Mozaik Peradaban Islam

Bai’at Aqabah (3)

in Monumental

“Mereka bertanya, “apakah engkau tidak akan meninggalkan kami untuk kembali pada kaum mu jika kemakmuran telah tercapai?” Rasulullah yang mulia tersenyum dan berkata, “Tidak. Tidak akan pernah. Darahmu adalah darahku. Aku milikmu dan engkau milikku. Kini, ulurkan tangan kalian”.

—Ο—

 

Bai’at Aqabah pertama, atau sumpah pemberian dukungan masyarakat Madinah kepada Rasulullah SAW adalah terobosan yang sangat penting dalam sejarah Islam. Butir-butir dalam Bai’at tersebut tidak meliputi bantuan militer, karena kebutuhan itu belum dianggap perlu. Untuk sementara waktu, Islam harus menancapkan akarnya di Madinah melalui perekrutan baru yang lebih banyak. Lagi pula, Islam tidak menyukai peperangan kecuali jika dianggap perlu. Walaupun Nabi menyadari bahwa kaum Quraisy tidak akan membiarkan Islam bergerak secara bebas di Arabia tanpa upaya untuk membungkamnya dengan segala cara dan mengakhirinya, namun konfrontasi seperti itu di saat itu belum akan terjadi. Oleh karena itu, sumpah itu meliputi apa yang bisa diistilahkan dengan ‘program damai Islam.’[1]

Setelah mereka mengucapkan ikrar, keduabelas orang tersebut kembali ke Madinah. Sehari setelahnya Rasulullah SAW mengirimkan Mush’ab bin ‘Umair bin Hasyim bin ‘Abdul Manaf ke Madinah. Misinya adalah untuk mendidik kaum Muslim Madinah dalam agama baru mereka, mengajarkan al-Qur’an dan semua yang mereka butuhkan untuk memahami Islam. Dia diperintahkan untuk menyeru orang agar memeluk Islam. Dia juga memimpin kaum Muslim Madinah dalam menunaikan salat.9 Karena kenangan tentang pertempuran yang baru terjadi antara kedua suku, Aws dan Khazraj, masih segar dalam ingatan mereka, maka tak satupun dari kelompok itu bisa menemukan kemudahan untuk dipimpin salat oleh seseorang yang berasal dari suku lain. Mus’ab memang pilihan yang tepat. Dia juga mempunyai tugas tambahan, yaitu: mempelajari situasi Madinah dari dekat dan membuat penilaian langsung ihwal reaksi yang paling mungkin terjadi. Dengan demikian, Nabi bisa langsung membuat keputusan berdasarkan informasi tangan-pertama tersebut.

Mush’ab bin ‘Umair dikenal sangat lembut, fasih dan penyabar dalam menyampaikan risalah Islam. Menurut O. Hasem, hanya setahun Mush’ab bin ‘Umair berdakwah di Madinah, Islam berkembang dengan sangat pesat di sana. Hingga hampir semua rumah di Madinah saat itu sudah ada muslim di dalamnya. Dalam sejarah Islam, Mush’ab bin ‘Umair dikenal sebagai da’i pertama, ia mendapatkan kesyahidan 4 tahun kemudian pada perang Uhud tahun 3 Hijriah.[2]

Alhasil, pada musim haji selanjutnya, yaitu pada tanggal 28 Juni 622 Masehi, jumlah penduduk Madinah yang datang berbaiat pada Rasulullah SAW membengkak jumlahnya 6 kali lipat. Bai’at ini dilakukan di tempat yang sama, sehingga kita mengenal peristiwa ini sekarang dengan Bai’at Aqabah kedua. Hampir semua sejarahwan sepakat jumlah mereka yang berbai’at pada waktu itu 75 orang, terdiri atas 73 laki-laki dan 2 perempuan.[3]

Isi Bai’at Aqabah kedua ini hampir sama dengan yang pertama, hanya ada sedikit penambahan, yaitu janji masyarakat Madinah untuk membantu kaum muslimin, bahkan dengan mengangkat senjata, dan melawan serangan musuh.

