Mozaik Peradaban Islam

Ayuba Suleiman Diallo (6): Surat untuk Sang Ayah

in Tokoh

Last updated on November 23rd, 2019 02:09 pm

Ayuba menulis surat untuk ayahnya dalam bahasa Arab. Surat itu tidak sampai ke ayahnya, namun kepada seorang bangsawan Inggris, James Oglethorpe. Di luar dugaan, setelah membaca terjemahannya, Oglethorpe menebus kebebasan Ayuba.

Surat Ayuba untuk ayahnya. Foto: British Library

Setelah dibawa kembali dari penjara oleh Tolstoy, Ayuba Suleiman Diallo memiliki lebih banyak kebebasan untuk mempraktikkan keyakinannya. Namun ini semua belum cukup baginya, bagaimanapun dia masih tetap menjadi seorang budak. Dia ingin bebas kembali. Dia lalu memutuskan untuk menulis surat kepada ayahnya di Senegal, menjelaskan kepadanya segala sesuatu yang telah terjadi, dan meminta keluarganya untuk menemukan cara untuk membebaskannya.[1]

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Thomas Bluett, penulis biografi Ayuba, “Karena itu dia menulis surat dalam bahasa Arabick kepada ayahnya, memberi tahu tentang kemalangannya, berharap dia masih bisa menemukan cara untuk menebusnya.”

Ayuba, yang tetap berpegang teguh terhadap agamanya, menggunakan anugrah yang diberikan kepadanya langsung kepada pangkalnya. Dia adalah produk murni dari tradisi Islam dan kebangsawanan keluarganya dan, dengan demikian, dia menjadi sebuah contoh yang sempurna dari harga diri, kepercayadirian, dan iman yang tak tergoyahkan.

Selain itu, tidak seperti budak lainnya yang dianggap bodoh oleh para tuannya, Ayuba menggunakan kecerdasannya untuk mengamati dan memahami cara dan alur kerja jaringan perdagangan budak transatlantik. Dia hendak mencari celah dari jaringan tersebut. Ayuba mengatur agar surat yang dia buat dapat sampai kepada ayahnya dengan menggunakan rute yang sama persis pada saat dia pertama diculik dan dibawa dari Afrika ke Amerika.

Ayuba mengirim suratnya kepada Vachell Denton, seorang mediator perdagangan budak, dialah yang telah mengatur jual-beli Ayuba dari Kapten Pike kepada Tolstoy, Tuan pemilik Ayuba sekarang, ketika dia pertama kali tiba di Amerika. Kapten Pike sendiri, adalah seorang pedagang budak yang membeli Ayuba dari para penculiknya, orang-orang suku Mandingo di Afrika. Kepada Denton, Ayuba meminta agar suratnya diserahkan kepada Kapten Pike.

Apa yang dilakukan oleh Ayuba adalah sebuah langkah yang sangat berani dan bukannya tanpa resiko: Ayuba menggunakan orang-orang yang sama yang telah memperbudaknya dan memperlakukannya seperti barang dagangan untuk mendapatkan kebebasannya.[2]

Lalu apa yang membuat Ayuba berpkiran bahwa orang-orang ini mau membantu untuk mendapatkan kebebasannya? Jawabannya adalah karena ini semua urusannya dengan uang. Menurut Ayuba, mereka tidak pernah peduli tentang perbudakan itu sendiri. Mereka lebih peduli tentang uang yang mereka hasilkan darinya. Jika dia bisa meyakinkan mereka bahwa mereka akan diberi imbalan yang cukup untuk membantunya, mereka mungkin akan melakukannya.[3]

Namun ketika surat itu hendak diberikan kepada Pike, dia sudah berangkat ke Inggris. Denton kemudian menitipkan surat itu kepada Kapten Hunt yang akan berangkat ke Inggris, untuk diberikan kepada Pike setibanya di sana. Sayangnya, ketika surat itu sampai di London, Kapten Pike sekali lagi sudah pergi ke pantai barat Afrika, untuk membawa pria, wanita, dan anak-anak Afrika lainnya ke dalam kapalnya.[4]

Hunt kemudian menunjukkan surat itu kepada wakil gubernur Royal African Company, James Oglethorpe, mantan anggota Parlemen dan seorang dermawan.[5] Oglethorpe juga merupakan seorang bangsawan Inggris yang telah mendirikan koloni Inggris di Georgia, Amerika, pada tahun 1732.[6]

Lukisan James Oglethorpe, oleh Alfred Edmund Dyer, sekitar tahun 1735.

