Kehidupan Muslim di Korea Selatan (3): Pasang Surut Citra Islam

in Lifestyle

“Peristiwa penyanderaan warga Korea Selatan di Afghanistan oleh Taliban pada tahun 2007 menjadi sebuah titik balik dari perkembangan penyebaran Islam di Korea Selatan. Semenjak peristiwa penyanderaan ini, kebanyakan media di Korea Selatan menggambarkan Islam sebagai agama yang buruk.”

–O–

Salah satu faktor yang dapat membuat Islam dapat diterima di Korea Selatan adalah karena Korea tidak memiliki catatan konflik historis atau politik dengan Timur Tengah dalam hubungan mereka yang panjang (meskipun sempat terhenti di era Dinasti Joseon), lebih dari 1.000 tahun. Selain itu, negara-negara Islam umumnya memiliki citra ramah tentang Korea, dan hallyu (gelombang ekspansi budaya populer Korea Selatan ke berbagai negara) telah mencapai wilayah Timur Tengah di mana drama TV Korea, misalnya seri “Dae Jang Geum” (Jewel in the Palace), telah memiliki banyak sekali penggemar, kata Lee Hee-soo, pakar budaya Islam terkemuka di Korea, dan profesor di Departemen Antropologi Budaya Universitas Hanyang.[1]

Pada tahun 1970-an sampai 1980-an, ketika Timur Tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pembangunan infrastruktur terjadi di mana-mana, Korea melihat itu sebagai peluang bisnis. Proyek pembangunan infrastruktur di Timur Tengah adalah pendapatan ekonomi terbesar kedua bagi Korea. Serta, di dalam moment tersebut banyak pekerja Korea di Timur Tengah yang berkesempatan langsung melihat Islam dari negara asalnya. Jadi, secara umum image Islam di mata orang-orang Korea terhitung baik-baik saja.[2]

Namun, pada tahun 2001, terutama setelah serangan teroris 9/11 di Amerika Serikat (AS), Islam sering dipandang negatif oleh warga Korea. Islam dianggap identik dengan organisasi-organisasi teroris seperti ISIS dan al-Qaeda. Namun para ahli Studi Islam di Korea membantahnya, mereka mengatakan bahwa para teroris tersebut hanyalah “bagian yang sangat kecil” dari dunia Islam, atau kurang dari 1 % dari 1,6 miliar Muslim yang berada di dalam 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).[3]

 

Penyanderaan Warga Korea di Afghanistan

Setelah era perang Korea berakhir, di masa kini adalah eranya generasi anak muda, atau eranya generasi kedua setelah perang Korea masuk ke usia-usia produktif. Di kalangan anak muda Korea, ada sebuah trend, bahwa untuk dapat berangkat ke dalam sebuah misi kemanusiaan ke luar negeri adalah mimpi besar dan mulia. “Mereka adalah orang-orang dengan mimpi mulia yang menabung uang dan menggunakan liburan musim panas mereka untuk mewujudkan kemanusiaan,” kata Park Eun-jo yang merupakan Pastor Utama dari Gereja Saemmul.[4]

Gereja adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas terciptanya trend ini. Sebanyak 20% dari total populasi Korea Selatan yang berjumlah 48 juta orang adalah penganut Kristen Protestan. “Selain pekerjaan misionaris, kami juga bermaksud menunjukkan seberapa besar Korea Selatan telah berkembang dan bahwa kita sekarang dapat berbagi dengan orang lain yang membutuhkan di seluruh dunia,” kata Lee Chan-min, seorang pengurus di International Youth Fellowship. Organisasi ini mengirimkan 770 siswa setiap tahunnya untuk misi bantuan ke lebih dari 70 negara di dunia.[5]

