Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (48): Kesultanan Khwarizmia (1)

in Sejarah

Last updated on April 18th, 2019 02:12 pm


Tiga pedagang Muslim Khwarizmia datang menemui Genghis Khan, dan membual bahwa barang-barang mereka sangat mahal. Genghis Khan sangat marah dan berkata, “Apakah orang-orang ini berpikir bahwa kain-kain semacam ini tidak pernah dibawa kepada kita sebelumnya?”

Lukisan karavan Muslim karya Eugène Girardet. Sumber: Benbouzid/Flickr

Pada abad ke-13, Dunia Islam masih mengakui bahwa Kekhalifahan Abbasiyah adalah pemimpin sah bagi seluruh umat Islam, namun itu hanya sebatas gelar saja, bukan secara faktuil. Faktanya, Dunia Islam terpecah belah dengan berbagai dinasti lainnya yang bahkan kekuatannya melampaui kekhalifahan yang sah itu sendiri.[1] Bahkan, dikatakan bahwa Abbasiyah hanya menguasai sebatas Baghdad saja, ibu kota kekhalifahan, di luar itu, semua wilayah yang tadinya milik Abbasiyah, telah dikuasai dinasti-dinasti lokal.[2]

Meskipun Dunia Islam terpecah-pecah, namun karena mereka telah memiliki tradisi peradaban yang sangat panjang, tanah Muslim adalah yang terkaya di dunia, dan dalam banyak hal, peradaban mereka adalah yang paling maju. Pada waktu itu, tidak ada masyarakat mana pun di dunia yang tingkat literasinya melebihi masyarakat Muslim. Selain itu, mereka juga unggul dalam matematika, linguistik, agronomi, astronomi, sastra, dan tradisi hukum.[3]

Dan bukan hanya itu, produk-produk dagang Muslim juga diakui di seluruh dunia. Mereka memiliki logam terbaik, baja berkilau yang luar biasa, kain katun dan produk-produk tekstil terbaik lainnya; dan mereka tahu proses pembuatan kaca, yang pada waktu itu dinilai sangat berharga, dan misterius, karena hanya orang-orang Muslim yang paham dengan teknologi ini.[4]

Di antara dinasti-dinasti Islam, ada satu yang memiliki wilayah kekuasaan terbesar, ia adalah Kesultanan Khwarizmia (atau sering juga disebut Khwarizm Shah, karena ada pengaruh budaya Persia di sana, yang biasa menyebut raja mereka dengan sebutan “Shah”). Wilayah mereka yang sangat luas membentang dari India hingga ke Sungai Volga, termasuk kota-kota megah di Nishapur, Bukhara, dan Samarkand. Luas wilayah mereka bahkan melampaui dua dinasti utama pada waktu itu, Seljuk dan Abbasiyah.[5]

Wilayah kekuasaan Kesultanan Khwarizmia. Photo: Public Domain

Para penguasa Kesultanan Khwarizmia, merupakan orang-orang keturunan suku Turk. Pada awalnya mereka merupakan kelompok Mamluk (budak) yang ditunjuk untuk menjadi gubernur di wilayah ini oleh Dinasti Seljuk di Asia Kecil. Namun mereka terus berkembang dan akhirnya dapat menjadi dinasti tersendiri. Mereka juga sempat menjadi negara bawahan (vassal state) bagi Dinasti Seljuk dan Dinasti Khara Khitan, namun pada tahun 1200, Kesultanan Khwarizmia dapat berdiri sendiri.[6]

Kontak dengan Bangsa Mongol

Sebagai penguasa Jalur Sutra, Genghis Khan tahu tentang keunggulan barang-barang eksotis dari Dunia Muslim. Para pedagang Muslim seringkali melewati Jalur Sutra untuk menjual barang-barangnya ke wilayah China, beberapa, sebagai imbalan untuk melintas dan jasa keamanan, diterima oleh Genghis Khan, dan dia sangat tertarik terhadap barang-barang tersebut.[7]

Menurut sejarawan asal Persia, Juvaini, yang menulis tentang sejarah bangsa Mongol, pada awalnya yang pertama kali melakukan inisiatif dagang terhadap Genghis Khan adalah orang-orang dari Kesultanan Khwarizmia itu sendiri. Tiga orang pedagang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa Khwarizmia, datang ke Mongol untuk menjual pakaian. Mereka tahu bahwa orang-orang Mongol yang nomaden tidak memiliki kemampuan untuk membuat produk tekstil yang berkelas, sehingga mereka yakin bahwa barang mereka akan diterima dengan harga tinggi oleh Genghis Khan.

Lalu berangkatlah mereka ke timur dengan membawa barang-barang seperti kain bersulam emas, katun, dan zandanichi.[8] Ketika para pedagang ini tiba di perbatasan, tentara penjaga perbatasan Mongol sangat terkesan dengan barang-barang yang mereka bawa, sehingga mereka memutuskan untuk membawa para pedagang ini untuk bertemu langsung dengan Genghis Khan. Di hadapan Genghis Khan mereka kemudian membuka dan memamerkan barang-barang dagangannya. Kepada Genghis Khan, mereka kemudian mengatakan bahwa harga barang-barang tersebut adalah tiga batang emas untuk setiap helainya, yang mana sebenarnya, modal untuk setiap helainya hanya 10 atau 20 dinar.

Mendengar ini, Genghis Khan sangat marah karena mereka telah membual, dan dengan keras dia berkata, “Apakah orang-orang ini berpikir bahwa kain-kain semacam ini tidak pernah dibawa kepada kita sebelumnya?” Genghis Khan kemudian berkata bahwa dia memiliki banyak sekali barang-barang semacam itu dari hasil jarahan perang, dan kelak akan dibagikan kepada para pengikutnya. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa para pedagang tersebut ke gudang penyimpanan negara, memperlihatkan semuanya kepada mereka.

Setelahnya, dengan senang hati dia bertanya kembali kepada para pedagang itu, menanyakan harga pastinya untuk barang-barang yang mereka bawa. Namun mereka malah menolak untuk menetapkan harga, entah apa alasannya, alih-alih mereka malah berkata, “Kami telah membawa kain-kain ini untuk Khan.” Mendengar ini Genghis Khan senang. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk membeli barang-barang mereka, sehelai kain bersulam emas dihargai sebatang emas, dan setiap dua helai katun atau zandanichi dihargai sebatang perak. Genghis berusaha menghormati dan menunjukkan kebaikannya kepada para pedagang Muslim tersebut.[9] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Encyclopaedia Britannica, “ʿAbbāsid dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Abbasid-dynasty, diakses 2 April 2019.

[2] Peter Jackson, The Mongols and The Islamic World (Yale University Press, 2017), hlm 47.

[3] Amy Chua, Day of Empire: How Hyperpowers Rise to Global Dominance — and Why They Fall (Doubleday, 2007), hlm 102.

[4] Lebih lengkap tentang temuan-temuan teknologi yang luar biasa dari Dunia Muslim, lihat Paul Vallely, “How Islamic inventors changed the world”, dari laman https://www.independent.co.uk/news/science/how-islamic-inventors-changed-the-world-6106905.html, diakses 2 April 2019.

[5] Amy Chua, Loc.Cit.

[6] Encyclopaedia Britannica, “Khwārezm-Shāh Dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Khwarezm-Shah-dynasty, diakses 2 April 2019.

[7] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 4.

[8] Pakaian khas yang dibuat di Zandana, sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari kota Bukhara.

[9] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Tarīkh-i Jahān-gushā, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Andrew Boyle, The History of The World-Conqueror: Vol 1 (Harvard University Press Cambridge, 1958), hlm 77-78.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*