Mozaik Peradaban Islam

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (14): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (2): Al-Tirmidzi

in Tokoh

Last updated on October 13th, 2021 01:42 pm

Al-Tirmidzi, ulama hadis yang juga murid dari Bukhari ini, memberikan kritik terhadap Sahih Bukhari. Dia mempersoalkan keberadaan periwayat yang bernama Ibnu Abu Laila dalam Sahih Bukhari. Namun siapakah Ibnu Abu Laila?

Ilustrasi Imam al-Tirmidzi. Foto: Unknown/Google

Kritik terhadap hadis Sahih al-Bukhari bukan hanya datang dari kalangan non-Muslim saja, tapi juga dari kalangan ulama Muslim itu sendiri, hal ini bahkan sudah berlangsung sejak jauh hari dan terus berlanjut hingga hari ini.

Banyak ulama yang mengkritik Sahih Bukhari, hal ini terkait dengan sekitar 80 perawi dan 110 hadis yang mereka anggap kurang sahih. Dalam hal ini mereka bukannya menolak sama sekali, atau secara tegas menyatakan benar atau salah, namun, yang mereka persoalkan adalah bahwa hadis-hadis ini tidak memenuhi standar tinggi yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Bukhari sendiri.

Muhammad Mustafa al-Azami, profesor ilmu hadis di Universitas Riyadh, memberikan perumpamaan agar lebih mudah dipahami. Misal, ada universitas yang menerapkan standar yang begitu tinggi untuk penerimaan mahasiswa barunya. Dari skala 1-10, universitas tersebut hanya menerima mahasiswa dengan nilai 9-10. Mahasiswa kelompok ini marilah kita sebut dengan mahasiswa peringkat A.

Namun, setelah memeriksa dan mempertimbangkan kembali, universitas tersebut pada akhirnya menerima beberapa mahasiswa dengan peringkat di bawah A, katakanlah mereka berasal dari peringkat B (nilai 7-8), atau bahkan C (nilai 5-6).

Kritik dari para ulama ini menyiratkan bahwa Bukhari telah menerapkan standar tinggi yang begitu berat, tetapi kemudian dia pada akhirnya malah menerima hadis-hadis dari para ulama kelas bawah. Dalam hal ini tampaknya Bukhari memiliki bukti lain yang meyakinkannya tentang kebenaran hadis yang dia terima.[1]

Di antara ulama-ulama yang mengkritik hadis Bukhari adalah al-Tirmidzi (824-892 M), dia tiada lain adalah ulama hadis dan salah satu murid Bukhari sendiri. Ada seorang periwayat di dalam Sahih Bukhari yang oleh al-Tirmidzi menjadi persoalan, namanya adalah Ibnu Abu Laila.

Al-Tirmidzi berkata, “Al-Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abu Laila adalah orang terpercaya (shaduq), tetapi aku tidak meriwayatkan satu hadis pun dari dia, karena tidak dapat diketahui mana hadisnya yang benar dan yang keliru. Aku tidak meriwayatkan hadis dari orang yang mempunyai predikat seperti ini.”[2]

Atau dalam redaksi lain, di dalam Sunan al-Tirmidzi, al-Tirmidzi menulis, “Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) berkata, ‘Ibnu Abu Laila dapat dipercaya (shaduq).’ Tapi aku tidak meriwayatkan hadis apapun dari dia (Ibnu Abu Laila), karena tidak diketahui mana dari hadisnya yang benar, mana yang salah. Dan siapa saja yang termasuk dalam jenis (orang seperti) ini, aku tidak meriwayatkan hadis melalui dia.”[3]

Mengenai keberadaan Ibnu Abu Laila di dalam Sahih Bukhari, al-Azami menjelaskan, bahwa sebenarnya ulama dengan tingkatan seperti Ibnu Abu Laila tidak dapat diterima oleh Bukhari, kecuali jika dia menemukan sesuatu yang berbeda di antara hadis-hadisnya.

Sesuatu yang berbeda itu misalnya jika dia memiliki salinan lama atau asli dari guru-guru hadis Ibnu Abu Laila yang kemudian diriwayatkan olehnya, maka Bukhari akan menerima hadis tersebut, karena dia akan yakin bahwa Ibnu Abu Laila tidak melakukan kesalahan dalam periwayatan hadis-hadisnya.[4]

Meski demikian, al-Azami tidak menjelaskan lebih jauh apa alasan dari al-Tirmidzi, mengapa dia tidak menggunakan hadis dari Ibnu Abu Laila. Namun siapa sebenarnya Ibnu Abu Laila?

Alwi bin Husin dalam bukunya Periwayat Syiah dalam Kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim tidak memasukkan Ibnu Abu Laila sebagai ulama Syiah, tapi dia memasukkan cucunya, yaitu Abdullah bin Isa al-Ansari, sebagai ulama Syiah yang moderat, dan riwayatnya dapat dipercaya.[5]

Tidak banyak informasi yang ditemukan tentang biografi Ibnu Abu Laila, namun website WikiShia menyebutkan bahwa dia adalah seorang fakih mazhab Syiah. Nama lengkapnya adalah Abu Isa Abdurrahman Yasar al-Ansari al-Kufi. Masih menurut website tersebut, Ayah Ibnu Abu Laila bernama Abu Laila, dia adalah sahabat Rasulullah saw dari golongan Ansar di Madinah.

Website itu juga melaporkan, bahwa Ibnu Abu Laila dilahirkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, Ibnu Abu Laila dilaporkan menjadi pendukung kuat Ali dan terjun langsung dalam Perang Jamal, Shiffin, dan Nahrawan.[6]

Mengenai perbedaan pendapat di antara ulama hadis tentang sosok Ibnu Abu Laila, barangkali kita bisa meminjam jalan tengah dari al-Azami yang mengatakan, “Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua dan juga kita.”[7] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Muhammad Mustafa al-Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature (American Trust Publication: USA, 1977), hlm 92.

[2] Marzuki, Kritik Terhadap Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim (Jurnal Humanika Vol. 6 No. 1, Maret 2006), hlm 35.

[3] Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi: Vol II, hlm 199, dalam Muhammad Mustafa al-Azami, Loc.Cit.

[4] Muhammad Mustafa al-Azami, Ibid.

[5] Alwi bin Husin, Periwayat Syiah dalam Kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim (Ufuk Press: Jakarta, 2019), hlm 119.

[6] WikiShia, “Ibn Abi Layla”, dari laman https://en.wikishia.net/view/Ibn_Abi_Layla, diakses 10 Oktober 2021.

[7] Muhammad Mustafa al-Azami, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*