Namun sayangnya setelah program seperti ini berjalan selama bertahun-tahun, dalam sebuah misi kemanusiaan pada tahun 2007 lalu, sebanyak 23 pemuda Korea Selatan diculik dan disandera oleh Taliban di Afghanistan. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, berusia mulai dari 20 sampai 30 tahun.[6] Dua di antara 23 orang tersebut tewas dibunuh oleh Taliban.[7] Jaringan televisi di Korea Selatan berulang kali memotong acara reguler untuk mengabarkan perkembangan terbaru. Sementara itu, di dunia maya orang-orang berkomentar dengan penuh emosional tentang Afghanistan dan Taliban yang kebanyakan orang-orang di Korea baru mengetahui tentang mereka setelah invasi AS pada tahun 2001, yang mana tentara Korea Selatan sendiri turut berkontribusi di dalamnya.[8]

Para misionaris kemanusiaan Korea Selatan yang disandera oleh Taliban waktu sebelum diculik. Photo: AFP

Terhadap peristiwa tersebut, publik di Korea berbeda pendapat, ada yang menyalahkan pihak Gereja karena sembarangan mengirimkan anak muda ke area konflik; ada yang menyalahkan AS karena melibatkan Korea Selatan demi kepentingan AS, sementara Korea sendiri sebenarnya tidak ada urusan di Afghanistan; dan ada juga yang melayangkan protesnya kepada orang-orang Islam di Korea Selatan.[9]

Pada waktu itu, di depan Masjid Sentral Korea, terlihat demonstrasi kecil menentang penyanderaan tersebut.[10] Bagaimanapun, walaupun skalanya kecil, namun peristiwa tersebut menjadi sebuah titik balik dari perkembangan penyebaran Islam di Korea Selatan. Beberapa Muslim di Korea mengaku mendapatkan diskriminasi berupa hinaan dan hujatan dari warga Korea lainnya. Semenjak peristiwa penyanderaan ini, kebanyakan media di Korea Selatan menggambarkan Islam sebagai agama yang buruk.[11]

Aksi protes menentang penyanderaan warga Korea Selatan di depan Masjid Sentral Korea, Seoul. Photo: AFP

Namun perjalanan penyebaran Islam di Korea Selatan tidak hanya berhenti sampai di sana. Ke depannya, Muslim di Korea, terutama anak mudanya banyak melakukan inovasi-inovasi dakwah, mereka berusaha keras untuk meluruskan pandangan negatif warga Korea terhadap Islam. Pembahasan mengenai hal ini akan dibahas pada artikel selanjutnya. (PH)

Bersambung ke:

Kehidupan Muslim di Korea Selatan (4): Mereka yang Muda yang Berdakwah (1)

Sebelumnya:

Kehidupan Muslim di Korea Selatan (2): Sejarah Masuknya Islam (2)

Catatan Kaki:

[1] Park Hyong-ki, “History of Islam in Korea”, dari laman http://www.islamkorea.com/english/koreahistoryislam-kh.html, diakses 10 Maret 2018.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4]  Choe Sang-Hun, “Anger Is Tempering Sympathy for South Korean Hostages”, dari laman http://www.nytimes.com/2007/08/03/world/asia/03korea.html, diakses 10 Maret 2018.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Choe Sang-Hun, “Afghan hostage crisis transfixes South Korea”, dari laman http://www.nytimes.com/2007/07/26/world/asia/26iht-korea.4.6849627.html?pagewanted=all, diakses 10 Maret 2018.

[8] Choe Sang-Hun, “Anger Is Tempering Sympathy for South Korean Hostages”, Ibid.

[9] Choe Sang-Hun, “Afghan hostage crisis transfixes South Korea”, Ibid, dan Choe Sang-Hun, “Anger Is Tempering Sympathy for South Korean Hostages”, Ibid.

[10] “South Korean hostage talks ‘likely’”, dari laman https://www.aljazeera.com/news/asia/2007/08/2008525133627997592.html, diakses 10 Maret 2018.

[11] Radu Diaconu  & Athena Tacet, “The Muslims of South Korea”, dari laman https://www.aljazeera.com/indepth/inpictures/2017/11/muslims-south-korea-171114104611451.html, diakses 10 Maret 2018.