Ziarah Makam Wali (5): Sunan Kalijaga di Kadilangu (2)

in Budaya Islam

 

Oleh: Khairul Imam

Di tempat-tempat itu mereka duduk bersila dan menundukkan kepala. Asyik masyuk dalam dialog imajiner dengan wali-wali yang telah mendahuluinya. Merapalkan doa-doa, membacakan ayat-ayat Al-Quran, membasahi bibir dengan rupa-warna zikir. Menghadiahkan bacaan untuk mereka sebagai tanda terimakasih karena telah menghujamkan Islam dalam kalbu tanpa kekerasan, tanpa paksaan, tetapi dengan kasih sayang. Meneteskan air mata sebagai bentuk kesadaran sebentar lagi kami akan menyusul dan menjadi bagian mereka.

—Ο—

 

Raden Sahid mengawali dakwahnya di Cirebon, di Desa Kalijaga untuk mengislamkan penduduk Indramayu dan Pamanukan. Di sana ia tinggal beberapa tahun. Mula-mula ia menyamar menjadi tukang bersih-bersih (baca: Marbot) Masjid Sang Cipta Rasa. Di masjid itulah ia bertemu Sunan Gunung Jati. Tak lama berselang ia dinikahkan dengan adik—kemungkinan adik ipar—Sunan Gunung Jati yang bernama Siti Zainab. Perempuan ini diyakini sebagai putri dari Syekh Abdul Jalil yang terkenal dengan sebutan Syekh Siti Jenar. Dari pernikahan tersebut, Sunan Kalijaga dikaruniai sepasang putra-putri kembar yang ia beri nama Watiswara dan Watiswari, dan seorang putri dengan nama Ratu Champaka.[1]

Dalam mendakwahkan Islam, Sunan Kalijaga banyak terinspirasi oleh Sunan Bonang yang memperkenalkan berbagai media peninggalan Hindu-Buddha yang kemudian diubah dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan yang mendalam. Beragam simbolisme dalam ritual-ritual kejawen pun dimaknai ulang dan diberi nafas Islam khas Jawa. Ia memperkenal Islam menggunakan media wayang, bahkan memprakarsai perubahan wayang beber ke wayang kulit. Wayang kulit ini ditatah pertama kali oleh Sungging Prabhangkara, sehingga namanya diabadikan sebagai aktivitas menatah wayang atau nyungging. Wayang-wayang itu juga diubah dari yang semula dengan gambar-gambar manusia menjadi gambar lain yang tak lagi mirip manusia. Dengan pertimbangan bahwa penyerupaan terhadap makhluk hidup dalam bentuk dan rupa yang sama itu dilarang dalam Islam.

Kepiawaian Sunan Kalijaga dalam berdakwah menggunakan wayang ini menjadikannya semakin dikenal oleh penduduk Jawa bagian barat dengan berbagai nama samaran. Di daerah Padjadjaran, misalnya, Sunan Kalijaga dikenal dengan Ki Dalang Sida Brangti. Di daerah Tegal ia dikenal sebagai dalang barongan dengan julukan Ki Dalang Bengkok. Ia juga dikenal dengan Ki Dalang Kemendung ketika mendalang topeng di kawasan Purbalingga. Sedangkan di Majapahit ia masyhur sebagai Ki Unehan. Selain nama-nama tersebut, ia juga memiliki sejumlah nama lain, seperti Sunan Kali, Syekh Malayakusuma, Jaka Satya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.Sementara itu, orang-orang yang ingin nanggap wayang maka bayarannya cukup dengan membaca dua kalimat syahadat. Dengan cara itulah Islam semakin berkembang di tanah Jawa.[2]

Sunan Kalijaga pun mengeksplorasi konsep pewayangannya dengan nilain-nilai intrinsik Islam. Ia, misalnya, memperkenalkan konsep pewayangannya dengan sebutan wayang “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, yang berarti berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah dengan selamat. Konsep pewayangan ini pun mau tidak mau harus mengalami konversi ke dalam istilah Jawa sehingga menjadi “ojo lali sangkan paraning dumadi.” Demikian pula perangkat kekayon atau gunungan[3] dalam pewayangan pun tidak luput menjadi sarana dakwahnya. Seperti makna simbolik gunungan yang menyerupai masjid, tetapi jika dibalik maka akan mirip dengan bentuk hati. Ini artinya hati umat Islam harus selalu terpaut dengan masjid karena masjid menjadi pusat peradaban, sekaligus muara perubahan dalam Islam.

