Ziarah Makam Wali (2): Maulana Malik Ibrahim

in Budaya Islam

Last updated on April 28th, 2018 04:13 am

 

Oleh: Khairul Imam

Kita berhamburan menuju pemakaman para wali, seakan ingin mencuri dengar percakapan antara mereka dengan Tuhan. Kita semua berziarah mendoakan mereka yang memiliki kontak imajiner karena telah mengorbankan hidup sampai matinya untuk umat. Mengajarkan dan mencurahkan kasih sayang, berlaku sebagai penyambung lidah Rasulullah saw. yang mengasihi umatnya dari ketersesatan. Para wali adalah perwujudan ibu ruhani bagi siapa saja yang mempercayai bahwa kematiannya adalah kehidupan di sisi Tuhan.

—Ο—

 

Pasca mangkatnya Bayazid I, putra mahkota yang berhak menggantikan posisinya untuk memerintah Kerajaan Turki Utsmani tak lain adalah Muhammad I atau dikenal dengan Muhammad Jalabi. Sosok pria muda yang memiliki paras hampir sempurna, dengan ragam keahlian dalam segala bidang. Seorang pegulat yang tangguh dan pemanah ulung. Konon selama memimpin Turki Utsmani, ia ikut terjun dalam 24 kali peperangan dan terluka sebanyak 40 kali. Dialah sosok yang dianggap mampu membangun kembali pemerintah Ustmani dari berbagai keropos internal dan menguatkan kembali sendi-sendinya. Bahkan sebagian sejarawan mengatakan bahwa dialah pendiri kedua pemerintah Utsmani.

Sebagai amanat seorang khalifah, Sultan Muhammad I merasa berkewajiban memajukan agama Islam di belahan negara lain. Salah satu yang menjadi tujuan pengembangan Islam adalah bumi Nusantara. Hal ini sebagaimana diceritakan Ibnu Bathutah bahwa Sang Sultan mendapat kabar dari para saudagar Gujarat tentang kondisi Nusantara sehingga Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah untuk meminta beberapa ulama yang akan dikirim ke Nusantara. Maka, berangkatlah 9 orang ahli agama sekaligus piawai dalam bidangnya masing-masing.

Salah seorang utusan tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim. Berangkat ke Tanah Jawa pada tahun 1404 bersama delapan orang ulama lainnya. Kesembilan orang tersebut kemudian dikenal dengan Walisongo angkatan pertama. Maulana Malik Ibrahim adalah ahli mengatur negara, dan barangkali termasuk orang dekat Sultan Muhammad I. Karena itulah, Sang Sultan sangat mempercayai kemampuan dan dedikasinya kepada negara dan agama Islam. Sebelum dikirim ke Tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim pernah ditugaskan di Hindustan untuk membangun irigasi di daerah tersebut pada pemerintahan Kerajaan Moghul, yang mana irigasi pertanian telah lama berkembang di kawasan Timur Tengah. [1]

Maulana Malik Ibrahim yang kemudian masyhur dengan sebutan Sunan Gresik diperkirakan lahir pada paruh abad ke-14, atau sekitar tahun 1419 M/ 882 H. Selain nama tersebut, ia juga berjuluk Syekh Maghrib. Kemungkinan karena ia keturunan maghribi atau Maroko di Afrika Utara. Dalam buku History of Java menyebutkan bahwa menurut penuturan lokal, “Maulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal dari Arabia, keturunan dari Jaenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para orang-orang Islam (Mahomedans) di Desa Leran Jenggala”. Namun J.P. Moquett berpendapat lain yang didasarkan pada prasasti makam di Desa Gapura Wetan, Gresik yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.

Pada mulanya, Ibrahim datang ke Jawa bersama ayahnya, Syekh Jumadil Qubra, dan adiknya Maulana Ishaq dari Persia. Berdasarkan cerita ini, Qubra memilih menetap di Jawa ketika putranya harus kembali untuk berdakwah. Maulana Malik Ibrahim kembali ke Champa, Vietnam, sementara adiknya ke Pasai, Sumatra bagian utara. Ibrahim menetap di Champa selama 13 tahun untuk memberikan pengobatan dan pembelajaran bercocok tanam dan irigasi sebagai langkah efisien untuk menggalang masyarakat. Selain itu, ia juga menikah dengan adik pangeran Champa yang bernama Dewi Candrawulan, dan mempunyai dua orang putra. Ketika ia telah merasa banyak orang yang telah memeluk agama Islam, ia pun kembali ke Jawa tanpa membawa-serta keluarganya.[2]

Pada akhirnya, Maulana Malik Ibrahim pun tinggal di Sembalo, Leran, Manyar. Tatkala ia telah berkenalan dengan masyarakat Manyar, ia memulai dengan berdagang melalui pelabuhan, sebab Gresik pada masa itu adalah pelabuhan besar di kawasan Timur Jawa. Ia juga memperlakukan mereka yang berlainan kasta dengan cara yang sama. Atas dasar inilah, Ibrahim mendapatkan simpati masyarakat kelas bawah. Ia juga melanjutkan pembelajaran dari Champa guna meningkatkan hasil panen mereka dan memberikan pengobatan secara gratis.

