Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (7)

in Islam Nusantara

Last updated on August 25th, 2018 05:12 am

Pada kenyataannya, dalam penelitian yang lebih serius, bukan hanya Syaikh Siti Jenar, tapi para anggota Wali Songo keseluruhan adalah para guru panteisme (tauhid wujud).”

—Ο—

 

Prof. Azyumardi Azra, dalam salah satu tulisannya mengatakan, “Kaum muslim Nusantara tidak hanya memiliki ortodoksi Islam yang bersumber dari para ulama otoritatif, tapi wilayah Nusantara sendiri terbentuk menjadi ranah budaya Islam (Isilamic Culture Spheres) yang distingtif. Wilayah Muslim Nusantara adalah salah satu dari delapan ranah budaya Islam yang memiliki distingsi masing-masing. Kedelapan ranah budaya itu antara lain, Arab; Persia atau Iran; Turki, Anak Benua India; Nusantara; China atau Asia Timur; Afrika Sudan atau Afrika Hitam atau Afrika Sub-Sahara; dan Belahan dunia Barat.[1]

Menurut Azra, masing-masing dari ranah budaya Islam tersebut memiliki faktor pemersatu seperti bahasa, budaya dan tradisi sosial khas, sehingga ekspresi sosial-budaya dan politiknya pun berbeda-beda. Ranah budaya Islam Nusantara mengandung sejumlah faktor pemersatu, yang membuat kaum Muslimin Indonesia dari berbagai suku, traidisi, dan adat istiadat berada dalam satu kesatuan. Faktor pemersatu itu antara lain, tradisi keulamaan dan keilmuan Islam yang sama, bahasa Melayu sebagai lingua franca dan tradisi sosial budaya dan adat istiadat yang memiliki banyak kesamaan daripada perbedaan.[2]

Dari tiga faktor pemersatu yang disampaikan oleh Azra, faktor tradisi keulamaan dan keilmuan Islam yang sama merupakan satu identifikasi yang kerap muncul dalam studi-studi yang dilakukan oleh para sejarawan baik dalam tema keindonesiaan, terlebih dalam tema keislaman. Di samping itu, beberapa kesimpulan lain yang umum didapat para sejarawan, bahwa Islam menyebar di Nusantara secara damai, dan mengandung muatan sufistik yang kental. Tak ayal temuan-temuan ini mengarah pada satu asumsi yang sama, bahwa Islam di Nusantara menyebar dengan dibawa oleh satu kelompok kaum yang memiliki narasi perjalanan keilmuan dan keturunan yang sama.

Haidar Bagir, seorang penggagas Gerakan Islam Cinta, dalam salah satu tulisannya pernah mengemukakan bahwa ada kemungkinan besar penerimaan Islam yang luas di masyarakat Nusantara disebabkan adanya kesesuaian antara panteistik Islam yang dibawa oleh para Wali Songo dan ulama-ulama sesudahnya dengan teologi Hinduisme (Vedantic, bukan populer) yang telah tertanam dalam budaya pemikiran bangsa Nusantara sebelumnya. Lebih lanjut menurut Haidar Bagir, pada kenyataannya, dalam penelitian yang lebih serius, bukan hanya Syaikh Siti Jenar, tapi para anggota Wali Songo keseluruhan adalah para guru panteisme (tauhid wujud).[3]

Terkait tentang pertama kali paham pateisme Islam masuk ke Nusantara, setidaknya terdapat dua teori; pertama, lewat jaringan ulama Indonesia dengan ulama tasawuf di Jazirah Arab, yang ditandai oleh peredaran risalah Al-Tuhfah al-Mursalah li Ruh al-Nabiy saw (Persembahan Bagi Ruh Sang Nabi SAW) karya Muhammad ibn Fadhl Allah Burhanpuri (1029 H/1620M) yang – atas permintaan para ulama “Jawi” disarah oleh Ibrahim al-Kurani (1690M) dalam Ithaf al Dzaky.[4]

Kedua, Haidar Bagir pernah pengutarakan bahwa paham panteisme tersebut masuk ke Nusantara dengan dibawa oleh kaum Alawiyin dari Hadramaut. Dalam artikel berjudul “Napas Cinda dari Hadramawt” yang pernah dipublikasi oleh Majalah Tempo tahun 2012, Haidar Bagir mengungkapkan bahwa thariqah ‘Alawiyah secara prinsipil mengacu pada konsep sufistik Ibn Arabi. [5]

