Mozaik Peradaban Islam

Cordoba, Pelarian Umayyah (3): Tiga Khalifah Islam

in Monumental

“Dunia Muslim dihadapkan oleh situasi unik di mana mereka memiliki tiga khalifah dalam satu waktu: Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah di al-Qayrawān, dan Umayyah di Cordoba. Dengan peta persaingan seperti ini, simbol khalifah sebagai pemersatu Islam menjadi semakin jauh dari kenyataan.”

–O–

Pasa suatu malam di pertengahan bulan Shafar tahun 11 Hijriyah Nabi Muhammad SAW pergi ke Baqi, kemudian beliau memintakan ampunan bagi orang-orang yang dikubur di sana. Nabi bersabda, “salam sejahtera atas kalian wahai penghuni kubur. Apa yang kalian hadapi di sana menjadi ringan, seperti apa yang dihadapi manusia. Fitnah datang seperti sepotong malam yang gelap gulita, yang akhir akan menyusul yang awal. Hari akhirat lebih jahat pembalasannya daripada di dunia.” Lalu beliau memberi kabar kepada mereka yang dikubur di sana, “sesungguhnya kami akan bersua kalian.”[1]

Maka benarlah apa yang dikatakan Nabi, masih di tahun yang sama Nabi kemudian meninggal dunia. Mengenai tanggal dan bulan pastinya, terdapat berbagai macam versi, namun pada umumnya sejarawan sepakat bahwa wafatnya Nabi terjadi pada tahun 11 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 632 Masehi.

Saat-saat terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, adalah saat-saat yang paling peka bagi kelanjutan sejarah Islam. Dalam pandangan aliran Sunni, diyakini tak ada petunjuk teks al-Quran mengenai siapa pengganti Nabi. Kalangan Sunni juga tidak meyakini ihwal hadis penunjukan siapa pengganti Nabi. Sebaliknya, aliran Syiah meyakini Ali bin Abu Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, merupakan pengganti Nabi yang sah. Hadis Nabi yang diucapkan di Ghadir Khum sepulang dari haji wada’ dijadikan sandaran kuat oleh kalangan Syiah bahwa kepemimpinan setelah Nabi wafat hanyalah untuk Imam Ali.[2]

Dengan demikian kisah pun berlanjut, setelah Nabi wafat, yang menjadi Khalifah generasi pertama adalah apa yang kita kenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, orang-orangnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Setelah era Khulafaur Rasyidin berakhir, Islam masuk pada era Dinasti. Dinasti pertama dalam Islam adalah Dinasti Umayyah, dengan khalifahnya yang pertama bernama Muawiyah bin Abu Sofyan.[3]

Artikel Terkait:

Pada tahun 750, bagaimanapun, pada akhirnya setelah Umayyah berkuasa selama 89 tahun, mereka digulingkan oleh sebuah keluarga yang merupakan keturunan dari paman Nabi Muhammad SAW, Abbas bin Abdul-Muththalib. Setelah peristiwa itu, sebuah kekhalifahan baru di dunia Islam berdiri, yakni Abbasiyah.[4]

Dari periode Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, dan Dinasti Abbasiyah, pada umumnya diakui oleh aliran Sunni sebagai bagian dari mereka. Sementara itu, sebagaimana telah disinggung di atas, aliran Syiah tidak mengakui mereka sebagai pemimpin terkecuali Ali bin Abu Thalib.[5]

 

Era Tiga Khalifah

Dalam seri pertama artikel ini, kita sempat menyinggung tentang proses transisi dari Dinasti Umayyah ke Abbasiyah. Keluarga Umayyah dihabisi oleh Abbasiyah, namun salah seorang dari mereka yang bernama Abdurrahman berhasil lolos dan menata Dinasti baru di Cordoba. Dengan situasi politik yang genting, Abdurrahman tidak berani untuk menyebut dirinya khalifah, dia lebih memilih untuk dipanggil Amir (Pangeran).

