Mozaik Peradaban Islam

Siapa Yehezkiel dalam Islam? (3): Dialog Umar bin Khattab dengan Orang Yahudi

in Studi Islam

“Ketika Umar sedang shalat, dua orang Yahudi berbicara di belakangnya, ‘Apakah dia?’ Selesai shalat Umar bertanya, ‘Katakan padaku tentang apa yang dikatakan salah satu dari kalian tentang ‘Apakah dia?’’.”

–O–

Kisah tentang Yehezkiel yang memiliki mukjizat menghidupkan orang mati juga diyakini oleh orang-orang Yahudi. Pengetahuan mereka tentang ini digambarkan dalam sebuah dialog beberapa di antara mereka dengan Umar bin Khattab, khalifah ke-2. Berikut ini adalah riwayatnya:

Diriwayatkan oleh Salim al-Nasri:

“Suatu waktu Umar bin Khattab sedang shalat, di belakangnya terdapat dua orang Yahudi. Ketika Umar hendak bersujud, dia meninggalkan ruang,[1] kemudian salah satu orang Yahudi itu berkata kepada temannya: ‘Apakah dia?’

Ketika Umar selesai shalat, dia berkata: ‘Katakan padaku tentang apa yang dikatakan salah satu dari kalian kepada temannya (mengenai) ‘Apakah dia?’’

Mereka berkata: ‘Kami menemukan disebutkan dalam kitab kami tentang tanduk besi[2] tentang mukjizat yang diberikan kepada Yehezkiel, yang menghidupkan kembali orang mati dengan izin Allah.’

Umar berkata: ‘Kami tidak menemukan Yehezkiel dalam Kitab kami, dan tidak ada yang menghidupkan kembali orang mati dengan izin Allah kecuali Isa bin Maryam.’

Mereka berdua berkata: ‘Apakah engkau tidak menemukan di dalam Kitab Allah (yang menyatakan) ‘dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.’?’[3]

Umar berkata: ‘Tentu saja.’

Mereka berkata: ‘Mengenai kebangkitan orang mati, kami akan menceritakan kepadamu bahwa suatu wabah menimpa orang Israel. Satu kelompok pergi dan, ketika mereka berada di awal satu mil, Allah membunuh mereka, dan orang-orang mendirikan tembok di sekeliling mereka. Ketika tulang-tulang mereka telah membusuk, Allah mengirim Yehezkiel, dan dia berdiri di atas mereka. Dia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, dan Allah membangkitkan mereka untuknya. Allah mengungkapkan tentang (peristiwa) itu: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu,’ kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.’[4]’”[5]

Ilustrasi ketika Yehezkiel menghidupkan orang-orang Israel yang mati. Photo: Edward Gooch / Stringer / Getty Images

Pernyataan dua orang Yahudi di atas yang mengaitkan Yehezkiel dengan Surat Al-Baqarah Ayat 243 juga didukung oleh pernyataan Wahab bin Munabbih:[6]

“Ketika Allah mengambil Kaleb (Caleb) bin Jephunneh, setelah kematian Yusha (Joshua), Dia menunjuk Hizqil (Yehezkiel) bin Buzi sebagai penerus di antara orang Israel, yang merupakan putra dari wanita tua. Dialah, kami telah diberitahu, yang berdoa untuk orang-orang yang disebutkan Allah dalam al-Quran kepada Muhammad yang berbunyi: ‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati….’[7][8]

Kisah tentang Yehezkiel yang memiliki mukjizat menghidupkan orang mati juga dibenarkan oleh Ibnu Ishak, penulis sejarah Nabi Muhammad SAW dari abad ke-8.[9] Ibnu Ishak meriwayatkannya dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun pada intinya isinya sama dengan periwayat-periwayat lainnya yang sudah pernah kami kutip pada artikel sebelumnya.

Sementara itu, kisah tentang Yehezkiel yang memiliki mukjizat menghidupkan orang mati di dalam keyakinan Yahudi dan Kristen dapat ditemukan dalam Alkitab pada Bab Yehezkiel (Ezekiel) Bab 37 Pasal 1-14.[10]

Menurut al-Tabari, lamanya masa hidup Yehezkiel di antara orang-orang Israel tidak diketahui. Ketika Allah mengambil Yehezkiel, diriwayatkan, perilaku buruk bangsa Israel malah semakin bertambah. Mereka dilaporkan meninggalkan perjanjian mereka dengan Allah yang telah disepakati bersama di dalam Taurat dan kemudian menyembah berhala. Sebagai pengganti Yehezkiel, Allah kemudian mengirimkan Nabi Ilyas sebagai nabi baru untuk bangsa Israel.[11]

 

