Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (6)

in Islam Nusantara

Last updated on August 21st, 2018 05:37 am

Muhammad Subarkah dalam salah satu tulisannya di buku “Peran Dakwah Damai Habaib/Alawiyin di Nusantara” menyatakan, bahwa corak keberagamaan kaum ‘Alawiyin atau habib yang mengutamakan bobot sufistik daripada fiqhiyah (legal-formal) juga dianggap menjadi salah satu penentu meluasnya penyebaran dakwah. Sayangnya, tradisi pengajaran Islam sufistik ini pada masa sekarang justru mendapat tantangan dari kaum ‘eksetoris’, bahkan dianggap menyimpang dari arus utama pemikiran Islam.”[1]

—Ο—

 

Hampir semua sejarawan sepakat, bahwa Islam menyebar di Nusantara dengan cara yang damai, tanpa kekerasan, dan diterima dengan lapang dada oleh masyarakat. Menariknya lagi, para pendakwah agama Islam tersebut langsung mendapatkan kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat, bahkan menjadi raja-raja di Nusantara. Padahal, mereka adalah “orang asing” yang berjalan sejauh ribuan mil dari rumahnya.

Salah satu kuda-kuda paling penting dalam menopang dakwah kaum Alawiyin yang masuk ke Nusantara tidak lain warna ajarannya yang khas. Dan hal tersebut berasal dari satu bibit pengajaran yang sama dan khusus, yang dikenal sebagai Thariqah “Alawiyih” atau Thariqah Sadah Ba ‘Alawi. Musa Kazhim, dalam “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, menjelaskan secara umum tentang prinsip-prinsip Thariqah “Alawiyah” sebagai berikut:[2]

Menurut Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, “Thariqah Sadah Ba ‘Alawi adalah ilmu, amal, wara’ (kehati-hatian), khauf (takut) kepada Allah, dan ikhlas kepada-Nya.” Sayidina Al-Imam Idrus bin Umar Al-Habsyi yang mengutipnya dalam kitabnya, ‘Iqd Al-Yawâqît Al-Jauhariyyah, kemudian mengatakan, “Lihatlah kesempurnaan tahqiq beliau dan keluasan penelaahannya. Beliau menghimpun sifat mereka yang sempurna dalam lima kata dan lima keadaan.”

Sayidinaa Al-Imam Abdullah Al-Haddad juga mengatakan, “Sesungguhnya, thariqah Sadah Ba ’Alawi adalah thariqah yang paling lurus dan paling seimbang. … Mereka menerima itu dari generasi sebelumnya, ayah menerima dari kakek, dan begitu seterusnya sampai kepada Nabi Saw.” Demikian dikutip oleh Al-Imam Ali bin Hasan Al-Attas6 dalam kitabnya, Al-Qirthas.

Sayidina Al-Imam Idrus bin Umar Al-Habsyi, dalam kumpulan ucapannya yang terdapat dalam An-Nahr Al-Maurud, mengatakan, “Sesungguhnya, thariqah ’Alawiyah lahiriahnya adalah ilmu-ilmu agama dan amal, sedangkan batiniahnya adalah mewujudkan maqâmât dan ahwal, adabnya adalah menjaga rahasia dan cemburu terhadap penyalahgunaannya. Jadi, lahiriahnya adalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Ghazali, berupa ilmu dan beramal menurut cara yang benar, sedangkan batiniahnya adalah, seperti yang diterangkan oleh Asy-Syadzili, berupa mewujudkan hakikat dan memurnikan tauhid. Ilmu mereka adalah ilmu orang-orang besar. Ciri khas mereka adalah menghilangkan bentuk simbol.”