Selain itu, dilihat dari segi etimologi kekayon berasal dari kata kayu yang berarti pohon; hayyun atau simbolisme pohon hidup; yang bisa bermakna kehidupan dalam konteks sangkan paraning dumadi. Sedangkan gunungan (kayon) pewayangan merupakan simbolisasi dari gunung, api, pohon besar, ombak, samudera, gua, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan bahwa kekayon berarti kehidupan di dunia fana, yang dikaitkan dengan tancep kayon sebagai sangkan paraning dumadi (kembali kepada asal penciptaan manusia).

Tidak hanya itu, dalam jagad pewayangan Sunan Kalijaga juga menciptakan berbagai gubahan lakon. Beberapa lakon yang digubah antara lain lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Serat Dewa Ruci berasal dari naskah kuno Nawa Ruci. Lakon ini mengisahkan perjalanan ruhani tokoh Bima di bawah bimbingan Bhagawan Drona sampai ia bertemu dengan Dewa Ruci. Dalam lakon ini Sunan Kalijaga sengaja mengilustrasikan Dewa Ruci sebagai sosok Khidhir, sedangkan Bima digambarkan dirinya sebagai yang mencari ilmu makrifat dan hakikat. Adapun lakon Jimat Kalimasodo diambil dari cerita senjata milik Prabu Darmokusumo (Yudistira). Dalam lakon tersebut Puntadewa, sosok suci agama Hindu yang bijaksana dan berbudi luhur diceritakan tidak dapat masuk surga, kecuali harus menggunakan satu pusaka khusus yang disebut dengan Jamus Kalimasada atau Jimat Kalimasada, atau kalimat syahadat. Konon, Naskah Serat Dewa Ruci merupakan salinan lain Suluk Linglung dalam konsep pertunjukan. Jika ajaran Suluk Linglung hanya diperuntukkan bagi murid-murid dalam tarekatnya, maka Serat Dewa Ruci merupakan saduran yang memiliki ide dasar yang sama dan diperuntukkan untuk masyarakat secara luas.

Beberapa syair yang diyakini berasal dari Sunan Kalijaga di antaranya tembang lir-ilir; gundul-gundul pacul; e, dayohe teko; dan lain-lain.[4] Demikian pula peninggalan karya sastra beserta ujaran-ujaran yang sarat nuansa mistik Islam yang sangat kental pun menjadi prioritas utama. Selain itu, syiar lain yang tidak kalah menarik adalah tradisi kenduri dengan berbagai simbol. Ini tampak dalam tradisi gunungan atau tumpeng yang kemudian dilestarikan oleh Kerajaan Mataram Islam yang masih dilestarikan sampai sekarang. Gunungan menjadi acara pamungkas dalam berbagai perhelatan, dan setelah menyantap makanan dalam gunungan itu terdapat tradisi mencuci tangan dengan tiga jenis tempat pencucian. Tempat pencucian pertama berisi bunga mawar; kedua, bunga kenanga; ketiga, bunga kanthil. Ketiga tempat pencucian dengan tiga jenis bungan ini mengandung filosofi yang dalam. Bahwa dalam kehidupan yang berwarna-warni (mawarni-warna) dengan hiruk-pikuknya, dan manusia bebas dan bisa berbuat apapun (kena ngene-kena ngono), tetapi hatinya harus tetap melekat (kanthil) kepada Yang Satu dan Esa yaitu Allah Swt.

Setelah melanglang buana ke berbagai wilayah di Nusantara, bahkan dikabarkan dakwahnya sampai Palembang, dan sempat menimba ilmu kepada Syekh Sutabaris, Sunan Kalijaga pun memilih kembali ke Kadilangu. Di sana ia menetap dan membina kehidupan rumah tangga hingga akhir hayatnya. Dakwahnya pun berlanjut dari daerah pesisir utara Demak, hingga ke pedalaman. Istri yang disebut-sebut hanyalah Dewi Sarah, putri Maulana Ishak. Dari pernikahannya dengan Dewi Sarah Sunan Kalijaga dikaruniai tiga orang anak, salah satunya Raden Umar Said, yang kelak bergelar Sunan Muria.[5]

Sunan Kalijaga dimakamkan di Desa Kadilangu, sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak. Makamnya terletak di kompleks pemakaman dengan dinding melingkari area kompleks. Makam ini selalu ramai dipadati peziarah, utamanya pada malam Jumat Pon, Pahing, dan Kliwon saat dibukanya pintu tungkub. Selain itu, makam ini juga dibanjiri peziarah pada tanggal 10 Dzulhijjah menjelang Idul Adha. Karena saat itu berlangsung upacara penjamasan pusaka Kelambi Kyai Gondil dan Kyai Onto Kusumo, Keris Kyai Crubuk dan Kyai Sirikan jelang Idul Adha.