Syed Ameer Ali merekam dialog yang mengharukan antara Rasulullah SAW dengan masyarakat Madinah ini sebagai berikut :

“Bicaralah, ya Muhammad,” pinta mereka, “katakan apa yang baik bagimu dan Tuhan mu”.

Rasulullah pun memulai dengan membaca beberapa ayat Al-Quran seperti biasa. Beliau kemudian mengajak orang-orang Yarsrib (Madinah) untuk berbakti kepada Allah SWT. Beliau juga berbicara tentang rahmat yang dibawa agama Islam. Ikrar yang dulu di ikrarkan sekali lagi, bahwa mereka tidak akan menyembah wujud lain selain Tuhan; bahwa mereka akan menjalankan perintah Islam; bahwa mereka akan mematuhi Muhammad dalam hal yang benar dan akan membelanya sebagaimana mereka membela anak istrinya sendiri.

Kemudian mereka bertanya, “Jika kami mati di jalan Tuhan, apa yang akan kami peroleh?”

“Kebahagiaan di akhirat”, jawab Rasulullah

Mereka balik bertanya, “apakah engkau tidak akan meninggalkan kami untuk kembali pada kaum mu jika kemakmuran telah tercapai?”

Rasulullah yang mulia tersenyum dan berkata, “Tidak. Tidak akan pernah. Darahmu adalah darahku. Aku milikmu dan engkau milikku. Kini, ulurkan tangan kalian”.

Demikianlah peristiwa monumental itu terjadi. Bagaimanapun, Bai’at Aqabah pertama dan kedua tidak mungkin dipisahkan dari rangkaian episode hijrah Rasulullah SAW. Ikrar suci yang deklarasikan pada kedua Bai’at ini, telah melegakan hati Sang Nabi dan kaum muslimin. Bai’at ini menjadi kunci kebebasan syiar Islam yang selama belasan tahun diintimidasi, diboikot dan terkungkung dalam lembah kecil di sudut kota Mekah.

Rentang waktu dan peristiwa yang terjadi dalam dua Bai’at Aqabah ini menyediakan landasan yang kokoh bagi terbangunnya sistem masyarakat Islam. Meski secara kasat mata kondisi kaum muslimin Mekkah semakin hari semakin mengkhawatirkan, kaum kafir Quraisy tidak pernah menyadari, bahwa hanya berjarak 400 Km dari tempatnya, Allah dan Rasul Nya sedang membangun pondasi agung peradaban Islam. Dan orang-orang Madinah, yang kini dipenuhi oleh semangat Islam yang membumbung tinggi, dengan rindu yang menggelora pada Sang Nabi, sedang menunggu dibatas kota, untuk memulai satu revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia. (AL)

 

Berikut ini kami lampirkan nama orang-orang yang menghadiri Bai’at Aqabah Kedua berdasarkan riwayat dari Ibn Hisyam dalam Sirah Nabiwiyah Ibn Hisyam[4] dan catatan O. Hasem[5] sebagai pembanding:

 

