Titik Balik Sejarah Islam Modern (2); Runtuhnya Dinasti Saud I

in Negara Islam

Atas nama pemurnian agama, Dinasti Saud menggelar ekspedisi militer ke segala penjuru. Setelah puas menjarah situs di Karbala mereka menguasai Mekkah dan Madinah. Tapi mereka tidak tau, Ottoman sudah gerah dengan sepak terjang destruktif ini.”

—Ο—

Setelah Muḥammad ibn Sa’ūd meninggal, tampuk kepemimpinan diserahkan kepada putranya ‘Abd al-‘Azīz I (memerintah 1765-1803). Ia bertekad meneruskan cita-cita ayahnya memperluas wilayah kekuasaan dinasti Saud. Sebagaimana ayahnya, ia tetap memegang sumpah dengan Muḥammad ibn’Abd al-Wahhāb, dan menjalin persekutuan yang harmonis dengannya. ‘Abd al-‘Azīz I bersama putranya – Saud ibn ‘Abd al-‘Azīz (Saud I) yang juga gemar berperang – melakukan ekspansi hingga berhasil menaklukan berbagai wilayah di Semenanjung Arabia. Pada tahun 1797 Qatar berhasil mereka taklukkan, begitu juga Bahrain dan Oman.[1]

Pada tahun 1792, Muḥammad ibn’Abd al-Wahhāb meninggal pada usia 89 tahun. Tapi cita-cita perjuangannya sudah merasuk ke dalam jiwa darah daging dan keturunannya. Pemurnian Islam menjadi jargon perjuangan dinasti Saud. Pada tahun 1801, mereka menyerang Karbala yang menjadi kota suci umat Syiah. Banyak korban berjatuhan, dan berbagai situs yang dihormati ummat Syaih dirusak dalam penyerangan ini. Belum lengkap sampai disini, Saud I melanjutkan ekspansi hingga akhirnya berhasil merebut kota suci Mekkah. Namun sepulangnya dari penaklukan yang gilang gemilang ini, Saud I harus mendapati kenyataan, ayahnya ‘Abd al-‘Azīz I, tewas dibunuh oleh seorang Syiah yang menuntut balas atas penodaan kota suci Karbala.[2]

Tapi persoalan sesungguhnya bukan disini. Sepak terjang imperium musa ini ternyata mulai menarik perhatian dinasti Ottoman yang pada masa itu menjadi satu-satunya imperium Islam yang paling kuat. Pada tahun 1804, Saud I terus merangsek ke utara dan berhasil merebut Madinah. Selama beberapa tahun kaum Wahabi sudah mulai menguasai sistem peribadatan di Tanah Suci. Adapun Ottoman, pada awal abad ke 19 itu sedang disibukan dengan berbagai masalah di wilayah lain. Namun itu tidak berlangsung lama. Segera setelah Muhammad Ali Pasha berhasil menguasai Mesir, target selanjutnya adalah dinasti Saud.[3]

Pada tahun 1798 sebenarnya pasukan Ottoman pernah menyerang Al-Hasa, meskipun kemudian terpaksa mundur. Bagi Sultan Ottoman waktu itu, Dinasti Saud belum menjadi prioritas, meski sepak terjangnya sudah cukup menarik perhatian. Tapi merebut dua kota suci, Mekkah dan Madinah, merupakan satu hal yang tidak bisa ditoleransi.[4] Dua kota ini, sejak dikuasi pada tahun 1517 oleh dinasti Ottoman, sudah dianggap sebagai salah satu sumber legitimasinya atas kaum muslimin se dunia. Sultan-sultan Ottoman sejak Salim I, menganggap diri mereka sebagai Khalifah Rasulullah SAW, dan bertanggungjawab atas dua kota suci ini. Meski kenyataannya dua kota ini tidak terlalu terawar baik selama ratusan tahun dibawah kekuasaan mereka.[5]

Untuk menaklukkan kembali dua kota suci umat Islam, kesultanan Ottoman mengutus seorang perwira militer asal Albania, Muhammad Ali. Ia adalah perwira berprestasi, dan sangat disegani. Pada tahun 1801 ia baru saja berhasil menguasai Mesir yang mengalami kekosongan kekuasaan sejak 1798, setelah Napoleon menginvasi Kairo. Sambil menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di Mesir, pada tahun 1807, Muhammad Ali mengirim putra tertuanya, yang bernama Tusun bersama bala tentaranya untuk merebut kembali dua kota suci umat Islam.

