Mozaik Peradaban Islam

Ilusi Identitas Arab: Sebuah Pengalaman dan Klarifikasi (7): Definisi Arab: Paradoks dan Ilusi (3)

in Studi Islam

Last updated on June 6th, 2021 02:10 pm

Dalam semua penggunaan istilah a’rab yang dapat berarti orang-orang Arab, Alquran menempatkannya dalam konotasi yang buruk dan tercela.

Dewa-dewa Arab sebelum datangnya Islam. Foto: Google/Unknown

Oleh Musa Kazhim al-Habsyi | Penerjemah dan Koresponden TV Arab

Ilusi soal ras Arab dan klaim-klaim nasab ini tentunya dibantah oleh ahli-ahli nasab sendiri. Mereka umumnya tidak menyebut Arab sebagai nomenklatur ras, melainkan merincikan macam-macam suku dan kabilah mereka lalu memasukkan aneka ragam suku itu ke dalam nomenklatur Arab secara umum.

Nomenklatur Arab itu tentu tidak mengacu pada nasab mereka melainkan mengacu pada ciri dan karakteristik yang lain, yakni lokasi keberadaan mereka atau yang lebih primer tentu bahasa komunikasi mereka.

Tapi karena bahasa itu ilmu yang dapat dikontestasikan dan dikuasai secara lebih adil dan berdasar pada kriteria yang disepakati, maka para penguasa tidak sudi dan ingin mendominasinya dengan standar yang datang tanpa usaha, yakni nasab dan keturunan.

Itulah mengapa Dinasti Umayyah memainkan ilusi ini dalam menghadapi Persia dan juga musuh-musuh politiknya semasa kekuasaan mereka. Dan kemudian musuh mereka, Dinasti Abbasiyah, menggunakan cara yang terbalik, yakni menakut-nakuti non Arab terhadap Umayyah yang rasis dan diskriminatif.

Walhasil ilusi ini memang berguna dalam permainan kekuasaan dan penguasa tapi tidak berdasar pada data objektif dan ilmiah.

Dan kalaupun nasab dan keturunan Arab itu memang ada dan bukan sekedar ilusi buatan penguasa, atau katakanlah kita terima ilusi ras Arab itu, maka mengapa Alquran menyebutnya secara spesifik sebagai lisan (bahasa) bukan suku keturunan putra tertentu?

Mengapa pula Nabi tidak menyebut Arab dalam konteks keturunan tertentu?

Sebaliknya, Alquran secara konsisten menggunakan istilah-istilah lain, semisal Al, Dzuriyyah atau Bani, dan sebagainya untuk menunjuk pada keturunan atau nasab tertentu. Lalu Alquran, di sisi lain, secara konsisten menggunakan ‘araby dalam konteks bahasa dan bukan bangsa.

Malah dalam hampir semua penggunaan istilah a’rab yang dapat berarti orang-orang Arab, Alquran menempatkannya dalam konotasi yang buruk dan tercela—sebagaimana nanti akan kita utarakan di bagian lain tulisan ini.

Atas dasar itu, penyebutan Nabi Muhammad sebagai Nabi Arab tidak mengacu pada nasab, kesukuan atau keturunannya. Kearaban Nabi Muhammad bukan datang dari satu nenek moyang yang sama dengan semua Arab lain, tapi karena beliau berbahasa Arab fasih yang kebetulan dipakai oleh ratusan suku yang sejak ribuan tahun telah mengembara dan mendiami wilayah Jazirah Arab.

Kearaban Nabi tidak lantas menjadikannya sedarah dengan musuh-musuh bebuyutannya atau seluruh orang Arab yang ada di tanah Arab atau penduduk negeri-negeri Liga Arab pada masa kini. Kearaban Nabi bisa ditiru siapa saja dan di mana saja dengan syarat bertutur kata, berakhlak, dan berperilaku seperti Nabi. Kearaban Nabi berasal dari kearaban Alquran yang bisa mengalir kepada siapa saja yang mau dan mampu memahami, merenung dan menyelami Alquran yang diturunkan kepadanya.

Nah, barangkali karena kemusykilan klasifikasi ras itu pula, maka para sarjana klasik yang meneliti kata Arab berpendapat bahwa kelompok pengguna bahasa Arab terbagi dalam dua golongan utama: kelompok Arab yang sudah punah atau disebut dengan al-‘arab al-baidah seperti suku Ad dan Tsamud; dan kelompok Arab yang masih tersisa (al-‘arab al-baqiyah).

