Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (1): Temujin (1)

in Sejarah

Bangsa Mongol dikenal sebagai bangsa beringas yang gemar berperang. Kekhalifahan Abbasiyah adalah salah satu korban mereka. Namun, bangsa ini dikemudian hari malah memeluk Islam dan mendirikan Dinasti Islam.

Pegulat Mongolia yang berpakaian tradisional pada hari ini. Photo: Stanislas Guigui/Agence VU

Bangsa Mongol pada masanya pernah menjadi bangsa yang menguasai dunia. Padahal awal mulanya mereka hanyalah kelompok masyarakat nomaden yang tingkat peradabannya tidak semaju peradaban-peradaban lainnya yang jauh lebih besar. Pada puncak kejayaannya, yakni pada akhir abad ke-13, wilayah kekuasaan mereka yang dimulai dari tanah asalnya di padang rumput di Asia Tengah, terus membentang dari Samudra Pasifik di timur sampai ke Sungai Danube dan pantai Teluk Persia di Barat. Wilayah tersebut apabila digabungkan mencapai sekitar 23 juta km persegi.[1]

Dalam sejarah imperium manapun, belum pernah ada imperium yang memiliki wilayah kekuasaan sebesar itu, dalam artian wilayahnya dalam satu bentangan kesatuan, tidak terpisah-pisah.[2] Imperium Inggris memang pernah tercatat sebagai imperium yang wilayah kekuasaannya terbesar di dunia dan rekornya masih belum terkalahkan sampai sekarang, yakni mencapai sekitar 35 juta km persegi. Namun berbeda dengan Mongol, wilayah kekuasaan Inggris terpisah-pisah tidak dalam satu kesatuan bentangan wilayah.[3]

Dalam salah satu kurun waktu kejayaan mereka, bangsa ini ternyata pernah bersentuhan dengan Dunia Islam. Bukan hanya sekedar bertemu, mereka juga berhasil memporakpandakan tatanan mapan struktur masyarakat Islam yang sudah bertahan selama beradad-abad. Kehadiran bangsa Mongol dalam Dunia Islam adalah sebuah titik balik bagi peradaban Islam itu sendiri. Dinasti Abbasiyah yang telah berkuasa dan menjadi khalifah bagi masyarakat Muslim di seluruh dunia selama 500 tahun lebih, dijatuhkan oleh bangsa Mongol pada tahun 1258 M.[4]

Setelah menjatuhkan Dinasti Abbasiyah, bangsa Mongol kemudian mengganti metode administratif kekhalifahan dengan metode yang telah mereka terapkan di China dan Mongolia. Tetapi di lain sisi, mereka juga dengan cepat mengadopsi praktik birokrasi setempat dan memadukannya dengan tradisi bangsa nomaden yang biasa hidup di padang rumput yang luas.[5] Pada waktunya, bangsa Mongol kemudian akan menaklukkan setiap kerajaan dan kota Muslim mulai dari Sungai Indus hingga Mediterania. Mereka telah menaklukkan hampir semua tanah Muslim di Asia; hanya Semenanjung Arab dan Afrika Utara saja yang tetap berada di luar kekuasaan mereka.[6]

Seiring dengan berjalannya waktu, uniknya, nantinya seluruh kekaisaran Mongol yang berada di Timur Tengah akan beralih menjadi kerajaan Islam. Padahal bangsa Mongol aslinya adalah penganut animisme yang memuja alam seperti Langit Biru Abadi, Cahaya Keemasan Matahari, dan segudang kekuatan spiritual alam lainnya. Bangsa Mongol membagi alam dunia menjadi dua bagian, yakni bumi dan langit.[7]

Seri artikel Bangsa Mongol dan Dunia Islam akan mengulas sejarah perjalanan bangsa Mongol mulai dari masa pendiri Kekaisaran Mongol, Genghis Khan, hingga para anak keturunannya yang di kemudian hari, baik kaisar maupun rakyatnya akhirnya menjadi pemeluk agama Islam sehingga melahirkan dinasti-dinasti Mongol Islam seperti Golden Horde, Dinasti Timurid, Dinasti Mughal, dan   Ilkhanate.

