Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (2): Temujin (2)

in Sejarah

Ketika Temujin dilahirkan, tangan kanannya telah menggenggam gumpalan darah berwarna hitam. Sang Ibu muda, Hoelun, yang sendirian dan gugup, kebingungan. Apakah itu merupakan sebuah tanda tertentu?

Kelahiran Temujin

Sejarah bangsa Mongol dimulai pada sekitar pertengahan abad ke-12. Di salah satu tempat paling terpencil di bentangan bagian dalam Eurasia, di dekat perbatasan Mongolia dan Siberia yang kita kenal hari ini, menurut legenda, bangsa Mongol merupakan penduduk hutan di gunung di wilayah tersebut. Mereka adalah hasil keturunan dari perkawinan Serigala Biru-Abu-abu dengan Kelinci Merah Anggun. Anak keturunan dua hewan mitologi ini kemudian menetap di tepi danau besar di lokasi tersebut dan kelak akan disebut bangsa Mongol.[1]

Kisah di atas, ketimbang dianggap sebagai kisah yang sebenarnya, lebih tepat dianggap sebagai simbolisasi saja, sebab bangsa Mongol merupakan penganut animisme yang ikatan spiritualnya selalu dihubungkan dengan benda-benda yang berada di alam liar seperti matahari, langit, bumi, peristiwa alam, dan juga hewan-hewan. Bisa jadi tokoh hewan di atas merupakan penyimbolan dari tokoh manusia tertentu. Kisah tersebut didapat dari satu-satunya sumber sejarah tertulis bangsa Mongol yang tercatat dalam sebuah dokumen bersejarah yang berjudul Mongqol-un niuča yang artinya adalah Sejarah Rahasia Bangsa Mongol. Dokumen tersebut dibuat setelah kematian Genghis Khan, dan penulisnya sendiri tidak diketahui.[2]

Wilayah awal suku Mongol ini hanya menempati sebagian kecil di timur laut sebuah negara yang sekarang dikenal sebagai Mongolia. Sementara itu, negara Mongolia kini secara keseluruhannya berada di dataran tinggi di utara-tengah Asia. Mongolia berada di luar jangkauan angin yang membawa kelembaban dari Samudra Pasifik yang biasanya membuat subur suatu wilayah dan membentuk peradaban pertanian Asia.

Sebaliknya, angin yang mencapai dataran Mongolia kebanyakan bertiup dari Kutub Utara di barat laut. Angin ini melepaskan sedikit uap air yang mereka bawa ke pegunungan utara dan membuat bagian selatan negara itu menjadi kering, yakni sebuah daerah yang disebut Govi, atau bagi orang luar disebut Gobi. Di antara dataran Gobi yang beriklim keras dan daerah pegunungan yang sedikit basah di utara, terbentang sebuah dataran luas padang rumput yang warnanya menghijau hanya di musim panas dan mendapat siraman air hujan. Di sepanjang stepa inilah para penggembala biasa menggembalakan ternaknya di musim panas untuk merumput.

Meskipun hanya mencapai ketinggian sekitar 3.000 meter dari permukaan laut, Pegunungan Khentii Mongolia terdiri dari beberapa gunung tertua di bumi. Tidak seperti Pegunungan Himalaya yang curam berbatu dan usianya muda, yang hanya bisa dinaiki dengan alat pendakian khusus, Pegunungan Khentii kuno telah dihaluskan oleh jutaan tahun erosi. Sehingga dengan tingkat kesulitan yang sedang, pada musim panas bahkan kuda dan pengendaranya dapat mencapai hampir semua puncaknya. Di setiap sisi pegunungan tersebut terdapat rawa-rawa yang akan membeku dalam musim dingin yang panjang.

Pegunungan Khentii di Mongolia. Photo: Stone Horse Expeditions and Travel

Pada lekukan yang lebih dalam di bagian lereng gunung, salju dan air akan terkumpul sehingga akan membentuk semacam gletser. Sementara itu, di musim panas yang singkat, bagian ini akan berubah menjadi danau biru biru kobalt yang indah. Musim semi kemudian akan mencairkan es dan salju di pegunungan sehingga membuat danau-danau airnya meluap dan membentuk serangkaian sungai kecil yang mengalir keluar ke padang rumput. Pada musim panas yang baik, padang rumput hijau tersebut akan berkilauan seperti zamrud, namun pada musim panas yang buruk mereka akan tetap berwarna coklat dan terbakar selama beberapa tahun berturut-turut.

