Mozaik Peradaban Islam

Ilusi Identitas Arab: Sebuah Pengalaman dan Klarifikasi (8): Kompleksitas Bahasa Arab dan Kesimpulan Umum (1)

in Studi Islam

Last updated on June 7th, 2021 02:51 pm

Ciri kearaban adalah kemampuan memahami dan bertutur dengan jelas sesuai bahasa wahyu. Tidak perlu faktor-faktor keturunan yang tidak lebih permainan dari penguasa dan kepentingan politik.

Foto: Mohamed Rashad/Etsy

Oleh Musa Kazhim al-Habsyi | Penerjemah dan Koresponden TV Arab

Dari paparan penuh paradoks dan perselisihan di atas, saya ingin mengambil kesimpulan. Setidaknya menyangkut identitas kearaban saya sendiri. Jika saya ditanya apakah ciri kearabanmu, maka saya akan jawab bahwa kearabanku, sebagaimana yang seharusnya, harus berpijak pada kemampuanku memahami dan bertutur dengan jelas sesuai bahasa wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad.

Dan buat saya itu sudah cukup, tidak perlu faktor-faktor keturunan yang ujungnya tidak lebih permainan dari penguasa dan kepentingan politik. Dan rasanya faktor-faktor lain dalam identitas saya bisa saya campur dengan konten lokal yang luhur dan mulia, seperti pengalaman ayah dan banyak tokoh keturunan Arab lain di negeri ini.

Apalagi, sesuai riset sederhana saya, himpunan Arab itu memang paling kecil beririsan dengan nasab dan kesukuan. Dan paling besarnya beririsan dengan bahasa, tutur kata, dan perilaku.

Jika kita mau peringkatkan unsur-unsur pembentuk kearaban dalam urutan ilmiah, maka kita dapat menetapkannya sebagai berikut: (1) bahasa sebagai unsur pembentuk utama; (2) lokasi geografis yang membentang sepanjang Semenanjung Arabia hingga kawasan-kawasan sekitarnya sebagai unsur pembentuk kedua; (3) budaya dan gaya hidup mengembara atau melintas tanpa tempat tinggal yang tetap sebagai unsur pembentuk ketiga; (4) nilai-nilai dan pola hidup tertentu yang membedakannya dengan para penghuni kota atau desa sebagai unsur pembentuk keempat; (5) ikatan agama atau kepercayaan sebagai unsur pembentuk kelima; dan terakhir (6) nasab dan keturunan sebagai unsur pembentuk paling ilusif dan longgar. Bila unsur utamanya hilang atau sirna, maka tentu unsur pembentuk terakhir itu sama sekali tidak bermakna.

Grafik: Gana Islamika

Bahasa Arab sebagai unsur pembentuk utama kearaban inipun memiliki kompleksitasnya sendiri. Para peneliti nyaris tidak bisa menunjuk dengan jelas manakah dialek Arab yang paling fasih dan otentik sebelum era Islam.

Atau siapakah penutur dialek itu? Tinggal di manakah mereka? Dan berbagai pertanyaan lain yang muncul.

Pasalnya, penutur bahasa ini tinggal di wilayah yang membentang luas, sehingga mereka terkadang tidak saling berhubungan dalam kurun waktu yang sangat lama. Bahkan boleh jadi karena sifat mereka yang mengembara kemana-mana, termasuk ke kota-kota milik peradaban dan imperium kuno, maka dialek mereka bisa mengalami pergeseran dan perubahan yang nyata.

Namun demikian, para ahli bahasa Arab nyaris semuanya bersepakat tentang adanya bahasa Arab yang fasih versus bahasa ‘Ajam. Bahasa Arab fasih itu lantas mereka definisikan sebagai bahasa yang tidak ‘ajam (kabur, samar).

Maka itu, para pengarang kamus Arab menyebut karya mereka dengan mu’jam, yang berarti menghilangkan ke-‘ajam-an (kesamaran). Demikian pula Alquran beberapa kali menghadap-hadapkan bahasa ‘araby yang lugas dan terang dengan bahasa ‘ajami yang kabur dan samar. Dan tidak pernah Alquran menunjuk ‘ajam sebagai unit kesukuan atau keturunan.

Tapi, lagi-lagi, dalam kontestasi politik periode awal Islam hingga sekarang, banyak yang menyeret Arab versus Ajam dalam soal kebangsaan dan kesukuan. Padahal jelas itu ilusi belaka. Tidak ada dasarnya Arab dan Ajam itu berhubungan dengan suku dan bangsa. Paling tidak menurut terminologi Alquran sebagai rujukan paling valid dalam persoalan ini.

Bahkan saya pernah berdebat keras dengan seseorang keturunan Arab yang secara semena-mena menunjukkan bahwa Ajam di Timur Tengah sedang bersekongkol melawan Arab. Saya pun dengan serius mempreteli asumsi-asumsinya, dengan menunjukkan bahwa agresi apa yang dia sebut Arab terhadap yang Arab sejati sudah berlangsung 1000 tahun.

Bahkan saya sampaikan, jangan-jangan yang dia anggap sebagai Ajam itu justru lebih sesuai disebut ‘araby dalam terminologi Alquran ketimbang pemimpin negara-negara Arab yang lebih layak disebut a’raby.

Maka itu, bangsa Arab di yang di masa lalu saja sudah mencakup sedikitnya 360 suku—yang tentu tidak semua saling berhubungan darah—dihimpun dalam nama Arab karena faktor bahasa. Di zaman Jahiliah, perayaan-perayaan besar mereka dipamungkasi dengan pembacaan syair.

Peran penyair di zaman itu melebihi influencer atau selebriti di zaman ini. Mereka bisa jadi perekat sekaligus simbol kebanggaan tiap suku. Meski terus-menerus berperang di antara mereka, tapi syair yang mewakili kecakapan berbahasa mempersatukan mereka, dalam sebuah kontestasi kearaban yang terus berlangsung tanpa henti.

Tiap kali hendak berperang, saat sudah berhadap-hadapan di medan laga, masing-masing suku biasanya menampilkan para penyairnya yang memompa semangat peperangan. Demikian pula saat tuan rumah atau kepala suku menyambut tamu, syair juga menjadi menu paling istimewa. Raja, kepala suku, pahlawan, dan pendekar perang semuanya dipuja, disanjung dan dielu-elukan dengan bait-bait syair.[]

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*