Temujin, Sang Pendiri Kekaisaran Mongol

Asal-muasal berdirinya Kekaisaran Mongol tidak dapat dipisahkan dari sosok pendirinya yang bernama Temujin, yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Genghis Khan. Temujin dilahirkan di lingkungan suku Kiyan Borjigin, yang di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan suku Mongol, kemungkinan dia dilahirkan sekitar tahun 1167.[8] Versi lain menyebutkannya pada tahun 1162. Ayah Temujin adalah seorang prajurit Kiyan Borjigin, dia bernama Yesugei. Ibu Temujin merupakan seorang wanita muda bernama Hoelun, diperkirakan usianya pada waktu itu masih sekitar 16 tahun. Hoelun berasal dari suku Olkhunuud yang terkenal akan kecantikan para wanitanya.[9]

Bagi suku-suku yang hidup di dataran Mongolia, peperangan antar suku adalah hal yang biasa. Namun ketimbang sebagai peperangan untuk memperebutkan dominasi atau perang yang berkepanjangan karena persoalan ideologis, perang di antara mereka lebih untuk kepentingan penjarahan. Balas dendam sering dijadikan alasan untuk menjarah, tetapi jarang sekali menjadi motivasi inti. Tolak ukur keberhasilan perang ditentukan dari seberapa banyak mereka dapat membawa barang jarahan yang nantinya akan dibagikan untuk keluarga dan teman-teman mereka.[10]

Jadi ini bukan persoalan kehormatan, harga diri, nasionalisme suku bangsa, atau konsep-konsep abstrak semacam itu. Prajurit yang memperoleh kemenangan memang bangga karena telah berhasil membunuh musuh, namun mereka tidak memiliki budaya seperti mengumpulkan kepala, kulit kepala, atau simbol-simbol yang menunjukkan prestasi atas seberapa banyak mereka telah membunuh. Yang paling penting adalah hasil jarahannya, bukan membunuhnya.[11]

Di antara barang-barang yang dianggap sebagai jarahan, perempuan juga dianggap sebagai barang jarahan. Wanita muda biasanya ditangkap dan dijadikan istri, sementara anak laki-laki dijadikan budak. Wanita yang lebih tua dan anak-anak kecil biasanya dilepaskan. Sementara itu para laki-laki usia produktif, sekiranya dalam perang tidak akan memperoleh kemenangan, mereka lah yang paling awal melarikan diri dengan kuda tercepat. Ketimbang dianggap sebagai tindakan pengecut, mereka memiliki alasan yang lebih rasional. Pertama, mereka adalah orang yang memiliki peluang terbesar untuk dibunuh; dan kedua, mereka berpikir jauh ke depan, mereka mesti selamat, karena mereka adalah tulang punggung suku, keberlangsungan suatu suku ada di tangan mereka. Hal-hal seperti ini sudah menjadi kebudayaan bagi masyarakat Mongolia pada waktu itu.[12]

Hal itu pula yang terjadi pada orang tua Temujin, Yesugei bukanlah suami pertama Hoelun. Yesugei adalah seorang penjarah, dan Hoelun adalah hasil jarahan yang kelak akan dijadikannya sebagai istri.[13] Hal ini penting untuk diceritakan, karena kisah penjarahan dan culik-menculik wanita ini akan menjadi faktor penentu kehidupan Temujin setelah dia dewasa nanti. (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (2): Temujin (2)

Catatan Kaki:

[1] “Mongol empire”, dari laman https://www.britannica.com/place/Mongol-empire, diakses 6 Februari 2019.

[2] Ibid.

[3] Rein Taagepera, Expansion and Contraction Patterns of Large Polities: Context for Russia, (Jurnal International Studies Quarterly (1997) 41), hlm 482.

[4] “ʿAbbāsid dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Abbasid-dynasty, diakses 7 Februari 2019.

[5] Beatrice Forbes Manz, The rule of the infidels: the Mongols and the Islamic world, dalam david O. Morgan dan Anthony Reid (ed), The New Cambridge History of Islam: Volume 3 (Cambridge University Press, 2011), hlm 128

[6] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 7.

[7] Ibid., Chapter 2.

[8] Beatrice Forbes Manz, Loc.Cit.

[9] Jack Weatherford, Ibid., Chapter 1

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*