Tapi pasukan Saud tidak mudah ditaklukkan, meski usianya baru seumur jangung bila dibanding dengan Ottoman. Pasukan Ottoman dipaksa bertarung dengan tipikal perang gurun pasir, dari kota ke kota, dan dari satu oasis ke oasis lain. Dibutuhkan waktu lima tahun hingga 1812, dua kota suci umat Islam berhasil direbut kembali oleh Ottoman. Namun perang belum berakhir. Setahun setelahnya, Muhammad Ali langsung turun tangan memimpin ekspedisi ke berbagai wilayah kekuasaan dinasti Saud lainnya. Di bawah komando Muhammad Ali, ekspedisi militer Ottoman semakin progresif.

Pada tahun 1814, Saud I meninggal di Diriyah, sebelum datang invasi Ottoman ke ibu kota dinasti Saud.[6] Ia digantikan oleh putranya yang bernama Abdullah bin Saud. Tapi sangat disayangkan, Abdullah tidak sekaliber penduhulunya. Ia memilih berdamai dan melakukan gencatan senjata dengan pasukan Ottoman pada tahu 1815. Tapi sayangnya perjanjian ini tidak berumur panjang. Segera setelah kematian Tusun pada 1816 – putra pertama Muhammad Ali yang digadang-gadang menggantikan ayahnya[7] – Semenanjung Arabia sekarang berada dibawah komando adik Tusun, yaitu Ibrahim Pasha. Ia membatalkan semua perjanjian gencaran senjata dengan Abdullah bin Saud, dan melanjutkan ekspedisi militer ke wilayah tengah Arabia.

Ibrahim Pasha memiliki keterampilan diplomasi seperti ayahnya. Dengan cepat kampanye militernya mendapat dukungan dari suku-suku setempat yang sepenuhnya belum rela tunduk pada penguasa dinasti Saud. Dengan bala tentara yang lebih canggih, dan pasukan yang lebih terlatih, ia berhasil sampai ke Dariyah pada bulan April 1818. Di ibu kota dinasti Saud ini, pertempuran sengit terjadi selama 5 bulan, berakhir dengan kekalahan dinasti Saud. Pada bulan September 1818, Abdullah bin Saud beserta seluruh keluarga dan pasukannya menyerah. Ia kemudian dibawa ke ibu kota Ottoman, dan dieksekusi disana dengan cara dipenggal.[8]

Dengan wafatnya Abdulllah bin Saud, maka berakhirlah dinasti Saud jilid I. Namun, tidak semua anggota keluarga Saud dieksekusi di Konstantinopel, sebagian dari mereka ada yang ditawan, dan dibawa ke Mesir untuk menjalani hukuman penahanan. Diantara mereka yang ditahan ada cicit dari Muhammad Ibn Saud, Turki bin Abdullah, dan putranya Faisal bin Turki.[9] Keduanya nanti yang akan membangun kembali imperium kedua keluarga Saud dari puing-puing, menjadi kekuatan yang kembali disegani di kawasan. (AL)

Bersambung…,

Titik Balik Sejarah Islam Modern (3); Bangkitnya Dinasti Saud II

Sebelumnya :

Titik Balik Sejarah Islam Modern (1); Berdirinya Dinasti Saud

 

Catatan Kaki:

[1] Lihat, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Daily-life-and-social-customs, diakses 12 November 2017

[2] Ibid

[3] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 225

[4] Ibid, Hal. 241

[5] Lihat, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Daily-life-and-social-customs, Op Cit

[6] Lihat, https://www.psaiahf.com/en/about-festival/visitors/history-of-the-kingdom-of-saudi-arabia, diakses 12 November 2017

[7] https://en.wikipedia.org/wiki/Tusun_Pasha

[8] Lihat, Eamonn Gearon, Op Cit, Hal. 230

[9] Lihat, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Daily-life-and-social-customs, Op Cit