Mereka memohon kepada Allah dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala pendekatan. Mereka melakukan pengikatan janji, talqin (menuntun bacaan zikir), dan pemakaian khirqah (kopiah atau jubah untuk penahbisan ke thariqah), riyadhah (olah rohani), mujahadah (pengorbanan dalam menundukkan nafsu), serta mengikat persahabatan. Mujahadah mereka yang terbesar adalah berjuang untuk menyucikan hati dan menyiapkan diri untuk menerima anugerah-anugerah kedekatan (dengan Allah) pada jalan kebenaran. Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala pendekatan dalam persahabatan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas pernah ditanya tentang pengertian thariqah ’Alawiyah. Beliau mengatakan, “Lahiriahnya adalah Ghazaliyyah dan batiniahnya adalah Syadziliyyah. Artinya, lahiriahnya adalah mengosongkan (melepaskan) diri dari akhlak tercela dan menghiasi diri dengan akhlak terpuji, sedangkan batiniahnya adalah penyaksian akan anugerah Allah dari sejak awal langkahnya.” Beliau mengatakan, “Jika mau, Anda dapat mengatakan, ’Thariqah ’Alawiyah adalah keselamatan dan istikamah, pertemuan dan penghadapan, pengosongan dan penghiasan diri, petunjuk dan ketenangan, penghapusan dan penetapan, usaha yang keras dan penanggungan beban, atau keselamatan dan penyerahan.’”

Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, bahwa thariqah tersebut mengikuti nash menurut cara khusus. Kemudian, beliau mengatakan bahwa jalan para salaf adalah beramal di tempat dia harus beramal, meninggalkan tempat yang harus ditinggalkan, berniat di tempat dia harus berniat, dan mengungkapkan di tempat dia harus mengungkapkan. Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Thariqah Ahlulbait adalah amal. Mereka tidak menuntut ilmu, kecuali yang menuntun kepada amal dan untuk menjaga diri mereka, sedangkan yang lainnya mereka terima dari limpahan anugerah Allah. Mereka mengambil ilmu, baik yang muthlaq (tidak terbatas oleh individu dan lingkungan) maupun muqayyad (yang terbatas oleh individu dan lingkungan) dari keberadaan takwa.”

As-Sayid Al-‘Allamah Ahmad bin Abubakar bin Sumaith, semoga Allah memberi manfaat melaluinya, berkata, “Sesungguhnya, thariqah ‘Alawiyah telah mencakup rahasia-rahasia yang tidak didapati pada thariqah Islam lainnya dan thariqah ini berbeda dengan sifat-sifatnya yang tinggi. Sebab, dalam hal hakikat pemurnian dan pengesaan, dibangun di atas jalan Asy-Syadziliyyah dan mereka yang berjalan sesuai dengan jalan itu, sedangkan mujahadah dibangun di atas jalan Al-Ghazali. Thariqah ini tidak disisipi penyimpangan apa pun, bahkan mereka yang berada dalam thariqah ini melanjutkan yang ada di sepanjang zaman, saling mewarisi generasi demi generasi, hingga di zaman kita saat ini.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan thariqah ‘alawiyyah, sebagian keturunan beliau terus berhijrah ke arah Timur. Penerimaan warga setempat terhadap para Habib ‘Alawiyin ini dapat dilihat dari kemegahan dan kemeriahan pekuburan. Meminjam ungkapan Engseng Ho, peneliti sejarah Hadhramaut yang mengarang buku berjudul The Graves of Tarim, kubah-kubah pekuburan ‘Alawiyin ini berjejer bagai deretan titik putih yang merentang panjang. Putra beliau, Habib Ubaidillah, dikubur di Bur; cucu beliau, Habib Alawi, dikubur di Sumal; cicit beliau, Habib Muhammad, di Bayt Jubayr (w. 1054 M.) bersama canggah beliau; dan akhirnya putra Habib Muhammad, yakni Habib Ali, dikubur di Tarim (w. 1133 atau 1135).

Tarim sendiri adalah sebuah kota di Yaman yang terletak di sebelah timur Syibam, sekitar 35 km di timur Seywun. Dari tempat inilah kemudian, putra-putra Hadramaut bertebaran di muka bumi, menyajikan satu model dakwah Islam yang jauh lebih damai dan adaptif dibanding dengan yang diperkenalkan semua imperium Islam pada masanya. Dan salah satu wilayah tujuan mereka adalah ke Timur, ke gugusan kepulauan di Nusantara.[3] (AL)

Bersambung…

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (7)

Sebelumnya:

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (5)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Muhammad Subarkah, “Jalur Dakwah Diaspora Hadhramaut”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hal. 242-243

[2] Lihat, Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hal. 8-9

[3] Terkait tentang Tarim sendiri, redaksi ganaislamika pernah menulisnya dalam satu serial artikel berjudul “Tarim; Kota Para Wali”. Lihat, https://ganaislamika.com/?s=tarim

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*