Kematian Manusia: Sebuah Karikatur (3)

in Studi Islam

Last updated on March 18th, 2019 05:17 pm

 Ketika sisi kualitatif dinegasikan, kehidupan menjadi DNA dan partikel-partikel kuantitatif atau gumpalan energi yang terkurung dalam penjara molekular-molekular yang memilukan. Saintisme menggantikan agama, dan fungsi-fungsi kependetaan beralih ke bahu para ilmuwan.”

—Ο—

Pendekatan kuantitatif terhadap alam menafikan sisi kualitatif kehidupan, sehingga ajaran benar-salah dan baik-buruk digantikan mencekik semua orang yang tinggal di pusat-pusat perkotaan adalah akibat langsung dari pemahaman ini.  Akibat selanjutnya ialah semaraknya industrialisasi dan kolonialisasi di seantero dunia. Demikian René Guénon dalam The Reign of Quantity and the Signs of Times.[1]

Akibat terlalu mengabaikan sisi kualitatif kehidupan, maka revolusi industrial sejak zaman Renaisans selalu saja terantuk persimpangan jalan: mendorong kemajuan teknis, tapi juga menelantarkan buruh; menemukan obat-obatan, tapi juga menebar penyakit; meningkatkan efisiensi, tapi juga merusak lingkungan; membuat peralatan praktis, tapi juga meningkatkan polusi dan limbah.

Berdasarkan pada pendekatan di atas, sains modern melahirkan fisika. Tokoh-tokoh “Revolusi keilmuan” seperti Galileo, Copernicus, Descartes, Kepler, Newton, dan lainnya memberikan asumsi filosofis bagi matematisasi alam (mathematization of nature) yang dilakukan  oleh Liebnitz, John Napier, Bernoulllis, Pierrre de Fermat, Pascal, Joseph Lagrange, dan lain sebagainya.[2]

Dengan semangat tersebut, fisika modern mengemuka sebagai induk sains. Pada beberapa dekade terakhir, semua ilmu kemanusiaan berlomba-lomba dengan  fisika dalam menekankan sisi kuantitatif kehidupan. Persis seperti yang disarankan oleh fisikawan Frank Oppenheimer: “Jika seseorang menemukan cara baru dalam berpikir, mengapa tidak menerapkannya di segala bidang? Tentunya menarik jika kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berbuat demikian, siapa tahu itupun akan membawa kita kepada pandangan baru yang lebih dalam.”[3]

Margareth J. Wheatley, pakar bidang manajemen dan organisasi, mengungkapkan dampak pandangan kuantitatif ini pada bidang manajemen dan organisasi: “Selama tiga abad, kita menyusun rencana, meramal, menganalisis dunia. Kita mempercayai mentah-mentah hukum Sebab-Akibat, menempatkan rencana pada posisi tertinggi dan menerima angka-angka sebagai kemutlakan.”[4]

Sejarah sains modern selanjutnya menyaksikan lahirnya teori evolusi dari tangan Charles Darwin. Evolusi ini sendiri tidak pernah digerakkan oleh Sebab yang Lebih Tinggi, melainkan oleh hukum konflik antara berbagai spesies dan yang “terkuatlah yang menang dan layak hidup.” Dengan evolusi, kesadaran akan Kehadiran Ilahi sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan tercabut dari semua sudut lebensraum.

Darwinisme menyebar dengan cepat ke bidang-bidang sains yang lain, bahkan ke bidang-bidang non-sains sekalipun. Hampir setiap manusia modern dirangsang habis-habisan untuk menjadi yang “terkuat”, mengikuti hukum evolusi. Karena posisisinya yang vital, Darwinisme tidak lagi diajarkan sebagai teori, melainkan sebagai fakta keilmuan. Menentang atau mempertanyakan keabsahannya akan langsung dituding sebagai “Agamawan” penentang kemajuan.

Kombinasi Darwinisme dan pendekatan kuantitatif melahirkan reduksionisme: ruh (spirit) disusutkan menjadi jiwa (psyche); jiwa menjadi kegiatan kimiawi; kehidupan menjadi DNA dan partikel-partikel kuantitatif atau gumpalan energi yang terkurung dalam penjara molekular-molekular yang memilukan.