Lalu kelompok kedua itu dibagi lagi dalam dua: kelompok Arab yang disebut dengan al-‘arab al-‘aribah, dan mereka inilah konon yang dianggap sebagai keturunan Ya’rub bin Qahthan; dan kedua adalah al-‘arab al-musta’ribah, yakni kelompok Arab pendatang yang merupakan keturunan Adnan. Yang terakhir ini adalah kakek Nabi Muhammad dari jalur Nabi Ismail.

Tapi pendapat di atas juga dipersoalan oleh ahli sejarah Arab mutakhir yang karyanya dapat dianggap paling kredibel dalam tema ini, yakni Jawad Ali. Penulis buku sepuluh jilid berjudul al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab itu berpendapat bahwa pandangan yang menyatakan bahwa Ya’rub adalah orang pertama yang berbicara bahasa Arab sepertinya cenderung tanpa bukti dan hanya ingin menonjolkan suku Qahthan yang hendak mengklaim Arab adalah bahasa miliknya.

Apalagi pendukung teori ini ingin menyatakan bahwa Adnan, kakek Nabi, pertama-tama belajar bahasa Arab dari kakek mereka, Qahthan. Menurut Ali, bahasa Arab kaum Qahthan tidak sama dengan bahasa Arab Alquran yang dipakai oleh Nabi dan kakek-moyangnya.

Bagaimanapun, sekiranya kita terima pandangan di atas, maka kita harus mengakui bahwa bahasa tetap merupakan acuan utama dan unsur pembentuk primer Arab, dan bukan nasab dan kesukuannya. Terlebih karena mereka sendiri bersepakat bahwa baik suku Arab yang sudah punah maupun suku Arab yang tersisa, yang mengembara maupun yang menetap, sama-sama dipersatukan oleh bahasa yang digunakan oleh Nabi Adam.

Pendapat ini percaya bahwa Nabi Adam, bapak umat manusia itu, tinggal di kawasan Jazirah Arab dan berbicara dengan bahasa Arab. Yang lebih ekstrem lagi, mereka percaya bahwa inilah bahasa penduduk surga dan Allah berbicara dengan manusia menggunakan bahasa ini.

Walhasil, para peneliti sampai sekarang masih belum punya kata putus ihwal siapakah orang Arab yang pertama kali berbicara bahasa Arab. Perdebatan seputar ini, menurut Ali, lebih banyak dipengaruhi oleh tendensi mempertautkan nasab mereka dengan para Nabi ketimbang hasil penelitian yang berpijak pada data dan dokumen yang valid.

Barangkali di sini kita tak perlu terlalu jauh membahasnya, karena Ali sudah mencoba menguraikan seluk-beluk masalahnya secara panjang lebar dalam 10 jilid buku yang tiap jilidnya memiliki 660-an halaman. Di situpun Ali tidak memberikan kesimpulan, melainkan justru menunjukkan persoalan medan semantik kata Arab ini sudah sejak dahulu kala menimbulkan kontroversi.

Namun demikian, di antara teori unik yang disampaikan Ali dalam jilid pertama bab 16 karya monumentalnya itu ialah relasi Arab dan Ibrani. Menurut teori ini, Arab itu asal maknanya adalah aktivitas mengembara di wilayah gurun pasir yang membentang luas di seluruh Semenanjung Arabia.

Dengan luas 3.237.500 kilometer per segi, semenanjung ini adalah yang terluas di jagat raya. Orangnya adalah ‘araby. Adapun Ibrani berasal dari kata bahasa Arab ع-ب-ر (‘abara) yang artinya melintas atau menyebrangi.

Jadi, baik Arab mapun Ibrani pada dasarnya sama-sama merujuk pada kelompok-kelompok manusia yang mengembara dan melintasi gurun pasir. Padanannya adalah badui. Mereka tidak harus memiliki ikatan nasab dan kesukuan yang sama.

Ali kemudian menunjukkan beragam pandangan yang saling bertentangan tentang asal-usul mereka. Sebagian berpendapat bahwa mereka berasal dari satu moyang, tapi yang lain mengatakan bahwa kaum-kaum Arab lebih kuno ketimbang kaum-kaum Ibrani. Bagaimanapun, pendapat yang menyebut mereka memiliki satu moyang, seperti telah berulang-ulang saya katakan, lebih merupakan ilusi ketimbang pendapat yang absah.[]

Catatan:

Lebih jauh mengenai pembahasan ini, silakan rujuk Jawad Ali, al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab. Jawad Ali adalah sejarawan asal Irak yang memiliki spesialisasi dalam sejarah Islam dan Arab. Dia menerima gelar doktornya dari Universitas Hamburg pada tahun 1939. Buku karyanya yang jika diterjemahkan kurang lebih berarti Sejarah Arab sebelum Islam, menjadi salah satu karya yang paling banyak dirujuk para peneliti yang ingin mengetahui kondisi Arab sebelum datangnya Islam.

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*