Sekolah Kaligrafi Islam (6): Ijazah Kelulusan

in Kaligrafi

Sebagaimana sekolah-sekolah tradisional Islam lainnya, seseorang yang mempelajari kaligrafi ketika sudah lulus berhak mendapatkan ijazah (ijaza). Di dalam ijazah tersebut salah satunya akan tercantum katabahu (tanda tangan) dari seorang master kaligrafi yang menjadi gurunya selama dia sekolah. Ijazah juga mencantumkan keterangan bahwa si murid penerima ijazah berhak untuk mencantumkan namanya (kataba) pada setiap karya yang akan dia buat di kemudian hari. Hal lainnya adalah keterangan bahwa pemilik ijazah diperbolehkan untuk mengajar.

Katabahu milik Ibnu Al-Bawwab, antara tahun 1017-1018.

Setelah mendapatkan ijazah pertamanya, lulusan sekolah kaligrafi juga diperbolehkan untuk mendapat ijazah dari master lainnya. Ijazah dari master lain disebut dengan istalah ijaza tabarrukan (ijazah yang diberkahi). Ijaza tabarrukan dapat diperoleh walaupun dia tidak pernah belajar secara formal kepada master yang memberikannya. Hal seperti ini biasa terjadi di dunia sufi, sepanjang sang master mempercayai orang yang bersangkutan, maka dia dapat memberikan Ijaza tabarrukan.

Selain tanda tangan, di dalam ijazah terkadang tercantum peringatan atau ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh si pemilik ijazah, sebagaimana yang ditemukan pada sebuah dokumen tahun 1775:

“Dalam ketentuan, dia dilarang menulis dengan cara memisahkan satu kata dalam dua baris, dan dia diwajibkan untuk selalu menulis kalimat ‘Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah menyebutkan nama yang mulia Nabi, dan dia dilarang menempatkan dirinya sebagai orang yang angkuh di antara rekan sejawatnya, aku memberikannya izin untuk menuliskan kataba.

Dilihat dari isi teks dokumen tersebut, tampaknya seorang khattat (kaligrafer) dilarang untuk mencantumkan kataba pada sembarang tempat, misalnya saja dekorasi ruangan, desain pada buku, dan lain-lain. Juga, ketentuan tersebut tampaknya berlaku bagi pelaku kaligrafi dari aliran manapun. Dalam peradaban lain, tradisi kataba juga dapat ditemukan, misalnya saja pada batu tulis peninggalan bangsa Mesir pada awal abad ke-8, para pengrajin pembuatnya meninggalkan semacam tanda tangan di sana. Hal seperti itu juga terjadi di Istanbul dan Thatta. Singkat kata, kataba merupakan informasi penting dari sebuah karya mengenai seniman pembuatnya.

Karena ijazah sulit sekali untuk didapatkan, pada hari kelulusan yang istimewa, seringkali teman-teman sesama murid memberikan pernghargaan berupa puisi-puisi tentang pujian terhadap keahlian menulis si sarjana.

Apabila seorang master sangat bangga dengan muridnya, dia akan menempatkan kataba­-nya pada kataba muridnya selamanya, dalam artian, ketika si murid mencantumkan kataba, dia juga akan mencantumkan kataba masternya. Mir-Ali adalah salah satu master khattat yang dikenal sangat bermurah hati memberikan kataba-nya pada seorang murid, dan ini menjelaskan kenapa di dalam dokumen-dokumen bersejarah kaligrafi banyak sekali ditemukan kataba Mir-Ali.[1]

Ada suatu kisah mengenai Mir-Ali dan muridnya. Dia memiliki murid yang bernama Mahmud Shihabi Siyawushani, suatu saat Mahmud kedapatan meniru tulisan Mir-Ali tanpa seizinnya. Mahmud bahkan mencantumkan tanda tangan Mir-Ali, yang juga tiruan, dalam karya tiruannya tersebut. Mir-Ali sangat kecewa, dia mengungkapkan kekecewaannya tersebut dalam sebuah tulisan:

“Apapun yang dia tulis, baik atau buruk, dia akan kembali kepadaku.”

Di bawah tulisan tersebut Mir-Ali membuat sebuah penekanan, “saya memberikan tanda tangan pada namanya (dalam ijazah) hanyalah untuk sesuatu yang buruk!” Mehdi Bayani, seorang penulis biografi di era modern, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Mahmud tersebut, “pelanggaran etika yang sangat berat.”

Hubungan antara murid dengan guru di dalam dunia kaligrafi persis seperti relasi antara Sufi pir (pembimbing spiritual) dan murid dalam dunia Sufisme, di mana antara guru dan murid memiliki ikatan spiritual yang mendalam. Dalam dunia kaligrafi peristiwa seperti ini misalnya terjadi di antara Mir-Imad dan murid favoritnya, Mirza Abu Turab.[2]

Pada era Sufi sedang berkembang pesat, seringkali kita mendengar kisah-kisah ajaib, hal itu pun terjadi dalam dunia kaligrafi yang pada dasarnya adalah bagian dari tradisi Sufi. Murid yang berlaku buruk terhadap gurunya, dalam beberapa kisah diceritakan mendapat hukuman yang datang dengan sendirinya.[3] Misalnya, Shaykh Hamdullah memiliki seorang murid yang mengaku bahwa karyanya lebih baik dibandingkan dengan karya gurunya. Atas perkataannya tersebut akhirnya dia menyesal dan memotong kedua jarinya dengan pisau pemotong pena, dan sepanjang tahun lukanya tidak sembuh. Sementara dalam kisah Mir-Ali di atas, dikatakan di kemudian hari muridnya tersebut mengalami kebutaan.

Salah satu contoh Ijazah: Ijazah untuk Kaligrafer Turki, Ali Ra’if Efendi, yang ditandatangani oleh dua orang master kaligrafi. Koleksi perpustaan Kongres Amerika Serikat, Washington DC.

Sebagaimana cabang seni dan kerajinan lainnya, seorang khattat memulai proses belajarnya di usia yang sangat muda. Mir-Imad misalnya, dia mulai belajar kaligrafi pada usia delapan tahun, yang lain ada yang memulai pada usia sembilan tahun. Normalnya, seseorang kemudian menerima ijazah pada usia dua puluh tahun. Namun bagi beberapa murid yang berbakat, ijazah bisa didapatkan pada usia yang lebih muda, yaitu di usia tiga belas, empat belas, atau delapan belas. (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Sekolah Kaligrafi Islam (5): Mempersiapkan Kertas

Catatan:

Sebagian besar dari artikel ini adalah adaptasi dan terjemahan bebas dari buku: Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture, (London: I.B Tauris & Co Ltd, 1990). Adapun data-data lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Lebih lengkap mengenai Mir-Ali, lihat: https://ganaislamika.com/sekolah-kaligrafi-islam-1-jembatan-menuju-sukses/, diakses 11 November 2017.

[2] Lebih lengkap mengenai Mir-Imad, lihat Ibid.

[3] Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah “kualat”, yang dalam KBBI diartikan: 1. Mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dan sebagainya); kena tulah; 2. Cak celaka; terkutuk, dari laman: https://kbbi.web.id/kualat, diakses 11 November 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*