Sekolah Kaligrafi Islam (2): Disiplin Seorang Murid

in Kaligrafi

Khattat (bahasa Arab) berarti Kaligrafer. Menjadi seorang Khattat bukanlah sesuatu yang mudah, dia membutuhkan proses-proses belajar dan pelatihan yang panjang disertai disiplin yang tinggi. Bagaimana tidak, karena tujuan akhir dari seorang khattat adalah kemampuan untuk menulis ayat suci yang benar, dan tidak hanya sekedar benar, tetapi juga harus indah. Dengan demikian, seorang khattat, selain harus memahami Al-Quran dia juga memiliki kualifikasi tertentu yang ketat sebagaimana akan dipaparkan dalam tulisan di bawah ini.

Seorang calon khattat membutuhkan karakter psikologis tertentu, yaitu dia harus memiliki karakter yang lembut dan memiliki sifat sederhana. Selain itu, karena yang akan ditulisnya adalah ayat-ayat suci, maka dia pun tidak boleh kotor sepanjang waktu. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Sultan Ali yang mahir dalam membuat rima dalam karyanya yang berjudul Sirat as-sutur—atau Sirat al-khatt (cara membuat garis dalam tulisan) pada tahun 1514, yang mana karya tersebut disalin ulang oleh master kaligrafi gaya Nasta’liq, Mir-Imad. “Saya menemui seorang khattat wanita yang mempunyai pekerjaan menyulam tulisan berwarna emas pada pakaian untuk jenazah, setiap pagi sebelum berangkat untuk bekerja dia selalu melaksanakan ritual mandi besar (ghusl—bahasa Arab).”

Pada tahapan yang lebih rendah, walaupun tidak melaksanakan mandi besar setiap harinya, paling tidak seorang khattat wajib selalu dalam keadaan suci, yakni dengan cara memperbaharui wudhu-nya (ritual dalam Islam yang dilakukan sebelum shalat untuk membersihkan fisik bagian tertentu dan untuk penyucian jiwa) secara terus menerus apabila dia membatalkannya.[1] Kesucian dalam penulisan adalah kesucian dalam jiwa, dan kesucian ini akan terpancar pada tampilan luarnya juga. Tujuan tertinggi dari seorang khattat adalah menulis ayat suci Al-quran dengan benar dan indah, maka dari itu kesucian adalah syarat utama bagi seorang khattat, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran itu sendiri:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS Al-Waqi’ah Ayat 79)

Seseorang yang tertarik dengan kaligrafi harus menemukan guru untuk mendidik dia, baik itu secara personal maupun dalam bentuk grup kecil, dan kemudian belajar huruf demi huruf. Hanya dengan latihan satu huruf secara konstan dan terus menerus, maka dia bisa menghasilkan satu huruf yang indah, sebagaimana karya-karya kaligrafi orang-orang Islam dari wilayah timur. Berbeda dengan gaya Maghribi, mereka memulai latihannya dengan satu kata penuh, bukan huruf per huruf. Maka sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun (dia sendiri adalah orang Tunisia), tidak ada karya kaligrafi mana pun yang dapat mengalahkan keanggunan kaligrafi dari timur.

Kaligrafi gaya Nasta’liq, koleksi milik Hayy Seyed Reza Sadr Hasani. (Sumber: islamoriente.com)
Kaligrafi gaya Maghribi dari Andalusia. (Sumber: http://www.khayma.com/so7ba/qoran/qrnmkh.html)

Kemudian, setiap murid harus menghabiskan seluruh harinya dengan berlatih, sebagaimana yang diceritakan oleh Mir-Ali tentang pengalamannya:

“Empat puluh tahun dari hidupku dihabiskan dalam kaligrafi;

Sentuhan lengkungan kaligrafi tidak datang dengan mudah ke tanganku.

Apabila datang saja satu kali kesempatan duduk dengan santai tanpa berlatih,

Kaligrafi akan hilang dari tangannya seperti warna pada inai”

Konon, dalam momen naik haji yang panjang dan melelahkan, di waktu istirahatnya Hafiz Osman tetap menulis dalam kertasnya untuk berlatih, sementara dalam perjalanan dia menulis pada media tempat minum dari kulit unta, “antara mematahkan penamu atau menulis sesuatu!” Seru Osman. Kisah lain, Rashida, seorang master kaligrafi asal Persia melarikan diri dalam persembunyian setelah pembunuhan atas pamannya, Mir-Imad. Dalam persembunyiannya dia kehabisan kertas. Akhirnya dia menemui khattat lainnya dan mengeluh bahwa dia telah lupa cara-cara menulis.

