Mozaik Peradaban Islam

Allamah Thabathabai: Filosof dan Mufasir Muslim Kontemporer (4): Hijrah ke Qum

in Tokoh

Last updated on February 14th, 2019 10:11 am

Di tengah kondisi sulit, Syah Husein Vali, Darwis yang hidup 200 tahun lalu datang kepada Thabathabai dan mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib menyampaikan salam untuknya.

Allamah Thabathabai. Photo: hanat.iki.ac.ir

Kembali ke Tabriz

Pada tahun 1934, Allamah Thabathabai memutuskan kembali ke Tabriz, disebabkan himpitan ekonomi. Beberapa kali dia berhutang kepada sejumlah orang, hingga akhirnya tak ada lagi orang yang bisa dihutangi, dan tidak pula ada makanan yang bisa dimakan. Dalam kondisi seperti ini, tutur Algar, beliau pergi makam Imam Ali dan mengadukan nasibnya. Setelah menyampaikan hajatnya, Thabathabai kembali ke rumahnya. Tak lama setelah itu, datanglah orang yang mengaku bernama Syah Husein Vali yang menyatakan bahwa Imam Ali menyampaikan salam untuknya, dan berpesan bahwa selama 18 tahun dia mengenyam pendidikan, tak sekalipun Allah SWT menelantarkannya. Setelah menyampaikan pesan itu, sosok bernama Syah Husein Vali ini menghilang dari hadapannya. Tak lama kemudian, Allamah Thabathabai ingat bahwa Syah Husien Vali adalah nama seorang Darwis yang hidup 200 tahun lalu dan makamnya terletak di Tabriz.[1]

Keesokan paginya, datanglah orang tidak dikenal mengetuk pintu rumah Thabathabai. Orang itu mengantarkan uang sejumlah 200 dinar Irak. Setelah memberikan uang, orang ini langsung pergi tanpa sempat ditanyakan tujuannya. Setelah dihitung, jumlah uang yang diberikan orang tersebut ternyata pas untuk membayar semua hutang Thabathabai di Najaf. Tapi tidak lebih dari itu. Thabathabai kemudian menangkap isyarat bahwa sudah saatnya dia meninggalkan Najaf dan kembali ke Tabriz. Belakangan diketahui bahwa uang tersebut berasal dari seseorang yang bernazar untuk memberikan uang– kepada siapa saja pelajar yang kesulitan ekonomi – demi kesembuhan putranya yang kena sakit parah.[2]

Tabriz terletak cukup jauh dari lingkungan ilmu pengetahuan, sehingga tidak banyak yang diketahui tentang keadaan Thabathabai selama berada di Tabriz. Secara garis besar, orang-orang hanya mengetahui dia menekuni pertanian guna menghidupi dirinya dan keluarganya. Tapi di samping kegiatan ini, dia diketahui membuka kelas bagi siswa-siswa yang berminat belajar padanya. Setidaknya ada dua orang murid yang diketahui mengikuti kajian surah Al Fatihah. Mungkin karena tempatnya yang jauh dan kebiasaan Thabathabai yang tidak ingin dikenal banyak orang, tidak banyak yang mengetahui tentang kelas itu. Bagi Thabathabai, di tanah kelahirannya ini, dia merasakan kehidupannya kurang berguna, seperti yang digambarkannya sendiri sebagai “masa kekeringan ruhani dalam kehidupanku.”[3]

Kehidupan demikian tidak bisa dia elakkan. Alasannya tak lain karena kesibukannya dalam mencari penghidupan. Di samping membuka lahan garapan (bertani) untuk menopang kebutuhan hidupnya sehari-hari, dia juga mengikuti berbagai kegiatan yang membutuhkan peningkatan intensitas kontak sosial. Kondisi seperti ini membuatnya seolah “kehilangan” waktu untuk mengasah intelektualnya dan menekuni kontemplasi yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak di Najaf. Meski begitu, selama 10 tahun berada di Tabriz, dia setidaknya dapat menyelesaikan tidak kurang dari sembilan risalah, temasuk di antaranya seri al-Insan: qalba al-dunya, fi al-dunya, wa ba’da al-dunya; sejarah leluhurnya, dan komentar yang relatif singkat tentang tujuh surah petama Al-Quran.[4]

