Sekolah Kaligrafi Islam (3): Pena

in Kaligrafi

Last updated on October 24th, 2017 04:52 am

Kaligrafi Islam bukan saja menghasilkan karya tulisnya yang bernilai seni tinggi, tetapi juga alat-alat penunjangnya. Perumpamaan di masa kini, seorang musisi tidak hanya menghasilkan musik yang melegenda, tetapi segala sesuatu alat musik yang digunakan si musisi untuk menciptakan komposisi musik menjadi bernilai sangat tinggi sepeninggalnya. Misalnya saja, pada tahun 2005, Eric Clapton, gitaris Blues asal Inggris, berhasil menjual gitarnya yang bernama ‘Blackie’ seharga 959.500 Dollar Amerika Serikat.[1] Harga tersebut jauh melampaui harga gitar yang sebenarnya karena sudah pernah dipakai oleh seniman ternama untuk menciptakan karya-karyanya.

Begitu pula dalam dunia kaligrafi, terciptanya karya seni yang bernilai tinggi mesti didukung juga oleh alat-alat yang berkualitas tinggi, dan seringkali sepeninggal si seniman, alat-alat tersebut juga menjadi bernilai tinggi. Ada tiga alat kaligrafi yang dianggap penting untuk terciptanya karya kaligrafi yang bernilai tinggi, yaitu: pena, tinta, dan wadah tinta (dawat).

Di antara perlengkapan alat tulis kaligrafi, pena adalah yang terpenting bagi khattat (kaligrafer). Sebagaimana yang diungkapkan oleh penyair Arab tentang fungsi pena, “mengenalkan anak-anak perempuan pikiran ke kamar pengantin dari buku-buku tersebut.” Betapa pentingnya persoalan pena, sampai-sampai di dalam buku-buku pegangan klasik, hanya untuk menjelaskan tentang seni menggunting dan memangkas buluh pena saja, disediakan lahan menulis dalam satu bab yang panjang.

Pena untuk menulis kaligrafi. (Photo: fountainpennetwork.com)

Pena-pena dengan kualitas terbaik datang dari Wasit (kota di Irak) dan Shiraz (kota di Iran), belakangan datang juga dari Amul dan Mesir. Pena-pena—perumpamaan: cemara di taman pengetahuan—seringkali digunakan sebagai hadiah untuk para perdana menteri atau penulis yang disertai oleh kisah-kisah mengenai pemilik pena sebelumnya, yang ditulis dengan gaya Baghdad yang anggun, atau bisa juga disertai gambar-gambar yang dipercaya mengandung sesuatu yang berkhasiat tertentu. Pena, “dia sesuatu yang ringan, (tapi) dia sangat penting, dan dia sangat berguna,” suatu syair yang dikutip oleh Khalidiyan dalam Kitab at-tuhaf.

Di masa lalu pena dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga dan masuk dalam kategori harta yang bernilai tinggi, bahkan dia disimpan di kediaman para raja. Kalifah Dinasti Fatimiyah misalnya, al-Mustansir, memiliki sebuah box yang penuh diisi oleh berbagai macam pena, di antaranya ada pena yang pernah dimiliki dan digunakan oleh Ibnu Muqla dan Ibnu al-Bawwab, para master kaligrafi. Pena, sedemikan bernilainya, diumpamakan dalam sebuah kisah, jika ada seorang pemuda yang menemukan pena di makam khattat ternama, maka itu akan mengubah seluruh jalan hidupnya, dia akan terjun ke lembah seni menulis kaligrafi secara total.

Lukisan sosok Ibnu Muqla, beliau juga dikenal sebagai bapak kaligrafi dunia. (photo: kaligrafiku.com)

Dalam kasus-kasus tertentu, seorang khattat dapat juga menggunakan pena berbahan baja, atau ada juga yang menggunakan pena bulu ayam. Pada manuskrip India lama, dan Asia Tengah, juga ditemukan informasi bahwa terdapat khattat yang menggunakan kuas untuk membuat kaligrafi.

Gaya menulis dipengaruhi sangat besar oleh dua hal teknis mengenai pena, yaitu dari sudut mana pena tersebut dipotong, dan rasio di antara dua sisi shaqq, yaitu irisan di bagian tengah ujung pena. Setiap master memiliki cara spesial untuk memangkas penanya. Pisau pemotong pena juga seringkali memiliki ornamen yang indah, terutama pada masa dinasti Ottoman Turki, yang mana pisau tersebut dianggap sangat berharga dan disayangi oleh kaligrafer pemiliknya. Pemotongan pena dilakukan pada sebuah piring kecil berbahan gading atau tempurung kura-kura, atau bahan lain yang memiliki tingkat kekerasan sama. Piring tersebut dipernis agar mengkilat, ukurannya biasanya 3×10 cm.

Dari pena, lahir karya-karya agung yang monumental; dari pena, ajaran Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia; dari pena, orang-orang mendapatkan inspirasi hidupnya; dari pena, orang-orang mendapatkan ilmu dan pengetahuan; dari pena, orang-orang mendapatkan kemasyuran; dari pena, lahir generasi-generasi terbaik; dari pena, keimanan tidak dibatasi oleh waktu; dan dari pena, lahirlah nilai-nilai kemanusiaan. Maka, tidak heran, pada masa keemasan kaligrafi Islam, pena merupakan suatu benda yang teramat dihargai. (PH)

Bersambung ke:

Sekolah Kaligrafi Islam (4): Tinta dan Wadahnya

Sebelumnya:

Sekolah Kaligrafi Islam (2): Disiplin Seorang Murid

Catatan:

Sebagian besar dari artikel ini adalah adaptasi dan terjemahan bebas dari buku: Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture, (London: I.B Tauris & Co Ltd, 1990). Adapun data-data lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] “Eric Clapton’s guitars sell for $2.15 million”, dari laman https://www.cbsnews.com/news/eric-claptons-guitars-sell-for-215-million/, diakses 21 Oktober 2017.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*