Gerbang menuju ke komplek makam Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu kecamatan Kota kabupaten Demak. Sumber gambar: mediasemarang.com/

Untuk menuju ke sana, peziarah harus melintasi lorong beratap yang dipenuhi para pedagang. Di beberapa titik lorong para peziarah akan melewati lantai dengan hiasan ornamen bunga yang indah. Ada pendopo tempat para peziarah beristirahat sejenak. Sebelum mencapai titik makam Sunan Kalijaga, tampak beberapa makam keramat lainnya seperti makam Arya Penangsang dan Adipati Jipang Panolan.

Tampak toko-toko souvenir di kanan kiri jalan masuk ke areal makam Sunan Kalijaga. Sumber gambar: http://swetadwipa.blogspot.co.id

 

Selasar menuju areal cungkup makam. Sumber gambar: http://swetadwipa.blogspot.co.id

Makam Sunan Kalijaga berada di dalam sebuah bangunan tungkub berdinding tembok berukuran besar dengan ukiran kayu. Pilar tungkub dilapisi keramik dengan hiasan ornamen limasan di bagian atas dan bawah. Dinding di antara pilar dihiasi ukiran kligrafi, sedangkan ukiran pada jendela dilengkapi teralis besi. Di luar tembok tungkub terdapat beberapa jirat makam Mpu Supo adik ipar Sunan Kalijaga dan putranya, Djaka Sura. Di sebelah dinding tungkub ada makam Panembahan Pengulu, cucu Sunan Kalijaga. Selain itu, ada sembilan blok dengan 175 makam, termasuk Panembahan Hadi, Ratu Retno Pembayun, Ratu Panenggak, Raden Abdurrachman. Ada pula makam abdi kinasihnya, yaitu Kyai dan Nyai Derik; makam Dewi Roso Wulan, adiknya; dan makam Raden Tumenggung Wilotikto, ayahandanya. Selain maka, ada juga petilasan batu yang diyakini sebagai tempat duduk Sang Sunan ketika memberikan wejangan kepada para muridnya. Tempat duduk itu dikelilingi tembok dengan tulisan “Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga” di sebelah pintu masuk.[6]

Areal cungkup makam Sunan Kalijaga. Sumber gambar: http://swetadwipa.blogspot.co.id

 

Suasan di dalam areal cungkup makam Sunan Kalijaga. Sumber gambar: mediasemarang.com/

 

“Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga”, atau batu tempat duduk Sunan Kalijaga terlihat berada di tengah, dikelilingi tembok yang pendek. Batu itu digunakan sebagai tempat duduk Sunan Kalijaga ketika memberi wejangan kepada para muridnya. Sumber gambar: aroengbinang.com

Di tempat-tempat itulah, mereka duduk bersila dan menundukkan kepala. Asyik masyuk dalam dialog imajiner dengan wali-wali yang telah mendahuluinya. Merapalkan doa-doa, membacakan ayat-ayat Al-Quran, membasahi bibir dengan rupa-warna zikir. Menghadiahkan bacaan untuk mereka sebagai wujud terimakasih karena telah menyampaikan Islam dalam kalbu tanpa kekerasan, tanpa paksaan, tetapi dengan kasih sayang. Meneteskan air mata sebagai bentuk kesadaran sebentar lagi kami akan menyusul dan menjadi bagian mereka.

Bersambung…

Ziarah Makam Wali (6): Sunan Gunung Jati di Cirebon

Sebelumnya:

Ziarah Makam Wali (5): Sunan Kalijaga di Kadilangu (1)

Catatan kaki:

[1] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo., hlm. 218.

[2] Ibid.,  hlm. 220.

[3] Gunungan yaitu pahatan gambar berbentuk gunung dalam wayang kulit atau golek untuk mengawali dan membatasi antarbabak, dan mengakhiri cerita.

[4] Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen; Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spritual Jawa (Yogyakarta: Narasi, 2006), hlm. 130-131.

[5] Purwadi, Ilmu Makrifat Sunan Bonang., hlm. 92-93.

[6]Lihat “Makam Sunan Kalijaga Kadilangu Demak” dalam https://www.aroengbinang.com/2017/11/makam-sunan-kalijaga-kadilangu-demak.html

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*