No Nama Keterangan
1 As’ad bin Zurarah bin Udas bin Ubaid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Panggilan As’ad bin Zurarah adalah Abu Umamah. Pemimpin Klan Kazraj
2 Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq. Pemimpin Klan Kazraj
3 Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru’ul Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Pemimpin Klan Kazraj. Dia termasuk naqib. la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
4 Abdullah bin Rawahah bin Umuru’ul Qais bin Amr bin Umuru’ul Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Pemimpin Klan Kazraj. Dia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya, kecuali penaklukan Makkah dan sesudahnya. la gugur sebagai syahid di Perang Mu’tah dengan jabatan panglima perang bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am.
5 Al-Barra’ bin Ma’rur bin Shakr bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid bin Adi bin Ghanm. Pemimpin Klan Kazraj. Dia termasuk naqib. Bani Salimah mengklaim bahwa Al-Barra’ bin Ma’rur adalah orang yang pertama kali memegang tangan Rasulullah SAW dan menentukan syarat kepada beliau. Ia meninggal dunia sebelum kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah.
6 Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa’labah bin Haram. la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
7 Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ashram bin Fihr bin Tsa’labah bin Ghanm bin Salim bin Auf. Pemimpin Klan Khazraj. Dia termasuk naqib. Ia ikut Perang Badar dan perang-perang lainnya.
8 Sa’ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Abu Huzaimah bin Tsa’labah bin Tharif bin Al-Khazraj bin Sa’idah. Pemimpin Klan Khazraj. Dia termasuk naqib
9 Al-Mundzir bin Amr bin Khunais bin Haritsah bin Laudzan bin Abdu Wadd bin Zaid bin Tsa’labah bin Jusyam bin Al-Khazraj bin Sa’idah. Pemimpin Klan Khazraj. Dia termasuk naqib. Dia ikut Perang Badar dan Perang Uhud, dan gugur sebagai syahid pada Perang Bi’ru Ma’unah dalam status sebagai panglima perang bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tentang Al- Mundzir bin Amr dikatakan, ‘la berjalan cepat untuk mati.’
10 Usaid bin Hudhair bin Simak bin Atik bin Rafi’ bin Umru’ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal. Pemimpn Klan ‘Aus. la naqib dan tidak ikut Perang Badar.
11 Sa’ad bin Khaitsamah bin Al-Harits bin Malik bin Ka’ab bin An-Nahhath bin Ka’ab bin Haritsah bin Ghanm bin As-Salm bin Umru’ul Qais bin Malik bin Al-Aus.. Pemimpin Klan ‘Aus. Dia ikut Perang Badar bersama Rasulullah ShaJlallahu Alaihi wa Sallam dan gugur sebagai syahid
12 Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar bin Zaid bin Abu Umaiyyah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr Pemimpin Klan ‘Aus. Dia termasuk naqib, ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
13 Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan. Pemimpin. Berasal dari suku Aus. Nama aslinya Malik. la ikut Perang Badar.
14 Salimah bin Salamah bin Waqs bin Zu’bah bin Za’ura’ bin Abdul Asyhal Berasal dari ‘Aus. la ikut Perang Badar.
15 Dzuhair bin Rafi’ bin Adi bin Zaid bin Jusyam bin Haritsah. Klan Kazraj
16 Abu Bardah bin Niyar. Nama aslinya Hani’ bin Niyar bin Amr bin Ubaid bin Amr bin Kilab bin Dahman bin Ghanm bin Dzubyan bin Hamim bin Kahil bin Dzuhl bin Hani bin Baly bin Amr bin Ilhaf bin Qudha’ah. la sekutu Bani Haritsah bin Al-Harits bin Al-Khazraj dan ikut Perang Badar.
17 Nahir bin Al-Haitsam dari Bani Nabi bin Majda’ah bin Haritsah Dari Klan Khazraj
18 Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man bin Umaiyyah bin Al-Burak.

 

 

Klan Khazraj. Menurut Ibn Hisyam, nama Al-Burak ialah Umru’ul Qais bin Tsa’labah bin Amr. Ia ikut Perang Badar. Pada Perang Uhud, ia menjadi komandan pasukan pemanah bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan gugur sebagai syahid di dalamnya.
19 Ma’an bin Adi bin Al-Jadd bin Al-Ajlan bin Haritsah bin Dhabi’ah. Dia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lainnya. Ia gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu
20 ‘Uwaim bin Sa’idah Berasal dari Klan ‘Aus. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq.
21 Abu Ayyub.

 

 

Dia adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Abd bin Auf bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya. Ia meninggal dunia ketika berjihad di wilayah Romawi pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan.
22 Muadz bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Suwad bin Malik bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya. Ibunya bernama Al-Afra’.
23 Sahl bin Atik bin Nu’man bin Amr bin Atik bin Amr. la ikut Perang Badar. Berasal dari Klan Najjar.
24 Aus bin Tsabit Al-Mundzir bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi bin Amr bin Malik.

