Mozaik Peradaban Islam

Bai’at Aqabah (1)

in Monumental

Jabir bin Abdullah melaporkan; “Nabi SAW memperkenalkan dirinya dan bersabda: Apakah tidak ada seorangpun yang mau membawaku kepada kaumnya? Orang Quraisy menghalangi aku menyampaikan Firman Tuhan ku

—Ο—

 

Mekkah, tahun 620 M, atau sebelas tahun sejak wahyu pertama turun di Gua Hira. Alih-alih membaik, situasi yang dihadapi Rasulullah SAW kian memburuk. Beliau SAW dan kaum Muslimin diboikot di Syi’ib Abi Thalib. Semua akses makanan dan minuman di tutup ke kawasan itu, dan orang-orang Quraisy juga sepakat untuk tidak melakukan jual-beli ataupun menikahkan putra-putrinya dengan pengikut Muhammad SAW. Kondisi semakin memburuk tatkala dua orang terdekat yang paling Beliau SAW kasihi meninggal dunia di tahun yang sama, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Keduanya, adalah bentang kokoh yang melindungi, sehingga respon jahat kaum kafir Mekkah tidak pernah terlalu frontal terhadap dakwah Beliau SAW. Tahun ini dikenal juga sebagai tahun kesedihan bagi Rasulullah SAW.

Menyusul wafatnya Abu Thalib sebagai pemimpinan klan Bani Hasyim, tidak ada satupun figure yang cukup kuat menggantikan beliau. Situasi ini dimanfaat Abu Lahab yang tidak lain sosok yang paling memusuhi Nabi SAW, untuk naik ke puncak kepemimpinan Bani Hasyim. Maka tak ayal, seketika tekanan terhadap dakwah Rasulullah SAW meningkat drastic. Bila sebelumnya kaum kafir Mekkah hanya berani mengolok-olok Nabi dan pengikutnya, maka setelah wafatnya Abu Thalib dan naiknya Abu Lahab, mereka mulia berani menyakiti tubuh Nabi dan berbuat keji pada Beliau SAW.

Sebagaimana pernah diulas oleh Ganaislamika.com pada serial artikel “Perang Badr”[1], sistem ashobiyah yang dianut oleh masyarakat jahiliyah di Mekkah demikian mengakar. Setiap anggola klan terikat kewajiban untuk tunduk dan setia pada klan dan pimpinannya masing-masing sebagai satu-satunya cara bertahan hidup di alam gurun yang ganas. Tidak ada satupun anggota klan yang bisa menghindar dari kewajiban ini. Andaipun ada yang bisa melepaskan diri dari kewajiban tersebut, maka ia akan dilepaskan dari ikatan kesukuan, yang dengan demikian tiap orang bebas menghinanya, memperbudak, bahkan membunuhnya tanpa perlindungan.

Situasi seperti inilah yang dulu dialami oleh Rasulullah SAW ketika pemimpin Bani Hasyim Abu Thalib, wafat dan digantikan oleh Abu Lahab. Beliau SAW diusir dari klannya dan hidup tanpa perlindungan di tengah lingkungan padang pasir yang ganas. Ini sebabnya beliau mendatangi berbagai klan di luar Mekkah untuk mencari dukungan dari mereka.

Sebagaimana sejarah mencatat, di tahun ini juga Rasulullah SAW memutuskan untuk perti ke Thaif dan berdakwah di sana. Dakwah ini berujung pengusiran yang kasar dari masyarakat Thaif pada sosok mulia ini. Beliau di usir sambil dilempari batu, sehingga menyebabkan darah menetas dari wajah beliau.

Jabir bin Abdullah melaporkan; “Nabi SAW memperkenalkan dirinya dan bersabda: Apakah tidak ada seorangpun yang mau membawaku kepada kaumnya? Orang Quraisy menghalangi aku menyampaikan Firman Tuhan ku[2]

Tapi Allah SWT tidak pernah meninggalkan mahluk kesayanganNya. Hanya berselang 2 bulan setelah pertistiwa Thaif, di musim haji tahun 620 Masehi, beliau bertemu dengan 6 orang peziarah dari Madinah yang sedang menunaikan Haji di sana.[3] Enam orang tersebut hingga hari ini tercatat namanya, yaitu : As’ad bin Zurarah, ‘Auf bin Harits bin ‘Afra, Rafiq bin Malik bin ‘Ajlan, Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah, ‘Uqbah bin ‘Amir bin Nabiy, dan Jabir bin Abdullah. Keenam orang ini menyambut baik seruan Rasulullah, dan mengucapkan syahadat pada waktu itu juga.[4]

