nasridpalaces/comarestower.asp, diakses 28 oktober 2018

[7] Tentang para pengawal Colombus ini, Redaksi Ganaislamika pernah menerbitkan serial tulisan berjudul “Kontroversi Seputar Masuknya Islam ke Amerika”. Artikel tersebut bisa diakses melalui link berikut: https://ganaislamika.com/kontroversi-seputar-masuknya-islam-ke-amerika-1/

[8] Lhat, Eammon Gaeron, Op Cit, hal. 189

[9] Ibid

[10] Ibid, hal. 190

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid, hal. 191