 

 

Berasal dari Klan Najjar. Dia ikut Perang Badar.
25 Abu Thalhah Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi bin Amr bin Malik. Berasal dari Klan Najjar. Dia ikut Perang Badar.
26 Qais bin Abu Sha’sha’ah..

 

 

Nama Abu Sha’sha’ah adalah Amr bin Zaidbin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin. la ikut Perang Badar. Pada Perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menempatkannya di pasukan garis belakang
27 Amr bin Ghaziyyah bin Amr bin Tsa’labah bin Athiyyah bin Khansa’bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin.

 

Dari Klan Khazraj
28 Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru’ul Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits.

 

 

 

Dari Klan Khazraj. Dia ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
29 Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah bin Julas bin Zaid bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Dari Klan Khazraj. Dia adalah Abu An-Nu’man bin Basyir. la ikut Perang Badar.
30 Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah bin Amr bin Haritsah bin Umru’ul Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits.

 

 

Ikut Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Ia gugur sebagai syahid di Perang Bani Quraidzah. Batu giling dijatuhkan kepadanya dari salah satu istana Bani Quraidzah, kemudian meremukkannya.Tentang kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Khallad mendapatkan dua pahala syahid.”
31 Uqbah bin Amr bin Tsa’labah bin Usairah bin Asirah bin Jidarah bin Auf bin Al-Harits. Ia adalah Abu Mas’ud. Ia peserta termuda di baiat Al-Aqabah Kedua dan meninggal dunia pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia tidak ikut Perang Badar.
32 Ziyad bin Labid bin Tsa’labah bin Sinan bin Amir bin Adi bin Umaiyyah bin Bayadhah. Ia ikut Perang Badar.
33 Farwah bin Amr bin Wadzafah bin Ubaid bin Amir bin Bayadhah. Ia ikut Perang Badar.
34 Khalid bin Qais bin Malik bin Al-Ajlan bin Amir bin Bayadhah. la ikut Perang Badar.
35 Dzakwan bin Abdu Qais bin Khaldah bin Mukhlid bin Amir bin Zuraiq. la pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah dan tinggal bersama beliau di sana, kemudian hijrah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah. Ada yang mengatakan bahwa ia orang Muhajirin sekaligus orang Anshar. la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
36 Ubadah bin Qais bin Amir bin Khaladah bin Makhlad bin Amir bin Zuraiq. Ia ikut Perang Badar.
37 Al-Harits bin Qais bin Khalid bin Amir bin Zuraiq. Ia adalah Abu Khalid. Ia ikut Perang Badar.
38 Bisyr bin Al-Barra’ bin Ma’rur.

 

 

Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Ia meninggal dunia di Khaibar karena memakan makanan beracun bersama Rasulullah SAW. Dialah orang yang ditanya Rasulullah SAW ketika beliau bertanya kepada Bani Salimah, “Siapa pemimpin kalian, wahai Bani Salimah?” Mereka menjawab, “Al-Jadd bin Qais, kendati ia pelit.” Rasulullah SAW bersabda, “Adakah penyakit yang lebih membahayakan daripada penyakit pelit? Pemimpin Bani Salimah adalah orang yang wajahnya putih dan rambutnya keriting, yaitu Bisyr bin Al-Barra’ bin Al-Ma’rur.”
39 Sinan bin Shaifi bin Shakhr bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid.

 

 

Ia ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Khandaq.
40 Ath-Thufail bin An-Nu’man bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid.

 

 

la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Khandaq. Maqil bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khinas bin Sinan bin Ubaid. la ikut Perang Badar
41 Ma’tal bin Mundzir Berasal dari Klan Khazraj
42 Yazid bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khinas bin Sinan bin Ubaid.

 

 

la ikut Perang Badar.
43 Mas’ud bin Yazid bin Sabi’ bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid.

 

 

Dari Klan Khazraj
44 Adh-Dhahhak bin Haritsah bin Zaid bin Tsa’labah bin Ubaid.

 

 

la ikut Perang Badar.
45 Yazid bin Khidzam bin Sabi’ bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid.

 

 

Dari Klan Khazraj
46 Jubar bin Shakhr bin Umaiyyah bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid.