Makam Yehezkiel

Makam Yehezkiel hari ini diyakini berada di Irak, terletak di dekat Najaf, sekitar 130 km dari kota Baghdad. Sebagian Muslim meyakini bahwa makam ini adalah makam Zulkifli, yang mana telah dibahas sebelumnya, menurut al-Tabari, Zulkifli dan Yehezkiel walaupun sama-sama nabi, tapi merupakan orang yang berbeda. Kompleks pemakaman ini terdiri dari makam dan menara. Selama beberapa generasi telah dijadikan tempat ziarah bagi orang Yahudi hingga akhirnya dikelola oleh Muslim mulai tahun 1316. [12]

Kompleks Pemakaman Yehezkiel di Irak. Photo: The New York Times

Ziarah musim gugur pada Hari Paskah biasanya mendatangkan ribuan orang Yahudi. Kompleks itu dibangun memakai batu bata, yang bangunannya menempel kepada bangunan bekas masjid. Bentuknya kotak, di bagian atapnya terdapat kubah berbentuk kerucut tinggi. Bagian dalamnya dicat putih, demi mengoptimalkan pandangan yang terbatas karena kurangnya cahaya yang masuk. Makam itu ditutupi dengan kain emas yang sering diciumi oleh para peziarah.[13]

Orang-orang Yahudi di kompleks pemakaman Yehezkiel pada tahun 1932 di Irak. Photo: G. Eric dan Edith Matson

Para peziarah meyakini, apabila mereka menyerahkan persembahan di makam itu, maka keluarganya akan menjadi keluarga besar dan hewan ternak mereka bertambah banyak. Tidak ada barang yang dicuri dari kompleks itu. Karena berdasarkan keyakinan orang Yahudi, barang siapa yang mencuri dari sana, dia akan terjangkit penyakit dan mati. Sebagai akibatnya, para pedagang meninggalkan uang dalam jumlah besar dan harta di sana untuk diamankan, dan itu berfungsi sebagai semacam bank primitif.[14]

Pemerintah Irak telah memulai restorasi makam tersebut, dan bahkan pada masa pemerintahan Saddam Hussein, makam itu dilindungi. Ketika Perang Irak, bangunan di sekitar kompleks pemakaman hancur, tetapi makamnya sendiri tidak rusak. Semenjak eksodus besar-besaran orang Yahudi ke Israel pada tahun 1950-an, kini semua peziarah yang datang hanya berasal dari orang-orang Islam.[15] (PH)

Seri “Siapa Yehezkiel dalam Islam?” selesai.

Sebelumnya:

Siapa Yehezkiel dalam Islam? (2): Sosok Selain Nabi Isa yang Menghidupkan Orang Mati

Catatan Kaki.

[1] Diterjemahkan dari kata “khawwa”, yang mana artinya di sini sebenarnya tidak jelas apa maksudnya.

[2] Besar kemungkinannya ayat Alkitab yang mereka maksud adalah Mikha 4:13 yang berbunyi: “Bangkitlah dan iriklah, hai puteri Sion, sebab tandukmu akan Kubuat seperti besi, dan kukumu akan Kubuat seperti tembaga, sehingga engkau menumbuk hancur banyak bangsa; engkau akan mengkhususkan rampasan mereka bagi TUHAN dan kekayaan mereka bagi Tuhan seluruh bumi.” Meskipun sebenarnya ayat tersebut tampaknya tidak ada hubungannya dengan kisah Yehezkiel.

[3] Lihat Q.S An-Nisa’ Ayat 164, lengkapnya berbunyi: Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

[4] Q.S Al-Baqarah Ayat 243.

[5] Al-Tabari, Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk: Vol III, ­diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press, 1991), hlm 120-121.

[6] Wahab bin Munabbih adalah orang Yahudi yang masuk Islam. Lahir pada masa Khalifah Ustman bin Affan pada tahun 34 H. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Wahab bin Munabbih bin Sa’ij Zi Kinaz Al-Yamani Al-Shin’ani. Sama seperti Ka’ab Al Akhbari,  Wahab termasuk orang yang luas pengetahuannya, banyak membaca Taurat dan Injil. Dia banyak mengetahui kisah-kisah lama atau kisah-kisah Israiliyyat. Lihat “Wahab Ibnu Munabbih”, dari laman http://nabimuhammad.info/wahab-ibnu-munabbih/, diakses 10 Oktober 2018.

[7] Q.S Al-Baqarah Ayat 243.

[8] Al-Tabari, Ibid., hlm 121.

[9] “Ibn Isḥāq”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Ibn-Ishaq, diakses 11 Oktober 2018.

[10] “Yehezkiel 37 – Alkitab Terjemahan Baru”, dari laman http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=26&c=37, diakses 11 Oktober 2018.

[11] Al-Tabari, Ibid., hlm 122.

[12] Norbert C. Brockman, Encyclopedia of Sacred Places: Volume 1 (ABC-CLIO, LLC, 2011), hlm 167.

[13] Ibid.

[14] Ibid., hlm 167-168.

[15] Ibid., hlm 168.