Sekolah Kaligrafi Islam (4): Tinta dan Wadahnya

in Kaligrafi

Dalam dunia kaligrafi, terciptanya karya seni yang bernilai tinggi mesti didukung juga oleh alat-alat yang berkualitas tinggi. Ada tiga alat kaligrafi yang dianggap penting untuk terciptanya karya kaligrafi yang bernilai tinggi, yaitu: pena, tinta, dan wadah tinta (dawat).

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai pena dan mengetahui bahwa pena adalah salah satu elemen terpenting dalam kaligrafi. Namun di luar pena, ada benda lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu tinta dan dawat.

Ketika pena sudah selesai dipotong dengan benar, persiapan selanjutnya adalah mengolah tinta. Setiap master kaligrafi memiliki resep tersendiri agar tinta racikannya tidak luntur, dan mereka bisa memiliki metode yang sangat berbeda antara satu sama lain. Di Istanbul misalnya, para khattat dengan hati-hati mengumpulkan jelaga yang melekat pada tutup lampu dan pojok dinding-dinding Masjid Süleymaniye. Jelaga tersebut bermunculan dari minyak lampu yang mengerak. Jelaga tersebut tidak hanya dianggap sebatas bahan baku yang berkualitas saja, tetapi juga dipercaya mengandung keberkahan karena berasal dari masjid.

Setelah mencampur jelaga dengan bahan-bahan lainnya, tinta disimpan dalam jumlah yang kecil ke dalam dawat, atau wadah tinta. Sekedar pengetahuan, selama ribuan tahun banyak penyair dari Arab, Persia, dan Turki yang terinspirasi oleh dawat. Dawat dapat berbentuk kotak atau pun lingkaran, terbuat dari besi atau kayu yang berkualitas, dan belakangan bahan dari keramik juga digunakan. Bagian luar dawat biasanya diukir dan kemudian dilapisi oleh perak atau emas. Karena nilainya yang tinggi, dawat juga sering diberikan sebagai hadiah.

Dawat dari Persia, dibuat antara abad ke-14 sampai ke-16, terbuat dari kuningan dengan ukiran bunga dan hewan yang dilapisi oleh perak. (Photo: https://metmuseum.org/art/collection/search/450406)
Dawat berbahan perunggu, dibuat antara abad ke-12 sampai ke-13, Khorasan, Iran. (Photo: http://davidaaron.com)

Ibnu ar-Rumi pada akhir abad ke-9 menulis sebuah syair tentang dawat yang terbuat dari kayu hitam ebony yang diukir dan dilapisi oleh emas pada bagian luarnya, yang kemudian akan dia berikan pada seseorang:

“Kami mengirimmu Ibu dari semua harapan

dan hadiah: wanita kulit hitam dari keturunan yang mulia,

yang telah menghiasi dirinya sendiri dengan warna kuning, karena kulit hitam

suka mengenakan pakaian berwarna kuning”

Tujuh abad kemudian, penulis Turki menulis pada sebuah box yang berisi tiga dawat yang diisi berbagai warna, isi tulisannya adalah, “darah hatiku, asap dari hatiku, dan keberuntungan hitamku.”

Khattat terkadang menggantungkan dawat pada tangan kirinya selama proses pembuatan kaligrafi, dari peristiwa ini muncul sebuah syair, “mengayun seperti anting pada leher”. Di kemudian hari, kombinasi dawat dan wadah pena yang terbuat dari besi, yang bagian luarnya dihiasi oleh syair seperti di atas (“mengayun seperti anting pada leher”), menjadi lebih umum digunakan.

Kombinasi dawat dan dudukan pena di masa kini. (Photo: calligraphyarts.co.uk, set 41)

Dawat adalah salah satu elemen penting dalam kaligrafi, sehingga dia diumpamakan sebagai “raja pada singgasananya,” atau bisa juga dideskripsikan sebagai, “inti dari wewangian yang dikeluarkan oleh rusa jantan dari Khotanese,”[1] bukan hanya karena warnanya saja yang hitam seperti wewangian dari rusa, namun karena wewangian memang dianjurkan untuk dimasukan ke dalam dawat. Wewangian dituangkan ke dalam liqa, yaitu potongan kain katun atau sutra yang disimpan di dalam dawat untuk mencegah tinta melekat pada buluh pena secara berlebihan.

Mengenai liqa, penyair abad ke-17 menulis sebuah syair tentangnya:

“Pada kuping seseorang yang memiliki hati hitam, tersimpan potongan katun

(yang mengandung) kata-kata,

seperti liqa yang disimpan dalam dawat”

Ada kisah unik mengenai Ibnu al-Lu’aybiya, dia adalah master khattat ternama pada akhir abad ke-12, yang mana tidak ada seorang pun di Mesir yang dapat menandingi karya seninya pada waktu itu. Dia mempunyai tugas untuk membuat Salinan Al-Quran untuk Sultan Saladin. Ketika sedang membuatnya di tengah udara yang dingin, dan langit yang berawan, dia berkisah:

“Di dekatku terdapat sebuah tungku penghangat dengan api di dalamnya. Liqa di dalam dawat menjadi keras, dan aku tidak memiliki air di dekat tanganku yang dapat dituangkan ke dalamnya. Tapi di sana, di dekatku terdapat sebotol khamar[2] anggur (wine), dan aku menuangkannya sedikit ke dalam dawat. Kemudian aku menuliskannya ke dalam satu halaman salinan Al-Quran dan menghangatkannya ke dekat tungku dengan harapan itu akan segera mengering. Dan (tiba-tiba) sebuah percikan bermunculan dan membakar seluruh tulisan yang sudah ditulis tanpa menyisakan apapun. Aku sangat ketakutan, berdiri dan mencuci dawat dan penanya, dan meminta pengampunan ke Tuhan.”

Dalam dunia kaligrafi, pena dan dawat adalah sesuatu yang sangat penting. Di dalam sebuah buku panduan tentang menulis pada abad ke-10 dikatakan bahwa bagus atau tidaknya sebuah tulisan ditentukan oleh tiga hal: “dawat adalah sepertiganya tulisan, pena sepertiganya, dan tangan sepertiganya.”

Bersambung ke:

Sekolah Kaligrafi Islam (5): Mempersiapkan Kertas

Sebelumnya:

Sekolah Kaligrafi Islam (3): Pena

Catatan:

Sebagian besar dari artikel ini adalah adaptasi dan terjemahan bebas dari buku: Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture, (London: I.B Tauris & Co Ltd, 1990). Adapun data-data lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Khotanese adalah kerajaan Saka Budha Iran, lokasinya sekarang berada di Hotan, Xinjiang, China. Kerajaan ini berdiri dari tahun 300 SM sampai dengan 1006 M, dari laman: https://en.wikipedia.org/wiki/Kingdom_of_Khotan, diakses 23 Oktober 217. Mengenai wewangian dari rusa: Rusa jantan dari berberapa daerah tertentu diketahui memiliki kemampuan mengeluarkan semacam parfum berwarna hitam dari area duburnya, yang pada masa kuno parfum tersebut digunakan untuk wewangian atau kepentingan medis, dari laman: https://en.wikipedia.org/wiki/Deer_musk, diakses 23 Oktober 2017.

[2] Khamar, bahasa Arab, artinya adalah jenis minuman yang memabukkan. Di dalam Islam, khamar adalah sesuatu yang dilarang, larangan mengenai khamar salah satunya tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat 90: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*