Mozaik Peradaban Islam

Timur Lang (3): Perang Melawan Kekaisaran Mongol

in Tokoh

Last updated on June 29th, 2018 07:18 am

“Pasukan Tatar unggul secara jumlah. Namun sebelum perang dimulai, badai mendera. Medan perang banjir dan menjadi kubangan lumpur. Pasukan Mongol lebih siap dengan kain pelindung hujan dan tanggul penahan banjir. Sejarawan mengatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan sihir untuk mendatangkan badai.”

–O–

Ilustrasi Pasukan Tatar. Photo: alchetron.com

Setelah Timur dituduh melakukan pemberontakan terhadap Tughluq Temür Khan, penguasa Mongol keturunan  Genghis Khan, Timur melarikan diri dan bergabung dengan kakak iparnya, Amir Husain, cucu dari Amir Kazgan, untuk membentuk sebuah poros kekuatan baru. Selama bertahun-tahun mereka melakukan pengembaraan ke berbagai tempat untuk melakukan diplomasi dengan klan-klan Tatar lainnya, dan sempat beberapa kali terlibat peperangan dengan klan kecil.[1]

Sampai akhirnya mereka sudah menjadi cukup kuat, pertempuran dengan Ilyas Khoja Khan (putra Tughluq Temür) tidak terelakkan. Pada tahun 1364, orang-orang Tatar yang dipimpin oleh Timur dan Husain bertemu dengan pasukan Mongol Ilyas Khoja Khan.[2] Ilyas datang dengan semua kekuatan dari utara, mereka merupakan para prajurit veteran dan disiplin, mengendarai kuda-kuda terbaik Asia, terorganisir, dan memiliki persenjataan yang baik.[3]

Jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang Tatar, tetapi Timur tahu bahwa mereka adalah kumpulan prajurit yang berkualitas dan mesti diwaspadai. Prajurit pengintai dari Tatar terus mewaspadai segala gerak-gerik pasukan Mongol. Sampai akhirnya tibalah Amir Husain di lokasi bersama pasukannya yang berasal dari klan orang-orang pegunungan.

Untuk pertama kalinya, semua kekuatan suku Tatar bersatu di medan pertempuran – Klan Barlas (Timur berasal dari klan ini), para pengendara kuda gurun, para pimpinan suku Jalair, pasukan dari rumah besar Selduz, pasukan Husain dengan klan Ghur-nya, dan pasukan relawan dari Afghanistan yang jauh-jauh datang untuk turut serta mengobarkan perang. Orang-orang berpelindung kepala (ciri khas pasukan Tatar, semacam helm) dan bahatur (jawara pertarung)  telah berkumpul bersama untuk berperang melawan Mongol.[4]

Timur sangat berharap untuk menang, semangatnya membara dalam ajang pertarungan kekuatan yang besar ini, dalam sebuah pertempuran yang menentukan masa depan orang-orang Tatar. Orang-orang Tatar secara secara tradisional nenek moyangnya merupakan pengikut/pelayan bangsa Mongol di masa Genghis Khan (penjelasan mengenai latar belakang suku Tatar dapat dilihat pada artikel pertama seri Timur Lang), oleh karena itu, apabila mereka menang, maka sejarah baru akan terukir.[5]

Namun tiba-tiba hujan turun. Badai musim semi datang dari arah stepa dataran tinggi, menghantam bumi dan semua orang di atas dataran itu dengan hujan yang sangat besar. Para prajurit bertarung dengan alam, guntur dan kilat saling bersahutan. Tanah, yang awalnya empuk dan nyaman untuk dijejak, kini telah menjadi kubangan lumpur; kuda-kuda tercebur ke dalamnya sampai setinggi perut mereka, membuat mereka kedinginan dan melemah. Air sungai yang meluap menambah buruk situasi dengan membanjiri dataran-dataran yang lebih rendah. Pakaian prajurit menjadi basah dan berat.

Di pihak lawan, justru mereka nampak lebih siap, kuda-kuda mereka segera dilindungi dengan kain penutup, mereka juga berlindung di bawah shelter yang mereka persiapkan, selain itu mereka juga menggali kanal air agar air tidak meluber masuk. Seolah-olah mereka sudah tahu dengan apa yang akan terjadi. Orang-orang Mongol telah datang ke lokasi ini beberapa hari sebelum prajurit Timur dan Husain datang, sehingga mereka sepertinya sudah lebih paham dengan kondisi alam di sana.

Namun, beberapa sejarawan justru menafsirkan dengan cara lain, mereka mengatakan bahwa gejala alam tersebut merupakan sihir yang dilakukan oleh para penyihir Mongol dengan menggunakan batu Yeddah. Para penyihir telah memperingatkan para prajurit agar mempersiapkan diri dengan badai. Bangsa Mongol secara tradisional memang mempraktikkan ilmu sihir, sejarawan juga berpendapat bahwa hal itu dapat dibuktikan di hari selanjutnya, yaitu ketika penyihir Mongol tewas terbunuh, maka hujan pun berhenti.

Demikianlah, dengan keuntungan di pihak Mongol, mereka merangsek maju ke arah pasukan Tatar, dan peperangan pun pecah. Timur dan pasukannya berada di garis terdepan, dengan kondisi penuh lumpur, busur dan panah menjadi tidak berguna, satu-satunya yang dapat mereka andalkan hanyalah pedang. “Dar u gar!”, teriakan perang khas Tatar menggema di udara, mereka maju dan berbenturan dengan pasukan Mongol, suara pedang beradu terdengar di tengah-tengah peperangan.

Pertarungan berlangsung dengan seimbang, namun pada hari-hari berikutnya, pihak Mongol lah yang didera kerugian, kuda-kuda mereka terkena wabah penyakit, dan 75%-nya telah mati. Ilyas Khoja Khan tewas. Pasukan Mongol menarik diri dari pertempuran menuju ke perbatasan untuk bertahan. Orang-orang Tatar kembali masuk ke kota Samarkand, mereka disambut oleh rakyat dengan gegap gempita.

Timur, meskipun pulang dengan kemenangan, namun hatinya merasa getir. Karena di tengah peperangan, Husain beberapa kali menolak untuk bekerja sama. Dia menolak permintaan Timur untuk menggerakkan pasukannya pada sebuah pertempuran yang menentukan. Timur memutuskan, bahwa dia tidak akan pernah berkoalisi lagi dengan Husain. Kegetiran itu bertambah dalam ketika Timur menemukan istri dia satu-satunya, Putri Aljai Khatun Agha, meninggal karena penyakit keras yang datang secara tiba-tiba. Aljai dimakamkan di halaman rumahnya dengan kain kafan putih.[6] (PH)

Bersambung ke:

Timur Lang (4): Tura, Para Keturunan Genghis Khan

Sebelumnya:

Timur Lang (2): “Pewaris” ajaran Islam dan Genghis Khan

Catatan Kaki:

[1] Harold Lamb, Tamerlane: The Earth Shaker (Burleigh Press: Great Britain, 1929), hlm 45-50.

[2] Kallie Szczepanski, “A Brief Biography of Timur or Tamerlane”, dari laman https://www.thoughtco.com/timur-or-tamerlane-195675, diakses 26 Juni 2018.

[3] Ibid., hlm 61.

[4] Ibid.

[5] “Tatar”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Tatar, diakses 26 Juni 2018.

[6] Harold Lamb, Ibid., hlm 61-65.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*