Cordoba, Pelarian Umayyah (2): Menapaki Kejayaan

in Monumental

“Kedatangan Ziryad, seniman dan juga ilmuwan ternama dari Baghdad, yang tadinya merupakan asset berharga bagi Dinasti Abbasiyah, membuat Cordoba menjadi naik pamor. Selain itu, Masjid Agung Cordoba yang biaya pembangunannya mencapai sepertiga pendapatan negara, mulai dibangun.”

–O–

Andalusia telah menjadi tempat berlabuhnya Abdurrahman, pangeran Umayyah yang terbuang dari Damaskus. Di sana dia dan keturunannya berhasil menjadi penguasa tertinggi yang bergelar “Amir”. Meskipun dunia Islam mengetahui bahwa Cordoba, ibu kota Andalusia, masih menjadi musuh Dinasti Abbasiyah, kekhalifahan Islam yang baru, namun itu tidak membuat para pedagang maupun ilmuwan dari Baghdad menjadi tidak mendatanginya. Cordoba nyatanya pada waktu itu masih diminati oleh jenis-jenis orang seperti ini.

 

Ziryad si Burung Hitam

Salah satu pengunjung yang paling menarik dan signifikan dari Baghdad adalah seorang pria yang dikenal dengan julukan “Blackbird”, atau “Si Burung Hitam”. Abu Hassan Ali bin Nafi — yang berasal dari Persia — dalam berbagai literatur digambarkan dengan beberapa versi etnis, ada yang mengatakan bahwa dia orang Kurdi, Arab, Berber, atau pun orang kulit hitam asal Afrika. Sebelumnya, di lingkungan istana khalifah Abbasiyah, al-Ma’mun di Baghdad, Abu Hassan Ali dikenal sebagai musisi, komposer, penyanyi, penyair, dan guru.

Dalam dunia Arab, dia lebih dikenal dengan sebutan “Ziryab”, yang dalam bahasa Arab artinya adalah “burung hitam”. Tidak ada yang tau pasti kenapa dia mendapatkan julukan tersebut, namun, konon itu karena keindahan suaranya. Ziryab selain dikenal sebagai seorang seniman,  dia juga ternyata seorang ahli astronomi, serta ahli meteorologi dan koki yang handal.

Pada sekitar tahun 820, Ziryab pindah dari Baghdad ke Cordoba, di mana penguasa Umayyah setempat — di tanah pengasingan itu – dengan penuh semangat menyambutnya. Tidak hanya perpindahan Ziryab ke Cordoba itu menjadi penghinaan bagi orang-orang Abbasiyyah, tetapi kehadirannya di Iberia tidak diragukan lagi menambah pamor dari kerajaan Islam yang terpencil dan baru saja didirikan ini.

Ziryab memang istimewa, kedatangannya di Cordoba juga membawa hal-hal baru bagi peradaban Eropa, dialah yang memperkenalkan deodoran, pasta gigi, taplak meja (yang terbuat dari kulit), dan yang paling memukau adalah menu tiga hidangan (three course meal). Tiga menu ideal Ziryab adalah sup, daging atau ikan, dan hidangan manis seperti buah-buahan kering atau sorbet.

Ziryab juga mempopulerkan penggunaan kaca sebagai gelas untuk minum, yang mana sebelumnya orang-orang menggunakan gelas dari bahan logam. Dalam hal mode, dia memperkenalkan tren pembedaan model pakaian di saat musim dingin dan musim panas bagi mereka yang cukup berkemampuan untuk membelinya.

 

Masjid Agung Cordoba

Siapa pun yang pergi ke Cordoba akan setuju bahwa Masjid Agung adalah tempat yang harus dikunjungi. Masjid ini memiliki sejarah yang panjang, pada awalnya, sebelum ditaklukan oleh bangsa Arab-Berber, orang-orang Jerman Visigoth yang merupakan penguasa setempat, setelah mereka mengalahkan Roma di Semenanjung Iberia, membangun sebuah Gereja Kristen. Kemudian, setelah dikuasai Muslim, pada tahun 784, Amir Cordoba yang baru, Abdurrahman I, memerintahkan pembangunan sebuah masjid di tempat yang sama.

Dikatakan bahwa Abdurrahman menghabiskan sepertiga dari pendapatannya untuk membangun masjid ini. Apabila dilihat dari betapa luasnya kompleks masjid ini, belum lagi apabila ditambah dengan sisa-sisa reruntuhan seluas 109  hektar yang pada hari ini berada sekitar 16 km di luar Cordoba, laporan tersebut tampak menjadi sepenuhnya masuk akal.

Tetapi dengan perluasan dan improvisasi pembangunannya, sesungguhnya Masjid Agung Cordoba baru selesai dibangun setelah lebih dari 200 tahun kemudian. Masjid ini selesai di masa ketika al-Hakam II — Khalifah kedua Cordoba – menjadi penguasa Cordoba.

Salah satu fitur masjid yang paling mencolok adalah jumlah kolom yang membentuk sejumlah lorong di seluruh aula utama. Di lorong utamanya terdapat 856 kolom yang terbuat dari berbagai granit, marmer, onyx, dan jenis batu lainnya. Meskipun lengkungan tapal kuda di atas masjid mirip dengan masjid Umayyah di Damaskus, namun di sana juga banyak hiasan dan sentuhan dekoratif khas arsitektur Moor yang ditambahkan, yang pada akhirnya menciptakan gaya khas arsitektur tersendiri.

Arsitektur masjid ini selain menggabungkan gaya Umayyah di Damaskus, kampung halaman Abdurrahman, dan gaya Moor, namun apabila dilihat lebih detail lagi, desainnya yang ramping dan rapi mirip dengan kuil Romawi yang dipersembahkan untuk dewa Janus, dewa pencipta awalan, waktu, dan perpindahan. Awal bulan tahun Masehi, Januari, pun diambil dari namanya.[1] Dengan demikian arsitektur masjid ini tampaknya merupakan perpaduan dari tiga peradaban.

Di kemudian hari, setelah keruntuhan kekhalifahan Umayyah di Cordoba, pada abad ke-13, masjid ini dialihfungsikan menjadi Katedral Katolik. Kemudian pada tahun 1523, atas izin Carlos V, raja Spanyol, pihak Gereja merekonstruksi ulang bagian dalam masjid. Baik Manrique, uskup pada waktu itu, maupun Carlos V, sama-sama sepakat untuk merekonstruksi masjid untuk menghormati al-Hakam II, karena pada masanya lah sebagian besar bentuk masjid yang dapat kita lihat hari ini diselesaikan.[2] (PH)

Bersambung ke:

Cordoba, Pelarian Umayyah (3): Tiga Khalifah Islam

Sebelumnya:

Cordoba, Pelarian Umayyah (1): Runtuhnya Dinasti Umayyah

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dari buku karya Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 94-97. Adapun informasi lain yang bukan didapat dari buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] “Janus”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Janus-Roman-god, diakses 15 Mei 2018.

[2] “History of the Cathedral of Cordoba”, dari laman http://www.mezquitadecordoba.org/en/history-cathedral-mosque-cordoba.asp, diakses 15 Mei 2018.