Tahap selanjutnya adalah saintisme: rencana menelanjangi segala sesuatu secara empiris. Sebagai dasar epistemik modernisme, saintisme mengelembung menjadi ideologi yang diterapkan untuk semua realitas. Saintisme membuat pandangan-dunia religius tidak relevan secara ilmiah. Agama tak lebih dari keyakinan orang-orang yang berwatak subjektif, emosional, dan tidak ilmiah. Maka, apa yang disebut dengan Sunnatullah pun lantas tersapu bersih dari realitas alam semesta.[5]

Menyusul selanjutnya, fungsi-fungsi kependetaan beralih ke bahu para ilmuwan. Diakui atau tidak, orang modern menganggap ilmuwan mempunyai jawaban untuk semua persoalan. Bukan hanya yang menyangkut keilmuan murni, tetapi juga persoalan-persoalan di luar wilayah sains. Itulah sebabnya mengapa anggapan para ilmuwan tentang Tuhan atau keabadian, betapapun naifnya, tetap saja diterima sebagai aksioma. Sungguh penting untuk memahami fungsi kaum ilmuwan dalam dunia modern sebagai penguasa tertinggi yang mesti senantiasa dijunjung.

Sejak abad ke-17, berbagai pemerintahan di belahan dunia Barat terus mendukung hegemoni saintisme tersebut. Saat ini, hampir semua pemerintahan dunia menempatkan sains sebagai instrumen untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Teknologi menurunkan rumus aplikatif untuk bisa langsung memproduksi kekuatan dan keuntungan.

Dukungan terhadap pengembangan sains dan teknologi bukan datang dari rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, tapi dari rasa cinta terhadap kekuasaan dan kekayaan. Salah satu karakteristik sains modern yang membedakanya dari sains Abad Pertengahan ataupun sains tradisional ialah pretensinya untuk menyasar kekuasaan dan dominasi.[6]

Kohesi sains dan kekuasaan telah menoreh nestapa yang  dahsyat. Berbagai temuan sains telah memungkinkan para penguasa untuk merancang senjata-senjata penghancur massal. Keseimbangan alam yang mendasari kehidupan bumi juga sudah sangat terganggu. Tetapi, ironisnya, sampai saat ini para ilmuwan modern masih saja percaya bahwa peran mereka adalah memanfaatkan sains dalam konteks yang sama.[7]

Apa yang terjadi ini tidak lain merupakan titik-balik dari proses-panjang perceraian sains, agama dan etika. Begitu besar dan melembaganya proyek sains dalam konteks di atas, sehingga membalikkan keadaan bukanlah tugas yang mudah. Mustahil rasanya kita bisa menghentikan perputaran “tong setan” ini tanpa melakukan revolusi di tingkat pandangan-dunia secara utuh.[8] (MK)

Bersambung ke:

Kematian Manusia: Sebuah Karikatur (4)

Sebelumnya:

Kematian Manusia : Sebuah Karikatur (2)

Catatan kaki:

[1] Terjemahan Lord Northbourne, London, 1953.

[2] Untuk bacaan informatif-ekstensif, rujuk: Z. Sardar, The Revenge of Athena: Science, Exploitation, and The Third World, London, 1988. Juga: Z. Sardar, The Touch of Midas: Science Values, and Environment in Islam and the West, Manchester, 1984.

[3] K.C. Cole, Sympathetic Vibrations: Reflections On Physics as a Way of life, New York, Bantam Books, 1985, hlm. 2.

[4] Margaret J. Wheatley, Kepemimpinan dalam Dunia Baru, Abdi Tandur. 1997, hlm. 19.

[5] Lebih jauh, lihat: Martin Lings, The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of Modern World ihni Light of Tradition and Prophecy, Quinta Essentia, 1987.

[6] Lebih lanjut, lihat: S. H. Nasr, Op cit, 1968.

[7] Untuk studi ekstensif berkaitan dengan pelbagai faktor perusak lingkungan dan dampak negatifnya terhadap planet kita, lihat: Will Steger 7 Jon Bowermaster, Saving The Earh: A Citizen’s Guide to Environmental Action, Knopf, 1990. Juga: Jonathan Weiner, The nest One hundred Years: Shaping the Fate of Our Living Earth, Bantam, 1990.

[8] Lebih lanjut, lihat: S.H. Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, London, 1975.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*