Ziarah Makam Wali (4): Sunan Bonang di Tuban

in Budaya Islam

 

Oleh: Khairul Imam

 

Makam itu begitu tenang, berpadu riuh-lengang rapalan doa-doa dan bacaan al-Quran. Makam wali adalah makam keabadian, makam kehidupan bagi orang-orang yang mau menghidupkan. Kematiannya tak bisa diremehkan. Kematian mereka sebagai tanda kematian alam karena mereka adalah kekasih sunyi Tuhan. Jasad boleh tiada, tetapi cahaya yang dipantulkan dari Sang Sumber Cahaya berpendar di sekitar kita. Jejak-jejaknya meyakinkan kita bahwa ia bukan orang biasa. Kelak, apakah kita mampu bersama di dalam barisannya sebagai murid, santri, atau sekadar peziarah yang tak tahu arah. Barisan demi barisan yang dipimpin para wali dan Rasulullah Saw. sang pembawa bendera kemenangan di Padang Mahsyar.

—Ο—

 

Dalam karya master piecenya, Al-Ghazali mengatakan: “Setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada ribuan darah syuhada yang meninggal di medan perang.” Mungkin ungkapan ini relevan jika kita hubungkan dengan salah seorang wali Allah dari Rembang. Ia tidak sekadar mengajar dengan lisan, tetapi ajaran mereka terekam dalam tinta, dalam karya. Lisan sebagai perantara, tulisan akan menyampaikan kepada anak-anak zaman. Siraman ruhaninya mampu menembus masa, menerobos semak-semak kehidupan manusia dalam kesadaran akan diri dan Tuhan. Gaya bahasanya renyah dan mudah dipahami awam. Goresan tintanya sarat dengan pembelajaran dan pengajaran bermakna. Menebar hikmah lewat dialektika guru dan murid, dengan tamsil yang sangat mengena di hati pembacanya. Ia mengajak, bukan memaksa; mendidik, bukan mendikte; ia adalah Maulana Makdum Ibrahim yang kelak berjuluk Sunan Bonang.

Nama aslinya Ibrahim, lengkapnya Maulana Makdum Ibrahim, atau Raden Makdum. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan putri Arya Tedja dari Tuban. Masa kecilnya ia habiskan untuk mempelajari pokok-pokok ilmu agama bersama orang tuanya, Sunan Ampel, di Ampeldenta. Tak hanya dengan ayahnya, dengan beberapa guru pun ia mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai keilmuan lainnya seperti fikih, ushuluddin, tafsir, hadis, dan tasawuf. Maka tak heran jika pada usia muda ia telah berhasil menjadi mubalig handal dan ternama.

Selesai mengenyam pendidikan di Nusantara, ia bersama saudaranya, Sunan Giri, bermaksud pergi ke Mekah untuk menggali ilmu di sana. Namun sebelum sampai ke Mekah, mereka singgah di Malaka dan Pasai untuk memperdalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.[1] Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Jawi. Di dalam babad tersebut dinyatakan, saat belajar di Ampeldenta di bawah asuhan orang tuanya, Raden Makdum Ibrahim berkawan dekat dengan Raden Paku atau Sunan Giri. Suatu ketika meraka berdua hendak pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu sekaligus berhaji. Akan tetapi keduanya hanya sampai Malaka dan bertemu Maulana Ishak, ayah kandung Raden Paku. Mereka pun sejenak berguru kepada ayah Raden Paku. Ketika hendak berpamitan meneruskan pengembaraan keilmuan ke Kota Suci, atas saran Maulana Ishak, keinginan Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim untuk pergi ke Mekah dibatalkan dan kembali ke Jawa. Dengan alasan karena masyarakat Jawa lebih membutuhkan mereka untuk dakwah Islam.[2]

Dalam perjumpaannya dengan Maulana Ishak, keduanya diberi pelajaran tentang berbagai macam ilmu keislaman, termasuk ilmu tasawuf. Kaitannya dengan tasawuf ini sangat bersesuaian dengan catatan pada silsilah Bupati Gresik pertama yaitu Kyai Tumenggung Pusponegoro, yang menyebutkan silsilah Tarekat Syathariyah dan menyebut nama Syekh Maulana Ishaq dan Raden Paku sebagai guru tarekat tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa aliran tasawuf yang diajarkan Maulana Ishak dan Raden Paku adalah Tarekat Syathariyah.[3]

Pada zaman itu, ia tidak saja piawai dalam berdakwah dan menguasai bidang keagamaan. Lebih dari itu, Sunan Bonang tergolong ulama yang menguasai seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kedigdayaan dan kanoragan. Dalam bidang sastra dan tasawuf, ia diyakini merupakan penulis kitab Primbon Bonang. Berisi berbagai ajaran utama dalam ilmu-ilmu tasawuf. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya referensi kitab-kitab kanonik tasawuf yang tersebar dalam karyanya seperti Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali, Tamhid karya Abu Syakur as-Salimi, Talkhis al-Minhaj milik an-Nawawi yang mungkin terdiikhtisarkan dalam kitab ad-Daqaiq, Qut al-Qulub dari Abu Thalib al-Makki, Ar-Risalah al-Makkiyah fi Thariq as-Sa’adah as-Shufiyah karya Afifuddin at-Tamimi, Tazyinul Asywaq bi Tafshil Asywaq al-‘Usysyaq dari Daud ibn Umar al-Anthaki, dan Hilyatul Awliya` karya Ahmad ibn Ashim al-Anthaki. Ia juga menulis Suluk Wujil, sebuah dialog keagamaan mendalam dan rahasia tentang hakikat ketuhanan antara guru dan murid.

