Mozaik Peradaban Islam

Siapa Penggubah Syair Cinta Nabi Barzanji (4): Keluarga Barzinji, Keturunan Imam Musa al-Kazhim

in Studi Islam

Last updated on March 4th, 2021 02:19 pm

Keluarga Barzinji adalah keturunan Nabi Muhammad saw dari jalur Imam Musa al-Kazhim. Mereka mengambil nama keluarganya dari Desa Barzinja di Syahrazur, Kurdistan.

Syaikh Mahmud al-Barzanji. Foto: Unknown/Google

Posisi geopolitik telah menjadikan orang-orang Kurdi sebagai perantara (mediator) di antara tiga tradisi kebudayaan besar. Kurdistan terletak di antara, namun sebagian terpisah dari, pusat-pusat kebudayaan Persia, Arab, dan Turki Utsmani. Selama berabad-abad, para sastrawan Kurdi menguasai ketiga bahasa tersebut, di samping bahasa Kurdi sendiri (atau Gurani atau Zaza).

Karena penguasaan bahasa tersebut, mereka sering bertindak sebagai perantara di antara tiga kebudayaan yang berbeda ini. Banyak di antara mereka yang belajar di satu bagian dunia Islam dan mengajarkannya di bagian dunia yang lain.

Salah satu wilayah di Kurdistan selatan layak disebut secara khusus, karena ia melahirkan banyak ulama yang memberikan pengaruh terhadap Indonesia. Nama wilayah tersebut adalah Syahrazur, yaitu wilayah yang mencakup Kerkuk dan Sulaimaniyyah di Irak sekarang; kebanyakan dari ulama ini termasuk dalam anggota subkelompok etnis Guran.[1]

Keluarga Barzinji

Ibrahim al-Kurani, yang kiprahnya terhadap orang-orang Indonesia telah kita sebut dalam artikel sebelumnya, adalah salah satu ulama Kurdi yang berasal dari Syahrazur. Selain Ibrahim, ada juga kelompok ulama lainnya yang memiliki pengaruh yang besar, mereka adalah keluarga Barzinji (atau juga disebut Barzanji).

Pada abad ke-19 dan ke-20, keluarga Barzinji merupakan salah satu dari keluarga yang sangat terkemuka di Kurdistan bagian selatan, sebuah keluarga ulama dan syaikh Tarekat Qadiriyah yang mempunyai pengaruh politik yang sangat besar.[2]

Nama keluarga Barzinji, terutama, menjadi begitu terkenal di dunia karena pada tahun 1920 Syaikh Mahmud al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadap Inggris yang waktu itu menguasai Irak.[3]  

Keluarga Barzinji mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw melalui Imam Musa al-Kazhim, dan mengambil nama keluarga dari Desa Barzinja di Syahrazur, dekat kota Sulaimaniyyah sekarang, tempat founding father keluarga ini berada—Sayyid Isa (menurut cerita orang) menetap di sana pada pertengahan abad ke-13.

Nenek moyang yang sama dari semua orang Barzinji yang sekarang berada di Irak, Turki, Suriah, dan Hijaz, adalah seseorang yang bernama Baba Rasul. Dia adalah generasi ketujuh setelah Sayyid Isa dan dapat dipastikan telah berkembang meluas pada awal abad ke-17.

Baba Rasul mempunyai 18 putra, salah satunya bernama Muhammad Madani, yang menetap di Madinah dan semua orang Barzanji yang berada di Hijaz dan India dianggap sebagai keturunannya. Nama lengkap Muhammad Madani yang sebenarnya adalah Muhammad bin Abdul Rasul Barzinji. Dia adalah rekan Ibrahim al-Kurani.

Riwayat pendidikan Muhammad Madani agak menyerupai riwayat pendidikan Ibrahim: pendidikan awal diberikan oleh bapaknya dan para ulama lain di Syahrazur, dilanjutkan dengan belajar di Hamadan (Iran), Baghdad, Mardin, Damaskus, Istanbul, Kairo, dan Makkah, dan akhirnya belajar kepada Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani di Madinah.

Setelah Ibrahim al-Kurani wafat pada 1690, posisi syaikh tarekat diserahkan kepada putranya, Muhammad Abu Tahir. Namun posisi kepimpinan di kalangan ulama Madinah itu akhirnya diserahkan kepada Muhammad Madani yang merupakan murid Ibrahim al-Kurani, yang waktu itu merupakan mufti mazhab Syafii di Madinah.[4]

Generasi selanjutnya dari keluarga Barzinji yang menetap di Madinah tetap berpengaruh, jabatan mufti mazhab Syafii di kota tersebut seringkali berada di tangan mereka. Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh William Ochsenwald pada 1984, menunjukkan bahwa ketika Hijaz berada di bawah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani (1840- 1908), para anggota keluarga Barzinji memegang jabatan mufti Madinah untuk sebagian besar waktu yang berlangsung 67 tahun tersebut.[5]

Dengan fakta tersebut, ada kemungkinan, dan bahkan sangat mungkin, bahwa banyak anggota keluarga ini yang memiliki murid-murid asal Indonesia, hanya saja hampir tidak ditemukan dokumentasi tentang hal ini. Namun, pada generasi-generasi berikutnya, banyak ditemukan ulama asal Indonesia yang memiliki sanad keilmuan kepada keluarga Barzanji, atau kepada ulama asal Kurdi lainnya yang bukan keluarga Barzanji.

Di antara ulama-ulama Indonesia yang diketahui memiliki sanad keilmuan kepada keluarga Barzanji di antaranya adalah Ali bin Abdullah al-Banjari (wafat 1951) dan Abdul Muhith al-Sidoaiji (wafat 1965)—keduanya mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah, mereka berdua belajar kepada Ahmad bin Ismail al-Barzinji.[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Mizan: Bandung, 1995), hlm 78-79.

[2] Ibid., hlm 82.

[3] Eva Riantika Diani, Pendidikan Akhlak Menurut Syekh Ja’far Al-Barzanji dalam Kitab Al-Barzanji dan Relevansinya (Dikaitkan Dengan Konteks Saat Ini), (Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2018, tidak diterbitkan), hlm 52.

[4] Martin van Bruinessen, Op.Cit., hlm 82-83

[5] William Ochsenwald, Society and the State in Arabia. The Hijaz under Ottoman Control, 1840-1908 (Columbus: Ohio State University Press, 1984), hlm 52, dalam Martin van Bruinessen, Ibid., hlm 86.

[6] Martin van Bruinessen, Ibid., hlm 86.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*