Ziarah Makam Wali (3): Sunan Giri di Gresik

in Budaya Islam

 

Oleh: Khairul Imam

 

Kematian adalah kewajaran insani. Setiap manusia akan mati. Tapi tidak semuanya mampu mencatat kematiannya dengan tinta ruhani yang tinggi. Sunan Giri telah menuliskan perjalanannya menjadi legenda dakwah yang tak pernah mati. Ia bersemayam dalam sanubari umat Islam. Mendatangi, mengajari, mendoakan, menirakati, memberikan teladan tanpa henti. Kini, giliran yang hidup melanjutkan titian jalan yang telah dibentangkan para wali. Menjadi manusia yang disayangi di bumi, dan terkasih di antara makhluk-makhluk langit beserta Sang Penguasa Alam Semesta: Ilahi Rabbi

—Ο—

 

Dakwah wali dakwah bijak. Begitu kira-kira kalimat yang tepat untuk menggambarkan islamisasi yang diperkenalkan para wali tanah Jawa. Mereka tidak sekadar memiliki modal sosial dan kapital yang kuat, tapi juga menguatkan basis kultur di tengah masyarakat. Melakukan pendekatan dengan pola akulturasi kebudayaan, dan secara perlahan memasukkan inovasi dan kreasi seni untuk kemudian memancangkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran islami. Pelan tapi pasti, masyarakat memberikan apresiasi dengan merubah orientasi keberagamaan mereka. Mengambil nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang telah disampaikannya. Menjadikannya pakaian keseharian untuk menghadang masa depan yang lebih cemerlang setelah sebelumnya berada dalam selubung kegelapan.

Raden Paku atau lebih dikenal dengan Sunan Giri adalah putra Maulana Ishak, teman seperguruan Sunan Ampel. Selain dikenal dengan nama Sunan Giri, ia juga dikenal dengan beberapa sebutan lain seperti Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin, dan Jaka Samudra. Lahir di Blambangan pada tahun 1442. Berdasarkan informasi yang berkembang, pengaruh dakwah Sunan Giri dan keturunannya telah melintasi kepulauan Nusantara, mulai Banjar di Kalimantan Selatan, Kutai di Kalimantan Timur, dan Gowa di Sulawesi Selatan. Bahkan telah mencapai Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

Catatan sejarah berbeda-beda dalam menceritakan tentang Sunan Giri.  Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa ia adalah putra Maulana Ishak, seorang mubalig dari Asia Tengah. Maulana Ishak menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit. Sementara dalam Serat Walisana dikatakan ia adalah putra Sayid Yakub yang diberi gelar Pangeran Raden Wali Lanang yang menikah dengan Retno Sabodi putri Prabu Sadmudha. Akan tetapi, kedua sumber di atas memberikan kesimpulan yang sama, bahwa Sunan Giri merupakan keturunan Raja Blambangan.

Dikisahkan Maulana Ishak yang dikirim Sunan Ampel ke Blambangan mengalami kegagalan melancarkan dakwahnya karena meminta mertuanya untuk memeluk Islam dan meninggalkan agamanya yang lama. Tidak mau menerima permintaan Maulana Ishak, justru ia diusir dan dengan terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil.  Lantaran merana ditinggal suaminya, istrinya pun meninggal setelah melahirkan anak laki-laki. Saat itu, wilayah Blambangan terjangkit wabah yang kemudian dikait-kaitkan dengan kelahiran sang jabang bayi. Oleh sebab itulah, bayi laki-laki itu diletakkan  ke dalam peti dan dihanyutkan ke tengah lautan. Tak lama berselang, peti yang berisikan bayi itu pun tersangkut di kapal milik Nyai Pinatih, seorang janda kaya raya di Gresik, istri Koja Mahdum Syahbandar di Majapahit yang sedang berlayar ke Bali. Lalu bayi itu pun dijadikan anak angkat oleh Nyai Pinatih dan diberi nama Jaka Samudra. Setelah cukup umur, Jaka Samudra dikirim ke Ampeldenta untuk berguru kepada Sunan Ampel. Di perguruan Sunan Ampel itulah, Raden Paku berkawan akrab dengan Raden Mahdum Ibrahim yang di kemudian hari berjuluk Sunan Bonang.[1]

Menarik mengamati temuan Agus Sunyoto yang dikutip dari Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan dalam Sejarah Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975) berkenaan dengan pola dakwah yang dilakukan Sunan Giri. Ia tidak hanya mengembangkan sistem pesantren, melainkan mengembangkan pula sistem pendidikan inklusif dengan menciptkan berbagai jenis permainan akan-anak seperti Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, dan tembang-tembang permainan anak-anak seperrti Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan Cublak-cublak Suweng. Bahkan Sunan Giri dikenal sebagai pencipta beberapa tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung yang berisikan ajaran ruhani yang tinggi. Lebih dari itu, ia pun dikenal melakukan perubahan atas seni pertunjukan wayang.[2]

Pola dakwah yang dijalankan pun sangat mengena di masyarakat. Ia tidak segan mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran Islam di bawah empat mata. Setelah keadaan memungkinkan, masyarakat dikumpulkan dalam ruang lingkup yang lebih ramai, misalnya dalam acara selamatan dan upacara-upacara, lalu dimasukkanlah ajaran-ajaran Islam, sehingga lambat laun dengan cara penyampaian yang halus dan lembut mereka mulai mengikuti ajaran Islam yang diterima dengan kewajaran. Hal ini menjadikannya sangat masyhur di semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang-orang tua.[3]

Sampai dengan usia lanjut, ia tak lelah melakukan dakwah. Sunan Giri wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul Awal tahun 913 Hijriah atau 1506 Masehi dalam usia 63 tahun. Dikarenakan peranan dan dakwahnya yang begitu luas, tak heran sampai sekarang makam Sunan Giri banyak menjadi tujuan ziarah. Meski tidak berjauhan lokasinya dengan makam Sunan Prapen, makam Sunan Giri tetap menjadi pilihan utama. Makam itu terletak di wilayah perbukitan di Desa Giri, Kebomas, Gresik. Untuk menuju ke sana, ada tiga jalan yang bisa dilalui, dari arah masjid Sunan Giri, dari anak tangga yang melintasi candi bentar dan patung naga besar, dan lewat jalur makam Sunan Prapen.