Melihatnya, keingintahuan Oglethorpe terusik, dia lalu meneruskan surat itu ke Universitas Oxford, untuk diterjemahkan oleh John Gagnier, seorang orientalis asal Prancis yang menjadi professor bahasa Ibrani dan Arab di universitas tersebut.[7] Saat membaca terjemahannya, Oglethorpe memutuskan untuk membeli kebebasan Ayuba dari Tolstoy.[8]

“Tidak ada baiknya bagi seorang Muslim hidup di negara Kristen,” itulah salah satu kutipan kalimat Ayuba dalam suratnya. Selain itu dia juga meminta agar diumumkan kepada orang-orang Bundu, bahwa dia masih hidup, dan dia memohon kepada penguasa negara dan keluarganya untuk memastikan bahwa kedua istrinya tidak menikah lagi.[9]

Pada Juni tahun 1732, setelah selama delapan belas bulan dalam masa perbudakan di Amerika, Ayuba ditebus seharga empat puluh lima poundsterling Inggris oleh Oglethorpe. Menurut sejarawan Sylviane A. Diouf, Ayuba dapat terbebas dari perbudakan karena dua ciri khas seorang Muslim.

Pertama, fakta bahwa dia telah menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim ketika dibawa keluar dari penjara memberi kesan pada orang-orang yang mencoba mencari tahu siapa dirinya. Kedua, karena, sebagai seorang Muslim, dia terpelajar dan dapat menggunakan pemahaman dan analisanya yang tidak dimiliki oleh pada umumnya budak-budak Afrika lainnya.

Sebagaimana ditekankan oleh beberapa penulis Eropa, ketika seorang Afrika menulis dalam bahasa Arab seperti Alquran, maka kedudukannya hampir mirip dengan orang Eropa yang mampu menulis dalam bahasa Latin, ada nilai lebih di sana.

Namun, sementara orang Eropa tidak secara rutin menulis korespondensi mereka dalam bahasa Latin, lain halnya dengan Muslim Afrika Barat yang memang menulis dalam bahasa Arab, bahkan bagi mereka yang diperbudak jauh dari tanah kelahiran mereka.

Dan untungnya, Ayuba menulis suratnya dalam bahasa Arab, bukan dalam bahasa Pulaar (bahasa tradisional suku Fulani) yang tidak mungkin diterjemahkan di Oxford. Bagi Ayuba, melek huruf merupakan tiket untuk lolos dari kehidupan perbudakan di Amerika dan kembali ke kebebasan di Senegal, kampung halamannya.[10]

Namun, kisah kebahagiaan Ayuba masih belum dapat dia raih, dia harus menempuh perjalanan dulu dengan kapal ke Inggris. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Hassam Munir, “’Allah. Muhammad.’ Ayuba Diallo’s Long Journey Back to Africa”, dari laman http://www.ihistory.co/slave-of-allah-alone-ayuba-diallos-return-to-africa/, diakses 22 November 2019.

[2] Sylviane A. Diouf, Servants of Allah: African Muslims Enslaved in the Americas (New York University Press, 2013), hlm 87, 192.

[3] Hassam Munir, Loc.Cit.

[4] Sylviane A. Diouf, Loc.Cit.

[5] Ibid.

[6] Lowcountry Digital History Initiative, “Ayyuba Suleiman Diallo (Job Ben Solomon) (1701-1773)”, dari laman https://ldhi.library.cofc.edu/exhibits/show/african-muslims-in-the-south/five-african-muslims/ayyuba-suleiman-diallo, diakses 22 November 2019.

[7] Joseph Jacobs, M. Seligsohn, “Gagnier, John”, dari laman http://www.jewishencyclopedia.com/articles/6463-gagnier-john, diakses 22 November 2019.

[8] Sylviane A. Diouf, Loc.Cit.

[9] British Library, “Letter by Ayuba Suleiman Diallo”, dari laman https://www.bl.uk/collection-items/ayuba-suleiman-diallo-letter, diakses 22 November 2019.

[10] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*