Mozaik Peradaban Islam

Ayuba Suleiman Diallo (7): Menulis Alquran

in Tokoh

Last updated on November 25th, 2019 03:02 pm

Dilaporkan oleh Bluett pada tahun 1734, di Inggris Ayuba menulis tiga buah salinan Alquran hanya benar-benar mengandalkan ingatannya. Dan setelah selesai menulis salinan, pengerjaan salinan selanjutnya juga tanpa melihat salinan sebelumnya.

Lukisan Ayuba dan catatan-catatan tangannya. Foto: The British Library

Demikianlah, setelah ditebus oleh James Oglethorpe, Ayuba Suleiman Diallo berlayar menuju London dari Amerika. Selama perjalanan dan sesampainya di London, orang-orang di sekitar Ayuba dapat melihat dengan jelas bahwa dia sangat terdidik dan taat terhadap agamanya.

Awak kapal mencatat, bahwa Ayuba terus menolak wine yang ditawarkan kepadanya dan tidak mau memakan daging yang disediakan kepadanya, kecuali daging itu disembelih menurut hukum Islam. Dia juga terus melaksanakan salat lima waktu selama berada di atas kapal.

Thomas Bluett, pengacara asal Inggris yang pernah menemani Ayuba ketika di dalam penjara, ikut serta di dalam perjalanan ini. Semenjak bertemu dengan Ayuba, Bluett sangat tertarik dengan kisah hidupnya, dan dia berkeinginan untuk membantu Ayuba merdeka.[1]

Selama di dalam kapal, Bluett juga mengajari Ayuba bahasa Inggris, sehingga pada saat dia tiba di London, dia bisa mulai menceritakan kisahnya kepada mereka yang tertarik (dan tampaknya ada banyak dari mereka yang tertarik).[2]

Setibanya di London, Ayuba tetap melaksanakan ajaran Islam. Selain itu, Ayuba juga memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang Muslim yang telah menempa pendidikan agama dari sejak usia muda, sebagaimana yang dilaporkan oleh Bluett pada tahun 1734, di Inggris Ayuba menulis tiga buah salinan Alquran.

Dia menulis Alquran “tanpa bantuan salinan (Alquran) lainnya, dan tanpa melihat ke salah satu dari ketiganya ketika dia menulis yang lain,” catat Bluett. Artinya, dia menulis salinan Alquran-Alquran itu hanya benar-benar mengandalkan ingatannya.[3]

Ayuba juga membantu Sir Hans Sloane, seorang dokter, yang juga merupakan seorang kolektor, pendiri Museum Inggris, dan Presiden the Royal Geographical Society. Di museum, Ayuba membantunya untuk mengorganisir koleksi-koleksi naskah berbahasa Arabnya.[4] Bukan hanya sebatas itu, karena sekarang Ayuba sudah bisa berbahasa Inggris, dia juga membantu Sir Hans untuk menerjemahkan bahasa Arab ke Inggris.[5]

Di Inggris Ayuba menjadi benar-benar terkenal setelah orang-orang membaca tentang kisah hidupnya. Ayuba adalah seorang selebritis alamiah dengan segala yang dimilikinya, sehingga menjadikan buku tentang kisah hidupnya menjadi buku terlaris pada abad ke-18.[6]

Penasaran dengan kemampuan literasi, latar belakang kebangsawanan, dan perilaku Ayuba yang santun, salah satu keluarga kerajaan Inggris menjadi sangat ingin bertemu dengannya.[7] Ayuba diundang menjadi tamu kehormatan Duke of Montagu, dia diajak ke rumahnya dan menjadi bersahabat dengannya.[8]

Perdebatan Teologis

Suatu waktu, beberapa penyokong dana selama Ayuba di Inggris berharap dapat mengajak Ayuba untuk pindah ke agama Kristen, dan mereka memberinya salinan Perjanjian Baru dalam terjemahan bahasa Arab. Tapi Ayuba sudah akrab dengan kisah Yesus, yang digambarkan dalam Alquran sebagai seorang nabi dan bukan sebagai penjelmaan Tuhan dalam bentuk manusia.

Ayuba, seperti kebanyakan Muslim lainnya, setuju dengan para sponsor Kristennya bahwa Yesus dilahirkan dari Perawan Maria, memiliki mukjizat, dan akan datang kembali pada akhir zaman. Tetapi dia menolak doktrin Kristen tentang Tritunggal, kepercayaan bahwa Allah, meskipun pada intinya satu, tapi juga merupakan tiga “pribadi”, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus.

Lalu setelah Ayuba membaca Injil dengan teliti dan sangat berhati-hati, Ayuba memberi tahu teman-teman Kristennya, secara akurat, bahwa dia tidak menemukan penyebutan “Tritunggal” dalam kitab suci itu. Ayuba dengan cepat, menggunakan teks suci Kristen itu sendiri untuk mendukung pandangan teologis Islamnya tentang monoteisme, kepercayaan pada satu Tuhan.

Dan memang, menurut Edward E. Curtis IV, seorang sejarawan yang menulis kisah tentang Ayuba, meskipun Injil Matius memerintahkan pengikut Yesus untuk membaptis seluruh dunia dalam nama “ayah, anak, dan roh kudus,” kata “tritunggal” itu sendiri tidak pernah diucapkan dalam Perjanjian Baru.

Ayuba juga lalu memperingatkan mereka untuk menghindari penggambaran citra manusia dengan Tuhan, bahkan terhadap Yesus itu sendiri, yang mana dalam perspektifnya adalah seorang nabi (Isa). Ayuba sangat kritis — paling tidak menurut Bluett yang merupakan seorang pendeta Anglikan — terhadap tradisi “penyembahan berhala” Katolik Roma, yang mana sebelumnya telah dia amati di suatu kota di Afrika Barat.[9]


Namun demikian, dengan segala hal yang dia dapat di Inggris, sebagaimana telah diduga Ayuba sebelumnya, kedatangannya ke Inggris bukanlah sesuatu yang gratis. Dunia perbudakan sejatinya adalah sebuah bisnis. Orang-orang yang telah membebaskannya kelak akan meminta imbalan balik kepada Ayuba. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Lowcountry Digital History Initiative, “Ayyuba Suleiman Diallo (Job Ben Solomon) (1701-1773)”, dari laman https://ldhi.library.cofc.edu/exhibits/show/african-muslims-in-the-south/five-african-muslims/ayyuba-suleiman-diallo, diakses 23 November 2019.

[2] Hassam Munir, “’Allah. Muhammad.’ Ayuba Diallo’s Long Journey Back to Africa”, dari laman http://www.ihistory.co/slave-of-allah-alone-ayuba-diallos-return-to-africa/, diakses 22 November 2019.

[3] Lowcountry Digital History Initiative, Loc.Cit.

[4] Hassam Munir, Loc.Cit.

[5] Sylviane A. Diouf, Servants of Allah: African Muslims Enslaved in the Americas (New York University Press, 2013), hlm 233.

[6] Edward E. Curtis IV, Muslims in America (Oxford University Press, 2009), hlm 3.

[7] Sylviane A. Diouf, Loc.Cit.

[8] Hassam Munir, Loc.Cit.

[9] Edward E. Curtis IV, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*