Sketsa Areal Pemakaman Sunan Giri. Sumber gambar: mamaarkananta.com

Memasuki area pemakaman Sunan Giri, para peziarah akan melintasi dataran dengan tiga tingkatan, dan tingkatan ketiga paling tinggi. Pada tingkat pertama terdapat pintu gerbang dengan gapura berbentuk candi bentar dengan tangga pipih dan hiasan patung kepala naga di kanan dan kirinya. Ini melambangkan candra sengkala Nogo Loro Warnaning Padha yang merujuk angka tahun 1428 tahun Saka (1506 Masehi), atau tahun pembuatan pintu gerbang tersebut. Selain itu, simbolisme kepala naga ini juga melambangkan binatang suci sekaligus memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan kerohanian pada masa sebelum Islam. Pintu gerbang kedua relatif sama dengan yang pertama. Selain makam Sunan Giri, juga terdapat puluhan makam para bupati dan pemimpin terdahulu yang bertempat tinggal di Gresik.

Tangga di sisi kiri komplek makam. Sumber gambar: alamasedy.com

 

Situs bersejarah Candi bentar (tampak dari samping). Sumber gambar: alamasedy.com

 

Situs bersejarah Candi Bentar tampak dari bawah tangga. Sumber gambar: alamasedy.com

Pada tingkat ketiga terdapat pintu gerbang berbentuk paduraksa. Di sinilah Sunan Giri bersemayam bersama istrinya. Makamnya berada di dalam cungkup berukuran 4×4 meter, dan diberi cungkup lagi dengan berukuran 8×8 meter. Pada pelataran tersebut terdapat cungkup, sebuah bangunan beratap di atas makam sebagai pelindung makam  Sunan Giri. Cungkup tersebut terdiri atas tiga bagian; fundamen (kaki) cungkup setinggi kurang lebih setengah meter, dihiasi dengan daunan melingkar. Tubuh cungkup ada dibagian kedua yang ditutupi oleh dinding kayu dengan ukiran relief bermotif tumbuhan teratai, gunung-gunung, dan lambang garuda. Kemudian, atap cungkup berbentuk tumpang dengan tiga susunan yang terbuat dari sirab (kayu) di mana atap yang lebih tinggi berbentuk limas. Sedangkan pada puncak ditutupi oleh penutup yang disebut mustoko. Sebelum tahun 2013 cungkup dibiarkan terbuka tanpa atap, namun pada akhir tahun 2013 dilakukan pemasangan atap yang lebih tinggi untuk melindungi cungkup dari sinar matahari dan hujan. Pemasangan atap dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto yang berusaha mempertahankan dan melestarikan situs bersejarah di Gresik.[4]

Bangunan utama makam Sunan Giri. Sumber gambar: alamasedy.com

 

Detail ukiran di dinding bangunan utama. Sumber gambar: alamasedy.com

Makam itu sampai sekarang terus dibanjiri manusia dari semua kalangan dan wilayah, baik dari Gresik maupun luar daerah, terutama malam Jumat sebagai tuan dari hari-hari dalam Islam. Ini semua tidak lepas dari peranan dan kiprah Sunan Giri dalam mengembangkan Islam dan memberikan pelajaran yang berharga di wilayah Nusantara. Mereka merapalkan ayat-ayat Al-Quran, membaca rangkaian tahlil, memohonkan ampunan. Dengan harapan, Allah mencurahkan keberkahan bagi kehidupan pribadi mereka karena telah mencintai para wali Allah di bumi.

Pada akhirnya, kematian adalah kewajaran insani. Setiap manusia akan mati. Tapi tidak semuanya mampu mencatat kematiannya dengan tinta ruhani yang tinggi. Sunan Giri telah menuliskan perjalanannya menjadi legenda dakwah yang tak pernah mati. Ia bersemayam dalam sanubari umat Islam. Mendatangi, mengajari, mendoakan, menirakati, memberikan teladan tanpa henti. Kini, giliran yang hidup melanjutkan titian jalan yang telah dibentangkan para wali. Menjadi manusia yang disayangi di bumi, dan terkasih di antara makhluk-makhluk langit beserta Sang Penguasa Alam Semesta: Ilahi Rabbi.

Bersambung…

Ziarah Makam Wali (4): Sunan Bonang di Tuban

Sebelumnya:

Ziarah Makam Wali (2): Maulana Malik Ibrahim

Catatan:

[1]Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Bandung: Pustaka Iiman, 2016),  hlm. 216-218

[2]Ibid., hlm. 221

[3]Ibid.,

[4]Lihat “Makam Sunan Giri” dalam https://situsbersejarahkabupatengresik.wordpress.com/makam/makam-sunan-giri/ akses tanggal 25 April 2018