Dalam artikel tersebut Haidar Bagir mengisahkan bahwa Al-Syaikh Abu Madyan Syu‘ayb bin Abu Hasan At-Tilmisaniy Al-Maghriby, yang pada saat itu sedang berada di Tilmisan, Al-Jazair, mengutus muridnya yang bernama As-Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Maq‘ad, seraya bertitah:

“Sesungguhnya kami mempunyai seorang sahib di Hadramawt (Tarim), pergilah engkau menemuinya, dan pakaikanlah khirqa ini kepadanya. Sesungguhnya aku melihatmu akan menemui ajal di tengah perjalanan. Bilamana hal tersebut akan terjadi, maka titipkanlah jubah ini kepada orang yang engkau percayai.”

Kemudian pergilah Al-Syaikh Abdurrahman dari Tilmisan ke Hadramaut. Ketika sampai di Kota Mekah, ia pun disergap sakratulmaut. Maka, kemudian diserahkannya jubah tadi kepada muridnya, yaitu Al-Syaikh Abdullah Al-Salih al-Maghriby seraya berpesan agar menyampaikannya kepada yang berhak. Hingga Syaikh Abdullah sampai ke Tarim dan menyerah-terimakannya kepada Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali, sebagaimana yang diamanahkan Abu Madyan.

Al-Faqih al-Muqaddam (1176–1264) kemudian dikenal sebagai founding father aliran tasawuf yang biasa disebut sebagai thariqah ‘Alawiyah di kalangan komunitas ‘Alawiyin—yakni, anak-keturunan ‘Alwi bin ‘Ubaydillah, cucu Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir (820–924), sang pemuka keturunan Nabi yang kali pertama hijrah ke Hadramaut. Syaikh Abu Madyan (1126–1198) adalah salah seorang guru terpenting Ibn ‘Arabi—yang dipanggilnya dengan penuh penghormatan sebagai Syaikh al-Mashayikh (Syaikhnya Para Syaikh). Menurut catatan, pemberian khirqa dari Syaikh Abu Madyan kepada al-Faqih al-Muqaddam merupakan awal tenggelamnya beliau dalam suluk (pelancongan spiritual), mujahadah (upaya keras menundukkan nafsu rendah) dan riyadah (latihan-latihan spiritual) yang menjadi tonggak-tonggak tasawuf.

Imam Idrus bin Umar al-Habsyi, salah seorang ulama besar dalam tarekat ini, menulis: “Sesungguhnya thariqah ‘Alawiyah, lahiriahnya adalah ilmu-ilmu agama dan amal, sedangkan batiniahnya adalah mewujudkan maqamat (stasiun-satasiun spiritual yang merupakan hasil upaya meraihnya dan bersifat tetap) dan ahwal (keadaan-keadaan spiritual) tak permanen berian Tuhan. Adabnya adalah menjaga rahasia-rahasianya dan cemburu terhadap penyalahgunaannya. Jadi, lahiriahnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali, adalah (kepemilikan) ilmu dan beramal menurut cara yang benar. Sedangkan batiniahnya, seperti yang diterangkan oleh asy-Syadzili, adalah mewujudkan hakikat dan memurnikan tauhid.”

Definisi Imam Idrus memang tak menyebut Ibn ‘Arabi. Sebab, dalam lingkungan tarekat ini, ajaran Ibn ‘Arabi dibatasi aksesnya hanya pada kaum elite spiritual (khawash) saja. Bagaimanapun, sebagai sebuah ajaran tasawuf, prinsip cinta dan metode dakwah damai menjadi ciri utama tarekat ini. Demikian menurut Haidar Bagir.[6] (AL)

Bersambung…

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (8)

Sebelumnya:

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (6)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Prof. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara, dalam ‘Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan”, Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (Edt), Bandung, Mizan, 2016, hal. 172

[2] Ibid

[3] Lihat, Haidar Bagir, Islam dan Budaya Lokal, dalam ‘Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan”, Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (Edt), Bandung, Mizan, 2016, hal. 178

[4] Ibid

[5] Lihat, Haidar Bagir, “Napas Cinda dari Hadramaut”, Majalah Tempo, Minggu 12 Agustus 2012

[6] Lihat juga, https://islamindonesia.id/kolom/opini-nafas-cinta-dari-hadhramawt.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*