Mozaik Peradaban Islam

Syair Cinta Rumi untuk Ali bin Abi Thalib (6): Nubuat Nabi tentang Pembunuhan Ali (2)

in Tokoh

Last updated on November 21st, 2020 02:33 pm

Rumi berkata, “Jika Dia memenggal seseorang, kasih karunia-Nya akan segera membawa seribu kepala menggantikannya.”

Foto ilustrasi: Husseini/Deviant Art

Mengenai pembunuhan kepada Ali, Rumi berkata:

Perang Nabi membawa perdamaian yang diinginkan semua orang, kedamaian kita hari-hari ini berasal dari perang yang beliau lakukan; Padahal beliau membunuh ribuan orang yang menunjukkan permusuhan.

Ini dilakukan agar orang-orang bisa mendapatkan keamanan: Tukang kebun memangkas cabang-cabang yang menyebabkan kerusakan pada tanaman kurma yang lurus dan tinggi, dan setiap parasit yang dia temukan akan dia cabut, sehingga taman itu tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah.

Dokter gigi mencabut gigi yang menunjukkan pembusukan, sehingga rasa sakit pasien akan hilang – kehilangan karena itu dapat menyembunyikan banyak keuntungan di dalam, sebagaimana para syuhada yang mendapatkan kehidupan baru setelah mereka meninggal.

Setelah dipotong, tenggorokan yang memakan makanannya sehari-hari Menerima karunia Allah dan merasakan kegembiraan[1], sebaliknya: Ketika tenggorokan hewan disembelih secara sah, tenggorokan manusia tumbuh dan karena rahmat mereka mendapat manfaat, tetapi bagaimana jika seseorang harus menusuk manusia lain?

Tebaklah sekarang dengan perumpamaan jika engkau bisa! Tenggorokan ketiga tumbuh, yang dirawat siang dan malam dengan ramuan dari Allah dan sinar terang-Nya – tenggorokan yang dipotong meminum ramuan yang Dia biarkan mengalir, tenggorokan yang mati dalam “Bala!”[2] baru saja lari menjadi “Tidak!”

Katakanlah, “Cukup!” wahai engkau makhluk hina yang menyedihkan, berapa lama engkau lebih memilih roti untuk memberi makan jiwamu?

Engkau tidak menghasilkan buah seperti pohon gandarusa karena engkau lebih mementingkan roti – jika kesenangan dasar jiwamu tidak dapat melepaskan diri dari roti untuk beralih ke emas, cobalah alkimia!

Karena engkau ingin pakaianmu dibersihkan hari ini dari semua pencucian, mengapa sekarang berpaling?

Meskipun engkau berbuka puasa dengan roti, temanku, Dia memperbaiki apa yang rusak, Dia akan membantumu naik, Karena Dia memperbaiki apa yang rusak, waspadalah: jika Dia merusak sesuatu, sebenarnya itu adalah perbaikan, tetapi jika engkau merusak sesuatu Dia akan berkata kepadamu: “Sekarang perbaikilah!”

Tapi engkau tidak akan tahu apa yang harus dilakukan! Dia berhak untuk menghancurkan sesuatu, karena Dia Tahu bagaimana memperbaiki apa yang rusak secara sekejap: Dia yang tahu bagaimana menjahit bisa merobek juga, Dia akan membeli barang yang lebih baik daripada apa yang akan Dia jual.

Dia akan menghancurkan sebuah rumah sehingga atapnya jatuh ke lantai dan kemudian membangunnya kembali dengan lebih baik dari sebelumnya.

Jika Dia memenggal seseorang, kasih karunia-Nya akan segera membawa seribu kepala menggantikannya – jika Dia tidak menetapkan hukum, dengan mengatakan: “Ada kehidupan melalui pembalasanmu,”[3] siapa yang akan memiliki keberanian untuk menebaskan pedang-Nya kepada orang lain dan mengklaim itu berasal dari Allah!

Bagi siapa pun yang dengan mata terbuka dapat mengatakan bahwa tindakan si pembunuh itu adalah kebodohan juga; Jika dengan ketetapan Allah orang bodoh diperintah, dia bahkan akan menyerang kepala anaknya sendiri – janganlah mengutuk para pelaku kejahatan, tapi waspadalah, engkau juga sesungguhnya tidak berdaya dalam jaring perintah Allah.[4] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Kalimat ini diambil dari ayat Alquran yang berbunyi, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Ali Imran [3]: 169-170). Ayat ini membicarakan tentang orang-orang yang wafat di jalan Allah.

[2] Bala, artinya adalah “Ya, betul”, kata ini diambil dari ayat Alquran yang berbunyi, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’.” (QS al-Araf [7]: 172). Ayat ini membicarakan kesaksian ruh manusia terhadap keesaan Allah swt sebelum mereka memasuki alam dunia.

[3] Kalimat ini diambil dari ayat Alquran yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS al-Baqarah [2]: 8). Ayat ini membicarakan tentang hukum yang berkenaan dengan peristiwa pembunuhan.

[4] Disadur dari Jalal al-Din Rumi, Masnavi: Vol 1, diterjemahkan oleh Jawid Mojadeddi  (Oxford University Press: New York, 2004), hlm 235-236.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*