Mozaik Peradaban Islam

Ammar bin Yasir (28): Perang Shiffin (6): Epilog

in Tokoh

Ali berkata kepada Muawiyah, “Majulah engkau untuk berduel denganku, hingga siapapun yang berhasil membunuh lawannya, dialah yang akan menjadi pemimpin nanti.”

Foto ilustrasi: aakib Shah (aakib4001)/Pinterest

Setelah wafatnya Ammar bin Yasir RA, Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memangku tubuhnya dan menyalatkannya bersama Kaum Muslimin. Ammar lalu dikuburkan bersama dengan pakaiannya yang berlumuran darah.[1]

Abu Jafar (al-Tabari) berkata:

Telah diriwayatkan, bahwa ketika Ammar terbunuh, Ali berkata kepada Rabiah dan Hamdan, “Kalian adalah tameng dan tombakku!”

Sekitar 12.000 orang mengajukan dirinya kepada dia, dan Ali maju di depan mereka dengan bagalnya. Dia dan mereka menyerang bersama bagaikan satu orang, dan tidak ada satu pun barisan (pasukan) Syam yang tidak dihancurkan.

Ali dan pengikutnya membunuh semua orang yang mereka hadapi sampai mereka mencapai Muawiyah, dan Ali berkata, “Aku menghantam mereka tetapi Muawiyah tidak melihat, dia yang memiliki mata bodong dan perut buncit.”

Dia lalu menyeru Muawiyah dan berkata, “Mengapa orang-orang (mesti) terbunuh dalam perseteruan kita? Kemarilah, aku akan mempercayakan kepada Allah dengan keputusan di antara kita (uhakimuka ila Allahi). Siapa pun di antara kita yang membunuh yang lain, kepemimpinan (al-umur) akan menjadi untuknya!” (Ali menantang duel satu lawan satu kepada Muawiyah-pen)

Amr (bin al-Ash) berkata, “Orang itu telah memberikan tawaran yang adil,” tetapi Muawiyah menjawab, “Aku tidak diberi tawaran yang adil. Engkau pun tahu, bahwa dia telah membunuh siapa pun yang dia tantang untuk berduel.”

Amr berkata, “Tapi tidak pantas jika engkau tidak menerima tantangan itu dan melawannya.”

Muawiyah berkata, “Engkau tidak dapat bersabar untuk mendapatkan kekuasaan setelah kematianku.”[2]

Atau dalam riwayat versi lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Khalid Muhammad Khalid, tantangan itu tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui sebuah surat.

“Hai Muawiyah, mengapa engkau membunuh manusia untuk menyelesaikan perseteruan kita? Majulah engkau untuk berduel denganku, hingga siapapun yang berhasil membunuh lawannya, dialah yang akan menjadi pemimpin nanti,” ujar Ali dalam suratnya.

Membaca surat itu, Muawiyah pun berdiskusi dengan Amr. Amr berkata, “Dia hendak menyadarkan dirimu, maka hadapilah dia.”

Mendengar pernyataan Amr, Muawiyah marah. Dia mencari akal untuk menghindari tantangan tersebut, sebab dia tahu betul bahwa Ali terlalu tangguh dan dia tidak akan dapat mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu.

Akhirnya Amr mengajukan dirinya untuk menggantikan Muawiyah, “Biarlah aku yang akan menghadapinya besok.”

Keesokan harinya, di hadapan masing-masing pasukan, Amr maju ke depan dan menyatakan tantangannya kepada Ali. Ali segera menyambutnya dan mereka berdua naik ke atas kuda masing-masing.

Ketika duel dimulai, Ali menebaskan pedangnya ke arah Amr, tiba-tiba Amr menjatuhkan dirinya dan menunjukkan tanda menyerah. Dia berlutut di atas tanah dan merendahkan dirinya, meminta diampuni dan dikasihani. Melihat sikap Amr, Ali hanya memandangnya, lalu pergi meninggalkannya tanpa berbuat atau mengucapkan sesuatu apa pun.

Akhirnya peperangan pun dilanjutkan di antara dua pasukan besar. Pasukan Ali dapat menghancurkan pasukan Syam, dan kemenangan sudah tinggal selangkah lagi.

Dalam situasi seperti itu Amr berkata kepada Muawiyah, “Aku telah mempersiapkan sesuatu yang sengaja kusimpan untuk hari ini! Angkatlah mushaf (Alquran) di atas ujung tombak dan ajaklah Ali ber-tahkim (berdamai dengan berpedoman) kepada Alquran. Kalau mereka bersedia, tentulah mereka akan berselisih. Dan jika mereka menolak, pastilah akan berselisih juga.”

Dan benar saja, ketika mereka melakukannya terjadi perselisihan di antara pasukan Ali, sebagian ingin menunda penyerangan dan lainnya lagi ingin meneruskan. Ali berkata, “Aku adalah orang yang paling berhak untuk memenuhi panggilan Alquran, tapi aku lebih tahu tentang mereka ketimbang kalian. Itu adalah kalimat hak yang disalahgunakan untuk kebatilan.”

Namun perselisihan sudah mencapai puncaknya dan tidak dapat diredakan. Akhirnya Ali memerintahkan untuk mengangguhkan serangan yang padahal tinggal selangkah lagi maka dia akan mendapatkan kemenangan.

Kedua belah pihak kemudian setuju untuk melakukan gencatan senjata dan mengadakan perundingan damai. Dari pihak Ali, Abu Musa al-Asyari maju sebagai juru runding. Sementara dari pihak Muawiyah, Amr bin al-Ash.

Setelah perundingan yang berjalan cukup lama, kedua belah pihak sepakat untuk menanggalkan posisi versi masing-masing khalifah, untuk kemudian jabatan ini akan ditentukan berdasarkan hasil musyawarah Kaum Muslimin. Merekalah yang kelak akan memilih khalifah demi perdamaian di antara sesama Muslim.

Amr meminta Abu Musa untuk maju terlebih dahulu. Abu Musa kemudian naik ke atas mimbar dan menyatakan pemakzulan baik terhadap Ali mau pun Muawiyah.

Kini giliran Amr yang naik mimbar, dia berkata, “Sesungguhnya Abu Musa, sebagaimana yang saudara-saudara saksikan telah menyatakan pemakzulan pemimpinnya, Ali bin Abi Thalib, dan aku pun menyatakan hal yang sama.

“Selanjutnya menetapkan Muawiyah, hingga dialah yang menjadi Khalifah dan Amirul Mukminin yang bertanggung jawab terhadap penuntutan darah Utsman bin Affan. Oleh karena itu, berbaiatlah tuan-tuan kepadanya!”[3] (PH)

Seri Ammar bin Yasir selesai.

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, diterjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 267.

[2] Al-Ṭabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 17, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh G.R. Hawting (State University of New York Press: New York, 1996), hlm 69-70.

[3] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 568-573.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*