 

 

Dia ikut Perang Badar. (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Jabbar bin Shakhr bin Umaiyyah bin Khinas.”).
47 Ath-Thufail bin Malik bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid. Dia ikut Perang Badar.
48 Ka’ab bin Malik bin Abu Ka’ab bin Al-Qain bin Ka’ab. Dia berasal dari Bani Ka’ab bin Sawad
49 Sulaim bin Amr bin Hadidah bin Amr bin Ghanm.

 

 

Dia ikut Perang Badar.
50 Quthbah bin Amir bin Hadidah bin Ghanm bin Amr. Dia ikut Perang Badar.
51 Yazid Abu Al-Mundzir bin Amr bin Hadidah bin Amr bin Ghanm. Dia ikut Perang Badar.
52 Ka’ab bin Amr bin Abbad bin Amr bin Ghanm. Dia ikut Perang Badar.
53 Shaifi bin Sawad bin Abbad bin Amr bin Ghanm. Dari Klan Khazraj
54 Tsa’labah bin Ghanmah as-Salmi.

 

Dia ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Khandaq.
55 Amr bin Ghanmah as-Salmi
56 Abdullah bin Arris  as-Salmi Dia sekutu Bani Nabi bin Amr dari Qudha’ah.
57 Khalid bin Amir as-Salmi

 

58 Jabir bin Abdullah bin Amr.

 

59 Tsabit bin Al-Jidz’u. Al-Jidz’u adalah Tsa’labah bin Zaid bin Al-Harits bin Haram. Tsabit ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Thaif.

 

60 Umair bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Zaid bin Al-Harits bin Haram. Dia ikut Perang Badar. (Ibnu Hisyam berkata, “Umair adalah anak Al- Harits bin Labdah bin Tsa’labah.”).

 

61 Khadij bin Salamah bin Aus bin Amr bin Al-Farafir. sekutu Bani Haram bin Ka’ab dari Bali
62 Muadz bin Jabal bin Amr bin Aidz bin Adi bin Ka’ab bin Amr bin Adi bin Sa’ad bin Ali bin Asad.

 

Ada yang mengatakan Asad adalah anak Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj. Muadz bin Jabal hidup di Bani Salimah. la ikut Perang Badar dan perang-perang lainnya. Dia meninggal di Amwas pada tahun wabah penyakit tha ‘un di Syam pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. la dinasabkan kepada Bani Salimah karena ia saudara seibu dengan Sahl bin Muhammad bin Al-Jidd bin Qais bin Shakhr bin Khansa’ bin Sinan bin Ubaid bin Adi bin Ghanm bin Ka’ab bin Salimah.
63 ‘Aus bin ‘Ubad Dari Klan Khazraj
64 Ghanam bin ‘Auf Dari Klan Khazraj
65 Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim bin Auf. Ia termasuk orang yang pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah, kemudian menetap bersama beliau di sana. Jadi ia orang Muhajirin sekaligus Anshar. Ia gugur sebagai syahid di Perang Uhud.
66 Abu Abdurrahman bin Yazid bin Tsa’labah bin Khazmah bin Ashram bin Amr bin Ammarah.

 

Ia sekutu Bani Auf bin Al-Khazraj dari Bani Ghushainah dari Baly.
67 Amr bin Al-Harts bin Labdah bin Amr bin Tsa’labah.

 

Dari Klan Khazraj
68 Rifa’ah bin Amr bin Zaid bin Amr bin Tsa’labah bin Malik bin Salim bin Ghanm.