Dalam bidang seni, ia pun menciptakan wahana kesenian dan kebudayaan dalam berdakwah dengan menggunakan seperangkat alat musik yang disebut bonang. Sejenis alat musik yang terbuat dari kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan di bagian tengah, mirip gong dengan ukuran kecil. Tidak hanya itu, ia juga menyempurnakan susunan gamelan atau mengubah iram lagu-lagu dan menambahkan ricikan (kuda, gajah, harimau, garuda, kereta perang, dan rampogan) dalam pengembangan pertunjukan wayang sehingga memperkaya bentuk kesenian tersebut. Bahkan menggubah tembang tengahan macapat, salah satu yang termasyhur adalah Kidung Bonang.[4]

Dakwah awal Sunan Bonang dimulai dari Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Tantra. Dengan membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri. Di sana ia mengembangkan dakwah Islam di pedalaman yang masyarakatnya masih menganut ajaran Tantrayana. Selepas dari Kediri, Sunan Bonang hijrah ke Lasem. Mulai dari menjaga makam neneknya di Puthuk Regol, lalu mendirikan zawiyah, suatu tempat untuk khalwat dan pengalaman tasawuf, hingga menjadi wali Negara Tuban yang mengurusi berbagai hal tentang permasalahan keagamaan Islam. Di sanalah ia banyak berperan memajukan keislaman melalui berbagai macam metode dan cara dakwah, hingga ajal menjemputnya pada tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban.[5]

Berhubungan dengan makam, banyak spekulasi yang beredar di kalangan masyarakat bahwa makam Sunan Bonang termasuk petilasannya tidak hanya berada di satu tempat. Lokasi pertama dan ini yang paling terkenal berada di belakang Masjid Agung Tuban. Makam kedua terletak di sebuah bukit di pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang menyebut tempat ini sebagai petilasan dengan sebutan Mbonang. Sebuah tempat pemakaman yang hanya berupa tanaman melati, tanpa cungkup dan nisan, tetapi berupa batu yang dijadikan tempat shalat serta jejak kaki Sunan Bonang. Tempat ketiga berada di Tambak Kramat, Pulau Bawean, Jawa Timur. Di pulau ini ada dua makam yang dipercaya sebagai pemakaman Sunan Bonang. Sedangkan makam keempat berada di Singkal di tepi Kali Brantas Kabupaten Kediri.[6]

Pasujudan Sunan Bonang berada di desa Bonang, Kecamatan Sluké, Kabupatèn Rembang. Berjarak kurang lebih 17 km dari pusat kota Rembang. Sumber gambar: wisatarembang.com

 

Pasujudan Sunan Bonang. Sumber gambar: idsejarah.net

Tempat pemakaman yang paling masyhur ada di Tuban. Tepatnya di kompleks pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban. Makam tersebut berlokasi di barat alun-alun Tuban, sebelah barat Masjid Agung Tuban. Area pemakaman dikelilingi tembok dan dilengkapi dengan empat buah pintu masuk ke kompleks. Seperti makam wali lainnya, peziarah bisa masuk melalui pintu gerbang utama berupa gapura paduraksa. Pintu gerbang sebelah selatan berbentuk Semar Tinandu dengan atap yang dihiasi ornamen bunga-bunga dengan dinding sebelah kanan dan kiri berhias piring-piring dan mangkuk keramik cina. Ketika telah berada di dalam, maka peziarah akan melihat tungkub berbentuk joglo dengan atas tingkat. Di dalam tungkub itulah Sunan Bonang disemayamkan. Pada dinding selatan tungkub terdapat hiasan arabesque flora dan fauna. Hiasan berupa panorama dan pernak-pernik geometris. Pada dinding terdapat candra sangkala jalma wihana kayuning sawit-jagat yang menunjuk angka tahun 1611 Saka (1689 M) yang berarti angka mulai dibangunnya tungkub tersebut.[7]

Makam Sunan Bonang di Tuban, terletak di dalam Joglo. Sumber gambar: bukitwilishotel.com

Makam itu pula yang menjadi tujuan peziarah sebagai bagian dari wisata religi. Mereka selalu memadati makam tersebut sampai keluar area tungkub, terutama pada malam Jumat. Mereka  datang dari berbagai daerah baik Jawa maupun luar Jawa. Tak jarang para turis mancanegara juga datang berkunjung untuk melalakukan riset-riset ilmiah atau sekadar berwisata. Para peziarah berjalan santun menuju persemayaman, lalu bersila dan memulai doa-doa. Mengucapkan kalimat tahlil, tahmid, dan tasbih berharap menjadi wasilah bagi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Bersambung…

Ziarah Makam Wali (5): Sunan Kalijaga di Kadilangu (1)

Sebelumnya:

Ziarah Makam Wali (3): Sunan Giri di Gresik

Catatan kaki:

[1] Abdul Hadi WM, “Sastra Pesisir Jawa Timur dan Suluk-suluk Sunan Bonang” dalam Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003),

[2] Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo…, hlm. 218-219

[3] Ibid.,

[4] Ibid., hlm. 238-249

[5] Ibid., hlm. 230

[6]Lihat “Sunan Bonang: Wali yang Membujang dengan Empat Makam” dalam http://intisari.grid.id/read/0391837/

[7] Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo…, hlm. 231