Mozaik Peradaban Islam

Pengantar Teosofi Islam (1): Tentang Wujud dan Kemaujudan (1)

in Studi Islam

Last updated on March 29th, 2020 12:14 pm

Makna wujud sama dengan segala sesuatu, segala perkara, segala hal, segala tindakan, segala sebab dan akibat, segala gagasan dan acuan, segala angan-angan, dan segala-galanya. Konsep wujud hadir dalam semua yang ada sebagai sesuatu atau ke-sesuatu-an.

Foto ilustrasi: bemore-travel

Sesuatu dan Wujud

Ada atau wujûd (وجود) adalah segala sesuatu yang kita temukan. Ia merupakan gagasan (term) yang tidak bisa didefinisikan, lantaran semua definisi dalam bentuk apa pun pastilah berpijak pada pemahaman tentang wujud terlebih dahulu. Ia adalah sesuatu yang melandasi semua gagasan, hal yang mendorong semua keinginan dan titik yang menampakkan semua bentuk.

Makna wujud di sini sama dengan segala sesuatu, segala perkara, segala hal, segala tindakan, segala sebab dan akibat, segala gagasan dan acuan, segala angan-angan, dan segala-galanya. Konsep wujud hadir dalam semua yang ada sebagai sesuatu atau ke-sesuatu-an (شيئ atau شيئيّة).

Negasi konsep wujud adalah ketak-sesuatu-an atau ketiadaan yang tidak mungkin diketahui, dipahami, dirasakan, dijelaskan, dibicarakan atau diangan-angankan dalam bentuk apa pun.

Dengan demikian, wujud adalah konsep paling mencakup dan sederhana, apa pun dapat ditundukkan dan dirujukkan kepadanya. Demikianlah makna wujud secara mutlak yang sepadan dengan sesuatu. Makna wujud secara mutlak ini dalam teks-teks filsafat disebut dengan Wujud Mutlak dan dalam teks-teks agama disebut dengan Tuhan atau Allah.

Kata sesuatu dalam bahasa Arab disebut dengan شيئ (syay’). Dari akar kata yang sama timbul kata مشيئة (masyi’ah) yang berarti kehendak. Jadi, segala sesuatu pastilah terkait dengan kehendak. Dalam Alquran, kata masyi’ah (kehendak) dipertautkan dengan Kehendak Ilahi atas segenap ciptaan-Nya, sehingga secara harfiah dapatlah dikatakan bahwa segala sesuatu pastilah berasal dari kehendak (masyi’ah) Allah. Dalam surah Al-Maidah (5) ayat 17, Allah berfirman:

“لقد كفر الذّين قالوا إنّ الله هو المسيح إبن مريم، قل فمن يملك من الله شيئا إن اراد أن يهلك المسيح إبن مريم و أمّه ومن فى الارض جميعا ولله ملك السّماوات والارض وما بينهما يخلق ما يشاء  والله  على كلّ شيئ قدير”

Benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang memiliki sesuatu dari Allah (dan dapat menghalangi-Nya) apabila Dia mau membinasakan Al-Masih putra Maryam dan ibunya berserta seluruh yang ada di bumi?” Kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan bumi dan seluruh yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS 5: 17).

Kata wujûd berasal dari kata Arab wajada (وجد) yang berarti menemukan, sedangkan wijdân (وجدان) adalah kata turunannya yang berarti intuisi. Dari makna kata ini, kita memahami bahwa setiap yang ber-wujud pastilah menemukan dirinya sendiri, dalam derajat kesadaran yang berbeda-beda. Dalam kata wujûd ini sebetulnya terkandung kesamaan makna antara mewujud (being) dan mengetahui (knowing). Artinya, dalam keragaman derajatnya, semua yang mewujud pastilah menemukan dan mengetahui wujud atau keberadaannya. Menurut istilah para filosof Muslim, pengetahuan ini bersifat hudhûri dan wijdâni.[1]

Dalam Alquran, kata wajada digunakan di beberapa tempat dalam makna menemukan, menjumpai, menyaksikan atau memperoleh. Di antaranya;

Dan segenap perbuatan orang-orang kafir laksana fatamorgana di tanah datar, yang oleh orang-orang dahaga disangka sebagai air. Tetapi, bilamana air itu didatangi, ia tiada menemukan (lam yajid) sesuatu apa pun. Dan (barulah kemudian) ia menemukan Allah di sisinya, maka Dia akan memberikan kepadanya suatu perhitungan (atas segenap perbuatannya) dan Allah sangat cepat dalam perhitungan-Nya. (QS. 24: 39).

Dalam ayat lain Allah berfirman;

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kalian dari (kehendak) Allah jika Dia menghendaki bencana atas kalian atau jika Dia menghendaki rahmat atas kalian?” Dan mereka (orang-orang munafik) tidak menemukan (yajidûn) pelindung atau penolong selain Allah. (QS 33: 18).

Makna wujud.

Dalam doanya di padang Arafah, Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib RA berujar:

ماذا وجد من فقدك و ما الذّي فقد من وجدك

(Apa yang ditemukan oleh seseorang yang tidak menemukan-Mu dan apa yang tidak ditemukan oleh seseorang yang telah menemukan-Mu). (MK)

Bersambung ke:

Catatan Kaki:


[1] Untuk kajian lebih jauh mengenai masalah ini, lihat: Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Mizan 2003, Bagian Epistemologi.

1 Comment

  1. Salam.

    Saya merasa ketinggalan sepuluh langkah, secara seri pengantar teosofi ini sudah sampe seri ke10. Namun demikian, saya merasa perlu mencermati dari langkah ke1, seri pertama ini.

    Paragraf pertama. Buat awam spt saya kata “adalah” menunjukkan definisi. Tapi anda menuliskan term “wujud” ini tak dapat didefinisi (?) Jadi kalimat pertama itu apa? Kalimat terakhir di paragraf ini apa? Mohon pencerahannya!

    Wujud dalam bahasa kita termasuk kata sifat, tapi anda jelaskan dengan kata benda. Seperti menimbang tidak dengan standar yg sama?

    Memang tak ada yang melarang siapapun mendefinisi sendiri kata2 yg dipakai. Tapi untuk mendefinisi ulang kata2 yg lazim dipakai mungkin akan sedikit banyak menyulitkan para audiens awam spt saya.

    Par kedua. Dari pembahasan filosofis tiba2 muncul pembahasan bahasa Arab. Pada par2 berikutnya muncul lagi, dan lebih kental pembahasan bahasa Arabnya. Saya ndak paham korelasi filsafat dg bahasa Arab. Mohon pencerahannya!

    Bahasan yg singkat tt wujud/ada tiba2 bicara tt Tuhan/Allah rasanya janggal. Seperti lompatan yg terlalu mendadak u/ saya. (Mungkin karena saya ndak jenius)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*