Mozaik Peradaban Islam

Ilusi Identitas Arab: Sebuah Pengalaman dan Klarifikasi (22): Asal-usul Bahasa: ‘Araby dan ‘Ajamy (1)

in Studi Islam

Tidaklah sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa bahasa pada mulanya adalah tunggal.

Foto: Potongan lukisan karya Michelangelo (sekitar 1512) yang berjudul The Creation of Adam

Oleh Musa Kazhim al-Habsyi | Penerjemah dan Koresponden TV Arab

Sebelum mengakhiri tulisan ini dan kembali ke latar belakang masalah kita, izinkan saya memberikan satu kemungkinan teori makna ‘araby dan ‘ajamy.

Sejumlah pakar linguistik berpandangan bahwa semua bahasa sejatinya bersumber dari satu bahasa primer. Ada satu bahasa yang menjadi induk semua bahasa lain manusia. Teori ini sebenarnya sejalan dengan teori evolusi yang berpijak pada banyak riset dan eksperimen.

Dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Language yang diterbitkan dalam buletin Hiroshima Institute of Technology Research Vol. 52 (2018),Naoki Araki memaparkan kontroversi seputar asal-usul bahasa ini.

Menurutnya, pada 1871 riset seputar asal-usul bahasa dihentikan oleh Société Linguistique de Paris karena dianggap terlalu spekulatif. Namun, belakangan gairah melajutkan riset tentang topik ini mencuat kembali akibat adanya data pendukung yang mengalir dari studi-studi dengan pendekatan interdisipliner.

Rasanya saya tidak perlu terlalu jauh mengutip para pakar yang mendukung teori asal-usul bahasa. Anda hanya perlu merujuk paparan akademisi Jepang itu untuk menelusuri teori-teori yang bermacam-macam seputar pokok masalah ini.

Namun, sederhananya, tidaklah sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa bahasa pada mulanya adalah tunggal. Lalu, karena berbagai faktor alamiah ataupun sosial, bahasa tunggal itu mengalami perkembangan—atau mungkin mengalami peng-’ajam-an, yakni penyimpangan dari satu bahasa yang asli, jelas, lugas, dan jernih.

Teori seperti ini memang perlu eksperimen dan riset panjang. Boleh jadi riset itu—seperti banyak riset di bidang ilmu-ilmu humaniora lainnya—tidak akan sampai pada kesimpulan final. Namun, berdasarkan pada etimologi ‘araby sebagai sifat bahasa yang lugas dan ‘ajamy sebagai sifat bahasa yang tidak lugas, agaknya tidak terlalu spekulatif bila kita beranggapan bahwa bahasa manusia awal itu bersifat ‘araby.

Kalaupun bahasa itu bukan bahasa Arab seperti yang kita kenali saat ini, setidaknya sifat bahasa itu adalah ‘araby. Setelah sekian lama manusia hidup dan mengalami kemajuan dan juga kemunduran, yang ‘araby itu tadi menjadi ’ajamy (samar, taksa, kabur dan bengkok) dan berkembang menjadi bermacam-macam bahasa lain.

Hal-hal yang mendukung hipotesis seperti ini sebenarnya cukup tersedia. Teks Alquran dan hadis-hadis Nabi dapat menjadi sandaran bukti-bukti yang mendukungnya. Umpamanya, Alquran secara jelas menyatakan dalam surah al-Baqarah ayat 31 bahwa Allah yang mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam—bapak umat manusia. Nama-nama yang diajarkan itu seperti perbendaharaan awal untuk membentuk bahasa primer tersebut.

Dalam surah al-Baqarah ayat 37, Allah juga menegaskan bahwa Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari-Nya. Yang tidak kalah pentingnya, dalam surah ar-Rahman ayat 4 disebutkan bahwa Allah mengajari manusia al-bayan (yaitu kemampuan kognitif manusia untuk berkomunikasi mengutarakan maksud hati).

Ayat-ayat di atas tentu masih bisa diperkuat dengan sejumlah hadis—meski sebagian sanadnya lemah—yang menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa para nabi mulai dari Nabi Adam. Bahasa ini juga bahasa yang dipakai penduduk surga kelak. Dan lain-lainnya.

Sekali lagi, bahasa yang dimaksud di sini lebih merujuk pada sifat ‘araby yang jelas, bukan salah satu dialek atau logatnya yang dipergunakan oleh kaum-kaum tertentu.

Sebelum terlalu jauh, saya harus segera menambahkan bahwa tidak semua sepakat dengan asumsi seperti di atas. Allamah Thabathabai, misalnya, tidak menyetujui asumsi bahwa Allah mengilhami huruf-huruf dan bahasa tertentu pada manusia. Menurutnya, yang dimaksud al-bayan dalam surah ar-Rahman itu mengacu kepada kemampuan kognitif, bukan bahasa spesifik yang kini dikenal manusia.

Seperti umumnya ahli logika, Thabathabai percaya bahwa bahasa adalah sesuatu yang konvensional dan i’tibary, bukan haqiqi. Menurutnya, Alquran menegaskan bahwa keragaman bahasa (lisan) dan warna kulit adalah salah satu tanda kebesaran dan keagungan Allah (QS ar-Rum ayat 22).

Hanya saja, dia mempunyai teori yang cukup pelik seputar munculnya i’tibary dalam kehidupan manusia. Tulisan ini tidak akan memerikan teori filosofis yang pelik itu, karena tidak terlalu relevan.

Tapi, tidak semua ulama Islam, khususnya para pakar ilmu ushul fiqh yang menggeluti tema ini, menerima pendapat umum di atas. Para pakar ilmu ushul telah membahas panjang lebar soal ini. Sebagian mereka percaya bahwa asosiasi makna dan kata tidak bisa ditetapkan secara konvensional semata-mata. Harus ada faktor-faktor hakiki dan alami yang menimbulkan asosiasi itu.

Sebagian mereka percaya bahwa asosiasi melekat itu harus seiring dengan hubungan kausal yang terjadi. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa asosiasi makna dan kata, seperti sebab dan akibat, ditetapkan oleh Allah secara langsung.

Selanjutnya, ia berkembang melalui komunikasi dan konteks pemakaiannya dalam percakapan manusia. Inilah antara lain rangkuman teori al-qarn al-akid terobosan Sayyid Muhammad Baqir ash-Shadr.[i] []

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[i] Lebih jauh, rujuk makalah Ali Mantash, Al-Wadh’ fi Nazhar Al-Ushuliyyin: Bayan wa Tahlil, diambil dari website http://www.awraqthaqafya.com/1040/#_ftn1.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*