Dalam Sirah Nabawiyah Ibn Hisyam dikisahkan bahwa telah terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan orang-orang Madinah tersebut:[5]

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari orang-orang tua kaumnya yang berkata, “Ketika Rasulullah SAW bertemu dengan mereka, beliau bertanya kepada mereka, ‘Siapa kalian?‘ Mereka menjawab, ‘Kami berasal dari Al-Khazraj.’ Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, ‘Apakah kalian berasal dari teman-teman orang-orang Yahudi?‘ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah SAW bersabda; ‘Bagaimana kalau kalian duduk sebentar agar aku bisa berbicara dengan kalian?‘ Mereka menjawab, ‘Ya.’

Mereka pun duduk bersama Rasulullah SAW. Beliau ajak mereka kepada agama Allah Azza wa Jalla, menjelaskan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Di antara hal yang diperbuat Allah kepada mereka sehingga masuk Islam ialah bahwa orang-orang Yahudi menetap bersama mereka di negeri mereka. Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang diberi kitab dan ilmu, sedang orang-orang Al-Khazraj adalah orang-orang musyrik dan penyembah berhala. Orang-orang Yahudi berkuasa atas orang-orang Al-Khazraj di negeri mereka. Jika terjadi persengketaan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Al-Khazraj, orang-orang Yahudi berkata, ‘Sesungguhnya zaman kedatangan nabi yang diutus telah dekat masanya. Kita akan mengikutinya dan dengannya kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap orang-orang Ad dan Iram.‘ Ketika Rasulullah SAW berbicara dengan orang-orang Al-Khazraj tersebut dan mengajak mereka kepada Islam, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Hai kaumku, ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya inilah Nabi yang dijanjikan orang-orang Yahudi kepada kalian. Oleh karena itu, kalian jangan kalah cepat kepadanya dari orang-orang Yahudi.’

Mereka menerima ajakan Rasulullah SAW kepada mereka untuk membenarkan beliau dan menerima Islam yang beliau tawarkan kepada mereka. Mereka berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya kami meninggalkan sebuah kaum dan tidak ada kaum yang terlibat permusuhan dan kejahatan sedahsyat mereka. Mudah-mudahan Allah mendamaikan mereka denganmu. Kita akan mendatangi mereka, kemudian mengajak mereka kepada perintahmu dan kami tawarkan kepada mereka agama ini yang kami dapatkan darimu. Jika Allah menyatukan mereka dalam agama ini, maka tidak ada orang yang lebih agung darimu.’ Usai berkata seperti itu, mereka mohon pamit dari Rasulullah SAW untuk pulang ke negeri mereka dalam keadaan beriman dan membenarkan Rasulullah SAW.”

Sebagai catatan, ‘Aus dan Khazraj adalah dua suku besar yang paling berpengaruh di Madinah pada masa itu. Namun permusuhan di antara mereka sudah berlangsung berabad-abad. Selama berabad-abad itu, kedua suku ini hanya melakukan  gencatan senjata untuk menghentikan sementara pertempuran, dan tanpa sekalipun berdamai. Perang terakhir yang dilakukan oleh kedua suku ini yaitu perang Bu’ats yang terjadi 5 tahun lalu sebelum Bai’at Aqabah pertama. Perang ini dimenangkan oleh klan ‘Aus dan hampir memusnahkan seluruh klan Khazraj. Permusuhan dan dendam kesumat yang sudah berlangsung berabad-abad ini hanya bisa dikonversi menjadi persaudara oleh arbitrase kenabian. [6] (AL)

Bersambung…

Bai’at Aqabah (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://ganaislamika.com/perang-badr-8/

[2] Lihat, O. Hashem, Muhammad Sang Nabi, Jakarta, Ufuk Press, 2004, hal. 148

[3] Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Allah Azza wa Jalla hendak memenangkan agama-Nya, memuliakan Nabi-Nya dan memenuhi janji-Nya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam, maka pada musim tahun itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan beberapa orang Anshar. Beliau menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab seperti yang biasa beliau lakukan pada musim-musim haji sebelumnya. Ketika beliau sedang berada di Al-Aqabah, beliau bertemu dengan beberapa orang dari Al-Khazraj, karena Allah menghendaki kebaikan untuk mereka.” Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 323

[4] Lihat, O. Hashem, Op Cit, hal. 90-91

[5] Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Op Cit.

[6]  Lihat, O. Hasem, Muhammad Sang Nabi, Jakarta, Ufuk Press, 2004, Hal 118-119