Kemudian waktu terus berlanjut, sampai tibalah masanya Abdurrahman III, yang merupakan keturunan Abdurrahman I, menapaki posisi tertinggi di Cordoba. Pada tahun 912, di usianya yang ke 21 Abdurrahman III didaulat untuk menjadi Amir Cordoba.[6] Dalam waktu yang berdekatan, sebelumnya di tahun 909 Dinasti Fatimiyah, yang beraliran Syiah Ismailiyah, berdiri di wilayah Afrika Utara. Mereka mengambil alih wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Abbasiyah.[7]

Abdurrahman III menerima Duta Besar. Sebuah lukisan karya Dionisio Baixeras Verdaguer, dilukis tahun 1885. Sekarang menjadi koleksi milik University of Barcelona.

Seperti telah disinggung di atas, aliran Syiah tidak mengakui versi kekhalifahan sebelumnya. Maka ketika mereka mendirikan sebuah Dinasti, mereka memiliki pemimpinnya sendiri. Mereka menolak Abbasiyah dan juga melakukan perlawanan terhadap mereka. Khalifah atau Imam pertama mereka adalah al-Mahdi. Dengan demikian, di tahun 909 dunia Islam memiliki dua khalifah, yakni  Al-Muqtadir sebagai khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan al-Mahdi sebagai khalifah Fatimiyah di Tunisia.[8]

Sementara itu Abdurrahman III sebagai Amir di Cordoba, dikenal sebagai sosok yang sangat mirip dengan kakeknya, Abdurrahman I. Dia sangat cerdas, dan juga piawai dalam memimpin. Di bawah kepemimpinannya, Dinasti Umayyah di Cordoba meraih berbagai macam kemenangan dari pemberontak yang sebelumnya sulit ditaklukan oleh Amir sebelumnya.[9]

Dengan kehadiran Fatimiyah di Afrika Utara, yang mana jaraknya sangat dekat dengan Cordoba (antara Semenanjung Iberia dan Pantai Afrika Utara hanya dipisahkan oleh selat sepanjang sekitar 14 km), Abdurrahman III merasa terancam. Di Afrika Utara, kebijakan Abdurrahman III diarahkan langsung untuk melawan dominasi Fatimiyah di al-Qayrawān (sekarang di Kairouan, Tunisia). Untuk membendung dominasi Fatimiyah, dia membiayai kaum pemberontak, dan mengirim ekspedisi angkatan laut untuk menduduki kota-kota pesisir di Afrika Utara.[10]

Apa yang dilakukan Abdurrahman III cukup berhasil, dominasi Fatimiyah terbendung tidak sampai masuk ke wilayah Semenanjung Iberia, atau Andalusia. Pada tahun 1929, akhirnya Abdurrahman III cukup berani untuk mendeklarasikan dirinya menjadi khalifah juga. Tiba-tiba, dunia Muslim dihadapkan oleh situasi unik di mana mereka memiliki tiga khalifah dalam satu waktu: Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah di al-Qayrawān, dan Umayyah di Cordoba. Dengan peta persaingan seperti ini, simbol khalifah sebagai pemersatu Islam menjadi semakin jauh dari kenyataan.[11]

Titel baru itu sama sekali tidak memberatkan Abdurrahman III, dia menjadi khalifah selama lebih dari 30 tahun. Periode ini ditandai dengan terciptanya toleransi bagi semua warga Cordoba, dan terus meningkatnya kedatangan para ilmuwan asing dari sekitar Timur Tengah dan Eropa ke Cordoba.[12] (PH)

Bersambung ke:

Cordoba, Pelarian Umayyah (4): Akhir Umayyah dan Peninggalannya yang Berharga

Sebelumnya:

Cordoba, Pelarian Umayyah (2): Menapaki Kejayaan

Catatan Kaki:

[1] Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 613-614.

[2] Masduki Baidlowi, “Antara khilafah dan khalifah”, dari laman https://beritagar.id/artikel/telatah/antara-khilafah-dan-khalifah, diakses 3 Mei 2018.

[3] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 97.

[4] Asma Afsaruddin, “Umayyad dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Umayyad-dynasty-Islamic-history, diakses 11 Mei 2018.

[5] Eamon Gearon, Ibid.

[6] Tarif Khalidi, “ʿAbd al-Raḥmān III”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Abd-al-Rahman-III, diakses 16 Mei 2018.

[7] “Fāṭimid Dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Fatimid-dynasty, diakses 16 Mei 2018.

[8] Ibid.

[9] Tarif Khalidi, Ibid.

[10] Ibid.

[11] Eamon Gearon, Ibid., hlm 98.

[12] Ibid.