 

 

la ikut Perang Badar. la adalah Abu Al-Walid. (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang berkata Rifa’ah adalah anak Malik dan Malik adalah anak Al-Walid bin Abdullah bin Malik bin Tsa’labah bin Jusyam bin Malik bin Salim”).
69 Uqbah bin Wahb bin Kaldah bin Al-Ja’du bin Hilal bin Al-Harits bin Amr bin Adi bin Jusyam bin Auf bin Buhtsah bin Abdullah bin Gha-thafan bin Sa’ad bin Qais bin Ailan, sekutu Bani Salim bin Ghanm. Dia ikut Perang Badar. la termasuk orang yang pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah. la orang Muhajir sekaligus Anshar.
70 Auf bin Al-Harts bin Rifa’ah bin Savvad bin Malik bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di dalamnya.
71 Muadz bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Savvad bin Malik bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. la ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di dalamnya. Dialah yang membunuh Abu Jahal bin Hisyam bin Al-Mughirah.
72 Imarah bin Hazm bin Zaid bin Laudzan bin Amr bin Abdu Auf bin Ghanm bin Malik An-Najjar. la ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya. la gugur sebagai syahid di Perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
73 Abdullah bin Zaid Manat bin Tsa’labah bin Abdu Rabbihi bin Zaid bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Al-Harits. la ikut Perang Badar. Dialah orang yang bermimpi adzan shalat, kemudian ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang kemudian menyuruhnya adzan.
74 Nasibah binti Ka’ab bin Amr bin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin. Dialah Ummu Imarah.

 

Bersadarkan riwayat Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Abdullah bin Abdur¬rahman bin Abu Sha’sha’ah.

Ummu Imarah ikut perang bersama Rasulullah SAW ditemani saudara perempuannya, suaminya yang bernama Zaid bin Ashim bin Ka’ab, kedua anaknya yaitu Habib bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Anaknya, Habib ditangkap Si Pendusta Musailamah Al-Hanafi. Musailamah Al-Hanafi bertanya kepada Habib, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?’ Habib bin Zaid menjawab, ‘Ya, betul.’ Musailamah Si Pendusta bertanya, ‘Apakah engkau juga bersaksi bahwa aku utusan Allah?’ Habib menjawab, ‘Aku tidak mendengar.’ Setelah itu, Musailamah Si Pendusta memotong-motong tubuh Habib bin Zaid hingga ia meninggal dunia karenanya. Jika nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan pada Habib bin Zaid, ia beriman kepada beliau dan mengucapkan shalawat untuk beliau. Jika nama Musailmah Si Pendusta disebutkan padanya, ia berkata, ‘Aku tidak mendengar.’ Kemudian Ummu Imarah berangkat bersama kaum Mus-limin menuju Yamamah. Ia terjun langsung ke medan perang hingga akhirnya Allah menewaskan Musailamah. Ia pulang dari Yamamah membawa dua belas luka akibat tikaman dan tebasan senjata.”

 

75 Asma’ binti Amr bin Adi bin Nabi bin Amr bin Sawad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salimah Dia berasal dari Bani Salimah, dikenal dengan nama Ummu Mani’.
 

Ibnu Ishaq berkata, “Jadi total orang-orang yang hadir dalam baiat Al-Aqabah Kedua dari Al-Aus dan Al-Khazraj adalah tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Para ulama berkata bahwa kedua wanita tersebut ikut membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau tidak menjabat tangan wanita dalam baiat. Beliau hanya mengambil bait dari mereka. Jika wanita-wanita telah menyatakan baiat, beliau bersabda, ‘Pergilah, karena aku telah membaiat kalian.’

 

Selesai

Sebelumnya:

Bai’at Aqabah (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://ganaislamika.com/sirah-rasul-terobosan-besar-hijrah-3/

[2] Lihat, O. Hasem, Muhammad Sang Nabi, Jakarta, Ufuk Press, 2004, Hal. 92

[3] Dua perempuan ini bernama Nasibah binti Ka’ab atau dikenal dengan  panggilan Ummu ‘Ammarah, dan Asma’ binti ‘Amru dengan panggilan Ummu Mani’. Lihat, O. Hasem, Ibid, Hal. 93

[4] 8Lihat, Sirah Nabawiah Ibn Hisyam (jilid 1), Fadhli Bahri, Lc (Penj), Jakarta, Batavia Adv, 2000, hal. 340-346

[5] Lihat, O. Hasem, Muhammad Sang Nabi, Jakarta, Ufuk Press, 2004,hal. 93-96