Padang rumput di Mongolia ketika musim panas. Photo: Mark Leong/National Geographic

Sungai-sungai yang mengalir dari Pegunungan Khentii berukuran kecil dan tetap membeku hampir sepanjang tahun — bahkan di bulan Mei, ketika es biasanya sudah cukup tebal, itu akan cukup kuat untuk dilewati pasukan berkuda. Padang rumput yang panjang dan luas ini, yang membentang di sepanjang sungai-sungai kecil, berfungsi sebagai jalan raya bagi bangsa Mongol untuk menuju ke berbagai daerah di Eurasia. Padang rumput ini bahkan mencapai wilayah barat hingga ke Hongaria dan Bulgaria di Eropa Timur. Di bagian timur, padang rumput ini mencapai Manchuria dan akan menyentuh sampai Samudra Pasifik jika tidak terhalang oleh pegunungan-pegunungan tipis yang memotong Semenanjung Korea. Di sisi selatan Gobi, padang rumput perlahan muncul kembali dan bergabung dengan jantung benua Asia, terhubung dengan dataran pertanian yang luas di Sungai Kuning.

Meskipun topografi lanskap Mongolia cukup ramah, namun iklim cuaca di sana bisa sangat keras, dan dapat berubah dengan tiba-tiba. Mongolia adalah tanah ekstrem di mana baik manusia dan hewannya harus menghadapi tantangan cuaca yang terus-menerus. Orang-orang Mongol mengatakan bahwa mereka dapat mengalami empat musim dalam satu hari di Khentii. Bahkan di bulan Mei, seekor kuda dapat tenggelam ke dalam tumpukan salju yang begitu dalam sehingga hampir tidak dapat mengangkat kepalanya.

Musim dingin di Mongolia. Photo: Byambasuren Byamba-Ochir/AFP/Getty Images

Di tempat seperti ini lah, di tepi Sungai Onon, pada Tahun Kuda, bocah laki-laki yang nantinya dikenal sebagai Genghis Khan dilahirkan. Berbeda dengan keindahan alam tempat itu, dari jauh hari sebelum dia lahir, manusia di wilayah ini sudah cukup lama mengalami pertikaian dan kesulitan yang datang terus-menerus. Di sebuah bukit kecil yang terisolir dan gundul, yang menghadap ke Sungai Onon yang terpencil, Hoelun, seorang gadis muda yang diculik, berjuang untuk melahirkan anak pertamanya. Di sini dia dikelilingi oleh orang-orang asing, Hoelun berada jauh dari keluarga yang telah membesarkannya dan dunia yang dia kenal. Tempat ini bukan rumahnya, dan lelaki yang sekarang menjadi suaminya bahkan bukanlah lelaki pertama yang dinikahinya, melainkan hanya salah seorang penculik dari suku lain.

Lukisan tentang kelahiran Genghis Khan karya In Kyung Chah.

Menurut banyak kisah, bayi pertama Hoelun ini datang ke dunia sambil memegang erat sebuah benda misterius di genggaman jari tangan kanannya. Dengan lembut, tetapi juga gugup, ibu muda ini membuka jari-jari anak itu satu per satu sampai di baliknya ditemukan gumpalan darah hitam besar seukuran buku jari. Dari suatu tempat di rahim ibunya yang hangat, bocah ini telah menggenggam gumpalan darah dan membawanya ke dunia ini. Apa yang bisa diperbuat oleh gadis muda yang tidak berpengalaman, buta huruf, dan sangat kesepian dari tanda aneh ini di tangan putranya? Lebih dari delapan abad kemudian, bahkan dunia masih berjuang untuk menjawab pertanyaan yang sama tentang putranya. Apakah gumpalan darah itu merupakan sebuah pertanda tertentu atau kutukan? Apakah itu meramalkan nasib baik atau buruk? Haruskah dia bangga atau khawatir? Apakah dia mesti berharap atau justru ketakutan?[3] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (3): Temujin (3)

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (1): Temujin (1)

Catatan Kaki:

[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 1.

[2] Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm vii-ix.

[3] Jack Weatherford, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*