 

Hijrah ke Qum

Memasuki masa Perang Dunia II, takdir keilmuan kembali menyapa Allamah Thabathabai.  Ketika itu Uni Soviet menginvasi Iran Utara dan membentuk rezim separatis yang beraliran Marxis di Azerbaijan. Situasi ini mendorong Thabathabai untuk sekali lagi meninggalkan kampung halamannya. Tapi berbeda dari sebelum-sebelumnya, kali ini kepindahannya lebih bernuansa politik ketimbang intelektual. Satu-satunya tanah keluarga mereka di Shadabad yang juga merupakan sumber ekonomi mereka, kini telah dirampas. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk bertahan di tempat itu. Dengan bekal hasil bertani selama bertahun-tahun, kali ini dia memilih kota Qum sebagai tempat berlabuh. Tak disangka, justru di tempat inilah Thabathabai mengalami masa cemerlang dalam karir intelektualnya.[5]

Allamah Thabathabai tiba di Qum pada bulan Maret 1946. Sesampainya di Qum, semua harta yang dimilikinya langsung didistribusikan demi kepentingan dunia pendidikan, khususnya untuk para guru dan siswa yang membutuhkan di sana. Situasi ekonomi Allamah selama berada di Qum sangat jauh dari kriteria nyaman. Sebaliknya, dia menjalani laku hidup prihatin sebagaimana biasa dia jalani selama puluhan tahun.[6]

Secara historis, sejak masa perkembangan awal Syiah di Persia, Qum merupakan salah satu pusat pembejaran Islam yang terkemuka. Namun, kemasyhuran kota ini terus meredup dan selalu dibayang-bayangi oleh pusat-pusat keilmuan lain seperti di Najaf dan Isfahan. Kota ini kembali bersemi sebagai pusat ilmu ketika berada dalam pengawasan Syeikh Abd al-Karim Hairi pada rentang waktu antara 1922-1936. Di rentang waktu tersebut, Thabathabai sedang menjalani studinya di Najaf. Menariknya, Syeikh Hairi melakukan pengembangan tersebut justru ketika rezim Pahlevi sedang gencar-gencarnya melancarkan proyek modernisasi dan sekularisasi yang bersifat anti-agama.[7]

Setelah Syeikh Hairi wafat pada tahun 1936, Qum terus berkembang menjadi pusat pendidikan Islam di Iran. Banyak murid berdatangan untuk menimba ilmu di kota ini. Selama sekitar delapan tahun sejak Syeikh Hairi wafat, hawzah Qum dikelola oleh tiga murid paling seniornya. Barulah pada tahun 1944, Qum kembali dikelola secara terpadu oleh sosok ulama kenamaan, Ayatullah Husein Burujurdi yang sukses menyempurnakan pondasi budaya keilmuan di kota Qum.[8] (MK)

Bersambung ke:

Allamah Thabathabai: Filosof dan Mufasir Muslim Kontemporer (5): Tafsir Alquran dan Filsafat

Sebelumnya:

Allamah Thabathabai: Filosof dan Mufasir Muslim Kontemporer (3): Riwayat Pendidikan (2)

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Hamid Algar, ‘Allama Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’i: Philosopher, Exegete, And Gnostic, (2006) Journal of Islamic Studies, University of California, Berkeley, hal. 6

[2] Lihat, Ibid, hal. 7

[3] Lihat, Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai, Shi’ite Anthology, Muhammadi Trust of Great Britain and Northern Ireland, hlm 15.

[4] Lihat, Hamid Algar, Op Cit.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid. hal. 8

[8] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*