Melalui perdagangan yang dijalankannya, Ibrahim jadi mengenal semua kalangan baik masyarakat kelas bawah maupun para bangsawan. Maka, sepulangnya dari Trowulan setelah menemui Raja Majapahit, Ibrahim mendapatkan sebidang tanah di daerah pinggiran Gresik sebagai sarana berdakwah. Di situ pula ia mendirikan sebuah pesantren dengan aktivitas mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami awam. Dari proses pembelajaran Al-Quran itu pula ia mendapat julukan “Kakek Bantal” yang berawal dari kebiasaannya ketika menyimak Al-Quran ia senantiasa meletakkan Kitab Suci di atas sebuah bantal.

Beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim mengatakan, ia dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. melalui Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq,  Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik.[3]

Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 dan dimakamkan di kampong Gapura, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kompleks pemakaman Sunan Gresik ini telah mengalami beberapa pemugaran. Proses pemugaran pertama kali dilakukan pada tahun 1910. Saat itu, keadaan makam dan batu nisan sudah tidak utuh, ada beberapa bagian yang hilang. Kemudian pada 2014 pagar yang mengelingi makam utama yang sebelumnya terbuat dari kayu diganti dengan jeruji besi.

Memasuki kompleks pemakaman ini, peziarah akan disambut dengan area yang asri dengan pepohonan rindang dan sejuk. Suasananya bersih dan tenang memperkuat dugaan bahwa makam itu selalu bertabur keberkahan dari Tuhan. Sebuah gapura berbentuk Paduraksa atau bagian atas tersambung yang dapat kita lihat di sebelah kanan. Ini menjadi salah satu jalan masuk ke dalam cungkup makam. Kemudian sebelah kiri terdapat semacam ruang pengelola, dan di sampingnya terdapat bangunan terbuka berbentuk memanjang atau sebuah lorong yang berfungsi sebagai pintu masuk area pemakaman.

Dalam cungkup terdapat tiga makam dengan ornamen dan ukuran yang berbeda-beda. Tiga makam itu: sebelah kiri merupakan makam Maulana Malik Ibrahim, di sebelahnya makam sang istri yaitu Sayyidah Siti Fatimah, dan yang terakhir makam sang putera Syekh Maulana Maghfur. Sisi depannya dihiasi relief ayat-ayat Al-Quran. Pada batu nisan terdapat tulisan Arab yang artinya “Ini adalah makam almarhum. Seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Mahaluhur, guru para pangeran, dan sebagai tongkat para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan menempatkan di surga. Ia wafat pada Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.”

Selain tiga tokoh di atas, makam itu juga dikelilingi beberapa makam orang-orang dahulu. Di sekitarnya banyak terdapat pohon kamboja dan pohon-pohon lain yang cukup rindang. Juga dilengkapi dengan lorong panjang dan lebar untuk para peziarah saat peringatan Haul  Maulana Malik Ibrahim yang jatuh pada 12 Rabi’ul Awwal. Di ujung lorong terdapat cungkup lagi yang di dalamnya terdapat makam Maulana Ishaq, saudara kandung Maulana Malik Ibrahim, dan makam Syekh Maulana Makhrubi.[4]

Kompleks pemakaman Sunan Gresik ini selalu ramai oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Ada ribuan orang yang berjunjung dalam satu tahun. Mereka datang dengan ragam motivasi, ada yang ingin menyasikan secara langsung petilasan sejarah, ada pula yang ingin mengirimkan doa bagi ahli kubur yang dianggap memiliki kontak imajiner karena telah mengorbankan hidupnya untuk umat. Mengajarkan dan mencurahkan kasih sayang, berlaku sebagai penyambung lidah Rasulullah saw. yang mengasihi umatnya dari ketersesatan. Para wali adalah perwujudan ibu ruhani bagi siapa saja yang mempercayai bahwa kematiannya adalah kehidupan di sisi Tuhan.[]

Besambung…

Ziarah Makam Wali (3): Sunan Giri di Gresik

Sebelumnya:

Ziarah Makam Wali (1): Sunan Ampel

Catatan:

[1] Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 54-55

[2] Sulistiono, Mengenal Jejak Langkah Walisongo (Semarang: Magenta, 2009), hlm. 12

[3] Lihat Biografi Sunan Gresik dalam http://www.idsejarah.net/2017/04/biografi-sunan-gresik.html

[4] https://situsbersejarahkabupatengresik.wordpress.com/makam/makam-maulana-malik-ibrahim/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*