Kaligrafi karya Hafiz Osman, tahun 1690. (Sumber: https://www.wikiart.org/en/hafiz-osman/murakka-calligraphic-album-1690)

Seorang khattat abad ke-18 dari Lahore membuat syair mengenai sedihnya seorang khattat apabila mengalami halangan untuk menulis:

“Seperti Narcissus saya hadir dari ketiadaan,

buluh pena di ikat pinggangku….

Karena sulit tidurnya sumsum jiwaku.

Mengering di tulangku seperti batang buluh.”

Di bawah bimbingan seorang guru, murid diajarkan cara duduk yang benar, biasanya dengan berjongkok, dengan beban pada tumit. Kemudian kertas untuk menulis diletakkan pada telapak tangan kiri atau pada lutut agar posisinya fleksibel, karena dengan cara seperti ini lengkungan pada akhir huruf bisa lebih mudah dibuat ketimbang kertas tersebut disimpan di atas meja. Selanjutnya dia belajar tentang pengukuran sebuah huruf dengan metode titik dan lingkaran yang diperkenalkan oleh Ibnu Muqla. Tahap selanjutnya adalah belajar membuat irsal, yaitu lengkungan panjang.

Sementara itu, di Persia ada yang disebut huruf-huruf damandar, yang artinya adalah lingkaran akhir pada huruf n, s, y, dan seterusnya yang harus terlihat seperti “tenunan dari mesin tenun yang sama”, dalam artian mereka harus berada dalam ukuran yang benar-benar sama (tradisi menulis kaligrafi pada awal-awal adanya kufic dituangkan pada media tenunan atau sulaman).

“Pada siang hari seseorang harus berlatih tangan kecil, khafi, dan pada sorenya berlatih tangan besar, jali,” kata Sultan-Ali Mashhad, yang juga menyimpulkan syarat-syarat untuk mejadi seorang khattat, “tinta sehitam keberuntungan penulis (karena dia memakai analogi warna hitam, barangkali maksudnya adalah ketidakberuntungan), sebuah pena yang tidak pernah beristirahat seperti mata yang mencucurkan air mata, dan ruh yang seanggun khatt, (dan) tulisan adalah teman yang indah.”

Sahabat Sultan-Ali yang lebih muda, Mir-Ali, menempatkan itu semua dalam susunan yang tidak puitis, tapi dengan sesuatu yang lebih praktis: seorang khattat memerlukan lima hal, yaitu temperamen yang baik, pemahaman tentang kaligrafi, tangan yang baik, daya tahan terhadap rasa sakit, dan alat tulis yang diperlukan. Mir-Ali mengatakan:

“Dan apabila satu dari lima hal tersebut hilang,

itu semua akan tidak berguna meskipun kamu berusaha selama seratus tahun”

Salah satu halaman dari album Nasta’liq karya Mir-Ali yang dibuat semasa dia tinggal di Bukhara. Koleksi Museum Seni Fogg, Universitas Harvard, Cambridge.

Kaligrafi adalah salah satu elemen terpenting dalam kebudayaan Islam, sebagaimana dapat kita lihat sendiri karya-karya kaligrafi dari master yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Bahkan seseorang yang awam pun dapat menilai bahwa karya-karya tersebut bernilai seni yang teramat tinggi. Dengan sekali melihat pun awam dapat mengetahui bahwa itu ditulis oleh tangan seorang ahli. Dia pun paham bahwa itu adalah sesuatu yang rumit, dengan geometri yang akurat, dan yang terpenting karya tersebut adalah mutlak sebuah keindahan. Bagi seseorang yang lebih peka, selain keindahan yang didapat, maka dia akan mampu merasakan aura mistis di dalamnya. Dari itu semua, maka tidak akan ada seorang pun yang berpendapat bahwa karya tersebut dibuat oleh orang yang biasa-biasa saja. Kaligrafi adalah khazanah bagi peradaban Islam. (PH)

Bersambung ke:

Sekolah Kaligrafi Islam (3): Pena

Sebelumnya:

Sekolah Kaligrafi Islam (1): Jembatan Menuju Sukses

Catatan:

Sebagian besar dari artikel ini adalah adaptasi dan terjemahan bebas dari buku: Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture, (London: I.B Tauris & Co Ltd, 1990). Adapun data-data lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Hal-hal yang membatalkan wudhu antara lain: buang air besar atau kecil, bersenggama, buang angin, dll. Di antara berbagai madzhab dalam Islam, ada sedikit perbedaan mengenai hal ini, namun pada umumnya secara garis besar sama, lebih lengkapnya pelajari kajian fiqh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*